
Berdiri dokter muda dengan jas putih kebanggannya. Dia tak lain dokter Muhammad Faiq Alhakim. Dokter muda yang baru bergabung dengan rumah sakit ini. Pagi ini hari pertamanya bekerja. Meski dia putra pemilik rumah sakit ini. Tidak serta merta membuatnya ingin memimpin rumah sakit ini. Dia hanya ingin bekerja layaknya dokter yang lain. Tanpa keistimewaan apapun dan fasilitas sebagai dokter spesialis.
Faiq berjalan penuh wibawa, dia menuju poli tempat memeriksa pasien. Meski Faiq seorang dokter spesialis, dia tetap ingin berada di poli umum. Faiq ingin memeriksa banyak orang. Faiq ingin menolong orang tanpa membedakan si kaya dan si miskin. Prinsip hidup Hana yang menurun pada Faiq putranya. Prinsip yang menjadi alasan Faiq ingin menjadi dokter. Bukan demi kebanggaan atau sekadar ingin mencari kemewahan. Namun murni untuk membantu sesama. Faiq ingin mewujudkan cita-cita Hana yang ingin menjadi dokter.
Setelah sampai di poli umum tempatnya memeriksa pasien. Faiq duduk di kursi dokter dengan penuh wibawa. Bahkan para suster terpesona dengan penampilan Faiq. Ketampanan yang nyaris sempurna, membuat mata kaum hawa seakan terhipnotis. Namun mereka tidak mengenal, siapa sebenarnya Muhammad Faiq Alhakim? Laki-laki dingin yang tidak ingin mengenal cinta. Kekaguman yang akan musnah, bila mereka mengetahui betapa dingin sikap Faiq pada wanita.
Sekitar dua jam lebih Faiq memeriksa pasien. Setelah merasa semua pasien tertangani dengan baik. Faiq meninggalkan poli, dia berjalan menuju arah mushola. Kebetulan hari mendekati waktu sholat dhuhur. Sejak kecil Faiq terbiasa tepat waktu menjalankan ibadah sholat lima waktu. Sehingga dimanapun Faiq berada? Dia selalu ingat akan kewajibannya.
Faiq berjalan perlahan menuju mushola rumah sakit. Dia mengedarkan pandanganya ke seluruh bagian rumah sakit. Dia mengagumi tatanan bangunan yang tertata rapi. Setiap sudut rumah sakit, dia telusuri sembari mencari sosok yang mengganggu pikirannya. Faiq sedang mencari Annisa sang putri yang dirindukan oleh Hana. Faiq mendengar dari Fathan, jika Annisa menjadi dokter pribadi Naufal. Dia sengaja pulang hanya untuk merawat Naufal.
__ADS_1
"Dokter Faiq Alhakim!" sapa Cintya ramah, Faiq menghentikan langkahnya. Dia membalik badannya 180° menghadap ke arah Cintya. Dengan ramah Faiq tersenyum menyahuti panggilan Cintya. Wakil direktur rumah sakit tempatnya bekerja. Faiq melihat Cintya datang berdua dengan Annisa. Seseorang yang selama ini dicarinya. Namun Faiq tidak pernah menyadari, bila Annisa selama ini ada di dekatnya. Bahkan sangat dekat, sebab Annisa menjadi dosen di kampusnya.
"Ada apa dokter Cintya? Saya harus ke mushola, sebentar lagi sudah masuk waktu dhuhur. Jika tidak terlalu penting dan tidak keberatan. Bisakah kita bicara setelah saya melakukan sholat dhuhur!" ujar Faiq ramah, Cintya tersenyum mendengar jawaban Faiq. Dia teringat akan Hana. Wanita yang pernah menarik perhatian kakak dan suaminya. Wanita sederhana yang menjadikan iman sebagai prinsip hidupnya. Annisa menatap Faiq pe jh rasa kagum. Di masa sekarang, masih ada laki-laki yang mengedepankan iman. Bahkan dia menolak berbicara dengan pemimpinnya, tanpa takut kehilangan pekerjaan.
"Tidak terlalu penting, tapi memang seharusnya kita bicara dalam kondisi yang jauh lebih tenang. Secara garis besar saya ingin anda masuk dalam tim dokter yang akan merawat dokter Naufal. Bersama dokter Annisa dan dokter lainnya. Jika anda setuju dan tidak keberatan, siang ini akan diadakan rapat koordinasi. Jadi saya berharap anda datang!" ujar Cintya lirih, Faiq dengan tegas menggeleng. Annisa dan Cintya terkejut melihat jawaban Faiq. Sungguh mereka tidak menyangka jawaban dari Faiq. Secara pengalaman memang Faiq masih sangat minim. Namun secara kepintaran, Faiq diatas dokter lainnya. Semua itu Cintya ketahui dari perkataan Annisa yang selama ini menjadi dosen pembimbingnya.
