KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Berjuanglah...


__ADS_3

Sekitar pukul 19.00 wib, seluruh keluarga berkumpul. Makan malam yang terasa hangat dengan hadirnya Faiq sang putra kedua. Fathan datang bersama Annisa. Sedangkan Davina datang bersama Salsa dan Adrian. Makan malam yang sengaja Hana persiapkan untuk mewujudkan janji puluhan tahun yang lalu. Makan malam yang akan membuka tabir yang tertutup selama puluhan tahun. Makan malam yang akan menjawab alasan kepergian Faiq puluhan tahun yang lalu.


Fathan duduk dengan perasaan yang campur-aduk. Dia ingin mengatakan pada Hana soal keinginannya mengkhitbah Annisa. Namun mulutnya seakan bisu, mulutnya tertutup rapat. Tak ada keberanian untuk mengatakan seluruh keinginannya. Fathan bingung akan rasanya, apalagi dia melihat Hana yang terlihat sangat bahagia. Entah apa yang membuat Hana begitu bahagia? Fathan hanya bisa duduk menghadap makanan yang tersedia. Dia tidak seberani tadi ketika mengatakan cinta pada Annisa. Nyali Fathan menciut saat dia berhadapan dengan Hana. Suara keraguan Annisa dan penolakan Hana akan cintanya pada Annisa. Bermain indah dalam benaknya. Seluruh keberanian Fathan seketika musnah tak tersisa. Fathan menjadi pribadi yang sangat lemah tanpa kekuatan.


Sedangkan Faiq berbeda dengan Fathan. Bukan mulutnya yang tertutup rapat. Hatinya yang tertutup rapat. Dingin membeku tanpa kehangatan. Malam yang selalu ditakutkan selama hidupnya. Rasa sakit yang tidak pernah ingin dia rasakan. Malam ini rasa sakit itu terasa sangat sempurna. Orang yang paling Faiq sayangi. Menjadi orang yang membuat luka dihatinya. Fathan dan Faiq dua saudara dalam dilema yang berbeda. Keduanya seakan takut menghadapi malam ini. Malam yang membahagiakan bagi sang mama, seolah menjadi malam yang paling menyedihkan bagi Faiq dan Fathan.


Sebaliknya Davina dan Annisa dua wanita yang menyimpan rasa pada dua saudara ini. Seakan menyimpan banyak pertanyaan dalam hatinya. Pertama kalinya Davina menatap wajah Faiq. Wajah yang tak pernah ada di meja makan. Sosok yang tidak akan pernah dia lihat saat makan malam bersama keluarga Rafa. Namun malam ini, kedua mata Davina seakan puas menatap wajah sang pangeran impian. Tanpa Davina menyadari. Jika malam ini mungkin terakhir kali dia bisa melihat wajah Faiq.


Annisa sang dokter berhati lembut, hanya sebagai pelengkap kehangatan makan malam saat ini. Annisa datang bukan untuk makan malam atau menagih janji pada Fathan akan kesungguhan hatinya. Kedatangan Annisa hanya untuk berpamitan. Kepergian Annisa besok malam akan terlaksana sesuai rencana. Semua orang yang datang memiliki pikiran masing-masing. Tanpa ada yang berani mengungkapkan. Semua membisu dalam angan masing-masing.


Setelah makan malam semua berkumpul di ruang tengah. Suasana kekeluargaan jelas terasa, hangat tanpa ada jarak. Rafa duduk berdampingan dengan Hana. Adrian duduk bersama Diana. Sedangkan Annisa dan Davina duduk berjejer tepat di depan Fathan dan Faiq. Keempatnya larut dalam pikiran masing-masing. Terkadang mereka saling mencuri pandang. Sesuatu yang wajar dilakukan para insan yang sedang jatuh cinta.


