
Lutfhi membawa makanan yang di beli olehnya menuju meja makan. Dia pun memanggil kedua anaknya untuk makan bersama dengan dirinya. Lutfhi sengaja tidak memanggil Tini untuk makan bersama dengan dirinya. Bagi Lutfhi, Tini mungkin saja masih marah dengannya. Sehingga Tini tidak akan mau untuk makan bersama dengan Lutfhi dan kedua anaknya.
Lutfhi yang terus memanggil kedua anaknya tak kunjung mendapatkan jawaban dari keduanya. Hingga Lutfhi merasakan hal yang aneh telah terjadi pada kedua anaknya. Tentu ada sesuatu hal yang membuat kedua anaknya tidak segera menghampiri Lutfhi di meja makan.
Lutfhi lantas menaruh makanan itu di meja makan. Kemudian dia berjalan menuju kamar kedua anaknya. Dia ingin memastikan kedua anaknya dalam keadaan baik-baik saja.
Begitu Lutfhi melihat ke dalam kamar anaknya. Dia melihat kedua anaknya yang termenung di dekat jendela. Tatapan kedua anaknya juga begitu kosong. Hingga Lutfhi pun langsung mencoba menolong kedua anaknya tersebut.
Saat Lutfhi menghampiri kedua anaknya tersebut, satu pukulan langsung di sarangkan oleh Fajar pada wajah Lutfhi. Sontak Lutfhi langsung merasa kesakitan dengan pukulan yang di berikan oleh Fajar di wajahnya. Kemudian di susul oleh anak kedua Lutfhi yang juga meninju Lutfhi tepat di bagian perutnya. Lutfhi pun lantas merasakan rasa sakit yang begitu terasa dengan pukulan yang di berikan oleh kedua anaknya tersebut.
Melihat kedua anaknya yang bersikap aneh pada dirinya. Lutfhi mulai merasa ada sesuatu hal yang janggal pada kedua anaknya tersebut. Lutfhi langsung berlari keluar dari dalam kamar anaknya tersebut. Lalu dia mengunci kedua anaknya di dalam kamar.
Dengan napas yang terbata-bata, Lutfhi berlari ke arah kamarnya. Dia ingin memberitahu pada Tini perihal kedua anaknya yang kesurupan. Sehingga Tini mungkin saja bisa menolong Lutfhi untuk menyembuhkan kedua anaknya yang kesurupan tersebut.
Tini yang masih tertidur, tak urung bangun saat Lutfhi terus berusaha membangunkannya. Sampai pada akhirnya Tini pun bangun, namun dia membalas perbuatan Lutfhi ketika malam hari lalu. Di mana Lutfhi membentak Tini dengan perkataan yang kasar. Itu pun di lakukan oleh Tini pada seorang Lutfhi.
__ADS_1
Lutfhi pun menyesal telah membentak Tini malam lalu. Hingga Tini merasa sakit hati dengan apa yang di lakukan oleh Lutfhi pada dirinya. Lutfhi benar-benar menyesali perbuatannya malam itu. Dia berjanji tidak akan melakukan hal yang sama di kemudian hari pada Tini. Janji pelaut seorang Lutfhi pada Tini.
Melihat kesungguhan hati dari Lutfhi, pada akhirnya Tini pun luluh dengan apa yang di lakukan Lutfhi pada dirinya. Dia mau memaafkan Lutfhi, tapi Tini tetap meminta Lutfhi untuk tidak berkata kasar lagi pada Tini. Sebab apa yang di lakukan oleh Lutfhi pada Tini adalah tindakan yang tidak wajar. Sehingga Lutfhi seharusnya menyadari hal tersebut.
Lutfhi menyesali semua yang di lakukan oleh dirinya. Ia berjanji tidak akan melakukan hal itu kembali. Lutfhi bahkan siap menebus kesalahannya dengan sebuah hadiah yang akan di berikan pada Tini. Apapun yang Tini inginkan akan di berikan oleh Lutfhi. Lutfhi berjanji akan hal tersebut.
Tini memeluk erat tubuh Lutfhi, dia mencium Lutfhi dengan penuh rasa bahagia. Dia memaafkan Lutfhi, tanpa syarat. Bagi Tini tidak harus hadiah apapun di berikan oleh Lutfhi pada Tini. Dia hanya ingin Lutfhi semakin dewasa lagi menjadi seorang suami. Di mana Tini berharap itu akan terjadi di kemudian hari. Sehingga Lutfhi akan terlihat semakin sempurna lagi di mata Tini.
Namun persoalan saat ini bukan soal kedewasaan. Akan tetapi mungkin dalam hal mencegah keburukan yang akan terjadi pada kedua anak mereka. Anak mereka membutuhkan pertolongan dari Lutfhi dan Tini saat ini. Keduanya sedang dalam masalah besar, setelah ada arwah yang bersemayam di dalam tubuh mereka.
