
Cerita teror yang di lebih-lebihkan oleh Tini dan Lutfhi, benar-benar memancing para warga untuk kembali berdemo di rumah pak RT. Kedatangan mereka kali ini benar-benar meminta kedua anak Firman untuk di usir dari kampung mereka. Mereka takut teror Kuntilanak akan menyerang mereka, sehingga ini akan menjadi teror yang menakutkan bagi warga kampung.
belasan orang dengan amarah yang sama menggeruduk rumah pak RT. Tidak ada pak RT saat itu, hanya ada Rosmitha yang bersiap-siap untuk melakukan wawancara kerja.
Rosmitha pun sempat terkejut saat puluhan warga berteriak di depan rumah pak RT. Dia merasa ada sesuatu yang aneh terjadi di luar rumah pak RT. Sehingga Rosmitha yang sedang menaburkan sedikit bedak di wajahnya, langsung melihat belasan warga yang melakukan demo di depan rumah pak RT.
Kedatangan dari Rosmitha langsung di sambut dengan cemoohan. Mereka mencemooh Rosmitha yang di anggap sebagai dalang di balik keengganan pak RT mengusir dua anak Firman di kampung mereka. Mengingat Rosmitha memiliki kedekatan yang cukup intensif dengan seorang Lukas yang memiliki kekeluargaan dengan dua anak Firman tersebut.
__ADS_1
Rosmitha tentu tidak terima dengan cemoohan yang di berikan oleh beberapa warga tersebut. Dia merasa apa yang di katakan oleh warga itu tidak beralasan. Sehingga Rosmitha langsung meminta para warga untuk tenang, tidak harus emosi dengan apa yang ada. Apalagi dirinya tidak tahu apa-apa dalam perkara tersebut. Rosmitha hanya meminta warga untuk tidak terhasut dengan gosip yang beredar perihal kedua anak Firman.
Warga yang sudah terbakar oleh cerita Lutfhi dan Tini yang fiktif, pada akhirnya sudah tidak peduli lagi. Mereka pun hanya ingin kedua anak Firman di usir dari kampung mereka. sehingga kedua anak Firman itu tidak akan membuat warga kampung takut akan sosok kuntilanak yang kemungkinan akan mencari tumbal.
Rosmitha menjelaskan sekali lagi pada warga kampung. Dia mengatakan tidak ada teror apapun yang menyerang dirinya. Hanya ada kesalahpahaman yang terjadi, itu yang membuat mereka begitu marah. Salah paham semata yang terjadi pada setiap orang.
Salah seorang warga langsung mengatakan keinginannya. Dia khawatir warga kampung akan menjadi korban tumbal dari kuntilanak seorang Firman. Sehingga untuk mengantisipasi itu, pak RT harus mengusir kedua anak Firman dari kampung.
__ADS_1
Terlebih semalam ada sosok kuntilanak yang datang ke rumah pak RT. Sudah seharusnya pak RT waspada akan serangan kuntilanak yang akan meneror, sebab jika tidak segera di antisipasi. Bukan tidak mungkin kuntilanak itu akan menyerang puluhan warga yang ada di kampung untuk di jadikan tumbal berikutnya.
Tentu apa yang di sampaikan oleh para warga langsung di sanggah oleh seorang Rosmitha. Dia merasa apa yang di sampaikan oleh warga itu tidak beralasan. Sehingga tidak logis untuk takut pada hal yang menurut Rosmitha tidak perlu. Pak RT yang mendapat teror sama sekali tidak takut, apalagi warga yang hanya mendengar cerita saja. Seharusnya para warga sama sekali tidak takut dengan kuntilanak tersebut.
Penjelasan dari Rosmitha memang cukup logis. Tapi itu tidak membuat para warga merasa aman. Mereka tetap merasa perlu melakukan hal lain untuk membuat kampung aman dari serangan kuntilanak. Tentu cara paling aman adalah mengusir dua anak Firman. Itu sudah harga mati.
Jika pak RT tidak juga mengusir kedua anak Firman itu. Bukan tidak mungkin para warga sendiri yang akan mengusir kedua anak Firman itu. Bagi mereka keberadaan dari anak Firman adalah benalu yang membahayakan para warga kampung. Sehingga keduanya harus segera meninggalkan kampung.
__ADS_1