
Selepas pulang dari warung, Tini langsung menemui Lutfhi yang baru saja menyelesaikan sebuah ritual. Tini membuatkan Lutfhi segelas kopi untuk Lutfhi. Di mana dia juga mengajak Lutfhi untuk mengobrol perihal Baim yang di percaya oleh Lutfhi untuk menjadi mandor di proyek perumahan yang akan di buatnya.
Tini yang lebih dulu berada di sofa, sudah tidak sabar menunggu kedatangan seorang Lutfhi. Tentu kedatangan dari seorang Lutfhi akan membuat suasana ruang keluarga semakin hangat lagi. Apalagi Tini ingin menanyakan beberapa hal yang mungkin di ketahui oleh seorang Lutfhi perihal Baim.
Begitu Lutfhi datang ke sofa, Tini langsung meminta Lutfhi untuk duduk di sampingnya. Lutfhi yang terlihat lelah, langsung duduk di samping seorang Tini. Dia menyenderkan kepalanya di sofa tersebut. Kemudian dia mulai bertanya, apa yang membuat Tini ingin mengobrol serius dengan seorang Lutfhi.
__ADS_1
"Apa kamu tidak melihat sesuatu pada diri si Baim itu?" tanya Tini dengan wajah penuh kecurigaan.
Lutfhi mengambil gelas berisi kopi yang baru saja Tini buat. Kopi panas yang Lutfhi langsung cicipi itu, langsung membuat lidahnya kepanasan hebat. Lutfhi langsung menaruh kembali gelas kopi itu ke atas meja. Dia mengumpat segelas kopi tersebut. Hingga Tini langsung tertawa melihat Lutfhi yang mengumpat dengan kata-kata kasar pada segelas kopi yang di buatnya tersebut.
Begitu Lutfhi sudah merasa cukup baik, dia langsung menjawab pertanyaan dari Tini tersebut. Namun sebelum menjawab, Lutfhi kembali meminum kopi tersebut. Namun kali ini dia lebih bijak, sebab dia meniupnya terlebih dahulu kopi tersebut. Hingga dia tidak meminum kopi itu dalam keadaan panas.
__ADS_1
"Mungkin itu hanya pencitraan semata. Maksud aku dalam hal keuangan. Apa kamu yakin dia tidak akan menilap uang yang kamu berikan pada dia. Dia pernah tersandung kasus korupsi. Jadi dia punya catatan minor dalam hal keuangan. Aku pikir kamu harus lebih berhati-hati lagi dalam hal keuangan." ujar Tini tetap dengan wajah curiga.
Lutfhi mulai terdiam, sebelumnya pun Lutfhi sempat curiga pada seorang Baim. Apalagi melihat barang-barang Baim yang terlihat baru semua. Itu sempat menjadi pertanyaan dari seorang Lutfhi.
"Aku pun sedikit aneh sih. Dia ke sini menggunakan motor baru. Tapi dia bilang itu adalah motor yang dia beli dari uang warisannya. Sehingga uang itu bukan berasal dari uang proyek yang Lutfhi berikan." ucap Lutfhi.
__ADS_1
Tini tertawa, Lutfhi terlihat konyol dalam menyikapi seorang Baim. Menurut Tini itu hanya alibi dari seorang Baim. Kebohongan itu seperti hal yang lumrah di lakukan oleh manusia di era saat ini. Sehingga bagi mereka kebohongan bukanlah hal yang menakutkan untuk mendapatkan balasan yang setimpal. Kebohongan sudah menjadi sebuah konsumsi manusia di era kini. Sehingga tidak ada lagi rasa malu untuk berbohong bagi manusia saat ini.
Lutfhi merasa apa yang di katakan oleh Tini tidak salah. Semua orang banyak berbohong untuk hal apapun. Dia merasa telah di bodohi oleh seorang Baim. Dia menerima alasan yang tidak jelas dari Baim. Padahal jelas-jelas itu kebohongan yang mudah di ucapkan oleh siapa pun. Termasuk oleh Baim yang memang terkenal sebagai tukang bohong. Lutfhi seharusnya bisa lebih cerdas lagi.