
Melihat kondisi suaminya yang sudah di selimuti oleh sebuah kain. Pada akhirnya Kinasih merasakan sebuah kehilangan besar akan Baim. Dia yang selalu bersikap kasar pada Baim selama ini. Kini.sudah sadar akan sikap yang seharusnya tidak di tunjukkan pada Baim. Mengingat Baim adalah sosok yang begitu pengertian pada dirinya.
Kinasih terus menangis di hadapan jenazah Baim. Air matanya mengalir deras. Hingga banyak yang merasa iba melihat tangis yang cukup deras dari Kinasih.
Namun tidak dengan adik Baim, dia merasa apa yang di tunjukkan oleh Kinasih adalah kebohongan semata. Kinasih hanya berpura-pura saja. Padahal dia senang dengan kondisi Baim saat ini. Di mana Kinasih merasa bebannya sudah hilang secara perlahan.
__ADS_1
Padahal Kinasih benar-benar kehilangan sosok Baim sebagai suaminya. Apalagi Baim adalah sosok suami yang selama ini Kinasih bisa peras dan manfaatkan secara finansial. Tentu ini menjadi sebuah kehilangan yang besar bagi Kinasih.
Air mata Kinasih yang jatuh untuk Baim, tetap di anggap oleh adik Baim sebagai air mata penuh kepalsuan. Kinasih tidak tulus dalam menangisi kepergian dari Baim, dia hanya berpura-pura untuk melakukan itu. Tidak benar-benar bersedih atas kehilangan Baim dalam hidupnya. Sebab Kinasih masih bisa mencari pria lain yang bisa dia manfaatkan.
Melihat respon adik iparnya yang kurang baik, Kinasih tentu tak terima. Sebab air mata Kinasih adalah air mata yang memang jatuh untuk menangisi kepergian dari Baim. Dia tidak berbohong dalam kesedihan itu. Apalagi merasa itu adalah hal yang konyol. Sebab Kinasih benar-benar kehilangan sosok Baim sebagai suaminya.
__ADS_1
Kali ini ibu Baim cukup tegas dalam menentukan sikapnya. Dia tidak takut untuk mengucapkan kalimat yang sedikit melukai hati Kinasih. Apalagi Kinasih di kenal sebagai seseorang yang memang sering memaksa Baim untuk bekerja dengan kondisi yang buruk. Itu menjadi catatan tersendiri bagi ibu Baim dalam melihat sikap Kinasih yang memang tidak memiliki empati lebih pada Baim.
Melihat Kinasih yang terus menangis, ibu mertuanya itu meminta Kinasih untuk pergi. Sebab tangisan yang keluar dari mulut dan matanya, cukup mengganggu prosesi pemakaman yang akan segera di laksanakan. Ibu mertuanya itu sangat tidak ingin tangisan dari Kinasih semakin membuat prosesi pemakaman di hari ini menjadi lebih buruk. Terlebih Kinasih menangis dengan suara yang cukup kuat. Sehingga Kinasih harus bisa menghentikan suara tangisnya tersebut.
Tak terima di usir oleh ibu mertuanya sendiri. Kinasih pun kini mulai memaki ibu mertuanya. Sebab menurutnya, tidak etis sebagai seorang istri. Kinasih tidak ada di pemakaman suaminya sendiri. Ini tidak adil bagi Kinasih, sebab dia tidak memiliki waktu untuk bersama dengan suaminya tersebut untuk terakhir kali. Padahal Kinasih berharap bisa melihat seluruh proses pemakaman yang ada. Tidak dengan apa yang di lihatnya hari ini. Kinasih justru di larang oleh keluarga Baim untuk bisa melihat proses pemakaman dari suaminya tersebut.
__ADS_1
Beberapa orang pun turun tangan untuk melerai semuanya. Sehingga tidak ada lagi keributan yang terjadi di makam Baim. Mereka meminta Kinasih dan mertuanya itu untuk bisa lebih tenang lagi. Tidak beradu mulut, apalagi sampai mengadu fisik.
Sebagai hasil akhir, Kinasih pun di minta untuk pergi dari makam Baim. Sebab dia di rasa cukup mengganggu prosesi pemakaman yang akan di lakukan. Kinasih tentu tak terima dengan keputusan itu. Hingga Kinasih memaki semua orang yang ada di sana. Sebelum akhirnya dia pergi dengan mulut yang terus memaki semua orang yang ada di sana.