Jimat Warisan

Jimat Warisan
Penawaran Lukas


__ADS_3

Lukas sudah berbicara dengan haji Sholeh akan Baim yang hendak meminjam uang padanya. Mungkin ini terdengar aneh, tapi itulah kenyataan yang ada. Sebab selama ini Baim dan haji Lukas melakukan perang dingin.


Lukas meyakinkan haji Sholeh untuk memberikan pinjaman uang pada seorang Baim yang memang sangat membutuhkan uang tersebut. Di mana ini akan jadi ladang pahala bagi seorang haji Sholeh yang sudah menolong seorang Baim. Kapan lagi haji Sholeh bisa membantu seorang yang sedang membutuhkan seperti halnya Baim saat ini.


Haji Sholeh yang pun menerima permintaan dari Lukas yang di bantu oleh Darwis. Dia mau meminjamkan uang pada seorang Baim, walaupun masih ada rasa kesal pada seorang Baim yang telah menipu dirinya ratusan juta saat itu. Namun dengan jaminan dari Lukas dan Darwis. Haji Sholeh pun bersedia untuk meminjamkan uang pada seorang Baim untuk menebus ibunya di rumah sakit.


Lukas yang sudah memiliki uang yang di butuhkan oleh seorang Baim. Segera membawa uang tersebut menuju Baim. Dia akan segera memberikan uang itu pada Baim. Hingga Lukas tidak sabar untuk memberikan uang itu pada Baim.


Lukas yang menaiki angkutan umum, tiba di rumah ketika malam tiba. Dia pun nampak bersemangat untuk menemui seorang Baim yang tentu masih di pusingkan dengan biaya rumah sakit yang mahal.


Melihat Baim yang masih duduk termenung di kursi tunggu di depan ruang perawatan ibunya. Lukas langsung menghampiri Baim dengan segera. Wajah Baim nampak begitu bersedih.


"Selamat malam Paman." sapa Lukas mengejutkan Baim.


"Malam Lukas." Baim terkejut.

__ADS_1


Baim mempersilakan Lukas untuk duduk di sampingnya. Hingga Lukas pun langsung duduk di samping seorang Baim.


"Ada apa kamu datang ke sini malam-malam seperti ini?" tanya Baim.


"Jadi Paman, aku sudah mendapatkan uang pinjaman dari haji Sholeh. Uangnya sudah saya kantongi." jawab Lukas penuh senyuman.


Tiba-tiba seorang Kinasih datang menghampiri Lukas dan Baim. Dia yang kurang suka dengan sosok haji Sholeh, menolak uang pinjaman dari haji Sholeh. Dia mengatakan jika Baim akan segera melunasi biaya rumah sakit dengan uang hasil keringatnya sendiri. Uang gaji yang akan Baim dapatkan dari seorang Lutfhi.


Baim dan Lukas sama-sama terkejut. Baim sebelumnya tidak mendapatkan informasi akan kembali bekerja di proyek milik Lutfhi. Dia sendiri memang tidak akan bekerja kembali di proyek itu. Ini sudah jadi komitmen seorang Baim.


"Tidak, kamu akan tetap bekerja dengan seorang Lutfhi. Dia akan membayar semua biaya perawatan dari Ibu kamu. Jadi kamu tidak harus meminjam uang pada haji sombong tersebut." balas Kinasih dengan tegasnya.


Baim ingin kembali menolak dan menyanggah ucapan dari istrinya tersebut. Namun Kinasih tidak ingin di sanggah, sehingga Baim terpaksa mengikuti apa yang Kinasih inginkan. Dia tetap harus ikut dalam alur yang sudah Kinasih tentunya. Baim pun harus bekerja di proyek milik Lutfhi. Apalagi Kinasih sudah mengambil setengah gaji bulan ini sebagai biaya pengobatan dari ibu Baim. Dengan begitu, Baim sudah tidak memiliki alasan untuk menolak lagi. Dia harus ikut dalam alur yang di buat oleh seorang Kinasih dalam bekerja. Tidak ada alasan apapun lagi. Baim harus kembali bekerja di proyek seorang Luthfi.


Lukas lebih memilih untuk mengalah, tidak baik bagi seorang Lukas untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain. Jika memang Kinasih sudah mendapatkan uang tersebut, maka uang dari haji Sholeh akan Lukas kembalikan lagi. Sehingga Baim batal meminjam uang dari haji Sholeh.

__ADS_1


Namun Lukas tetap menyarankan ibu Baim tersebut untuk di bawa ke guru ngajinya. Mungkin saja dengan berobat ke guru ngajinya, akan ada hasil yang baik bagi ibu Baim.


Baim sebenarnya setuju, namun lagi-lagi Kinasih menolak semua itu. Dia berpendapat bahwa Baim seharusnya tidak membawa ibunya tersebut ke guru ngaji Lukas. Melihat kondisi ibu Baim yang sudah mulai membaik. Jadi ibu Baik tidak harus di bawa menuju rumah sakit.


"Untuk apa ibu di bawa ke tempat guru ngaji Lukas. Lebih baik ibu di rawat di sini saja. Aku lihat ibu sudah jauh membaik." ujar Kinasih dengan tegasnya.


"Tapi ada baiknya Bu Purnasih di bawa terlebih dahulu ke guru ngaji saya Bi. Siapa tahu ada hasil yang lebih baik lagi." balas Lukas meyakinkan.


"Hasil seperti apa. Ini juga saya lihat sudah jauh lebih baik. Kamu jangan mengada-ada Lukas. Ibu mertua saya sudah jauh lebih baik. Jadi dia tidak perlu di bawa ke dukun itu." bantah Kinasih.


Lukas cukup kesal saat Kinasih memanggil guru ngajinya dengan panggilan dukun. Ini tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Guru ngaji Lukas tentu bukan seorang dukun yang menyembuhkan seseorang dengan bantuan mahluk astral. Guru ngajinya meminta bantuan pertolongan pada Allah semata. Tidak ada mahluk lain yang di mintai pertolongan, selain meminta bantuan pada Allah SWT. Itu yang coba di tegaskan oleh seorang Lukas pada Kinasih.


Namun Kinasih tetap tidak menerima penjelasan dari seorang Lukas. Bagi Kinasih, guru ngaji yang di sarankan oleh Lukas adalah seorang dukun. Itu anggapan yang sudah terbentuk dalam benak seorang Kinasih.


Lukas yang tak mau ribut dengan seorang Kinasih. Akhirnya lebih memilih untuk mengalah. Mungkin ini sudah menjadi hal yang harus di lakukan oleh seorang Lukas. Dia tidak harus melawan seorang Kinasih yang merupakan seorang yang keras kepala. Tidak baik juga harus beradu argumentasi dengan seorang yang memiliki usia yang jauh lebih dewasa di banding Lukas. Itu yang coba di ajarkan oleh guru ngaji Lukas. Hingga Lukas memilih untuk mundur dalam perdebatan yang tiada akhir itu.

__ADS_1


Baim yang awalnya tertarik untuk membawa ibunya ke guru ngaji Lukas. Kini setuju dengan apa yang di sampaikan oleh seorang Kinasih. Dia menuruti Kinasih, kemauan istrinya tersebut langsung di turuti oleh Lukas. Padahal Lukas sudah sangat yakin untuk membawa ibunya itu untuk pergi ke rumah guru ngaji seorang Lukas. Namun kali ini Baim berubah, dia akhirnya lebih memilih saran dari istrinya. Saran yang di anggap Baim sudah sangat tepat bagi ibunya.


__ADS_2