
Senja muncul menggantikan sore, petanda sang petang datang menggantikan. Langit biru berganti jingga, perpaduan warna yang membuat mata enggan berkedip. Senja sebuah keindahan alam, lukisan nyata sang ILLAHI. Senja yang akan selalu hadir esok menggantikan sore. Membawa sebuah keyakinan dan kebahagian yang baru.
Seperti biasa saat senja muncul, Kiara selalu hadir untuk menatapnya. Sesuatu yang kini menjadi cara Kiara melulakan penatnya hidup. Semenjak Kiara berada di pesantren ini. Satu kalipun orang tuanya tak pernah mengunjunginya. Papa dan mamanya tak pernah datang, sekadar bertanya kondisinya. Ada rasa rindu dalam hati akan sosok orang tuanya. Bagaimanapun Kiara putri mereka satu-satunya?
Lama Kiara diam memandang senja. Meluapkan rasa rindu akan orang tuanya. Tiba-tiba dia teringat akan secarik kertas yang diberikan Rizal padanya. Sebuah undangan dari Kyai pesantrennya. Kiara bukan gadis yang polos dan tidak mengerti akan maksud undangan keluarga dalem padanya. Dengan niat awal yang dikatakan Rizal, baik secara bercanda atau sungguh-sungguh.
Kiara tak pernah menyangka, jika Rizal mampu berbuat sejauh ini. Dia berpikir apa yang diutarakan Rizal, hanya sebuah gurauan. Namun dia salah, kesungguhan Rizal jelas terlihat dari secarik kertas yang ada ditangannya. Sebuah undangan khusus untuknya, pertemuan secara pribadi dengan ayah dari Rizal. Pemimpin pesantren tempatnya menuntut ilmu.
"Kiara, sedang apa kamu disini?" sapa Rafa, Kiara terdiam membisu. Tubuhnya kaku mendengar suara sang kakak. Ada rasa tidak percaya dan takut apa yang dia dengar hanya sebuah khayalan belaka? Kiara menoleh perlahan dengan ragu. Saat kedua matanya melihat sosok sang kakak berdiri tak jauh darinya. Kiara seketika berdiri, dia berlari memeluk sanf kakak. Meski mereka tidak terlahir dari rahim dan ASI yang sama. Ada darah yang sama mengalir dalam diri mereka. Kentalnya darah tak mudah terpisahkan. Meski kita mencoba memisahnya.
Kiara memeluk Rafa meluapkan semua kerinduan akan keluarganya. Melupakan sejenak kegelisahan hatinya. Tanpa Kiara sadari, beberapa pasang mata mengawasi. Mungkin kerinduan akan keluarganya membuat Kiara lupa akan kondisi sekitarnya.
Hana berdiri mematung tepat di sebelah Rafa. Fathan terlelap dalam gendongan Hana. Rizal sang penunjuk arah, terharu melihat kedekatan Rafa dan Kiara. Salwa yang tanpa sengaja ingin mengajak Kiara masuk ke dalam. Malah melihat kenyataan kedekatan Rafa dan Kiara. Dia terheran-heran melihat kedekatan Rafa dan Kiara.
"Aggghhmm, lama-lama kak Hana cemburu melihatmu memelukku seperti ini!" ujar Rafa, Kiara menggeleng lemah. Hana memukul pelan punggung Rafa. Kiara tetap memeluk erat tubuh Rafa. Sedikitpun Kiara tidak peduli dengan perkataan Rafa.
"Kak Rafa, ada urusan apa datang kemari? Apa ustad Rizal mengatakan sesuatu?" ujar Kiara sesaat setelah melepas pelukan Rafa. Seketika Rafa menoleh bergantian ke arah Rizal dan Kiara. Seolah tidak mengetahui apa-apa?
__ADS_1
"Ada rahasia apa diantara kalian yang aku tidak tahu? Apa hubungan kedatanganku dengan Rizal? Katakan dengan jelas, siapa diantara kalian berdua yang akan berkata jujur!" cecar Rafa heran, Rizal mengangkat kedua bahunya. Sebaliknya seketika Kiara menunduk malu. Prasangkanya salah, sedangkan Hana memahami arah pembicaraan Kiara. Hana tersenyum bahagia. Dia merasa akan ada kebahagia yang lain, selain pembangunan pesantren.
"Kak Rafa, mungkin yang dimaksud Kiara. Perubahan status dari sahabat menjadi seorang adik. Seandainya dugaanku benar, itu artinya Kiara kecil kita beranjak dewasa!" ujar Hana, Rafa menoleh pada Hana. Rizal tersenyum ke arah Rafa yang memandang seolah bertanya. Kiara menggeleng lemah tanpa berani menatap Rizal yang berada di sampingnya.
