KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Kepastian yang Ditunggu


__ADS_3

"Kak Hana, aku boleh bertanya tentang sesuatu! Sejujurnya aku penasaran, bagaimana kak Hana bisa mencintai kak Rafa? Bahkan kalian berdua menikah. Aku pernah menganggap dirimu wanita yang sangat rendah. Sebab kak Hana rela dihina oleh keluargaku. Hanya demi sebuah cinta seorang pengusaha hebat sekelas Rafa Akbar Prawira. Apalagi kak Hana menerima semua masa lalu kak Rafa. Masa lalu yang begitu kelam, aku sebagai seorang wanita tidak mungkin mampu menerima dirinya. Semua pendapat itu sempat membuatku merasa dirimu. Tak lebih dari wanita yang haus akan harta dan kedudukan kak Rafa!" ujar Kiara, Hana tersenyum sembari mengusap lembut kepala Kiara. Hana sedang duduk berdua dengan Kiara, kepala Kiara tidur di pangkuan Hana. Entah apa yang membuat Kiara ingin bermanja pada Hana?


"Pemikiranmu tidak salah, semua orang akan berpikir hal yang sama tentang diriku. Aku hanya wanita sederhana yang hidup sebatang kara. Namun tiba-tiba menikah dengan laki-laki sekelas Rafa Akbar Prawira. Seseorang yang tidak pernah aku kenal. Bahkan dalam mimpi aku tidak pernah berharap menjadi istrinya!" ujar Hana lirih, Kiara mendongak menatap wajah Hana. Ada rasa heran yang menelisik hatinya. Cinta yang begitu kuat tumbuh dihati yang tidak pernah mengenal.


"Aku semakin heran dengan kisah cinta kalian. Tanpa mengenal dan memahami, tapi mampu menumbuhkan cinta yang begitu kuat. Kak Rafa orang sangat anti dengan kata cinta. Bisa mencintaimu sebesar itu. Bahkan kak Rafa seakan tak melihat siapapun selain dirimu!" ujar kiara, Hana menggeleng lemah. Dia tidak pernah mengetahui alasan cinta Rafa padanya. Seingat Hana, hanya kebencian yang terlihat sejak pertama kali mereka bertemu. Rafa seorang bos besar, jangankan menikah dengannya. Mengenal Rafa saja Hana tidak berharap. Namun cinta Rafa pada Hana sejak pertama kalinya. Membuat Rafa tidak bisa berpaling dari Hana. Entah jalan mana yang membuat mereka bersatu? Namun kenyataannya sekarang Rafa dan Hana telah menikah.


"Aku sendiri tak pernah menyangka. Kak Rafa bisa mencintaiku. Padahal setiap kali bertemu dia selalu memakiku. Dia selalu menganggap aku rendah, tapi ada sesuatu yang membuatku penasaran sejak dulu. Kenapa dia bisa datang ke rumah kakekku? Sehingga kami berdua akhirnya menikah. Alasan yang membuatku tak pernah bisa melepaskan kakakmu. Dia hadiah terindah sekaligus terakhir dari kakek untukku. Ternyata hadiah terakhirnya yang membuatku bahagia selamanya!" ujar Hana, Kiara mengangguk mencoba memahami perkataan Hana. Cinta yang tak pernah ada, bersemi di hati yang jauh berbeda. Keyakinan sang kakek kala itu. Menikahkan Hana dengan laki-laki yang baru pertama kalinya ditemui. Namun tanpa Hana sadari, kakeknya mampu melihat cinta Rafa padanya. Kedatangan Rafa menemui Hana, membuktikan betapa Hana telah mengganggu pikiran dan hati Rafa.


