
Keranda jenazah dari Fajar dan Tiwi di gotong oleh beberapa orang. Mereka terlihat semakin tidak kuat untuk membawa keranda dari kedua anak Lutfhi dan Tini tersebut. Sepertinya ada sosok lain yang ada di atas keranda tersebut. Hingga keranda itu sulit untuk di bawa oleh para penggotong keranda jenazah tersebut.
Angin pun bertiup semakin kencang. Namun cahaya matahari malah semakin terik bersinar, sehingga rasa panas terbakar mulai di rasakan oleh para pelayat. Mereka yang sudah tidak kuat dengan terik matahari yang begitu menyengat, membuat mereka harus berlindung di bawah pohon besar yang ada di dekat area pemakaman.
Lutfhi dan Tini yang sudah ada di dekat liang lahat. Terlihat sudah tidak sabar untuk melihat kedua anaknya di makamkan. Sebab panas terik yang begitu menyorot kulit mereka, sudah tidak bisa di tahan lagi oleh keduanya. Mereka pun berharap akan segera di lakukan proses pemakaman untuk kedua anaknya tersebut.
Namun harapan tinggal harapan. Keranda yang tiba-tiba menjadi berat, sulit di angkat oleh para pegawai pemakaman. Mereka pun kesulitan membawa keranda jenazah dari kedua anak dari Lutfhi dan Tini. Mereka mengaku keranda itu berat, sehingga tidak bisa mereka gotong dengan baik.
Lutfhi tentu marah pada mereka yang menggotong keranda tersebut. Sebab tidak mungkin jenazah seperti Fajar dan Tiwi berat. Keduanya belum dewasa, sehingga beratnya tidak akan sebanding dengan jenazah orang dewasa.
__ADS_1
Lutfhi pun mencoba mengangkat keranda jenazah dari Tiwi. Namun benar saja, Lutfhi tidak mampu mengangkat keranda tersebut. Dia pun kesulitan mengangkat keranda jenazah yang membawa puterinya tersebut. Lutfhi sudah mengeluarkan seluruh tenaganya. Tapi dia tetap tidak mampu mengangkat keranda jenazah tersebut.
Mereka yang sempat di bentak oleh Lutfhi, kini menertawakan Lutfhi yang tidak mampu mengangkat keranda jenazah dari kedua anaknya tersebut. Ini menjadi sebuah kesedihan tersendiri bagi Lutfhi. Sebab bagaimana juga, jenazah dari puterinya harus segera di kuburkan. Mengingat panas matahari yang semakin terik menyorot kulit.
Akhirnya sebuah doa di bacakan oleh tokoh agama yang akan menguburkan jenazah dari kedua anak Lutfhi. Doa dari tokoh agama itu cukup ampuh, sehingga keranda jenazah yang tadinya begitu berat. Kini sudah lebih ringan lagi. Hingga keranda itu bisa di gotong oleh para pekerja pemakaman.
Semua orang mengucapkan syukur atas apa yan terjadi, namun tidak dengan Lutfhi dan Tini. Keduanya sama sekali tidak mengucapkan rasa syukur sedikit pun atas apa yang terjadi. Mungkin mereka merasa ada arwah lain dari menolong, sehingga keranda itu bisa di angkat dengan baik oleh para pekerja.
Begitu proses itu selesai, Tini dan Lutfhi meninggalkan satu proses. Di mana pembacaan doa di lewatkan oleh Tini dan Lutfhi. Mereka yang sudah tidak kuat dengan udara panas yang ada, memilih untuk segera pulang ke rumahnya. Mereka sudah tidak tahan dengan apa yang mereka rasakan. Rasa panas yang membakar kulit mereka.
__ADS_1
Tini dan Lutfhi pun berjalan menuju rumah mereka dengan perasaan yang sedih. Mereka masih terbayang wajah kedua anak mereka, apalagi Fajar yang di kenal sebagai anak yang cerdas. Tentu ada kesan kehilangan dari Tini dan Lutfhi.
Tiwi yang pandai berjanji juga, kerap ikut audisi bernyanyi untuk semakin mengembangkan bakatnya. Namun nasib berkata lain, kedua anak Tini dan Lutfhi itu harus pergi meninggalkan mereka berdua. Keduanya pun harus lebih cepat di panggil yang maha kuasa.
Tini dan Lutfhi langsung terlihat lemas saat berada di dalam rumah mereka. Keduanya menjatuhkan tubuh masing-masing ke atas sofa. Di mana Tini mulai mengutarakan rasa bersalah yang teramat pada Fajar dan Tiwi. Bagaimana juga, Fajar dan Tiwi adalah anak yang cerdas serta memiliki kemampuan yang hebat. Sudah seharusnya mereka bisa menjadi kebanggaan dari Tini dan Lutfhi di masa mendatang.
Tini dan Lutfhi mulai menyalahkan kematian dari kedua anak mereka pada sosok Lukas dan Sandra. Seandainya jika Lukas tidak ikut campur akan urusan dari Tini dan Lutfhi dalam hal tumbal. Mungkin mereka tidak akan kehilangan Tiwi dan Fajar di hidup mereka saat ini. Semua ini adalah ulah dari Lukas yang tampil layaknya seorang pahlawan. Padahal Lukas bukan siapa-siapa. Bahkan Tini dan Lutfhi bisa membunuh Lukas dengan sebuah santet yang aka. Membunuh jiwanya dari dalam. Jiwa yang akan menghancurkan Lukas secara mendalam.
Tini pun merasakan hal yang sama seperti Lutfhi. Dia merasa apa yang terjadi saat ini adalah akibat ulah dari Lukas. Seandainya saat itu Lukas tidak menolong Sandra, mungkin Tini dan Lutfhi tidak akan pernah kehilangan kedua anak mereka. Kini mereka sudah kehilangan kedua anak mereka. Itu semua adalah ulah dari Lukas yang terus melindungi Sandra. Ulah Lukas yang begitu menyebalkan bagi Tini dan Lutfhi.
__ADS_1
Tini dan Lutfhi pun mulai berpikir untuk menghancurkan Lukas dengan membalas dendam padanya. Mungkin dengan menghancurkan sekolah yang di bangun oleh Lukas, bisa menjadi opsi yang baik bagi Tini dan Lutfhi. Apalagi Lukas di kenal begitu mencintai sekolah yang di bangunnya tersebut. Hingga Lukas tentu akan bersedih dengan apa yan terjadi saat sekolah miliknya itu akan berubah menjadi lahan kosong kembali. Tini dan Lutfhi siap melakukan hal tersebut untuk membuat Lukas menyesali atas apa yang telah di lakukan oleh dirinya pada Tini dan Lutfhi.