
Kerlip bintang menghiasi langit malam ini. Sunyi malam seolah tak terasa, kalah akan bisingnya suara musik pesta malam ini. Rafa dan Hana sedang menghadiri pesta salah satu rekan bisnis Rafa. Kebetulan juga dia dulu junior Rafa di kampus. Rafa dan Adrian mengenal dengan baik sang bintang pesta.
Sebenarnya dia berada di luar negeri. Baru beberapa minggu dia berada di kota ini. Kerjasama Rafa dengan sang junior sebagai langkah awal sayap perusahaan Prawira. Rafa ingin perusahaannya merambah dunia internasional. Kebetulan juniornya bukan orang sembarangan.Secara kepintaran dia di atas rata-rata. Dia juga CEO muda berbakat yang sedang diincar banyak perusahaan.
Rafa sengaja menawarkan kerjasama sebagai cara agar bisnis keluarga Prawira maju pesat. Mungkin Rafa terlalu berambisi, tapi itulah Rafa yang selalu memiliki keinginan yang kuat dan sangat besar. Rafa akan selalu merasa kurang dalam mengembangkan perusahaan Prawira. Bukan merasa kurang bersyukur, tapi Rafa selali merasa ingin menggapai yang lebih dari yang sekarang tercapai.
Sebenarnya Hana enggan ikut bersama Rafa. Banyak faktor yang membuat Hana enggan mendampingi Rafa. Selain Hana pribadi yang tidak suka akan pesta. Hana merasa tidak bisa berada di lingkungan yang bukan kebiasaannya. Dunia bisnis sang suami terlalu besar dan menakutkan. Hana seolah takut akan duduk sendiri menunggu Rafa menyapa seluruh rekan kerjanya. Namun rasa enggan Hana berubah menjadi sebuah semangat. Ketika Rafa mengatakan Diana akan datang bersama Adrian suaminya.
Adrian dan Diana telah menikah beberapa minggu yang lalu. Pernikahan keduanya diadakan di luar negeri. Pernikahan dilangsungkan di depan keluarga besar Adrian. Status Diana sebagai anak yatim piatu tidak dipersoalkan oleh keluarga Adrian. Dengan senang hati dan tangan terbuka keluarga Adrian menerima Diana. Namun dengan syarat pernikahannya diadakan di kota tempat tinggal kedua orang tua Adrian.
Pernikahan Diana terbilang mewah, tapi Hana sebagai sahabat tidak bisa menghadirinya. Kandungan Hana yang semakin membesar. Sangat berisiko jika melakukan perjalanan jauh. Satu kekurangan dalam mewahnya pernikahan Diana. Sahabat terbaiknya tidak bisa mendampinginya. Sekadar memberikan pelukan rasa bahagia atas hidup baru dan status baru yang disandang Diana.
Sekitar pukul 19.30 wib, Hana dan Rafa berangkat. Mereka pergi tanpa membawa Fathan. Sejak sore Fathan sudah pergi dengan Rizal dan Kiara ke rumah keluarga Prawira. Semenjak Hana hamil anak kedua. Fathan lebih sering bersama Kiara. Menurut orang zaman dulu, agar Kiara cepat diberikan momongan. Sebenarnya bagi Rizal dan Kiara, menganggap Fathan seperti putra mereka. Kiara dan Rizal menyayangi Fathan dengan sepenuh Hati.
Rafa dan Hana bukan pasangan dari dunia yang sama. Terlihat dari penampilan mereka. Rafa selalu terlihat sempurna dengan pakaian apapun. Sebab Rafa mengetahui benar, cara berpenampilan yang baik. Sedangkan Hana akan tetap sama. Menggunakan pakaian sederhana yang akan membuatnya terlihat biasa. Namun bagi Rafa, hanya Hana yang terlihat sempurna. Sebab kecantikan Hana akan selalu tersimpan jauh dalam kesederhanaannya. Rafa tidak pernah mempermasalahkan penampilan Hana.
__ADS_1
Pernah Rafa mengeluh melihat penampilan Hana yang glamour. Rafa marah melihat Hana yang seolah memaksakan diri untuk menyesuaikan dengan penampilan Rafa. Hana berpikir ingin berpenampilan yang jauh dari kepribadiannya. Agar Rafa tidak merasa malu telah menggandeng dirinya. Namun bukan sebuau pujian yang didapat Hana dari Rafa. Sebuah amarah yang menyesalkan perbuatan Hana. Rafa marah bukan tidak ingin melihat Hana berpenampilan terbaik dan mewah. Namun Rafa marah sebab dia merasakan. Betapa Hana tersiksa dengan penampilannya. Hana merasa tidak nyaman dengan penampilannya. Meski semua orang memuji Hana dan mengatakan keduanya pasangan yang sangat serasi. Rafa tetap marah, sebab pujian orang-orang berkat rasa tidak nyaman yang diterima Hana.
