Jimat Warisan

Jimat Warisan
Kunjungan Haji Sholeh


__ADS_3

Haji Sholeh terlihat begitu antusias saat dia akan berkunjung ke rumah seorang Darwis. Haji Sholeh ingat betul, ketika itu dia kerap membawa Darwis bermain bersama dengan paman Darwis yang sudah meninggal. Darwis kerap merepotkan haji Sholeh terdahulu. Hingga tak heran haji Sholeh ingat dengan momen tersebut.


"Kita hari ini mau kemana lagi Pak haji?" tanya sang sopir.


"Kita bakal ke rumah teman saya. Sudah lama saya tidak berkunjung ke rumah dia." jawab haji Sholeh.


Perjalanan itu kembali membuka lembaran cerita antara haji Sholeh dengan teman dekatnya terdahulu. Dia ingat betul akan setiap momen yang terjadi. Di mana temannya yang bernama Ahyar itu kerap menghabiskan waktu bersama dengan haji Sholeh. Hingga Ahyar dan haji Sholeh sempat berjanji untuk membuat usaha bersama.


Namun harapan keduanya harus pupus, saat Ahyar harus meninggal usai kecelakaan. Hingga rencana untuk membuat usaha bersama itu harus pupus begitu saja. Ahyar dan haji Sholeh pun harus berpisah selamanya.


Momen pemakaman dari Ahyar menjadi momen terakhir bagi haji Sholeh berkunjung ke kampung tersebut. Sejak saat itu, haji Sholeh tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di kampung tersebut. Hingga ada sebuah rasa rindu yang terpendam yang di rasakan oleh haji Sholeh. Rindu yang harus di bayar oleh haji Sholeh untuk apa yang ada.


Haji Sholeh pun ingin mengajak Darwis untuk ziarah ke makam dari Ahyar. Darwis yang di kenal sebagai seorang yang taat dalam agama. Memiliki kemampuan yang cukup baik untuk menjadi pembimbing bagi haji Sholeh dalam ziarah ke makam seorang Ahyar.


Tiba di rumah Darwis, haji Sholeh tidak bertemu dengan Darwis. Dia hanya di sambut oleh seorang Ima. Dengan wajah yang masih bersedih akan kehilangan Sandra dan Sandi. Ima menyambut kedatangan haji Sholeh yang tentunya tidak ia kenali sama sekali.


"Assalamualaikum." sapa haji Sholeh.

__ADS_1


"Walaikumsallam." balas Ima dengan wajah sedikit bingung.


"Darwisnya ada?" tanya haji Sholeh.


"Suami saya sedang berada di bangunan sekolah anak saya. Memang Bapak ini siapa yah?"


"Perkenalkan, nama saya haji Sholeh. Saya teman dari suami kamu."


"Saya Ima. Saya istri dari Darwis."


Ima pun ikut bersama dengan haji Sholeh menuju lokasi bangunan sekolah Lukas. Dia akan menjadi penunjuk arah bagi seorang haji Sholeh. Hingga haji Sholeh tidak akan tersesat untuk bertemu dengan seorang Darwis.


Di sepanjang perjalanan menuju lokasi bangunan itu. Pak haji Sholeh terus menceritakan kedekatan dirinya dengan Darwis dan pamannya Ahyar. Hingga akhirnya Ima pun paham akan status haji Darwis tersebut.


Tiba di lokasi bangunan, Ima langsung mengajak haji Sholeh untuk segera bertemu dengan Darwis. Dia tak sabar untuk mempertemukan haji Sholeh dengan Darwis. Mengingat ada sedikit rindu yang sudah tak tertahankan oleh dari haji Sholeh yang harus di balaskan pada seorang Darwis. Hingga Ima langsung segera mengajak haji Sholeh untuk turun dari dalam mobilnya.


Darwis begitu terkejut saat melihat wajah dari haji Sholeh yang sama sekali tidak mengalami banyak perubahan. Haji Sholeh terlihat tetap sama. Tubuhnya pun masih begitu bugar, tidak seperti orang-orang seusia dia. Di mana tubuhnya mulai renta di makan usia.

__ADS_1


Darwis langsung memeluk haji Sholeh dengan begitu erat. Darwis memang sering bertemu haji Sholeh di kota. Namun untuk pertemuan di kampung. Ini mungkin jadi pertemuan pertama bagi Darwis dengan haji Sholeh. Sehingga pertemuan ini benar-benar menjadi pertemuan yang istimewa antara haji Sholeh dengan seorang Darwis.


"Saya pikir pak haji tidak akan kembali lagi kampung ini. Sudah hampir 40 tahun tidak pernah kembali. Akhirnya pak haji datang lagi ke kampung." ujar Darwis dengan wajah sumringah.


"Iya, saya pun tidak pernah terpikir untuk menghabiskan masa tua saya di kampung ini. Namun sepertinya saya akan menghabiskan masa tua saya di kampung ini." balas haji Sholeh.


Tak berselang lama, Lukas datang menemui Darwis yang masih terlihat sumringah bertemu dengan haji Sholeh. Lukas dengan begitu sopannya menyalami haji Sholeh. Padahal Lukas tidak pernah bertemu dengan haji Sholeh sebelumnya. Namun Lukas tetap menaruh hormat pada seorang haji Sholeh.


Darwis memperkenalkan Lukas pada haji Sholeh. Darwis juga mulai menceritakan perjuangan seorang Lukas yang hendak membuat sebuah bangunan sekolah yang akan di gunakan untuk anak-anak belajar ilmu agama. Ini akan menjadi bekal untuk Lukas dan Darwis di akhirat nantinya. Bekal amal sholeh yang akan terus mengalir.


Haji Sholeh yang melihat bangunan Lukas yang masih setengah jadi. Mulai tertarik untuk memberikan bantuan dana untuk pembangunan sekolah. Mungkin ini juga akan jadi investasi pahala bagi seorang haji Sholeh untuk di akhirat kelak. Hingga haji Sholeh tertarik untuk membantu biaya pembangunan sekolah yang masih setengah jadi tersebut.


"Bagaimana jika saya bantu untuk biaya pembangunan sekolah ini juga. Seperti masih banyak yang harus di bangun di sini." ujar haji Sholeh.


Darwis dan Lukas tentu senang dengan ide dari seorang haji Sholeh. Mereka memang membutuhkan banyak dana untuk pembangunan sekolah tersebut. Sehingga dengan adanya bantuan dana dari haji Sholeh. Mereka berdua bisa membangun sekolah tersebut dengan cepat. Sebab dana menjadi salah satu penghalang bagi Darwis dan Lukas dalam mendirikan bangunan sekolah impian mereka berdua.


Lukas langsung mengucapkan banyak terima kasih pada seorang haji Sholeh. Dia benar-benar antusias untuk menyambut rencana dari seorang haji Sholeh. Ini rencana luar biasa yang harus di dukung. Hingga Darwis dan Lukas begitu senang dengan apa yang akan di lakukan oleh haji Sholeh.

__ADS_1


__ADS_2