Jimat Warisan

Jimat Warisan
Sandi Menjenguk Firman


__ADS_3

Bel pulang berbunyi, Sandi terlihat termenung di atas tempat duduknya. Seperti ada sesuatu yang sedang di pikirkan oleh dirinya. Hingga ketika teman-teman sekelasnya mengajak Sandi untuk pulang. Dia terlihat bingung, sebelum dia meminta teman sekelasnya untuk pergi terlebih dahulu.


"Apa kamu tidak ingin segera pulang San?" tanya salah seorang teman Sandi.


"Kalian pulang duluan saja, seperti aku harus mampir ke toko obat terlebih dahulu. Aku ingin membeli obat untuk kakiku yang kemarin kepentok meja." jawab Sandi dengan meyakinkan.


Akhirnya teman-teman Sandi pun meninggalkan Sandi sendiri di dalam kelasnya. Begitu semua temannya telah pergi, Sandi mulai merapikan semua perlengkapan sekolahnya. Sebelum akhirnya Sandi keluar dari dalam kelasnya.


Hatinya begitu bergulat. Dia mulai rindu akan ayahnya sendiri, apalagi setelah mendapat sedikit petuah dari seorang Lukas. Sandi menjadi sosok yang begitu lembut. Sudah tidak ada lagi amarah seperti hari-hari sebelumnya. Kini Sandi sudah mulai ikhlas dengan apa yang ada. Tidak ada lagi rasa takut atau marah pada sosok ayahnya tersebut.


Sandi pun berniat untuk menjenguk ayahnya itu di rumah sakit. Mungkin kedatangan dari seorang Sandi yang telah di tunggu lama oleh ayahnya, akan menjadi kedatangan yang cukup istimewa. Mengingat Sandi adalah anak yang begitu di manja oleh ayahnya tersebut. Tak heran, ayahnya akan begitu rindu pada sosok Sandi yang memang kerap menghabiskan waktu berdua bersama dengan ayahnya.


Menumpang sebuah angkutan umum, Sandi siap meminta maaf pada ayahnya. Sikap Sandi yang dahulu begitu keras, di rasa harus segera di lunakan. Mengingat apa yang di lakukan oleh Sandi selama ini adalah tindakan yang salah. Sandi pun harus merubah sikapnya yang masih kekanak-kanakan tersebut.


Sepanjang perjalanan itu, Sandi terus menyesali amarahnya pada seorang Firman. Menurunnya, dia tidak seharusnya memiliki amarah seperti itu. Firman sama sekali tidak salah, namun hanya Sandi saja yang berlebihan dalam menyingkapi semuanya. Padahal saat itu, Firman telah mengakui kesalahannya. Sehingga Sandi tidak harus lagi marah pada Firman.

__ADS_1


Begitu tiba di depan rumah sakit, Sandi menjadi ragu untuk bertemu dengan seorang Firman. Dia takut, mungkin saja Firman tidak akan memaafkan Sandi. Mengingat sikap Sandi yang kasar selama ini pada seorang Firman. Sandi tidak pernah mau untuk menerima penjelasan dari seorang Firman. Dia hanya marah dan marah saja pada Firman. Tanpa mau mendengarkan sedikit pun penjelasan dari Firman. Itu yang buat seorang Sandi merasakan perasaan takut yang cukup besar akan Firman.


"Ini mungkin saja hari paling menyebalkan bagiku. Aku harus bisa melawan rasa takutku. Perasaan takut akan kemarahan dari ayahku sendiri. Di saat aku yang memulai semuanya menjadi begitu rumit." ucap Sandi dengan penuh penyesalan.


Namun Sandi berusaha melawan rasa takutnya tersebut. Dia mulai berjalan menuju rumah sakit. Sandi membuang semua ketakutan akan Firman yang tidak akan memaafkan dirinya. Mungkin ini akan menjadi hal yang sulit bagi seorang Sandi. Tapi dia harus berani mencoba untuk menerima semuanya. Tidak harus takut dengan kemungkinan terburuk yang akan di alami oleh dirinya. Sandi akan menerima semuanya dengan baik-baik saja. Itu yang Sandi harapkan.


Sandi mulai mendatangi salah seorang sekuriti yang ada di depan rumah sakit. Tentu Sandi ingin tahu ruang perawatan dari seorang Firman. Dengan bertanya pada sekuriti itu, Sandi akan tahu di mana tempat Firman berada.


"Maaf Pak, boleh saya tanya sesuatu."


"Ruang Cempaka ada di lantai berapa?"


"Oh ruang Cempaka. Ruangan itu ada di lantai 3 Mas. Nanti Masnya naik lift aja."


"Baik Pak, terima kasih atas informasinya."

__ADS_1


"Sama-sama."


Sandi segera bergegas menuju lift. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ayahnya tersebut. Mungkin pertemuan ini akan menjadi pertemuan pertama bagi seorang Sandi. Pasalnya, Sandi sudah berbulan-bulan tidak bertemu dengan Firman kembali.


Satu persatu nomor ruangan itu di jajaki oleh seorang Sandi. Sampai akhirnya Sandi benar-benar bertemu dengan seorang Firman yang baru selesai melakukan sebuah terapi. Tepat di depan pintu kamar perawatan seorang Firman, Sandi bertemu dengan Firman.


Firman yang sudah mulai sedikit-sedikit ingat akan ingatannya sendiri. Langsung terlihat antusias saat melihat keberadaan dari seorang Sandi. Firman pun langsung memeluk Sandi yang berada di hadapannya. Firman mengutarakan rasa rindunya pada seorang Sandi. Tak lupa, Firman juga mulai meminta maaf pada seorang Sandi. Ini menjadi hal yang paling menyedihkan bagi seorang Firman.


Tak hanya Firman yang mulai meneteskan air mata. Sandi sendiri juga mulai tak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh. Dia benar-benar menangis saat bertemu dengan seorang Firman. Apalagi saat Sandi mulai memeluk tubuh kekar Firman. Di saat itu, Sandi benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya ada air mata yang mampu menyatakan rasa rindu seorang Sandi pada seorang Firman. Rindu yang buat seorang Sandi begitu tersiksa dengan apa yang ada.


"Maafkan Sandi Ayah. Maafkan Sandi." ujar Sandi terus menangis di pelukan seorang Firman.


"Maafkan Ayah juga nak. Gara-gara Ayah, kamu menjadi bahan pergunjingan teman-teman kamu. Ayah minta maaf Sayang." balas Firman tak kalah bersedih.


Momen hari itu pun di akhiri dengan sujud yang di lakukan oleh seorang Sandi. Dia meminta maaf sempat membenci seorang Firman. Padahal Firman adalah orangtua Sandi satu-satunya saat ini. Firman adalah orang yang akan membuat seorang Sandi dekat pada surga. Dia juga yang akan membuat Sandi jauh dekat dari neraka. Jadi Sanadi harus bisa membuat seorang Firman selalu bahagia. Hingga Sandi akan selalu dekat dengan surga Allah.

__ADS_1


__ADS_2