"Sebesar itukah cintamu pada kak Rafa. Sampai kakak rela terhina, mama mencaci makimu tanpa ampun. Bahkan kak Rafa menyembuyikan status pernikahan kalian. Sehingga kak Hana menjadi istri di atas kertas. Seorang istri yang tak pernah dianggap. Aku merasakan betapa tidak mudahnya kehidupan yang kak Hana jalani saat itu. Namun kakak tetap teguh mendampingi kak Rafa. Maaf jika aku lancang, apa semua itu demi cinta? Atau demi harta dan kedudukan kak Rafa!" tutur Kiara lirih, Hana menggeleng lemah. Tangannya dengan lembut mengusap kepala Kiara. Hana menerawang jauh akan kisah diantara dirinya dan Rafa. Pertemuan tak terduga, pernikahan tanpa cinta. Perpisahan yang selalu tertunda, seakan mengatakan jika mereka tercipta untuk selalu bersama. Semenjak saat itu, Hana berusaha mengatakan pada dirinya. Bahwa apapun yang terjadi, Hana harus bersabar menghadapinya. Rafa mungkin bukan jodohnya untuk seumur hidup. Namun sampai detik ini, hanya Rafa yang ada dalam hidupnya.


"Kiara sayang, apa yang kamu katakan tidak salah? Kak Hana tidak pernah mencintai kak Rafa. Semenjak kepergian orang tua kakak, hati kak Hana seolah mati. Bukan terpuruk akan kepergian mereka. Atau marah dan meyalahkan keadaan yang membuat kak Hana hidup sebatang kara. Namun rasa rendah diri seakan mengusai seluruh hati kak Hana. Secara nyata kak Hana hanya wanita miskin yang hidup sebatang kara. Sebuah hinaan akan menjadi makanan sehari-hari yang harus kak Hana dengar. Kakak seolah trauma mengenal laki-laki. Kakak tidak ingin menjadi alasan kehancuran sebuah keluarga. Alasan itu pula yang membuat kak Hana rela mengakhiri pertunangan dengan Kak Rama. Kak Hana juga ikhlas menjadi istri yang tak dianggap oleh kak Rafa. Semua kak Hana lakukan demi tetap bersatunya sebuah keluarga. Bahkan kepergian kak Hana kala itu. Berharap kak Rafa melepaskan kak Hana. Namun tanpa kak Hana sangka, Fathan tumbuh dalam rahim kak Hana. Alasan yang membuat kak Hana dan kak Rafa harus tetap bersatu!" tutur Hana, Kiara menutup mata memahami makna yang tersirat dalam penuturan Hana. Dengan sangat tenang Hana menceritakan semua kejadian masa lalu. Bukan mengingat akan pahitnya, tapi berharap Kiara bisa melihat dan belajar. Arti dari sabar dan keteguhan Hana menggenggam hadiah dari sang kakek.


"Keraguan dan rendah diri yang sama kurasakan akan hubunganku dengan ustad Rizal. Aku merasa wanita yang rendah, tak pantas bersama dengannya. Sikap mama Sabrina yang selalu menghinanya. Membuat diriku malu dan takut berharap lebih akan hubungan ini. Jika Kiara boleh jujur, rasa takut kehilangan ustad Rizal. Sebesar keraguanku yang merasa tak pantas bersamanya. Namun ada sedikit harapan dihati terdalamku. Jika aku dan dirinya akan bersama!" ujar Kiara lirih, Hana mengangguk mengerti. Kiara diam menerawang pada kejadian, dimana Sabrina menghina Rizal yang hanya ustad mengaji di pesantren? Saat itu Kiara semakin takut bila akan bersanding dengan Rizal. Bahkan untuk berharap, Kiara terlalu takut.


"Kiara, tidak akan ada yang mampu memutus tali perjodohan antara kamu dan Rizal. Jika memang dia jodoh yang tertulis untukmu. Kelak kakak yakin, mama Sabrina akan menerima Rizal dengan tangan terbuka. Dia tidak pernah membenci Rizal atau diriku. Dia hanya merasa kami tak pantas untuk putra dan putrinya. Pemikiran yang sama akan kak Hana ambil. Seandainya Fathan menikah dengan seseorang dengan latar belakang yang tidak jelas. Jangan membenci mama Sabrina, sebaliknya jadilah putri yang mampu menyadarkan mama Sabrina. Buktikan padanya jika Rizal Imam yang kelak menuntunmu menuju jannah-NYA. Kakak yakin, Kiara yang sekarang mampu melakukan semua itu. Teguhkan cintamu pada Rizal. Landasi rasa itu dengan iman dan demi kesempurnaan iman!" tutur Hana lirih. Kiara menatap kedua mata Hana. Perkataan Hana tidaklah salah, Kiara harus mampu memperjuangkan cintanya pada Rizal. Meyakinkan Sabrina bahwa Rizal imam yang dia rindukan.