"Fathan, mama ingin mengatakan sesuatu padamu dan Davina. Sejak lama mama dan tante Diana ingin menjadi saudara sesungguhnya. Sejak mama kecil tak memiliki siapa-siapa? Hanya tante Diana yang ada disamping mama. Saat pertama masa sulit mama bersama papa. Tante Diana yang selalu melindungi mama. Tante Diana layaknya saudara bagi mama, putra mama juga putra tante Diana. Namun hubungan diantara tetap hanya akan menjadi sahabat, tidak akan berubah menjadi keluarga. Demi harapan menjadi keluarga seutuhnya. Mama dan tante Diana mengikat janji, akan menikahkan anak-anak kami. Mama dan tante Diana ingin menikahkah dirimu dan Davina putri tante Diana!" ujar Hana tegas, Seketika Fathan dan Davina mendongak kaget. Keduanya saling menatap, bingung akan mengatakan apa? Bibir mereka seakan kelu, tidak ada kata yang mampu terucap. Tubuh dan hati Fathan seketika membeku. Davina menunduk lemas, seakan dunianya runtuh. Sebaliknya Faiq dan Annisa seakan sudah menyadari yang terjadi. Mereka berdua bersikap tenang dan santai. Meski hancurnya hati keduanya tidak ada yang mengetahuinya. Mereka seakan pintar menyembunyikan rasa sakitnya. Faiq tersenyum meski hatinya menangis. Annisa terdiam menyadari jika cintanya harus berakhir. Kepergiannya besok malam seolah menjadi keputusan yang paling benar.

__ADS_1


Suasana hangat berubah menjadi dingin. Tak lagi terdengar tawa atau sekadar suara saling menyapa. Dinding rumah Hana seakan ikut membisu, merasakan kebimbangan yang dirasakan Fathan dan Davina. Semua termenung dengan pikiran yang rumit. Tak ada yang bicara, semua larut dalam dilema yang panjang. Faiq menjadi pribadi dingin dan semakin dingin setelah mendengar permintaan sang mama.


"Fathan, mama dan tante Diana tidak akan memaksa kalian untuk segera menikah. Setidaknya kalian bisa ta'aruf, saling mengenal sebagai calon pasangan suami-istri!" ujar Hana lagi, Fathan menunduk semakin dalam. Seakan tak lagi mampu mengangkat wajahnya. Dia tidak ingin menyakiti Hana dengan menolak permintaannya. Namun menjadi calon suami Davina. Sungguh tak pernah dibayangkan oleh Fathan. Sejak kecil Fathan hanya menganggap Davina adik tidak lebih. Hatinya hanya terpaut pada satu nama. Annisa Maulida Zahro wanita yang berhasil meluluhkan hati Fathan.


"Mama, kenapa harus Fathan dan Davina?" ujar Fathan lirih, Hana menatap tajam ke arah Fathan. Sedangkan Faiq terus mengalihkan pikirannya. Dia tidak ingin mendengar semua ini. Dadanya terasa sakit dan sesak, Davina sekilas menatap ke arah Faiq. Namun Davina melihat sosok yang seakan acuh akan nasibnya. Tak ada cinta yang pernah Faiq katakan. Tak ada kehangatan yang pernah Faiq tawarkan. Semua lenyap bersama dengan terucapnya perjodohan diantara dirinya dan Fathan. Davina marah dan kecewa pada Faiq. Dia melihat Faiq tidak peduli pada luka hatinya.


"Fathan, kamu menolak pernikahan ini. Seandainya kamu menolaknya, mama juga tidak keberatan. Pernikahan kalian hanya impian mama, meski tidak terwujud. Mama tidak akan terluka. Semua keputusan ada di tangan kalian. Mama akan menghargai keputusanmu. Sejak dulu mama selalu bisa menerima harapan yang tidak akan menjadi kenyataan!" tutur Hana lirih, Fathan menggeleng lemah. Tidak akan pernah Fathan mampu menolak permintaan Hana. Meski dengan begitu, dia harus mengorbankan segalanya. Akhirnya dengan separuh hati yang terluka, Fathan mengangguk setuju. Dia akan menerima ikatan ini. Mengubur dalam-dalam rasanya pada Annisa. Belajar mencintai Davina sepenuh hati. Meski dia mengetahui, Faiq dan Davina menyimpan rasa yang sama. Fathan dalam dilema, menolak tapi melukai hati Hana. Menerima tapi itu artinya dia menyakiti hati sang adik Faiq.