"Oh iya, maaf saya lupa. Dia dokter Annisa, putri dokter Naufal. Memang kedatangannya untuk merawat dokter Naufal!" ujar Cintya ramah, Faiq hanya diam membisu. Dia semakin kesal saat mengetahui. Dosennya adalah Annisa yang dia cari. Faiq berjalan mendekat pada Annisa. Menatap tajam wanita bercadar di depannya. Cintya yang melihat Faiq mebdekat pada Annisa. Berniat menghadang agar tidak mwnyentuh Annisa. Terhenti seketika saat melihat Faiq mengakat tangan ke arah Cintya. Mengisyaratkan agar dia berhenti dan tidak ikut campur.
"Dokter Annisa Maulida Zahro, seharusnya sejak awal aku menyadari. Kamu orang yang selama ini dirindukan mama. Gadis manis yang sangat disayangi oleh mama. Gadis yang meninggalkan luka dihati mamaku, sehingga setiap dia memandang fotomu. Mama akan menangis penuh kerinduan. Seandainya sejak awal aku bisa mengenalimu. Sejak awal pula akan kuseret dirimu ke depan mama. Mungkin bagimu mama hanya orang lain. Namun apa kamu menyadari? Mama seakan lupa pada putranya, hanya demi mengingat dirimu. Gadis kecil ceria yang memanggilnya mama. Namun kini tumbuh menjadi wanita yang dingin dan angkuh. Setelah sekian tahun kepergianmu, kamu datang untuk merawat ayahmu. Namun kedatanganmu telah membuka luka mamaku. Dia bahagia sekaligus sedih, saat mengetahui dirimu tak ingin memberitahu kedatanganmu!" ujar Faiq kesal, Annisa menunduk lalu mundur beberapa langkah. Dia tidak menyangka akhirnya kedatangannya akan menimbulkan masalah baru.
__ADS_1
"Dokter Faiq, tidak seharusnya anda menyalahkan dokter Annisa. Dia pergi dengan alasannya sendiri. Dia datang juga dengan pertimbangan yang matang. Jika masalah pertemuannya dengan Hana. Anda harus memakluminya. Saat ini dia masih bingung dan sedih memikirkan kondisi dokter Naufal. Bagaimanapun seorang anak tidak akan mampu memikirkan hal lain? Selain kesembuhan orang tuanya!" sahut Cintya lirih, Faiq tersenyum sinis mendengar pembelaan Cintya. Faiq mundur beberapa langkah. Dia berniat meneruskan langkahnya menuju mushola. Faiq sudah mendengar suara azan dhuhur. Lalu tiba-tiba Faiq menghentikan langkahnya, dia membalikkan badan.
"Memang bukan kesalahannya, sehingga mama menangis merindukannya. Sebab sampai kapanpun? Mama bukan siapa-siapanya? Namun hati mama yang salah telah menganggapnya layaknya putri kandungnya. Aku juga salah telah mengatakan semua ini padanya. Dia memang tidak seharusnya memikirkan kesedihan mama. Sebab dia bukan darah dagingnya. Maka dari itu, meski dia mendengar jeritan hati mama. Dia tetap diam tak bergeming, mematung membisu seakan tak pernah mengenal mama. Padahal hati seorang ibu tak pernah salah mengenali. Termasuk saat mama bertemu dengannya di bandara. Dokter Annisa Maulida Zahro, mungkin anda dokter hebat yang mampu menyembuhkan penyakit sraraf separah apapun. Namun anda tidak akan mampu menghentikan hati mama yang merindukanmu. Seandainya kamu mukhrimku, detik ini juga akan kubawa dirimu bertemu mama. Menghapus air mata yang terus mengalir merinduknmu!" ujar Faiq dingin lalu berjalan menjauh. Faiq berjalan cepat menuju mushola, meninggalkan Annisa yang termenung memikirkan kesalahannya. Cintya menarik Annisa ke dalam pelukannya. Dia mengetahui alasan sebenarnya kepergian Annisa.
"Tenanglah sayang, semua akan mengetahui yang sebenarnya. Apa yang kamu lakukan bukan untuk menyakiti? Keputusanmu yang terbaik saat itu. Demi Hana dan Salsa, percayalah semua akan baik-baik saja!" uajr Cintya lirih, sembari memeluk Annisa. Dengan anggukan kepala Annisa menyahuti perkataan Cintya. Akhirnya keduanya memutuskan pergi menuju ruang rawat Naufal.
"Faiq, kamu benar atas semua pemikiranmu. Dan aku benar akan keputusanku. Kita tidak pernah mengetahui pasti, siapa yang salah dan siapa yang benar? Namun satu hal yang pasti, bukan hanya mama yang menangis merindukan diriku. Setiap hari kulewati hanya dengan air mata dan kerinduan akan kehangatan mama. Jika kamu bertanya kenapa aku belum menemuinya? Bukan aku marah atau membenginya. Aku terlalu malu, akan sikapku dulu. Aku anak yang tidak berbakti. Luka yang aku tinggalkan tidak akan semudah itu musnah. Aku malu bertemu mama Hana, tapi aku merindukannya!" batin Annisa pilu.
"Jadi kamu Annisa yang selalu dirindukan mama!" ujar Fathan, seketika Annisa dan Cintya menoleh bersama.
__ADS_1