__ADS_1


"Kenapa kak Hana tak pernah marah pada mama Sabrina atau tante Mira? Meski hanya hinaan yang mereka katakan padamu. Mereka selalu beranggapan cintamu pada kak Rafa hanya demi harta!" ujar Kiara santai, Hana tersenyum simpul. Banyak hal yang lebih penting daripada membenci. Hana selalu mengedepankan ketenangan. Dia selalu diam menerima semua hinaan. Bukan takut akan kedudukan Sabrina dan Mira. Namun Hana lebih menghargai mereka sebagai seorang ibu.


"Aku tidak mungkin membenci seorang ibu. Kak Hana terlahir dari seorang ibu, kak Hana kini menjadi seorang ibu. Lalu dengan alasan apa kak Hana pantas membenci seorang ibu? Setelah semua pengorbanan seorang ibu yang begitu besar. Rasa sakit saat melahirkan yang jelas kak Hana rasakan. Air mata yang menetes, menahan rasa sakit takkan pernah mampu kita ganti. Setiap keringat yang menetes, tak mungkin sanggup kita ganti. Darah yang mengalir bersamaan dengan lahirnya kita ke dunia. Takkan mampu kita kembalikan atau ganti dengan harta. Air susu yang terus ada, demi tumbuh kembang kita. Mampukah kita mengembalikannya. Semua itu alasan kak Hana takkan mampu membenci seorang ibu. Satu hal yang harus kamu ketahui. Mama Sabrina bukan membenci kak Hana, tapi keangkuhannya yang tak pernah bisa mengakui kebaikan kak Hana atau Rizal. Meski dia menyadari kebaikan kami, tapi dia akan malu mengakuinya. Watak keras mama Sabrina yang akan terus menutup mata hatinya. Sudah sepantasnya kita mengalah, yakin kelak dia akan bisa menerima dengan tangan terbuka. Sebenarnya dia baik, tapi ada sesuatu yang membuatnya malu mengakui kelebihan dan kebaikan aku dan Rizal!"


"Kak Hana, sungguh hatimu tak pernah bisa aku tebak. Maafkan aku yang pernah berpikir buruk tentangmu. Bukan kak Hana yang beruntung menikah dengan Kak Rafa. Sebaliknya Kak Rafa yang patut berbangga diri. Dia menemukan tali yang senantisa akan menyatukan keluarganya. Meski untuk itu dia harus mengendor dan mengekang seluruh amarah dan inginnya. Terima kasih mengajarkan Kiara, arti seorang istri dan kakak ipar bagi saudara suaminya. Aku yakin kelak mama Sabrina orang yang paling menyesal. Dia orang pertama yang akan menangis, seandainya kak Hana pergi!" tutur Kiara, lalu duduk menghadap Hana. Kiara memeluk tubuh kakak iparnya dengan sangat erat. Kiara merasa tenang setelah berbicara dengan Hana.


"Sejak kapan kamu berani mendoakan kepergian kak Hana? Selamanya Hana tidak akan pergi dari sisiku. Dia pemilik tulang rusukku yang hilang. Sebuah tubuh tidak akan mampu terus berdiri. Ketika tulang rusuknya menjauh, tapi sebaliknya tubuh yang lemah tidak akan mampu menerima tulang rusuk yang kuat. Kak Rafa dan kak Hana takkan pernah terpisah. Seandainya semua itu terjadi, tidak akan pernah ada Rafa Akbar Prawira. Sebab tubuhnya akan lemah seiring kepergian Hana. Dia tulang rusuk penopang tubuh lemahku!" ujar Rafa, Hana dan Kiara menoleh bersama. Sontak Kiara melepas pelukannya pada Hana. Kiara dan Hana tidak menyadari kedatangan Rafa dan Rizal. Tanpa suara keduanya sudah berdiri tidak jauh dari mereka. Seketika Kiara menunduk, ketika tatapannya bertemu dengan Rizal. Tatapan yang menyiratkan cinta yang begitu dalam. Hasrat ingin saling memiliki yang masih tersimpan rapat dalam sanubari masing-masing.


