
Tak hanya Lukas yang mengecek bangunan sekolahnya saja. Seorang Lutfhi pun datang ke tempat proyek pembangunan perumahan yang tengah di garap oleh seorang Baim. Lutfhi dengan pakaian super mewah, berjalan bersama dengan Tini menyisir setiap bangunan rumah yang masih setengah jadi tersebut.
Lutfhi bertemu dengan beberapa pekerja yang terlihat bekerja dengan begitu giat saat melihat kedatangan dari Lutfhi dan Tini. Mereka pun terlihat begitu bersemangat di tengah terik matahari yang begitu menyorot area perumahan.
Melihat tukang bangunan itu, Lutfhi menjadi ingat saat dia juga bekerja sebagai tukang bangunan. Lutfhi merasa itu adalah momen paling menyenangkan dalam hidupnya. Bisa menjadi seorang tukang bangunan yang membangun bangunan rumah dengan gaji yang minim.
Begitu juga Tini, dia merasa pernah menjadi seorang istri tukang bangunan. Dia menunggu Lutfhi untuk pulang membawa uang. Namun gajinya masih di tahan oleh bossnya sendiri. Itu adalah kenangan tersendiri bagi seorang Tini. Dia pernah merasakan hal yang sama di rasakan oleh istri para pekerja bangunan.
Tini dan Lutfhi memutari area yang memiliki luas hampir 60 hektare tersebut. Namun dia tak menemukan keberadaan dari seorang Baim. Tidak ada Baim di area perumahan itu. Hal itu pun langsung jadi pertanyaan bagi seorang Lutfhi dan Tini. Seharusnya Baim berada di area itu untuk melihat kondisi pekerja, bukan malah tidak ada.
Lutfhi langsung menelpon Baim, dia ingin tahu keberadaan dari Baim. Mungkin saja Baim masih tertidur di rumahnya. Sehingga dia telat datang ke proyek.
Benar saja apa yang di katakan oleh Lutfhi. Baim baru selesai mandi, dia ketiduran. Sehingga dia telat bangun di hari ini.
Lutfhi langsung mengultimatum seorang Baim. Jika dalam 30 menit Baim tidak segera datang ke proyek. Lutfhi akan memotong gaji Baim sebesar 50 persen. Tidak ada kata maaf bagi serta Lutfhi. Ini sudah menjadi ketentuan dari seorang Lutfhi. Jika Baim masih bandel. Lutfhi pun siap memecat Baim sebagai mandor di proyeknya tersebut.
Sontak Baim yang baru selesai mandi pun langsung bersiap-siap untuk segera datang ke lokasi proyek. Ini menjadi kesempatan yang tidak baik bagi seorang Baim. Dia harus bisa segera sampai ke tempat proyek. Jika tidak, bukan tidak mungkin Baim akan di pecat oleh seorang Lutfhi untuk menjadi seorang mandor.
__ADS_1
Menunggu Baim datang ke tempat proyek. Lutfhi dan Tini terus menyusuri tempat yang ada di proyek. Tujuannya kini tertuju pada sebuah lokasi yang di jadikan saung bagi setiap pekerja berisitirahat. Saung itu tidak besar, namun sepertinya saung itu cukup nyaman untuk berlindung dari teriknya sinar matahari di pagi ini.
Lutfhi yang tak henti menggandeng tangan istrinya. Mulai berjalan menuju saung tersebut. Dia terlihat begitu bahagia saat membawa Tini menuju saung tersebut. Mungkin tempat itu akan menjadi tempat yang cukup romantis bagi Tini dan Baim. Mengingat lokasi saung itu yang berada di depan sebuah bukit yang indah. Hingga Lutfhi dan Tini bisa menghabiskan banyak waktu mereka untuk berada di saung tersebut. Menikmati indahnya pemandangan bukit yang begitu indah dengan panorama yang ada.
Tini mengaku begitu senang dengan suasana di pagi ini. Dia melihat bukit yang indah berada di depan matanya. Begitu juga dengan udara yang sejuk, begitu terasa menenangkan hati dan pikiran di hari ini.
"Apa kamu ingat, kita pernah juga berada di saung seperti ini saat pacaran dulu." ucap Tini dengan wajah malu-malu.
"Coba aku ingat dulu...." jawab Lutfhi mengingat.