"Sebenarnya ada apa? Kalian bermain teka-teki, kalau kamu tidak mengatakannya sekarang. Kakak akan pergi!" ujar Rafa menggoda sembari berjalan, Kiara menarik baju Rafa. Sontak Rafa berhenti, Hana semakin yakin ada yang ingin disampaikan Kiara pada Rafa.
"Baiklah, sepertinya Kiara merasa keberatan aku disini. Aku pergi dulu, lagipula nanti malam aku akan bertemu dengannya di rumah. Abi Malik ingin bertemu Kiara secara pribadi!" ujar Rizal, Rafa mengangguk mulai memahami arah pembicaraan. Rizal meminta Salwa juga menjauh dari Kiara. Mereka berdua berjalan beriringan menuju pesantren.
"Kiara sayang, katakan semua kegelisahanmu pada kakakmu. Kak Hana masuk dulu, kasihan Fathan kalau di luar sebentar lagi magrib. Jangan menyimpan sesuatu yang tak mampu kamu selesaikan. Bicaralah dengan kakakmu, anggap dia pengganti papa. Dia walimu yang akan melindungimu. Jangan pernah ragu bercerita padanya. Bersandarlah pada tubuhnya, senja tidak akan menjawab pertanyaanmu. Namun kakakmu yang akan menjwab kegelisahan hatimu!" ujar Hana lembut sembari membelai kepala Kiara pelan. Hana tak pernah memiliki adik, tapi dengan adanya Kiara. Hana merasa memiliki seorang adik. Kegelisahan Kiara hanya akan bisa diselesaikan oleh Rafa. Kakak sedarahnya yang mampu merasakan pahit dan sakitnya hati Kiara. Hanya terkadang saudara laki-laki memahami setelah diminta.
"Kiara, aku takkan mampu membencimu. Karena mencintai kak Rafa, suamiku. Darah yang sama mengalir dalam diri kalian. Membuktikan kalian takkan bisa dipisahkan. Aku akan menjadi kakak ipar yang baik semampuku. Meski dirimu tidak pernah menganggapnya. Sebab kakakmu menghargai diriku, akupun menghargai dirimu. Aku tak pernah memiliki saudara, tidak sepantasnya aku membuatmu jauh dari saudaramu. Kebencianku hanya akan membuat kakakmu sulit. Aku tidak akan membuat suamiku memilih diriku atau keluarganya. Sehina apapun kalian memandangku. Insyaallah aku akan bertahan, tapi seandainya kak Rafa yang meragukanku. Takkan aku berdiri disampingnya!" tutur Hana lembut, Rafa mengangguk pelan. Rafa melihat wajah Hana yang sangat dicintainya. Hana berjalan meninggalkan Rafa dan Kiara.
"Sayang, terima kasih telah menerima adikku layaknya saudaramu sendiri!" ujar Rafa seraya menahan tangan Hana. Dengan anggukan dan sebuah senyum, Hana membalas perkataan Rafa. Sekilas Rafa mencium tangan Hana. Sikap mesra Rafa yang selalu mampu menenangkan hati Hana.
Rafa dan Kiara berjalan ke dalam gubuk yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Setelah Rafa dan Kiara duduk, Kiara memberikan secarik kertas yang diberikan Rizal pagi tadi. secarik kertas alasan seorang Kiara gelisah dan ragu. Rafa mengambil kertas dari Kiara, dia membaca kertas itu dengan seksama.
"Kiara Putri Prawira, satu nama yang tersemat indah dalam benakku. Entah kenapa semenjak pertama kali melihatmu? Aku tertarik ingin mengenalmu, fakta dirimu adik sahabatku. Semakin membuatku ingin memahami dirimu. Buku yang tanpa sengaja terjatuh dari tanganmu. Sebuah petanda dirimu makmum yang kudambakan. Seorang wanita yang mengharapkan surga dari suaminya. Wanita yang benar-benar sholeha. Wanita yang berharap menjadi selimut bagi sang suami. Menunjukkan besar kasih sayangnya kelak. Kusebut namamu dalam setiap sujudku, kubayangkan dirimu dalam sepertiga malamku. Hanya bersamamu doa terbaikku. Sebuah buku yang tanpa sengaja membuatku terpaut akan dirimu. Sebuah buka jalan diriku menemukanmu. Aku sudah mengatakan pada abi tentang niatku. Beliau telah bertanya padaku, seberapa dirimu ada dalam doa dan sujudku? Beliau yakin dirimu makmum yang aky dambakan. Kini beliau ingin bertemu denganmu. Bukan untuk memaksa atau menghakimi. Beliau ingin melihat dan mendengar dirikukah surga yang kamu nanti. Jangan pernah ragu menjawab pertanyaan abi. Tidak ada yang memaksa dirimu menerima diriku. Setegas kamu mengatakan keraguan-keraguanmu padaku. Kuharap setegas itu pula kamu menjawab pertanyaan abi. Aku takkan memaksa diriku surga yang kamu nanti. Namun aku berharap dirimu makmum dunia akhiratku. Tulang rusuk yang hilang dari tubuhku. Kuharapa pencarianku berakhir padamu!"
