
Baim masih termenung dengan mimpi seram yang di alami oleh dirinya tersebut. Di tambah Kinasih yang tak kunjung datang untuk sekedar menjenguk dirinya. Ini benar-benar membuat Baim merasa bersedih, hidupnya terasa begitu malang dengan berbagai peristiwa yang di alami olehnya selama ini. Baim pun mulai mengingat akan kejahatan yang pernah di lakukan oleh dirinya selama ini. Di mana Baim banyak melakukan tindakan kejahatan yang cukup fatal terhadap beberapa pihak.
"Apakah ini karma dari Tuhan untukku. Mungkin benar, ini adalah karma untukku. Aku merasakan hal yang buruk terjadi padaku. Itu adalah balasan atas apa yang telah aku lakukan selama ini pada orang-orang. Aku melakukan kejahatan yang begitu berat. Hingga aku tidak menyadari apa yang aku lakukan adalah tindakan yang paling buruk." ujar Baim di dalam hatinya.
Tak berselang lama, ibu Baim pun mulai menemui Baim yang terlihat masih termenung dengan apa yang di alami oleh dirinya kini. Dia menghampiri Baim yang masih mengingat akan dosa besar yang telah di lakukan oleh dirinya selama ini. Dosa besar adalah hal yang paling buruk di lakukan oleh Baim. Hingga Baim tidak menyadari kesalahannya yang begitu banyak.
"Apa yang membuat kamu terlihat bersedih Baim?" tanya ibu Baim.
__ADS_1
"Aku mulai merasa semua yang terjadi padaku hari ini adalah bagian dari karma yang Tuhan berikan padaku." jawab Baim dengan wajah mengiba.
"Iya, mungkin kamu harus bertobat Baim. Banyak hal yang telah kamu lakukan di masa lalu. Kini kamu menerima semuanya di hari ini. Hukum Tuhan itu adil Baim. Kamu harus segera bertobat dengan semua kekhilafan kamu selama ini." ujar ibu Baim.
Baim tak menjawab kembali ucapan dari ibunya. Namun dari lubuk hati terdalam dari Baim. Dia begitu ingin kembali ke jalan yang lebih baik lagi. Mungkin sudah saatnya bagi Baim untuk bertobat dengan lumuran dosa yang selama ini Baim berkubang.
Di tengah suasana yang cukup memprihatinkan bagi Baim. Tiba-tiba pintu ruang perawatan Baim di buka dengan begitu kerasnya. Orang yang membuka pintu itu sudah pasti adalah Lutfhi. Dia datang ke ruang perawatan dari Baim untuk meminta Baim kembali bekerja. Padahal Baim sendiri baru libur dua hari.
__ADS_1
Baim tentu meminta kelonggaran pada Lutfhi untuk tidak bekerja dalam beberapa hari ke depan. Namun Lutfhi tidak peduli dengan permintaan dari Baim. Lutfhi tetap meminta Baim untuk segera bekerja, meskipun kondisi Baim yang terlihat begitu payah. Bagi Lutfhi Baim sudah seharusnya bekerja sesuai dengan perjanjian kontrak yang ada.
Tak hanya Baim yang meminta kelonggaran pada Lutfhi. Ibu Baim juga turut melobi Lutfhi agar memberikan keringanan pada Baim. Sebab kondisi Baim yang masih kurang baik. Sehingga Baim butuh istirahat yang cukup, sesuai dengan arahan dari tim dokter yang menangani Baim.
Lutfhi tidak peduli dengan kondisi dari Baim. Dia tetap meminta Baim untuk kembali bekerja sesuai dengan perjanjian kerja yang ada. Lutfhi tidak ingin waktu kerja Baim terbuang sia-sia. Apalagi Lutfhi telah membayar mahal Baim, sehingga Baim harus bisa bekerja lebih baik lagi.
Permintaan dari Baim dan ibunya pun di tolak mentah-mentah oleh Lutfhi. Bahkan Lutfhi menendang dengan keras, wajah ibu Baim saat sedang bersujud di kedua kaki Lutfhi. Dengan tendangan yang keras, Lutfhi meminta ibu Baim tidak lagi berlutut di hadapannya. Sebab apapun permintaan dari ibu Baim tersebut, Lutfhi tidak akan pernah tunduk. Dia akan tetap meminta Baim untuk bekerja di esok hari.
__ADS_1
Melihat perlakuan dari Lutfhi yang begitu kasar, ibu Baim perlahan mulai menangis dengan begitu hebatnya. Dia tak percaya Lutfhi akan memperlakukan dirinya sekasar tersebut. Padahal dahulu Lutfhi pernah menyukai salah satu anak dari ibu Baim. Sebelum Lutfhi akhirnya jatuh hati pada sosok Tini.
Baim yang tak berdaya, tak mampu menyelamatkan ibunya dari amukan Lutfhi. Dia hanya bisa menyaksikan bagaimana ibunya di perlakukan dengan begitu kasarnya oleh Lutfhi. Padahal Baim ingin sekali menolong ibunya tersebut. Namun amukan dari Lutfhi yang begitu kasar. Tak mampu di bendung oleh Baim dan ibunya. Secara terpaksa, Baim pun berjanji pada Lutfhi untuk bekerja di esok hari. Ini akan menjadi hari yang sulit bagi Baim. Tapi dia akan mencoba sebaik mungkin, sebab Baim ingin melakukan yang terbaik untuk ibundanya.