
"Faiq, apa kabar?" Sapa Rama sopan, Faiq mendongak. Dia menatap heran ke arah Rama.
Sekilas terlihat Faiq mengeryitkan dahinya bingung. Faiq merasa heran, saat ada laki-laki tampan yang menyapanya. Faiq pribadi yang pendiam, sebab itu dia jarang memiliki teman atau sahabat. Walau teman laki-laki sekalipun.
"Siapa kamu? Apa aku mengenalmu?" Sapa Faiq balik, Rama tersenyum menatap raut wajah Faiq yang keheranan.
Rama dan Faiq tidak pernah berteman. Pribadi dingin dan pendiamnya, membuat Faiq dan Rama tidak saling mengenal. Namun Rama sangat mengenal Faiq. Sebab Fathan berteman baik dengan Rama.
"Kamu lupa atau memang tidak mengenalku. Bocah culun yang selalu kamu marahi, karena mengejar Vania adikmu!"
"Kamu Rama, tidak mungkin kamu rama!"
"Aku Rama Dwi Sanjaya, teman Fathan dulu. Tetangga depan rumahmu yang selalu kamu musuhi!" Sahut Rama lirih, Faiq mengangguk mengiyakan.
"Jelas aku menjadikanmu musuh. Kamu masih kecil selalu membuat Vania menangis. Apalagi kamu dewasa sebelum waktunya. Tak kusangka, kamu menjadi sangat tampan dan berwibawa. Pantas kemarin Vania kesal bertemu denganmu. Kamu jauh lebih tampan dari Raihan. Mungkin dia menyesal telah menolakmu!" Batin Faiq santai.
"Jadi kamu Rama si culun itu. Pantas Vania marah, ketika kak Fathan mempertemukan kalian!"
"Maksudmu apa?"
"Sudahlah kamu tidak akan mengerti. Sedang apa kamu disini? Siapa yang sakit?" Cecar Faiq, Rama menoleh ke arah jam 9.
Faiq mengikuti isyarat mata Rama, dia melihat beberapa orang sedang berkumpul di IGD. Faiq menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia tidak mengerti maksud isyarat Rama.
"Aku mengantar pegawaiku, dia tiba-tiba pingsan. Aku dengar dari beberapa teman kerjanya. Dia sedang hamil, sebab itu dia kelelahan!" Tutur Rama, Faiq mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Sebagai seorang bos, kamu baik sekali. Lantas apa alasan Vania kesal bertemu denganmu? Tidak mungkin dia menyesal, karena tidak menikah denganmu lebih dulu!" Ujar Faiq menggoda, sekaligus mencari keterangan kejadian yang sebenarnya.
"Kamu mengada-ada, sejak kapan adikmu Vania menatapku? Dia menganggapku hanya angin lalu. Vania kesal bukan karena menyesal tak menikah denganku. Tapi karena kemarin petang. Aku sengaja meninggalkan dia di tepi jalan!"
"Kamu bercanda!" Sahut Faiq tak percaya, Rama mengangguk tanpa ragu. Sontak Faiq menggeleng tak percaya.
"Tega kamu!"
"Aku pasti tega, daripada aku mengantarnya pulang. Jauh lebih berbahaya dan beresiko untukku. Bisa-bisa aku gagal move on darinya!" Ujar Rama tanpa canggung sedikitpun. Faiq melongo mendengar perkataan Rama yang sangat santai.
"Kenapa melamun? Kamu heran aku masih menyukai Vania!"
"Aku tidak heran, karena aku sendiri tidak mudah melupakan cinta monyet atau lebih tepatnya cinta pertamaku. Aku hanya bingung, Rama yang setampan ini gagal move on dari Vania yang biasa saja. Apa kamu tidak salah? Jika Rama si culun, aku bisa maklum!" Ujar Faiq santai, Rama tersenyum seraya menggeleng.