Semenjak itu Hana tidak pernah memaksa untuk menyesuaikan diri dengan Rafa. Bagi Hana kehidupan sederhana menjadi prinsipnya. Sebaliknya Rafa memilih Hana dengan kesederhanaan dan sampai kapanpun dia tidak ingin melihat Hana merubahnya. Rafa seolah tidak peduli dengan pendapat orang lain. Rafa tidak akan pernah malu. Sebab kecantikan Hana hanya ada pada kesederhanaannya. Hanya Rafa yang mampu melihat kesederhanaannya.
"Hana sayang!" teriak Diana sembari merentangkan tangan selebar mungkin. Diana sengaja menunggu Hana di luar gedung. Dia ingin menyapa dan memeluk sahabat terbaiknya. Bagi Diana jauh dari Hana beberapa minggu. Sudah cukup membuatnya tersiksa. Diana sangat merindukan Hana. Seandainya Diana bisa, ingin dia terbang pulang tanpa Adrian. Hanya untuk menemui Hana saudara angkatnya.
Hana tersenyum penuh kebahagian saat melihat sahabatnya berdiri tepat di depannya. Hana berjalan setengah berlari menghampiri Diana. Hana melupakan sejenak perutnya yang semakin membesar. Rafa dan Adrian hanya bisa menggelengkan kepala melihat Diana dan Hana. Persahabatan kedua istrinya tak lagi mampu dipisahkan. ibarat piring dan sendok yang akan selalu ada dalam satu meja makan. Saling membutuhkan dan melengkapi satu dengan yang lainnya.
Diana memeluk erat Hana, keduanya meluapkan kerinduan yang tak lagi mampu dibendung. Baik Hana dan Diana seolah telah terpisah sangat lama. Keduanya layaknya saudara yang terpisah bertahun-tahun. Terlihat jelas dari pelukan keduanya yang sangat lama dan hangat. Rafa dan Adrian sudah terbiasa melihat istri mereka saling memeluk dan melupakan keberadaan mereka. Keduanya sudah menyadari resiko menikah dengan dua sahabat yang akan selalu ada satu sama lain.
Rafa melihat betapa bahagiannya Hana bertemu dengan Diana. Sebuah senyum yang terpancar nyata tanpa Hana tahan atau mencoba ditutupi. Kebahagiaan yang jelas terlihat hanya dengan kedatangan Diana. Jadi sangat tidak mungkin bagi Rafa merasa cemburu pada kedekatan Hana dan Diana. Meski Rafa memberikan seluruh harta yang dimilikinya. Rafa yakin tidak akan bisa melihat senyum paling manis dan penuh ketulusan dari Hana. Kebahagian sederhana yang sangat mahal dan tak bisa digantikan dengan harta yang dimiliki Rafa.
"Seandainya aku bisa membeli senyum itu setiap hari. Aku akan membelinya dengan seluruh hartaku. Malam ini tanpa aku mengelurkan sepeser hartaku. Hana tersenyum penuh dengan bahagia dan lepas tanpa beban. Hana hanya perlu melupakanku sejenak. Sungguh sepenuh hati aku menerimanya. Tanpa sedikitpun keluhan dan rasa cemburu. Mungkin Diana bisa mengelurkan amarah dan rasa bahagianya tanpa ada beban. Namun istriku berbeda, Hana akan menyimpan rasa bahagian dan sedihnya sendiri. Semua dilakukan hanya demi sebuah ketenangan hatiku. Sekarang katakan padaku, pantaskah aku mengeluh hanya karena berkorban demi senyum yang sangat berharga!" tutur Rafa, Adrian menatap Rafa penuh keheranan. Dia sangat tidak percaya mendengar perkataan Rafa yang terlalu bijak. Adrian hanya berniat menggoda, tapi Rafa menanggapinya dengan sangat serius. Entah kenapa bagi Rafa sesuatu yang menyangkut Hana? Bukanlah sesuatu yang bisa dibuat bercanda. Melainkan sesuatu yang serius dan perlu dibicarakan.
"Rafa aku tak pernah menduga. Hana telah mengusai seluruh hidupmu. Lihat dirimu sekarang, kamu jauh berbeda dari Rafa yang kukenal dulu. Aku mengetahui dengan pasti. Jika Hana telah membuatmu jatuh cinta. Namun sungguh aku merasa, Hana telah membuatmu takut kehilangannya. Bahkan melebihi dirimu sendiri, pikiran dan jiwamu hanya berputar pada Hana. Ini cinta yang tak lagi murni, kamu mulai terobsesi dan ketakutan bila Hana menjauh darimu. Kemana Rafa yang penuh keyakinan dan rasa percaya diri menghilang? Kamu selalu mampu membuat seorang wanita bertekuk lutut. Kenapa sekarang kamu yang seolah kalah oleh cinta dan pesona Hana?" ujar Adrian, Rafa mengangguk dengan perlahan. Adrian merasa sahabatnya telah jauh berubah. Adrian bukan tidak suka melihat cinta Rafa untuk Hana. Namun sebagai seorang sahabat, Adrian tidak ingin melihat sahabatnya lemah dan kalah olrh cinta. Sebab seorang laki-laki harus memiliki prinsip, bukan kalah dan menghiba pada pesona seorang wanita.