Akhirnya Lutfhi pun mengingat momen yang begitu indah dalam hidupnya tersebut. Saat itu Tini dan Lutfhi berada di sebuah saung. Itu adalah momen ketika keduanya baru berpacaran beberapa hari. Sehingga cinta keduanya masih cukup kuat. Itu yang membuat Tini begitu ingat momen romantis tersebut.
Ingatan mereka akan momen romantis itu langsung hilang seketika. Saat kedua anak mereka datang menghampiri keduanya ke proyek. Mereka berdua langsung mengagetkan Lutfhi dan Tini yang pertama kali juga melakukan ciuman sebagai sepasang kekasih.
Tak hanya merusak momen yang cukup krusial itu. Kedua anak Tini juga mulai memainkan benda-benda yang ada di saung tersebut. Tak hanya sekedar memainkan saja, kedua anak Lutfhi dan Tini juga mulai mengacak-acak benda yang ada di saung tersebut.
Tini sudah mengingatkan kedua anaknya itu untuk tidak bermain-main dengan benda yang ada di saung itu. Tapi keduanya tidak peduli dengan apa yang Tini ucapkan. Mereka tetap bermain dengan benda. Hingga benda-benda yang awalnya tertata dengan begitu rapinya. Perlahan menjadi berantakan tak karuan.
__ADS_1
Paku-paku bertebaran di sekitar area area saung. Palu juga tak berada di tempat yang seharusnya. Begitu juga dengan perkakas lainnya yang di buat berantakan oleh kedua anak Tini dan Lutfhi. Saung yang awalnya rapi, kini berubah menjadi berantakan.
Namun dari semua hal yang berantakan tersebut. Hanya satu benda yang membuat seorang Lutfhi dan Tini gagal fokus. Keduanya melihat ke arah bon belanja yang ada di saung tersebut. Tentu bon belanja itu adalah bon belanja dari proyek seorang Lutfhi.
Lutfhi mengambil bon belanja itu, kemudian mulai melihat total belanja yang di belanjakan oleh seorang Baim. Tentu ini akan menjadi pertanyaan dari seorang Lutfhi, jika total belanja dari seorang Baim tidak sesuai dengan pengeluaran yang telah Lutfhi berikan pada seorang Baim.
Lutfhi begitu terkejut, saat melihat uang belanja dari seorang Baim tidak sesuai dengan uang yang telah di keluarkan oleh Lutfhi. Di mana Baim telah melakukan korupsi pada proyek Lutfhi tersebut. Sontak Lutfhi pun marah besar pada seorang Baim. Dia siap memberikan pelajaran pada seorang Baim yang telah bermain-main dengan proyek dirinya tersebut.
Tak hanya Lutfhi saja yang marah pada seorang Baim. Tini juga siap melakukan hal yang mungkin akan membuat Baim menyesal telah bermain-main dengan proyek dari seorang Lutfhi. Baim harus merasakan apa yang telah di lakukan oleh dirinya. Dia harus merasakan hal yang harus di pertanggungjawabkan oleh dirinya sendiri. Tidak serta merta dia lari begitu saja.
Di tengah rasa marah Lutfhi yang begitu besar. Baim datang dengan pakaian yang tidak begitu rapi. Rambutnya yang biasanya kelimis. Kini terlihat tak beraturan. Dia mungkin buru-buru datang ke proyek demi menghindari di pecat oleh seorang Lutfhi.
Baim sempat terlihat bercanda pada Lutfhi. Namun Lutfhi yang kadung marah pada seorang Baim. Langsung menghujamkan satu pukulan keras pada seorang Baim. Sontak Baim langsung kesakitan dengan apa yang di lakukan oleh Lutfhi.
Sebelum pergi meninggalkan Baim. Lutfhi pun berbisik di telinga kiri Baim. Di mana Lutfhi siap melakukan hal yang tidak pernah Baim pikirkan sebelumnya. Sebab Baim telah bermain-main dengan proyek seorang Lutfhi.
Tini pun menunjukkan ekspresi wajah yang sama seperti Lutfhi. Dia terlihat begitu marah pada seorang Baim. Dia telah mengecewakan Tini dan Lutfhi yang memberikan kepercayaan pada seorang Baim. Ini menjadi hal yang paling buruk bagi seorang Tini yang merupakan adik ipar dari Baim itu sendiri.
__ADS_1