"Sudahlah, kenapa kita malah bahas cinta tak bersambutmu? Ada banyak Vania lain di dunia ini. Mungkin kamu belum menemukannya!" Ujar Faiq lirih, Rama mengangguk mengiyakan.
Faiq dan Rama berjalan menuju ruang IGD. Sebagai salah satu dokter, Faiq ingin melihat kondisi pasien yang baru saja datang. Sebaliknya Rama ingin mengetahui kondisi terkini pegawainya.
"Dokter Faiq!" Sapa Chalisah ramah, Faiq mengangguk pelan seraya tersenyum. Jawaban atas sapaan Chalisah padanya. Rama berdiri tepat di samping Faiq. Dia diam menanti penjelasan Chalisah tentang kondisi pegawainya.
Faiq bertanya banyak hal tentang pegawai Rama pada Chalisah. Kebetulan Chalisah yang tengah berjaga di ruang IGD. Faiq membantu Rama menanyakan kondisi pegawainya. Dengan lantang dan tegas, Chalisah menerangkan kondisi sebenarnya. Faiq dan Rama diam menyimak setiap perkataan Chalisah.
"Dokter Chalisah, jika bisa rawat jalan saja. Takutnya keluarganya tidak setuju. Kita tunggu keputusan keluarganya saja!" Sahut Rama lirih, diakhir keterangan Chalisah. Seketika Chalisah menatap tajam Rama. Seolah dia tidak suka dengan saran Rama.
Rama merasa tidak perlu rawat inap untuk saat ini. Sebab keluarga pasien belum tentu mengizinkan. Rama mencoba mencari solusi terbaik, agar dia tidak disalahkan atas kondisi pegawainya.
__ADS_1
"Akankah anda bertanggungjawab, jika terjadi sesuatu pada janin yang dikandungnya. Sebagai seorang bos, seharusnya anda merasa prihatin. Dia pegawai yang harus bekerja demi dirimu. Padahal di waktu yang sama, dia tengah menjalani kehamilannya yang sulit!"
"Maaf dokter Chalisah, anda salah paham!" Sahut Rama menjelaskan. Faiq berdiri di tengah dua orang yang sedang sibuk berdebat. Faiq melihat sebuah perdebatan yang tidak akan selesai dengan mudah. Sebab keduanya merasa benar dengan sikapnya.
"Saya tidak salah, bukankah anda melarang dia rawat inap. Mungkin anda keberatan karena biaya dan izin dia cuti kerja!"
"Dokter Chalisah, anda benar-benar salah paham!"
"Saya tidak salah, setiap bos akan seperti anda. Bos yang arogant dan angkuh!" Sahut Chalisah ketus, Rama menghela napasnya berat. Sebaliknya Faiq tersenyum melihat perdebatan yang sangat aneh.
Faiq merasa apapun pemikiran Chalisah tidak salah, tapi menyalahkan Rama dengan pendapatnya juga tidak pantas. Namun entah kenapa Faiq merasa senangmelihat perdebatan Rama dan Chalisah? Layaknya dua kekasih yang bertukar pikiran.
"Kalian sudah selesai!" Ujar Faiq, seketika keduanya menoleh. Mereka tersadar telah berdebat di depan Faiq.
"Jika kalian sudah selesai, aku akan katakan satu hal. Kalian lebih mirip pasangan kekasih, daripada dokter dan pasiennya!" Ujar Faiq, Rama dan Chalisah menggeleng kompak. Faiq terkekeh melihat kekompakkan mereka.
"Dokter Faiq, tidak ada yang lucu!"
"Dokter Chalisah, kalian benar-benar serasi!" Sahut Faiq, Chalisah menggeleng lemah.
"Dokter Rey, bukankah yang aku katakan benar!"
"Dokter Rey, anda salah paham!" Ujar Chalisah gelisah, Faiq tersenyum lepas. Dia melihat rasa cemburu Rey.
"Tidak peduli!" Sahut Rey dingin.
__ADS_1