Jimat Warisan

Jimat Warisan
Runtuh Bangunan Lutfhi


__ADS_3

Angin berhembus dengan kencang. Memindahkan gumpalan awan pekat yang ada di langit. Sambaran petir satu persatu menyambangi bumi dengan begitu terangnya. Suara menggelegar satu persatu terdengar ke telinga setiap orang. Semuanya ketakutan dengan apa yang terjadi. Banyak orang yang mulai takut dengan suara petir itu.


Perlahan suara hembusan angin mulai memindahkan posisi hujan. Seketika hujan deras langsung menguyur seluruh kampung Lutfhi. Tak terkecuali lokasi yang menjadi tempat bagi perumahan Lutfhi. Hujan mengguyur juga tempat itu.


Hujan deras itu seketika membuat seluruh aktivitas warga terhenti dengan sendirinya. Aktivitas yang di lakukan warga di luar rumah harus terhenti dengan derasnya hujan yang turun. Belum lagi petir dan angin kencang yang mulai mengikuti hujan tersebut. Itu yang membuat semua warga akhirnya memutuskan untuk tetap berada di dalam rumah.


Lutfhi dan Tini lebih memilih untuk menyantap semangkuk mie instan berdua. Mereka terlihat begitu menikmati suasana hujan yang turun dengan begitu derasnya. Di temani sebuah film keluarga yang menggelitik perut. Lutfhi dan Tini begitu senang dengan apa yang terjadi di hari itu.


Tak hanya Lutfhi dan Tini saja yang terlihat begitu menikmati suasana film dengan semangkuk mie instan. Kedua anak Tini dan Lutfhi juga melakukan hal yang sama. Dengan menonton film di kamar masing-masing. Mereka berdua terlihat begitu menikmati suasana dingin yang ada, dengan kehangatan mie instan yang di nikmati oleh keduanya.


Suasana kurang mengenakkan harus di rasakan oleh seorang Baim. Dia yang tak memperhitungkan hujan akan turun dengan begitu awetnya, hingga dia memilih untuk berteduh di saung samping proyek.


Sebenarnya tidak hanya ada Baim saja di saung tersebut. Ada juga beberapa pekerja yang menunggu hujan reda di saung tersebut. Mereka juga sama seperti Baim. Tak mengira hujan akan turun cukup lama. Sehingga mereka memilih untuk berteduh, di banding pulang ke rumah masing-masing.


"Sial, kenapa hujannya tidak reda juga." umpat seorang Baim dengan nada kesalnya.

__ADS_1


"Saya pikir hujannya akan turun lebih lama lagi. Apalagi melihat angin kencang yang berhembus semakin kuat. Ini pertanda hujan akan turun semakin lama lagi." sahut salah seorang pekerja Baim.


"Apakah hujan ini akan cukup bahaya untuk proyek kita?" tanya pekerja lainnya.


"Maksud kamu apa?" tanya balik Baim.


"Seperti aliran air itu cukup deras. Saya khawatir akan terjadi hal buruk pada bangunan kita. Mungkin saja aliran air yang deras itu akan merobohkan beberapa bangunan itu." jawab pekerja tadi.


Baim melihat aliran air yang begitu deras. Dia benar-benar tidak memperhitungkan itu akan terjadi pada bangunan perumahan itu. Mungkin saja aliran air yang deras itu akan membuat bangunan yang telah berdiri itu akan roboh. Apalagi bangunan itu tidak begitu kokoh seperti permintaan dari seorang Lutfhi.


Ada sekitar 10 bangunan rumah yang roboh di terjang aliran air yang cukup deras tersebut. Bangunan itu pun langsung hancur di terjang aliran air yang cukup deras.


Ini petaka besar bagi seorang Baim. Dia merasa apa yang terjadi akan membuat seorang Baim dalam masalah besar. Baim harus membuat semuanya menjadi baik-baik saja. Namun ini tidak akan baik-baik untuk dirinya saat ini.


Baim kembali ke saung untuk bertemu dengan para pekerja proyek pembangunan tersebut. Dia ingin menyalahkan pekerjanya yang di anggap membangun dengan standar yang buruk.

__ADS_1


"Kalian lihat 10 bangunan yang roboh itu. Itulah hasil dari kinerja kalian yang buruk. Saya harap kalian bisa mengerti kenapa saya meminta kalian untuk bekerja lebih baik lagi. Mungkin bangunan itu tidak akan roboh, jika kalian bekerja dengan lebih baik lagi." Amuk Baim dengan wajah marahnya.


"Tapi Pak, kita semua bekerja dengan seusai standar. Namun bahan bangunan yang kita gunakan justru di luar standar. Itu yang membuat bangunan itu menjadi roboh. Bukan kita yang bangun, tapi kualitas bahan bangunan yang buruk." jawab salah seorang pekerja.


Mendengar ucapan dari salah seorang pekerja bangunannya sendiri. Baim langsung di buat emosi oleh ucapan dari pekerja tersebut. Dia merasa apa yang di katakan oleh pekerja itu tidak benar. Baim yang terpancing emosi oleh ucapan dari salah seorang pekerjanya. Langsung menarik kerah baju dari pekerja tersebut. Satu pukulan langsung Baim layangkan pada wajah pekerja tersebut. Itu sebagai peringatan atas apa yang telah di ucapkan oleh pekerja tersebut pada Baim.


Melihat Baim yang begitu emosi. Para pekerja lainnya mulai menenangkan seorang Baim. Sementara pekerja yang di hantam oleh Baim dengan sebuah pukulan tadi, tak terima dengan apa yang di lakukan oleh Baim. Dia berusaha membalas apa yang Baim lakukan pada dirinya.


Namun sebelum satu pukulannya bersarang di wajah Baim. Para pekerja lain mulai menenangkan pekerja tersebut. Mereka mengingatkan pekerja itu untuk bisa menahan emosinya. Apalagi Baim adalah mandor di proyek pembangunan perumahan tersebut. Sehingga dia harus bisa sadar diri dengan posisinya saat ini.


Baim kembali mencela pekerja itu yang di anggap tidak becus. Baim merasa apa yang di kerjakan oleh para pekerja berada di level bawah. Hingga akhirnya bangunan proyek itu hancur lebur di hantam hujan deras.


Para pekerja itu hanya terdiam dengan apa yang di ucapkan oleh Baim. Mereka sakit, tapi kebutuhan yang membuat mereka melupakan sakit hati dari seorang Baim. Hingga mereka tidak memperdulikan setiap ucapan dari Baim yang terus menyalahkan mereka dalam proyek tersebut. Baim seperti lempar batu sembunyi tangan. Mungkin itu yang di lakukan oleh Baim, agar namanya tetap baik di hadapan seorang Lutfhi.


Baim yang sudah semakin emosi dengan apa yang ada. Akhirnya lebih memilih pulang dari proyek. Dia tak mengunakan apapun, sehingga hujan deras yang turun langsung membuat seseorang Baim basah kuyup. Hujan yang sangat deras di terjang oleh Baim dengan sangat meyakinkan.

__ADS_1


Sementara para pekerja yang masih bertahan di saung, mulai merasa muak dengan apa yang di lakukan oleh Baim. Selain tindakan Baim yang selama ini semena-mena terhadap mereka. Baim juga selalu telat dalam membayar gaji mereka. Sehingga mereka berharap Baim akan mendapatkan balasan atas apa yang di lakukan oleh dirinya tersebut.


__ADS_2