
Seorang miliarder tua memilih untuk pulang kampung halaman. Namanya adalah haji Sholeh. Sudah hampir 40 tahun dia menghabiskan waktunya untuk membuka usaha di kota. Di mana ini adalah kesempatan bagi haji Sholeh untuk bisa mengabdikan hidupnya pada kampung halamannya.
Haji Sholeh terlihat begitu senang saat sopir pribadinya mulai membawa mobilnya menuju rumah yang baru di belinya. Haji Sholeh pun kembali mengingat setiap lokasi yang ada di kampung halamannya. Mungkin semuanya sudah tidak sama lagi, sudah jauh berbeda sejak 40 tahun yang lalu.
Haji Sholeh pun menyempatkan diri untuk singgah di salah satu warung yang masih berdiri hingga saat ini. Haji Sholeh ingat betul, sebelum keberangkatan dirinya menuju kota. Dia sempat di berikan sebuah roti oleh pemilik warung tersebut. Hingga haji Sholeh tidak akan melupakan bagaimana baiknya pemilik warung itu memberikan dirinya bantuan.
__ADS_1
Kini warung yang sebagian di bangun dari kayu itu, sudah berganti pedagang. Bukan orang yang dahulu haji Sholeh kenal lagi. Dia merupakan generasi ketiga dari pemilik warung tersebut. Pemilik warung yang kini bernama Ian itu, merupakan cucu dari pemilik warung yang pertama.
Haji Sholeh pun memesan sebuah mie instan goreng yang saat itu menjadi makanan favorit darinya. Dia begitu ingat bagaimana mie instan goreng yang selalu dia pesan. Memiliki rasa yang berbeda dengan mie instan yang dia buat, atau mungkin pesan di tempat lain. Mie instan itu memiliki rasa yang berbeda ketika berada di lidah seorang haji Sholeh. Makanya dia selalu merindukan mie instan dari warung tersebut.
Haji Sholeh mungkin akan merasakan hal yang berbeda, mengingat orang yang memasak mie instan itu bukan orang yang sama. Namun haji Sholeh hanya ingin mengulang kembali kenangan yang selama ini pernah dia ukir di kampung tersebut. Hingga haji Sholeh pun akan bisa bernostalgia dengan begitu indahnya.
__ADS_1
Dua pesanan dari haji Sholeh dan sopirnya tersebut pun segera datang. Ian membawa dua piring mie goreng itu ke hadapan haji Sholeh dan sopirnya. Mereka berdua terlihat begitu antusias untuk menyantap mie goreng tersebut. Hingga sopir haji Sholeh tak tahan mencium aroma mie goreng yang begitu menggoyangkan hidungnya.
"Dari baunya saja sudah tercium, mie goreng ini seperti juaranya di sini." ujar sopir haji Sholeh.
"Iya, aromanya sama. Tapi coba dulu rasanya. Ini pasti berbeda." balas haji Sholeh yang mulai mengaduk mie goreng miliknya.
__ADS_1
Sopir haji Sholeh pun segera memakan mie goreng miliknya. Satu suapan pertama langsung membuatnya jatuh hati dengan rasa mie goreng tersebut. Seperti ada tambahan bumbu lain yang ada di mie goreng tersebut. Padahal merek mie goreng itu pasaran. Tapi ada sedikit rasa yang berbeda ketika memakan mie goreng tersebut. Hingga dia merasa sesuatu hal yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Dia menyukai menyantap mie goreng di tempat ini.
Haji Sholeh pun langsung teringat kembali dengan momen-momen yang pernah terjadi di warung tersebut. Namun momen yang paling di ingat oleh haji Sholeh, tentu momen ketika warung itu hendak di bakar oleh sekelompok warga. Mereka merasa apa yang ada di warung tersebut adalah bagian dari pesugihan. Sehingga warga pun sempat bernafsu untuk membakar warung tersebut. Momen itu tidak akan pernah di lupakan oleh seorang haji Sholeh.