Akhirnya Tini menemukan sebuah ide yang cemerlang dalam menghalau arwah gentayangan dari Baim. Mungkin saja Lutfhi bisa menggunakan keris sakti yang di milikinya untuk mengalahkan arwah gentayangan tersebut. Mengingat keris itu cukup sakti untuk mengalahkan arwah gentayangan dari Baim.
Lutfhi pun setuju untuk melakukan tindakan yang di inginkan oleh Tini. Dia segera mengambil keris sakti yang tak pernah ia lupa bawa tersebut. Dia siap mengusir arwah gentayangan dari Baim dengan keris sakti tersebut.
Lutfhi sudah memegang keris itu, namun dia tidak tahu cara menggunakan keris itu dalam mengalahkan arwah gentayangan dari Baim. Tini juga tidak tahu cara yang harus di lakukan untuk membuat keris itu berfungsi. Namun Tini pernah melihat bagaimana dulu bapaknya mengelus keris itu ke tubuh orang yang sedang terkena guna-guna. Mungkin dengan cara itu bisa berhasil di lakukan oleh Baim dalam menggunakan keris tersebut.
__ADS_1
Ide yang cukup cemerlang lagi di dapat oleh Tini. Lutfhi memang benar-benar beruntung bisa memiliki istri sepandai Tini. Selain seorang yang licik, Tini juga di kenal sebagai orang yang cerdas. Hingga Lutfhi merasa beruntung memiliki istri seperti Tini.
Lutfhi dan Tini pun segera pergi ke kamar kedua anak mereka. Lutfhi memberikan kunci kamar kedua anak mereka pada Tini. Dengan begitu Tini akan membuka pintu kamar, sementara Baim akan memegang keris itu.
Terdengar suara kedua anak Tini dan Luthfi yang terus merongrong meminta keluar dari kamar mereka. Sepertinya keduanya sudah tidak sabar untuk keluar dari kamar mereka. Padahal mereka baru saja di kunci sebentar oleh Lutfhi. Namun pintu kamar itu hampir sudah rusak di pukul oleh keduanya. Mungkin arwah gentayangan dari Baim cukup kuat. Hingga hampir merusak pintu kamar tersebut.
Lutfhi dan Tini pun menghela nafas sedalam mungkin. Sebelum keduanya menghembuskan dengan begitu panjangnya. Baik Lutfhi maupun Baim, keduanya sama-sama merasa ketakutan. Namun keduanya berusaha untuk setenang mungkin. Sehingga keduanya bisa melakukan tugas mereka dengan baik. Bahkan lebih baik lagi dari apa yang mereka bayangkan. Lutfhi dan Tini harus melakukan semua itu dengan baik dan penuh kewaspadaan. Sebab jika mereka berdua lalai, bukan tidak mungkin keduanya akan merasakan akibatnya.
Cekrek... Tini membuka pintu kamar kedua anaknya. Kedua anak mereka langsung berusaha menyerang Tini dan Lutfhi. Untung Lutfhi langsung sigap dalam membentengi diri dan Tini dengan keris sakti itu. Hingga serangan kedua anaknya itu langsung bisa di halau oleh keduanya.
Kedua anak Lutfhi dan Tini langsung terjatuh dengan pertahanan kuat yang di lakukan oleh Tini dan Lutfhi menggunakan keris tersebut. Keduanya tak berdaya harus berhadapan dengan Lutfhi yang memiliki keris sakti dan kuat. Padahal mereka berdua sedang dalam pengaruh arwah gentayangan dari Baim yang meninggal secara tragis oleh ulah Tini dan Lutfhi.
Begitu kedua anak mereka terjatuh. Lutfhi langsung menyentuhkan keris miliknya itu pada tubuh kedua anaknya. Sontak kedua anaknya itu mengerang kesakitan dengan apa yang di lakukan oleh Lutfhi.
Perlahan namun pasti, arwah gentayangan dari Baim pun mulai pergi dari tubuh kedua anaknya. Tubuh kedua anak Lutfhi dan Tini kembali bebas dari pengaruh arwah gentayangan Baim. Mereka pun akhirnya kembali normal seperti sediakala. Tidak lagi mengamuk seperti ketika Lutfhi mengajak keduanya untuk sarapan. Mereka kini sudah siap untuk sarapan bersama dengan Lutfhi dan Tini.
__ADS_1
Lutfhi dan Tini pun bersikap seolah semuanya tidak terjadi apapun. Tidak ada yang harus di takuti oleh Lutfhi dan Tini saat ini. Mengingat keduanya memiliki sebuah keris sakti yang akan membuat hidup mereka akan selalu terjaga dari gangguan mahluk astral. Itu yang mereka rasakan kini. Di mana keduanya memiliki kekuatan yang besar dengan keris saktinya.