KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Satu Keluarga


__ADS_3

"Papa!" Teriak Vania histeris, Faiq dan Fathan sontak menoleh.


Mereka terkejut dengan teriakan Vania yang sangat kecang. Beberapa saat mereka merasa takut ada yang terjadi pada Rafa. Namun saat mereka melihat Rafa baik-baik saja. Kegelisahan itu langsung menghilang. Berganti dengan rasa terkejut dan tatapan heran.


Vania berlari menghampiri Rafa, tanpa peduli lagi pada kandungannya yang membesar. Sedangkan Fathan menatap Rafa tak percaya. Setelah sekian tahun, Rafa berpenampilan sederhana. Pagi ini Rafa kembali dengan penampilan baru. Rafa Akbar Prawira yang dulu telah kembali. Ketampanan dan wibawa Rafa membuat Fathan dan Vania heran sekaligus bahagia.


Sebaliknya Faiq bersikap biasa dengan penampilan Rafa. Tak ada kekaguman atau rasa terkejut. Faiq tak peduli pada perubahan Rafa. Sifat yang sangat mirip dengan Hana. Tak pernah peduli dengan penampilan Rafa atau orang lain. Bahkan cenderung acuh pada penampilannya sendiri. Kesederhanaan yang memancarkan ketulusan hati.


"Papa tampan dan keren, tak seperti kak Fathan dan Faiq!" Ujar Vania histeris, Fathan menatap tajam Vania. Seakan dia tidak terima perkataan Vania.


"Tapi papa tak setampan aku!" Sahut Raihan lantang, Vania menggeleng lemah. Sontak Raihan menunduk lesu. Fathan terkekeh melihat kekecewaan Raihan.


"Kalian bertiga tidak setampan papa. Papa sangat tampan dengan memakai jas. Papa seperti pembisnis yang hebat. Pantas mama Hana sangat mencintai papa!" Ujar Vania lantang dan tegas. Namun Rafa menggelengkan kepalanya tak setuju. Sontak Vania mengeryitkan dahinya tak mengerti. Menurut Vania, tidak mungkin Hana membenci Rafa karena ketampanannya


"Mama Hana tidak peduli pada ketampanan papa. Kamu salah jika mengira, mama Hana peduli dengan penampilan papa!" Sahut Rafa lirih, lalu berlalu meninggalkan Vania.


Rafa duduk tepat di samping Faiq dan Fathan. Vania mengejar Rafa, dia duduk di sebelah Raihan suaminya. Vania penasaran alasan, kenapa Hana tidak pernah peduli dengan penampilan Rafa? Vania terus menatap Rafa, tatapan penuh tanya yang menunggu sebuah jawaban.


"Ada apa lagi?" Sahut Rafa dingin.


"Kenapa mama tidak peduli ketampanan papa? Jelas mama Hana mencintai papa, karena ketampanan dan status papa. Aku saja langsung kagum melihat betapa tampannya papa!"


"Karena kamu bukan mama. Sebab itu kamu kagum akan ketampanan papa. Sejak dulu sampai sekarang. Mama ada di samping papa, bukan karena ketampanan papa atau status papa. Mama berada di samping papa, kerena menghargai papa sebagai suami dan imam dunia akhiratnya!" Sahut Faiq dingin dan tegas, Vania menggeleng tak percaya. Sedangkan Raihan dan Fathan tak peduli dengan perdebatan Vania dan Faiq.


"Kalian sarapan atau ingin berdebat. Mama tidak pernah mengajarkan sikap seperti itu. Setelah sarapan selesai, silahkan kalian berdebat!" Ujar Hana tegas, sesaat setelah tiba di dekat meja makan.


Hana duduk tepat di samping Faiq. Davina sedang tidak ada di rumah. Dia sedang menginap di rumahnya. Sedangkan Annisa menantu tertua, baru saja datang dari rumah sakit. Jadi Annisa tidak akan sarapan bersama. Dia memilih istirahat terlebih dahulu, baru setelah itu sarapan.


"Mama Hana, papa tampan dan keren!" Ujar Vania memecah kesunyian.


"Hmmmm!" Sahut Hana singkat, Vania melongo mendengar deheman Hana. Jawaban singkat yang menunjukkan, betapa Hana tidak peduli pada penampilan Rafa.


"Seperti dugaanku!" Ujar Rafa lirih, seketika Hana menoleh. Rafa langsung menunduk, seolah tatapan Hana membuat Rafa takut. Namun sesungguhnya Rafa merasa enggan kembali bekerja. Dia lebih nyaman berada di rumah menemani Hana.


