Jimat Warisan

Jimat Warisan
Intervensi Tini Dan Lutfhi


__ADS_3

Dengan sebuah cangkul serta parang yang sudah di bawa oleh Lukas dan Darwis. Keduanya siap untuk membersihkan sebuah lahan yang di berikan pada Lukas untuk membangun sebuah sekolah agama. Lahan itu yang berada di dekat jalan, sempat di tawar dengan harga mahal oleh seorang warga. Tapi di tolak oleh nenek Lukas. Dia lebih ingin memberikan lahan itu pada Lukas untuk di jadikan tempat sekolah bagi anak-anak di kampungnya.


Darwis dan Lukas terlihat begitu bersemangat membabat setiap tanaman liar yang ada di lahan tersebut. Memungut sampah yang ada. Sebelum membuangnya semua sampah itu ke tempat pembuangan akhir yang berada di ujung kampung.


Seketika lahan yang awalnya di penuhi dengan tanaman liar. Kini sudah terlihat begitu bersih dan enak di pandang mata. Lukas dan Darwis pun begitu senang melihat semua yang ada. Mereka tidak sabar untuk mendirikan sebuah bangunan di lahan tersebut. Bangunan yang nantinya akan menjadi sekolah bagi anak-anak di kampungnya.


Tini dan Lutfhi yang baru pulang dari pasar, terlihat terpukau dengan lahan milik ibu Tini yang kini terlihat sudah begitu bersih. Tini pun meminta Lutfhi untuk memberhentikan motor mereka, tepat di depan Darwis dan Lukas.


Lukas terlihat senang dengan kedatangan dari Tini dan Lutfhi. Dia langsung menyalami paman dan bibinya tersebut. Menanyakan kabar keduanya, hingga memuji keduanya yang semakin terlihat bahagia dengan semua yang ada.

__ADS_1


Tini yang terlihat nyaman dengan lahan yang ada. Apalagi saat ini lahan itu terlihat begitu bersih tanpa sampah. Tini semakin terpesona dengan semua itu. Hingga Tini berniat meminta lahan ini pada ibunya. Mungkin Tini ingin menjadikan lahan tersebut sebagai kantor bagi Lutfhi, jika nantinya bisnis yang di geluti oleh Lutfhi telah berhasil. Itu yang ada di pikiran Tini saat ini.


"Kenapa kalian bersihkan lahan ini?" tanya Tini pada Darwis dan Lukas.


"Jadi Lukas ingin bangun sekolah agama di sini. Makanya Lukas meminta sama ibu, untuk memberikan lahan ini sebagai tempat bagi Lukas mendirikan bangunan sekolah." jawab Darwis dengan sedikit senyuman.


Tini terkejut mendengar jawaban yang di lontarkan oleh Darwis. Bagi Tini lahan ini tidak cocok untuk di jadikan bangunan sekolah. Lahan ini lebih cocok untuk jadi sebuah kantor bagi Lutfhi. Tini pun melakukan protes, dia tidak senang dengan ide dari Darwis dan Lukas tersebut.


"Tidak bisa Tin. Ibu telah mewakafkan tanahnya untuk Lukas jadikan bangunan sekolah. Mungkin itu untuk jadi tabungan ibu kelak di akhirat." balas Darwis.

__ADS_1


"Akhirat masih jauh mas. Ngapain harus di pikirin. Hari ini aja sih yang harus kita pikirin. Ngapain mikirin akhirat yang masih jauh." ucap Lutfhi sedikit kesal.


"Astaghfirullah.... Kematian itu seperti waktu malam dan siang. Jaraknya begitu dekat. Sehingga kita harus selalu mengingat akhirat untuk membawa bekal yang baik disana." ucap Lukas dengan istighfar.


"Tapi kami tidak peduli. Itu urusan kalian! Kami hanya minta, kalian jangan bangun sekolah di lahan ini. Sebab secepat mungkin kami akan bangun kantor di lahan ini." Tegas Tini dengan mata melotot.


"Tapi kamu harus berbicara terlebih dahulu pada ibu. Sebab ibu yang punya kuasa atas lahan ini. Kamu harus mengatakan terlebih dahulu sama ibu Tin." ucap Darwis.


"Ibu akan setuju dengan ucapanku. Dia akan senang dengan kemajuan anak-anaknya. Jadi Ibu sudah pasti setuju dengan ideku tersebut." ujar Tini dengan begitu tegasnya.

__ADS_1


Lukas pun meminta Darwis untuk mengalah. Mungkin keputusan dari lahan itu akan di kembalikan pada neneknya. Sebab yang memiliki lahan itu adalah neneknya. Jadi dia yang berhak menentukan siapa yang akan menggarap lahan itu. Apakah Tini dengan kantor baru. Mungkin juga Lukas dengan sebuah sekolah agama. Itu hanya akan menjadi keputusan seorang nenek Lukas.


__ADS_2