Rafa berjalan menghampiri Hana. Sedangkan Rizal berjalan mendekat pada Kiara. Dia berhenti tepat di depan Kiara yang sedang menunduk. Jarak diantara Kiara dan Rizal sangat dekat, jantung mereka berdegub hebat. Hembusan napas Kiara dan Rizal saling menyentuh pipi keduanya. Kiara mampu merasakan hembusan hangat napas Rizal. Sebaliknya Rizal mampu mencium harum tubuh Kiara. Keduanya larut dalam kekaguman pada satu sama lain.


"Rizal, menjauh dari Kiara. Kalian belum mukhrim, tunggu sampai nanti malam. Setelah itu aku akan membiarkanmu membawa adikku kemanapun?" ujar Rafa ketus, Hana tersenyum sembari menutup mulutnya. Rizal menoleh pada Rafa, dengan anggukan kepala yang diiringi senyuman dia membalas perkataan Rafa. Nanti malam akan menjadi malam terakhir status Rizal sebagai seorang lajang. Kiara sang makmum akan menjadi miliknya. Pendamping yang kelak menjadi sandarannya di dunia dan akhirat.


"Kak Rafa, semua ini benar. Ustad Rizal akan menikah denganku. Mama menyentujuinya, lalu abi dan umi bagaimana? Kami akan menikah dimana?" cecar Kiara lirih, Hana menggeleng lemah. Kecemasan Kiara yang bercampur rasa bahagia bisa terlihat jelas oleh Hana. Bukan hanya Kiara yang bahagia. Hana juga bahagia melihat adik iparnya bahagia.


"Kiara sayang, semuanya sudah kak Rafa persiapkan. Pernikahanmu sepenuhnya menjadi tanggungjawab kak Rafa. Sekarang pergilah ke kamarmu. Semakin lama kamu di sini, Rizal bisa khilaf sebelum ijab qobul!" ujar Rafa, Kiara mengangguk lalu berjalan melewati Rizal.

__ADS_1


"Kiara Putri Prawira, tinggal beberapa jam. Kamu akan menjadi milikku sepenuhnya. Makmum yang lama aku tunggu, kini penantianku telah berakhir. Kita akan bersatu dalam ikatan suci pernikahan!" ujar Rizal, Kiara menunduk malu. Dia meninggalkan Rizal yang terus menatap punggung Kiara yang menghilang.


"Sayang, kita menikah tanpa pesta. Apa lebih baik kita adakan pesta yang meriah? Aku ingin merasakan menjadi raja semalam!" goda Rafa sembari memeluk Hana dari belakang. Hana menatap dengan tatapan yang tak mampu diartikan. Kemarahannya pada Rafa belum sepenuhnya reda. Hana masih dalam mode yang sulit ditebak.


"Kamu bukan ingin menikah denganku. Kak Rafa ingin menikah dengan wanita lain. Kak Rafa jahat, aku benci kak Rafa!" ujar Hana kesal, Rafa menepuk jidatnya pelan. Hana meninggalkan Rafa dengan penuh amarah. Sedangkan Rafa semakin bingung menghadapi kelainan hormon kehamilan Hana. Rizal terkekeh melihat sahabatnya dibuat kelabakan dengan sikap Hana.


"Rafa, kamu harus sabar menghadapi Hana. Dia hanya butuh perhatian lebih. Demi buah hatimu, diam jauh lebih baik. Mengalah bukan berarti kalah, tapi melihatmu seperti ini. Jujur aku mengacungkan jempol untuk Hana. Dia mampu membuat seorang Rafa Akbar Prawira kelabakan!" ujar Rizal menggoda Rafa. Perlahan Rafa mendekat pada Rizal, dia tersenyum lalu mengatakan sesuatu.


"Jangan sombong, kamu akan merasakan hal yang sama. Kekuatan cinta seorang wanita, mampu merubah duniamu dalam semalam. Bersiaplah!" ujar Rafa dingin sembari menepuk pundak Rizal.


"Tidak perlu menunggu Rafa, duniaku sudah berubah sejak bertemu dengan adikmu. Dialah kini duniaku, makmum dunia akhiratku!" batin Rizal.


...☆☆☆☆☆...


...TERIMA KASIH...

__ADS_1


__ADS_2