"Bisa kita sarapan tanpa banyak bicara. Bukankah kalian harus segera berangkat ke kantor. Kecuali kalian ingin menjadi contoh yang buruk bagi pegawai lain!" Ujar Hana dingin, tanpa menatap siapapun? Hana bicara dengan menunduk, sembari terus mengunyah makanan.


Semua orang termasuk Rafa diam tak berkutik. Tak ada hangat atau kasih sayang dari tiap kata Hana. Ketegasan Hana membungkam mulut semua orang, tak terkecuali Vania yang terus bicara tanpa henti. Faiq dan Fathan mengenal Hana, jika Hana bicara dengan dingin dan tegas. Jelas ada yang sedang membebani pikirannya.


"Kak Fathan, mama kenapa?" Bisik Vania lirih, Fathan mengangkat kedua bahunya pelan. Isyarat dia tidak mengerti alasan amarah Hana.

__ADS_1


"Kak Faiq!" Sapa Vania lirih, Faiq tak menggubris panggilan Vania. Faiq sudah menduga, alasan Vania memanggilnya.


"Kak Faiq!"


"Vania, kamu sarapan atau terus bicara!" Sahut Hana, Vania langsung menunduk.


"Maaf!" Ujar Vania lirih, Raihan menggeleng tak percaya. Vania istrinya selalu bersikap ramai, tapi langsung diam begitu mendengar perkataan Hana atau Faiq.


Tak berapa lama, sarapan selesai dengan tenang. Fathan dan Faiq berjalan menuju ruang tengah. Raihan dan Vania mengekor di belakang mereka. Keempatnya menunggu Rafa yang masih berada di meja makan. Khusus pagi ini, mereka akan berangkat bersama-sama. Faiq akan bekerja di perusahaan bersama dengan Rafa. Sedangkan Fathan akan bekerja bersama Vania. Hanya Raihan yang sendiri mengelola perusahaannya.


"Sayang, kamu tidak suka dengan penampilanku!" Bisik Rafa tepat di telinga Hana.


Pelukan erat Rafa dari belakang, membuat Hana tak berkutik.


Hangat dekapan Rafa, membuat tulang belulang Hana lemah. Sentuhan yang selama ini membius Hana dalam harum dan bahagia cinta. Meski tak dikatakan oleh Hana. Cintanya pada Rafa itu nyata dan tulus. Sekuat apapun Hana menutupinya, hasrat ingin bersama Rafa tak pernah bisa ditutupinya. Hembusan napas Rafa, menyusup jauh ke dalam relung hati Hana. Hati yang telah termiliki oleh satu nama Rafa Akbar Prawira.


"Aku suka!"


"Kenapa tak melihatku? Kamu selalu menunduk, bahkan saat aku berganti pakaian. Kamu sengaja turun lebih dulu!" Ujar Rafa, Hana menggeleng lemah. Hana menunduk menatap lantai, Rafa memutar tubuh Hana.


Rafa menatap lekat Hana, wanita yang sangat dicintainya. Bukan karena kecantikan, bukan juga karena harta. Melainkan ketulusan hati yang menerima Rafa dengan segala kekurangannya. Kerendahan hati yang tak pernah menuntut sesuatu yang tak pernah bisa dipenuhi Rafa.


Cup Cup


Rafa mengecup mesra kedua mata Hana bergantian. Menyalurkan cinta yang nyata tulus untuk Hana. Rafa menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya. Menenggelamkan jauh wajah Hana, menempel tepat di jantungnya. Berharap Hana mendengar debaran jantungnya.


"Bukan hanya kamu yang takut akan perubahanku. Hatikupun gelisah memikirkan itu. Dengarlah suara gemuruh jantungku. Suara yang nyata memanggil namamu. Tutuplah kedua matamu, jika itu mampu membuat hatimu tenang. Setidaknya kamu tidak akan gelisah memikirkan diriku yang ada di luar sana!"


"Maafkan aku kak Rafa!"


"Kamu tidak salah, aku juga tidak salah. Cinta kita yang terlambat bertemu. Sehingga cintaku tak lagi suci untukmu, tapi ternoda oleh hubunganku dengan Sesil. Pantas jika hari ini kamu takut akan masa laluku!" Ujar Rafa lirih, Hana mengangguk pelan.


"Aku bodoh kak Rafa. Aku yang memintamu bekerja, tapi aku sendiri yang takut kamu berubah!"


"Sayang, kamu bukan bodoh. Namun hatimu terlalu baik, kamu peduli pada kebahagianku dengan melupakan ketakutanmu. Percayalah, tidak akan ada Sesil atau wanita lain yang menggantikan dirimu. Jika dulu mereka tidak mampu menggantikanmu. Alasan apa yang membuat mereka mampu menggantikanmu hari ini!" Tutur Rafa, Hana mengangguk perlahan.