__ADS_1
"Aku memang kalah, bahkan aku lemah karena pesona Hana. Seandainya kamu bisa melihat isi hatiku. Kamu akan melihat hanya nama dan wajah Hana disana. Entahlah aku sendiri bingung dengan rasa ini. Aku merasa hanya Hana yang mampu membuatku kehilangan akal. Setiap air mata yang menetes dari kedua mata indahnya. Ibarat pisau yang menyayat tajam diriku. Sebagai balasan atas ketidakmampuanku membuatnya bahagia. Suara lembut Hana yang terdengar oleh telingaku. Seolah simfoni nada yang menenangkan pikiran dan jiwaku yang kalut. Senyum Hana yang menghiasi bibir mungilnya. Ibarat lukisan yang sangat indah. Mampu meneduhkan kedua mataku yang penat akan pekerjaan. Adrian mungkin kini Rafa sahabatmu telah menghilang. Laki-laki yang dulu sombong merasa dirinya mampu menaklukkan banyak kaum hawa. Kini telah terpenjara oleh cinta dan pesona gadis berhijab yang sangat sederhana. Rasa takut yang kamu katakan memang benar adanya. Sebab aku merasa setiap kesalahanku mampu membuat Hana menjauh dan menghilang. Cukup sekali aku hampir kehilangannya, aku tidak ingin dan tidak mungkin sanggup kehilangan Hana!" tutur Rafa sembari menatap Hana lekat. Rafa melihat Hana tertawa lepas bersama Diana. Satu-satunya orang yang dengan mudah membuat Hana mengutarakan seluruh isi hatinya. Adrian mendengarkan perkataan Rafa tanpa membantah. Kedua pandangan Adrian terpusat pada raut wajah Rafa. Tak ada kebohongan atau beban. Adrian melihat sebuah cinta yang penuh dengan pengertian yang akhirnya membuat sahabatnya Rafa lemah. Lalu dengan penuh kasih sayang sebagai sahabat yang pernah mengenal Rafa. Adrian memukul pundak Rafa pelan, lalu merangkulnya.
"Rafa, kamu tidak lemah atau kalah. Kamu pemenangnya Rafa, kamu menang akan sifat egois seorang laki-laki yang selalu merasa kuat dan takkan kalah oleh cinta seorang wanita. Namun darimu aku belajar, bahwa mengakui sebuah cinta bukanlah hal yang memalukan tapi membanggakan. Ada kalanya kita sebagai seorang laki-laki kalah oleh cinta seorang wanita. Cinta yang takkan melihat status dan pesona wanita itu. Namun sepertinya cintamu akan diuji oleh waktu dan keadaan!" ujar Adrian, sontak Rafa menoleh penuh keheranan. Rafa mengeryitkan alisnya, merasa tidak mengerti maksud perkataan Adrian. Sebaliknya Hana dam Diana yang lupa akan kedua suaminya. Mulai menyadari dan berjalan mendekat pada Rata dan Hana.
"Maksudmu!" ujar Rafa sembari mengeryitkan kedua alisnya. Bukan menjawab Adrian malah tersenyum sembari menutup mulutnya dengan tangan. Diana dan Hana yang mendekat heran dengan sikap Adrian, tapi mereka tetap diam. Hana dan Diana tidak mengetahui masalah yang sedang dikatakan Adrian dan Rafa.
"Kamu lupa siapa sang bintang pesta malam ini? Bukankah hubungan yang pernah terjalin diantara kita bertiga sangat membekas. Aku berdoa semoga keyakinanmu tidak akan pernah goyah!" ujar Adrian, lalu menggandeng Diana berjalan masuk ke dalam gedung. Rafa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kak Rafa, siapapun bintang pesta malam ini? Aku berharap hanya diriku bintang dihatimu!" bisik Hana, Rafa mengangguk sesaat setelah mendengar perkataan Hana. Dia terkejut sekaligus bahagia mendengar perkataan Hana.
"Kamu bukan hanya bintang dihatiku, tapi senyummu cahaya terang dalam hatiku yang gelap. Meski sinar bintang tak terlalu terang, tapi Hana bintang hatiku mampu menerangi hati Rafa yang penuh dengan kegelapan dan kesunyian. Aku tidak berjanji apapun, tapi siapapun dia yang di dalam? Hubungan apa yang pernah ada diantara kami? Jangan pernah percaya atau meragukanku. Langitmu ini hanya memiliki satu bintang, hanya dirimu dan tidak akan ada yang lain!" ujar Rafa, lalu mencium tangan Hana lembut berganti dengan kening Hana.
"Langitku berhak memiliki banyak bintang. Namun aku berharap hanya akan ada satu bintang yang lebih terang diantara yang lain. Entah itu bintang kecil atau besar, agar langitku mudah memilih dan takkan pernah bimbang!" ujar Hana lalu memeluk tubuh Rafa.
"Sayang, tak ada janji atau sumpah dari mulutku. Cukup hatiku dan sikapku yang menjawabnya. Siapa bintang yang ada dihatiku?" ujar Rafa final, Hana mengangguk pelan.
__ADS_1
"Terima kasih, langitku yang selalu hangat menyinari diriku yang sepi dan dingin!"