Jimat Warisan

Jimat Warisan
Ketika Santet Itu Tiba


__ADS_3

Ibunda Baim yang telah berusia 59 tahun, terlihat masih segar bugar. Tidak seperti orang sebayanya. Dia masih cukup aktif untuk ukuran orang yang telah berusia di menyentuh kepala 6. Ini benar-benar sebuah keajaiban bagi dirinya yang masih cukup aktif dengan usia yang ada.


Saat ini dia tinggal bersama dengan adik Baim yang sudah menikah juga. Adik Baim ini begitu mencintai ibunya. Sehingga dia tidak rela ibunya ini tinggal bersama dengan anak-anaknya yang lain, termasuk Baim.


Sarapan pagi ini sebenarnya berjalan biasa saja. Tidak ada yang aneh di hari ini, sampai suara genteng terdengar satu jatuh di belakang rumah adik Baim. Ibu Baim, adiknya dan suami adiknya mengira apa yang terjadi adalah ulah dari kucing semata. Sehingga mereka tidak menyangka hal buruk akan terjadi jadi pada ibunya. Mereka pun langsung melanjutkan sarapan di pagi hari tersebut.

__ADS_1


Namun di pertengahan sarapan, tiba-tiba ibu Baim merasakan sesuatu hal yang buruk terjadi. Ada sedikit rasa pusing yang menyerang bagian belakang kepalanya. Ini rasa yang cukup sakit untuk seorang ibu Baim. Hingga dia tak kuat untuk menahan rasa sakit yang menyerang bagian kepalanya tersebut. Ibu Baim meminta anaknya tersebut untuk membelikannya sebuah obat. Sebab rasa sakit kepala yang di rasakan begitu menyulitkan dirinya.


Adik Baim yang tak pernah melihat ibunya terlihat begitu kesakitan hebat. Terlihat begitu panik melihat apa yang terjadi pada ibunya. Hingga dia pun menangis dengan kondisi dari ibunya tersebut.


"Apa kamu tahu apa cara yang bisa membuat ibu lebih tenang lagi?" tanya adik Baim pada suaminya.

__ADS_1


Adik Baim dan suaminya pun membawa ibu Baim menuju rumah sakit. Mereka bisa merasakan tubuh ibu Baim yang terasa yang begitu panas. Perlahan kulit ibu Baim tersebut berubah menjadi hitam. Di mulai dari bagian kaki kanan. Warna hitam yang menyerang tubuh ibu Baim menyebar ke seluruh tubuh ibu Baim tersebut.


Tentunya adik Baim semakin khawatir dengan apa yang terjadi pada ibunya. Apalagi ibunya terus merasakan panas di seluruh tubuhnya yang di sertai rasa sakit di bagian kepalanya. Ini benar-benar membuat ibu Baim tidak berdaya dengan apa yang ada. Hingga ibu Baim pun hanya bisa berpasrah dengan kondisinya tersebut.


"Tangisnya kala berada di dalam ambulans, benar-benar tidak bisa terbendung. Adik dan suami adik Baik menangis dengan hebatnya. Ini adalah titik paling rendah bagi adiknya. Dia melihat bagaimana tubuh ibunya yang berubah menjadi hitam lebam. Begitu juga dengan rasa panas yang ada di tubuh ibunya.

__ADS_1


Adik Baim menelepon Baim. Dengan suara yang terisak-isa, dia menceritakan bagaimana kondisi ibunya yang hampir sekarat dengan serangan penyakit aneh yang menyerang ibunya. Baim yang panik pun langsung mengajak Kinasih untuk pergi ke rumah sakit. Namun di tolak mentah-mentah oleh Kinasih. Dia masih marah terhadap Baim, sehingga menolak untuk menjenguk ibu Baim yang di larikan ke rumah sakit. Kinasih lebih memilih untuk pergi ke salon merapikan penampilan fisiknya. Daripada harus ikut bersama dengan Baim menjenguk mertuanya yang di larikan ke rumah sakit.


Tidak ada waktu untuk Baim berdebat dengan Kinasih. Baim pun memilih untuk pergi sendiri menuju rumah sakit. Bagi Baim sudah tidak ada waktu untuk dirinya ribut-ribut. Sehingga dia harus mendampingi ibunya yang sepertinya butuh sosok Baim di sampingnya.


__ADS_2