
Selepas pulang dari pembangunan sekolah Lukas. Tini menyempatkan diri untuk mendatangi rumah Baim. Tini datang tanpa di temani oleh Lutfhi. Mungkin Lutfhi masih cukup emosi dengan apa yang telah di lakukan oleh Baim di proyeknya. Sehingga Tini yang di utus Lutfhi untuk datang menemui seorang Baim.
Ini menjadi tugas yang berat bagi seorang Tini. Namun Lutfhi yakin, Tini akan mampu merayu seorang Baim untuk kembali bekerja di proyek tersebut. Walaupun nantinya Baim akan menjadi tumbal proyek dari seorang Lutfhi pada Genderuwo miliknya.
Tini langsung di sambut oleh Kinasih yang merupakan kakak kandungnya. Kinasih merasa iri dengan penampilan dari adik bungsunya yang terlihat begitu mewah. Hampir setiap sudut tubuhnya di isi oleh perhiasan mewah. Hingga Kinasih tak henti menatap setiap perhiasan yang menempel di tubuh seorang Tini.
"Eh Tin, kamu mau apa datang ke rumah Mbak?" tanya Kinasih.
"Mas Baimnya ada Mbak?" tanya balik Tini.
Kinasih terdiam sejenak. Dia mulai berpikir sesuatu yang buruk. Kinasih mengira kedatangan dari Tini untuk menuntut Baim. Sehingga dia khawatir hal tersebut akan terjadi pada suaminya tersebut.
"Eeee... Emang ada apa Tin, kok kamu cari mas Baim?" tanya Kinasih dengan ragu-ragu.
"Jadi aku mau nawarin lagi Mas Baik untuk bekerja di proyek perumahan itu. Aku kasihan sama Mbak, masa Mas Baim kembali nganggur seperti awal lagi sih. Jadi aku harap ini tidak akan terjadi lagi sama mas Baim." jawab Tini.
Kinasih pun langsung menyambut senang dengan tawaran yang di berikan oleh Tini. Ini benar-benar menjadi sebuah penawaran yang menggiurkan. Baim di pecat, namun dia kembali di pekerjakan oleh Tini dan Lutfhi. Sebuah hal yang langka terjadi. Kinasih benar-benar menyambut dengan penuh kebahagiaan apa yang di tawarkan oleh Tini tersebut. Dia langsung mengajak Tini untuk segera menemui seorang Baim yang sedang memandikan burung kenari miliknya.
__ADS_1
Tini di persilakan oleh Kinasih untuk duduk di ruang tamu. Sementara Kinasih akan segera memanggil seorang Baim yang masih sibuk dengan burung kenari miliknya tersebut. Kinasih meminta Tini untuk sabar, Baim yang di cari oleh Tini akan segera bertemu dengan Tini.
Kinasih begitu senang, sehingga saat dia menemui Baim di belakang rumah. Kinasih terus tersenyum, hingga Baim sempat mengira seorang Tini mengalami gangguan jiwa. Sebab dia tersenyum terus menerus.
"Apa yang membuat kamu tersenyum seperti itu?' tanya Baim.
"Aku senang Mas. Kamu sebentar lagi akan kembali bekerja." jawab Kinasih penuh semangat.
"Bekerja? Aku tidak memasukkan lamaran pekerjaan ke mana pun. Bagaimana aku bisa bekerja!" ujar Baim.
"Tidak memang, tapi nasib baik sedang ada pada kamu sayang. Tini datang ke rumah kita. Dia hendak menawari kamu pekerjaan mandor lagi. Itu tawaran yang paling baik menurut aku." ucap Tini dengan wajah sumringah.
"Aku sudah di hina sama adik ipar kamu. Belum lagi perut aku yang sakit di pukul olehnya. Apa mungkin aku akan kembali ke sana sebagai karyawan dia. Aku rasa itu sama dengan merendahkan harga diriku sendiri." Tegas Baim dengan raut wajah serius.