__ADS_1
"Apa maksud tulisan ini? Apa hubunganmu dengan Rizal? Kenapa pak Kyai ingin menemuimu?" ujar Rafa, Kiara menggeleng lemah. Rafa terkejut membaca tulisan itu. Rizal sedikitpun tak pernah mengatakan padanya akan perasaannya pada Kiara. Namun secarik kertas putih, mampu menjawab semua pertanyaan yang ada dalam benak Rafa.
"Kak Rafa, Kiara harus bagaimana? Apa yang terjadi bukan keinginan Kiara? Aku datang kemari untuk mencari ilmu. Memperbaiki diri yang telah rusak, mencari iman dan islam. Maafkan Kiara!" ujarnya lirih, Rafa mengangguk pelan. Rafa dan Kiara menatap lekat sang senja yang mulai menghilang masuk ke dalam peraduannnya.
"Apa yang membuatmu meminta maaf? Setiap hati berhak mencintai, sebab cinta itu sebuah anugrah bukan kesalahan. Rizal jelas menulis dia tidak memaksamu menerima cintanya. Kenapa kamu harus gelisah dan takut? Katakan saja tidak, jika memang kamu tidak menyukainya. Terima saja, jika memang kamu berpikir Rizal calon imam yang baik. Keluarga Rizal sangat baik. Mereka tidak akan marah atau terluka bila kamu menolaknya. Katakanlah sesuai isi hatimu, suara hati terdalammu!" tutur Rafa santai, Kiara menggeleng lemah. Tiba-tiba dia menyadarkan kepalanya di bahu Rafa. Kiara menatap lekat sang senja yang menghilang berganti petang. Sayub terdengar suara murrotal dari speker masjid.
"Ustad Rizal bukan calon imam yang baik, tapi dia imam yang sempurna. Sebagai seorag wanita biasa, ketampanannya mampu memikat hatiku. Sebagai seorang santri, aku akan bangga bila menjadi istri dari ustad Rizal. Namun secara agama dan iman, aku dan dia berbeda. Kami dua jalan yang bersimpangan, seakan sulit untuk menjadi satu. Latar belakang keluarga, jelas berbeda. Keluarganya terpandang secara iman dan keluarga kita tercemar secara iman. Aku tidak ingin menjadi noda, untuk kain putih yang bersih. Aku juga tak mungkin menjadi kain putih, dengan melupakan noda yang pernah ada. Masa lalu mama Sabrina, tidak akan pernah terpisah dari hidupku. Aku juga tidak membiarkan masa lalu itu mengikuti ustad Rizal. Seburuk-buruknya mama, dia wanita yang melahirkanku. Sebaik-baiknya ustad Rizal, dia calon imam terbaik yang mungkin menuntunku. Aku bukan takut terluka, tapi melihat orang yang mencintaiku terluka. Aku tidak akan pernah sanggup. Aku takkan pernah malu akan masa lalu mama Sabrina. Namun membiarkan orang yang kusayangi ikut menanggung malu. Sepenuh hati aku tidak akan pernah rela. Kak Rafa, katakan jalan mana yang harus aku pilih!"
"Tanyakan pada hatimu kala bersujud. Sebab jawaban terbaik hanya dari-NYA. Semua diatur sesuai dengan ketetapan-NYA. Tidak akan ada satu manusia yang mampu memilih sebaik DIA. Pasrahkan dalam sujudmu, masih tersisa sholat magrib dan isya. Kak Rafa yakin akan ada jawaban yang terbaik. Kiara, jangan pernah ragu untuk mengatakan isi hatimu. Sebab isi hati semurni-murninya pikiran. Kak Rafa akan selalu mendukung, apapun pilihanmu. Kak Rafa hanya ingin mengingatkan. Hargai cinta Rizal, dia tidak salah dan harus kalah oleh masa lalu mama Sabrina. Buktinya Rizal sudah mengatakan niatnya pada abi Malik. Itu artinya dia yakin akan dirimu. Permintaan abi Malik ingin menemui, berarti beliau menghargai keinginan Rizal padamu. Cinta itu bukan hanya memiliki, tapi menghargai. Setidaknya bila menerimanya kamu belum bisa. Hargai perasaab itu dan serahkan pada ketetapan-NYA!" ujar Rafa, Kiara mengangguk dengan tetap bersandar pada bahu Rafa.
" Kita masuk Kiara, kak Hana pasti cemas mencariku. Kamu tahu tidak, ustadzah Mila ada disini. Takutnya dia cemburu, bersiaplah sholat magrib!" ujar Rafa.
"Kak Rafa, terima kasih. Aku menyayangimu!" ujar Kiara, Rafa mengusap kepala Kiara yang tertutup hijab.
"Kak Rafa juga menyayangimu!"
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1