"Aku tahu Hana, tawaku bersama Sesil malam itu. Membuatmu terluka dan berpikir telah mengekangku dengan cintamu. Memang pemikiranmu tidak salah, tapi itu tidak sepenuhnya benar. Hanya ada satu wanita yang mengusik hidupku, entah di kantor atau di rumah? Hana Khairunnisa, wanita sederhana yang takkan kalah oleh napsu semata!" Ujar Rafa lagi.


"Sejujurnya aku cemburu, tapi aku terluka melihat sepimu. Hari ini pertama kalinya kamu bekerja. Sangat wajar bila aku gelisah. Aku pastikan besok tidak akan ada kata cemburu!" Sahut Hana dalam dekapan hangat Rafa.

__ADS_1


Aggghhhhmmm


"Bisa kita berangkat, aku rasa sudah cukup pelukannya. Papa hanya akan bekerja, bukan bertempur. Lagipula papa tidak akan berani melirik wanita lain. Aku akan terus mengawasi papa!" Ujar Faiq santai, sontak Hana meronta melepaskan pelukan Rafa. Faiq langsung menghampiri Hana. Dia mencium punggung tangan Hana.


"Faiq, mengganggu saja kamu!" Gerutu Rafa.


"Papa yang terlalu lama. Mentang-mentang bos, papa lupa jam kerja!" Sahut Faiq kesal.


"Kalian ibu dan anak sama, tidak pernah suka melihat kebahagianku. Sudah lama aku nyamab berada di rumah. Sekarang aku harus bekerja!" Ujar Rafa ketus, lalu mencium kening Hana. Rafa berjalan menjauh dari Hana.


"Faiq, sayang mama!" Ujar Faiq lalu mencium lembut kening Hana dan memeluk tubuh Hana erat.


"Papa, memangnya hubungan papa dengan tante Sesil sejauh mana? Sampai mama Hana begitu cemburu!" Ujar Vania tanpa dosa, Rafa diam seraya menelan ludahnya kasar. Sekilas Rafa menoleh ke arah Hana. Tak ada senyum yang terutas di bibirnya. Hana diam menelan rasa sakitnya. Semua demi rasa nyaman Rafa.


"Papa dan tante Sesil pernah saling mencintai. Bahkan keduanya hampir menikah. Hubungan keduanya sudah seperti suami-istri. Maklum papa dulu pengusaha tampan dan sukses. Pengusaha muda berjiwa playboy!"


"Faiq, kamu tahu dari mana?" Sahut Rafa kaget, Vania melongo mendengar perkataan Faiq. Fathan diam membisu, dia tidak akan berpendapat. Sebab Fathan tak mengetahui semuanya dengan pasti.


"Internet!" Sahut Faiq lirih, Rafa menunduk lesu.


"Kenapa menikahnya dengan mama Hana?" Gumam Vania.


"Sebab mama Hana yang terbaik!" Sahut Fathan final, mengakhiri perdebatan Faiq dan Vania.


"Apapun papa dulu, dia imam yang mama pilih. Jangan pernah mempertanyakan kelemahan dan masa lalu papa. Jika tidak ingin melihat air mata mama!" Ujar Hana tegas. Faiq mengangguk merasa bersalah. Dia menyesal telah mengungkit masa lalu yang tak seharusnya dikatakan.


"Maafkan Faiq pa!" Ujar Faiq lirih, sembari mencium punggung tangan Rafa.


"Kamu tidak salah, kasih sayangmu pada mama. Mampu membuatmu lupa batasan yang ada. Papa percaya, kelak kamu akan bisa menjaga mama setelah papa tiada!" Ujar Rafa sendu, Hana menggeleng lemah. Dia merangkul tubuh Rafa, bersandar pada bahu Rafa.


"Aku yang akan lebih dulu tiada, karena hidup tanpamu aku tak mampu. Kamu napasku dan hidupku, lebih baik terus melihat tawamu daripada sakitmu!"


"Kalian akan terus bersama, karena kami yang akan menjaga kalian!" Ujar Fathan lantang dan tegas. Lalu berhambur memeluk Rafa dan Hana. Faiq dan Vania melakukan hal yang sama.


"Bolehkah aku memeluk kalian juga!" Ujar Raihan ramah, Rafa mengangguk seraya merentangkan tangan ke arah Raihan.


"Kamu bukan hanya menantu, tapi putra kami juga!" Ujar Rafa.


"Satu keluarga selamanya!" Teriak Vania lantang dan menggema.

__ADS_1


__ADS_2