
Dengan langkah terburu-buru, Lutfhi terlihat sudah tak sabar untuk mendatangi seorang tuan tanah lainnya yang berada di kampungnya. Tak kalah luas dari tuan tanah yang sebelumnya Lutfhi datangi. Tuan tanah ini juga memiliki lahan yang cukup luas. Sehingga akan sangat besar keuntungan yang Lutfhi dapat, jika berhasil membujuk tuan tanah ini dalam mendalam menjual lahannya yang luas.
Tiba di rumah tuan tanah yang bernama Arif tersebut. Lutfhi langsung terlihat terpesona dengan rumah pak Arif yang tergolong mewah. Terdapat beberapa ekor anjing jenis pemburu yang terantai dengan kuatnya. Gonggongan anjing itu langsung mengejutkan Lutfhi yang baru pertama kali datang ke rumah pak Arif tersebut.
Lutfhi yang mengira anjing-anjing tersebut tidak di pasangkan rantai di leher mereka. Sempat terkejut saat gonggongan keras anjing tersebut menghujani kedua telinga Lutfhi. Dia sempat begitu ketakutan dengan gonggongan anjing tersebut. Sampai seorang satpam yang menjaga rumah tuan tanah tersebut, datang menghampiri Lutfhi.
"Selamat siang mas, ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam tersebut.
"Siang pak. Apakah benar ini adalah rumah dari bapak Arif?" jawab Lutfhi dengan senyuman.
"Benar ini rumah Bapak Arif. Ada keperluan apa masa datang ke rumah bos saya?" tanya satpam itu kembali.
"Boleh saya masuk untuk menemui pak Arif?" Ujar Lutfhi.
__ADS_1
Cukup satu kali tatapan tajamnya. Lutfhi langsung membuat satpam tersebut terkesima. Satpam itu pun langsung mempersilakan Lutfhi untuk menemui tuan tanah tersebut.
Lutfhi pun di antar oleh satpam tersebut menuju ruang tamu. Dimana Lutfhi sudah di jamu dengan berbagai kue-kue yang begitu banyak oleh tuan tanah tersebut.
Pak Arif memang kerap menaruh banyak makanan di atas meja di ruang tamu rumahnya. Semua makanan itu untuk menjamu tamu-tamu dari pak Arif yang memang berasal dari kalangan atas. Sehingga kedatangan Lutfhi di anggap sebagai orang yang cukup penting bagi pak Arif.
Lutfhi menyalami pak Arif yang biasanya enggan bersalaman dengan mereka yang berasal dari kalangan bawah. Dia di kenal sebagai seorang yang tidak memiliki empati tinggi terhadap orang-orang miskin di kampungnya. Sehingga harta kekayaan seorang pak Arif lebih banyak di gunakan untuk membangun rumah dan investasi lainnya. Di banding memberikan sedikit harta kekayaannya pada orang yang membutuhkan.
"Ah Pak Arif bisa aja. Masa rumah sebagus ini di sebut gubuk sih Pak. Jika rumah semewah ini di sebut gubuk. Bagaimana dengan rumah saya pak." Balas Lutfhi.
Pak Arif langsung tertawa dengan ucapan dari Lutfhi tersebut. Dia merasa apa yang Lutfhi sampaikan ada benarnya juga. Rumah dia memang tidak layak di sebut gubuk. Sebab rumah pak Arif seperti sebuah istana besar dengan fasilitas mewah yang ada di dalam dan luar rumahnya tersebut.
Lutfhi mulai mengutarakan maksud kedatangan dari dirinya tersebut. Dia ingin membeli tanah dari pak Arif yang berada di dekat sebuah perkampungan. Tanah yang sangat layak untuk di jadikan perumahan kelas menengah. Dengan biaya sewa dan kredit yang murah, tentu perumahan itu akan di gemari oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.
__ADS_1
Kedatangan dari seorang Achmad mengejutkan seorang Lutfhi. Dia yang telah menjanjikan tanah itu untuk di buat lapangan bulutangkis. Tidak akan membiarkan ayahnya menjual tanah tersebut. Sebab tanah itu sudah akan di bangun lapangan bulutangkis untuk Achmad dan anak didiknya berlatih.
Lutfhi tersenyum sinis melihat segala upaya dari Achmad. Dia tidak langsung menunjukkan bagaimana dirinya beraksi. Lutfhi mengedipkan bagian mata kanannya. Sehingga dia langsung bisa mengontrol pak Arif.
"Bapak rasa, tempat itu tidak cocok untuk di jadikan lapangan bulutangkis. Bagaimana kalau tanah Bapak yang lain saja." ujar pak Arif dengan nada lembutnya.
"Tidak pak! Aku tidak ingin tanah lain. Aku hanya ingin tanah tersebut yang akan di jadikan tempat lapangan bermain bulutangkis anak-anak." Tegas Achmad memukul meja.
Melihat respon Achmad yang terlihat kurang sopan pada seorang Lutfhi. Sebuah siasat jahat telah di siapkan oleh Lutfhi untuk membalas apa yang telah di lakukan oleh Achmad pada dirinya. Mungkin hari ini Lutfhi gagal mendapatkan tanah tersebut. Tapi besok atau lusa, Lutfhi akan mendapatkan tanah yang akan dia jual pada pak Riza. Sesuatu hal akan terjadi pada Achmad.
Lutfhi yang tidak ingin menciptakan keributan di rumah pak Arif. Akhirnya memilih untuk segera pergi dari rumah mewah pak Arif tersebut. Luthfi sadar, mungkin bukan saatnya bagi pak Arif untuk melepas tanahnya tersebut. Masih ada restu dari Achmad yang terhalang.
Lutfhi mengakhiri pertemuan tersebut dengan sebuah jabat tangan kuat dengan pak Arif. Pak Arif sekali lagi mengucapkan maaf pada seorang Lutfhi yang harus kecewa belum mendapatkan kepastian akan tanah milik pak. Arif tersebut. Tetapi Lutfhi dapat memaklumi amarah dari anak pak Arif yang kekeh masih ingin membuat gedung untuk bermain badminton di tanah luas tersebut.
__ADS_1