Kinasih tidak menyangka Baim akan mengucapkan hal tersebut. Bagi Kinasih apa yang di ucapkan oleh Baim adalah kesalahan berpikir yang berat. Seharusnya Baim tidak mengatakan hal tersebut. Dia harus melupakan kejadian di waktu itu. Baim harus bisa segera bangkit, lalu kembali bekerja dengan Lutfhi. Itu yang harusnya di lakukan oleh Baim.
Baim yang sedikit keras kepala, tetap menolak tawaran dari Tini. Bahkan Baim menolak untuk bertemu dengan seorang Tini yang sudah sedari tadi menunggu dirinya tersebut. Baim meminta Kinasih untuk mengusir seorang Tini dari rumahnya. Dia tidak ingin berbicara banyak lagi dengan Tini dan Lutfhi. Mereka telah merendahkan harga diri seorang Baim. Walaupun memang Baim sendiri yang melakukan hal tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak habis pikir dengan kamu. Jelas-jelas kamu yang salah, tapi kamu malah tidak ingin di salahkan. Dasar egois." ujar Kinasih dengan wajah marahnya.
Baim jelas tak terima dengan apa yang di katakan oleh Kinasih. Dia hendak menampar Kinasih dengan kerasnya. Tapi apa yang di lakukan oleh Baim langsung terhenti. Dia ingat ucapan dari ibunya untuk tidak pernah menampar perempuan mana pun. Begitu juga dengan Kinasih yang merupakan seorang perempuan.
Baim terlihat menyesali perbuatannya. Untung dia langsung ingat dengan perkataan dari ibunya tersebut. Hingga Baim mengurungkan niatnya untuk menampar seorang Kinasih yang kecewa berat terhadap dirinya.
"Kenapa kamu tidak jadi menamparku, kamu takut. Atau apa!" Gerutu Tini.
Baim menunduk. Dia menunjukkan wajah sedihnya yang teramat. Baim merasa apa yang telah di lakukan oleh dirinya adalah perbuatan yang tidak baik. Sehingga Baim akhirnya lebih memilih untuk terdiam. Mungkin dengan diam itu jauh lebih baik. Daripada harus kembali ribut dengan Tini. Ribut akan semakin membuat emosi dari Baim tidak terkontrol. Itu yang akan sangat berbahaya.
Namun Baim tetap pada keyakinan dari dirinya. Dia tidak ingin kembali bekerja dengan seorang Lutfhi. Dia sudah cukup sakit hati dengan apa yang di lakukan oleh Lutfhi. Walaupun sekali lagi, Baim adalah pelaku utamanya. Namun Baim tetap tidak merasa dia adalah pelaku dari semua perbuatannya tersebut.
Kinasih dengan wajah yang kesal bercampur malu. Kembali mendatangi Tini yang sebenarnya menunggu kehadiran dari seorang Baim. Tini pun terlihat kecewa saat Kinasih datang hanya dengan seorang diri. Tidak ada Baim di sampingnya, hanya ada Kinasih seorang diri.
"Maafkan Mbak Tin. Mas Baim tidak mau menerima tawaran pekerjaan dari kalian. Padahal Mbak udah bujuk dengan sekuat tenaga. Tapi mas Baim tetap tidak mau untuk menerima tawaran pekerjaan tersebut." ujar Kinasih dengan wajah menunduk.
Tini merasa Baim adalah orang paling bodoh di dunia. Di mana lagi dia akan menemukan seorang penjahat yang akan kembali di pekerjakan di tempat yang sama. Tidak ada, selain di proyek tersebut. Namun Baim dengan sikap keras kepalanya menolak tawaran yang menggiurkan tersebut. Hingga Baim merasa Baim adalah sosok manusia bodoh yang tidak tahu di untung. Itu yang membuat Tini begitu kesal pada seorang Baim.
__ADS_1
Tini pun langsung segera pergi dari rumah Baim dengan wajah yang kecewa. Dia merasa Baim adalah pria munafik yang tak tahu di untung.