
Tak hanya datang sendiri saja. Baim yang di temani oleh adiknya, berharap bisa mendapatkan sebuah jawaban yang memuaskan dari seorang Kinasih. Mereka berharap Kinasih akan memberikan izin pada seorang Baim untuk menjual beberapa harta yang di miliki oleh dirinya saat ini. Harta seperti motor, tanah serta beberapa perhiasan emas yang di miliki oleh seorang Kinasih. Mungkin itu bisa membuat seorang Kinasih luluh.
Belum menyebutkan maksud dari kedatangan mereka berdua. Kinasih yang masih marah pada seorang Baim yang tak urung menerima pekerjaan dari seorang Lutfhi. Terus menunjukkan wajah cemberut di hadapan seorang Baim dan adiknya. Padahal Kinasih dan adik Baim adalah teman dekat. Namun, semua itu tak cukup bagi seorang Kinasih untuk bersikap manis pada seorang Baim dan adiknya.
Baim pun terlihat tak percaya diri untuk meminta Kinasih akan memberikan izin pada seorang Baim untuk menjual hartanya. Melihat apa yang di perlihatkan oleh seorang Kinasih pada seorang Baim. Mungkin saja Kinasih akan langsung mengatakan tidak pada Baim dan adiknya. Namun adiknya tetap meminta Baim untuk percaya diri dengan apa yang ada. Tidak harus takut dengan apa yang di tunjukkan oleh seorang Kinasih. Sebab Baim adalah seorang kelapa keluarga. Jadi sudah seharusnya Baim harus memiliki ketegasan serta rasa percaya diri yang tinggi. Tidak harus tertekan dengan apa yang di tunjukkan oleh seorang Kinasih.
Baim mulai menarik napas sepanjang mungkin. Dengan begitu, Baim bisa lebih tenang lagi. Sehingga dia bisa bisa lebih baik lagi dalam mengatakan hal yang seharusnya di lakukan. Tidak tertekan dengan apa yang di tunjukkan oleh seorang Kinasih pada dirinya. Kinasih memang kerap mengintimidasi seorang Baim. Namun kali ini Baim yang harusnya bisa lebih baik lagi dalam menunjukkan dirinya adalah seorang kepala keluarga.
"Kinasih, aku tidak mempersoalkan kamu tidak pernah menjenguk Ibu di rumah sakit. Tapi jujur aku harap kamu tidak akan keras kepala untuk menolong Ibu. Saat ini Ibu butuh banyak uang agar bisa keluar dari rumah sakit." ujar Baim dengan penuh ketegasan.
__ADS_1
Kinasih tidak menyambut baik dengan apa yang di ucapkan oleh seorang Baim. Dia mengatakan jika dirinya tidak akan pernah mau menjual semua harta yang di miliki oleh dirinya saat ini. Mungkin itu bukan urusan bagi seorang Kinasih. Sebab ibu dari Baim adalah ibu mertuanya. Bukan ibu kandung dari Kinasih. Sehingga dia tidak memiliki sangkut paut dengan ibu dari Baim.
Baim dan adiknya sontak terkejut dengan apa yang di ceritakan oleh seorang Kinasih. Ini benar-benar di luar dugaan bagi seorang Baim dan adiknya. Mungkin Baim sudah tahu karakter seorang Kinasih yang keras kepala. Namun tidak akan di situasi yang seperti ini. Tentu ini bukan situasi yang ideal untuk tetap mempertahankan keras kepala dari seorang Kinasih. Hingga Baim dan adiknya meminta Kinasih untuk bisa lebih melunak lagi dalam menyikapi apa yang ada.
"Apa kamu tidak kasihan dengan Ibu mertua kamu sendiri Kinasih. Dia juga Ibu kamu. Jadi seharusnya kamu bisa lebih iba dengan beliau." ujar adik Baim dengan begitu tegasnya.
"Ibu aku? Bukankah itu Ibu kalian. Ibu aku sudah lama meninggal. Jadi aku sama sekali tidak ada urusan dengan Ibu kalian itu." balas Kinasih tak kalah tegas dari adik Baim.
Kinasih marah dengan apa yang di ucapkan oleh adik Baim. Dia tak terima dengan apa yang di katakan oleh seorang Kinasih. Seharusnya Kinasih tidak mengatakan hal buruk itu pada ibu mertuanya sendiri. Sebab itu adalah tindakan yang tidak baik.
__ADS_1
Kinasih juga marah dengan apa yang di katakan oleh adik Baim. Dia merasa apa yang di katakan oleh adik Baim adalah perkataan yang tidak sesuai dan tidak hormat pada seorang Kinasih. Hingga Kinasih pun tak segan menampar wajah adik dari Baim dengan begitu kerasnya.
Adik Baim yang geram dengan ulah seorang Kinasih. Kembali berniat untuk membuat Kinasih merasakan apa yang dia rasakan. Sebuah tamparan, rasanya cukup untuk membalas apa yang Kinasih lakukan pada dirinya. Itu adalah hal yang harus di lakukan oleh adik Baim pada seorang Kinasih yang telah melakukan tindakan yang kurang ajar pada adik Baim.
Baim yang tidak ingin terjadi keributan antara Kinasih dengan adiknya. Akhirnya meminta adiknya untuk bisa lebih sabar dalam menghadapi sikap Kinasih yang memang terkadang kurang ajar. Kinasih memang memiliki sikap yang sedikit kurang ajar. Apalagi dia adalah perempuan yang tak pernah mau kalah dalam banyak hal. Begitu juga dengan sikap keras kepala yang ada pada dirinya. Itu semakin membuat adik Baim geram dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Baim pun mulai menenangkan adik dan istrinya. Baim tahu, keduanya tak terima dengan perlakuan satu sama lain. Namun keduanya harus bisa bersikap lebih dewasa lagi. Ada banyak tetangga yang mendengar keributan antara keduanya. Hingga kegaduhan yang terjadi, beresiko membuat semua tetangga di rumah Baim tahu. Itu yang seharusnya di pikirkan oleh keduanya.
Kinasih yang masih terlihat kesal pada adik iparnya. Terlihat menaruh dendam yang besar. Hingga saat dia akan pergi ke kamarnya, Kinasih mengancam adik iparnya tersebut. Sebab menurut Kinasih, apa yang di lakukan oleh adiknya adalah tindakan yang kurang ajar.
__ADS_1
Sehingga wajib di berikan sedikit pelajaran yang setimpal dengan apa yang di lakukan oleh adik Baim pada Kinasih.