
Firman kembali bermimpi buruk. Bahkan di mimpi buruk keduanya ini, Firman benar-benar tak bisa membayangkan apapun lagi. Dia terlihat begitu ketakutan saat sesosok mahluk menyeramkan menyerupai monster mengejar dirinya. Mahluk itu berusaha membunuh Firman dengan kedua tangan yang di penuhi darah dan nanah.
Firman segera bangun dari tidurnya. Dia berteriak dengan begitu kencangnya. Hingga terdengar ke segala penjuru rumah sakit.
Beberapa petugas rumah sakit jiwa yang mendengar suara teriakan dari seorang Firman, langsung menghampiri Firman. Mereka ingin tahu apa yang terjadi pada sosok Firman yang berteriak dengan begitu kencang tersebut.
Begitu petugas itu datang, Firman langsung menyerang petugas itu dengan benda-benda yang ada di dalam ruangan Firman. Mulai dari piring kotor, hingga sendok dan garpu yang di lemparkan pada petugas. Firman melihat sosok petugas itu layaknya sosok Sarman yang dia bunuh.
__ADS_1
Petugas itu tetap tenang dengan segala upaya yang di lakukan oleh Firman. Dia terlihat berusaha mengendalikan situasi yang sulit tersebut. Hingga petugas rumah sakit jiwa itu berhasil mengendalikan keadaan menjadi jauh lebih baik lagi.
Firman mulai bisa tenang, tinggal satu suntikan yang akan semakin membuat Firman tak kembali berteriak. Hal itu perlu di lakukan, sebab teriakan dari Firman cukup mengganggu penghuni lainnya yang sedang tertidur dengan begitu pulasnya.
Namun saat petugas rumah sakit itu akan menancapkan jarum suntik itu ke badan Firman. Firman mulai sadar akan keberadaan dari jarum suntik tersebut. Hingga dia langsung merebut jarum suntik itu. Lalu mematahkan jarum suntik dari petugas rumah sakit.
Melihat kesempatan untuk kabur, Firman pun lari dari dalam ruangannya. Dia berlari entah ke mana, terpenting dia bisa bebas dari semua penderitaan dirinya di rumah sakit jiwa tersebut. Firman sering di bius dengan berbagai cara. Mungkin itu yang membuat Firman merasa kurang nyaman. Sehingga dia merasa berada di rumah sakit jiwa seperti berada di sebuah neraka yang cukup membuat Firman merasa kurang nyaman.
__ADS_1
Petugas itu berusaha kembali membawa Firman ke ruangannya. Namun Firman yang berlari cukup kencang. Tak mampu di kejar oleh petugas yang harus merasakan satu pukulan keras dari seorang Firman. Dia pun menyerah, memilih untuk mengobati wajahnya yang mengeluarkan sedikit darah.
Firman yang terus mencari jalan keluar dari rumah sakit jiwa. Tak kunjung menemukan jalan yang bisa dia gunakan untuk pergi dari rumah sakit jiwa tersebut. Firman justru bertemu dengan petugas lainnya. Kali ini Firman sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. Dia sudah terjepit, sehingga Firman pun berhasil di tangkap oleh petugas lainnya.
Satu suntikan cukup untuk membuat Firman lemas. Dia pun langsung kembali pingsan dengan satu suntikan yang di suntikan oleh petugas tersebut. Firman sudah tidak berdaya, sehingga dia langsung di bawa kembali ke ruangannya. Di mana ruangan itu berada di lantai 3 rumah sakit jiwa.
Petugas itu membawa tubuh Firman dengan cara menyeretnya. Tidak manusiawi, tapi dia melakukan itu sebab itu cara yang terbaik. Mengingat tidak ada orang yang tahu dengan apa yang di lakukan oleh dirinya. Sekalipun dia tidak melakukan secara SOP. Setidaknya itu tidak akan di ketahui oleh orang-orang. Semuanya sudah tidur.
__ADS_1