"Aku akan menerima pernikahan ini. Jika Davina bersedia menjadi makmumku. Aku tidak ingin Davina merasa terpaksa menikah denganku. Meski pernikahan ini tanpa cinta, aku yakinkan pada mama. Aku akan menjaga Davina sepenuh jiwa!" ujar Fathan, lalu menoleh pada Annisa. Terlihat Annisa tersenyum dibalik cadar. Senyum yang seakan pisau yang mengiris tipis hatinya. Sikap tenang Annisa dan Faiq, seakan membunuh cinta Fathan dan Davina. Faiq dan Annisa seolah dua hati beku yang tak terluka melihat perjodohan diantara Davina dan Fathan.


"Terima kasih!" ujar Hana dan Diana pada Fathan dan Davina. Mereka berdua merasa bahagia, akhirnya persahabatan mereka benar-benar menjadi kenyataan. Persaudaraan yang mereka bangun diatas luka hati kedua putra-putrinya. Senyum yang mereka utas, seakan tak melihat tangis dari Davina dan Annisa.


"Selamat Fathan, akhirnya makmum dunia akhiratmu telah terpilih. Meski bukan aku wanita itu. Namun doaku akan selalu bersama kebahagiaanmu. Akan aku kenang janjimu di depan masjid itu. Bukan ingin menuntut, tapi aku ingin mengingat saat seorang laki-laki menawarkan mahar iman dan islam padaku. Terima kasih pernah membuatku bahagia dengan mencintai dan percaya padaku. Kamu laki-laki yang baik. Aku percaya kamu bisa menjadi imam yang baik bagi Davina. Semoga kalian berdua bahagia, aku akan menjadi orang yang mendoakan kebahagian kalian berdua. Sekali lagi selamat!" batin Annisa haru, dia berdiri memeluk Hana dan Diana secara bergantian. Dia mengungkapkan rasa bahagia dan ucapan selamat atas rencana pernikahan Fathan dan Annisa.

__ADS_1


"Annisa sayang, terima kasih sudah ada melengkapi kebahagian mama!" ujar Hana lirih, Annisa mengangguk mengeiyakan. Dia sangat menyayangi Hana. Meski kasih sayangnya selalu diremehkan oleh orang lain.


"Akhirnya malam ini tiba. Selamat kak Fathan, semoga kamu bahagia bersama Davina. Aku titip dia, selalu jaga dia dengan sepenuh hatimu. Jangan pernah menyakitinya, sebab air matanya membuatku hancur. Davina wanita yang baik. Dia makmum terbaik yang dipilihkan mama untukmu. Aku akan mendoakan kebahagian kalian. Semoga kalian selalu bahagia, kamu pantas mendampinginya!" batin Faiq pilu, lalu berdiri menuju kamarnya.


"Tunggu Faiq, tidak ada yang ingin kamu katakan pada kak Fathan dan Davina!" ujar Rafa, Faiq membalikkan badan menatap ke arah Fathan dan Davina. Sejujurnya Faiq sudah tidak sanggup lagi berdiri diantara mereka. Sebab itu Faiq memilih pergi. Namun Rafa tahu alasan Faiq ingin pergi. Mungkin Faiq tidak menceritakan tentang sakit hatinya. Namun Rafa tetaplah ayah mereka. Dia akan mengetahui, kapan putranya terluka dan bahagia?


"Semoga kalian berdua bahagia, aku akan menjadi orang pertama yang bahagia melihat pernikahan kalian. Aku orang yang akan mengantar kedua pengantin mengucap ijab kabul. Sekali lagi selamat untuk kalian!" ujar Faiq lirih, lalu berjalan hendak ke kamar. Namun langkahnya terhenti saat ada tangan yang menahannya. Faiq membalikkan badan Dia melihat Davina berdiri tepat di depannya. Kedua matanya sembab penuh dengan air mata. Tubuh mungilnya bergetar hebat, menahan rasa sakit yang tak terperih. Davina terlihat sangar marah, dia seolah tidak peduli akan sekitar. Davina benar-benar terluka akan sikap Faiq yang mengacuhkan jeritan hatinya.


Plaaakkk


"Muhammad Faiq Alhakim, semudah itu kamu mendoakan kebahagianku bersama kakakmu. Sedangkan kamu sadar, hatiku menangis karenamu. Segampang itu kamu pergi meninggalkan tempat ini. Seakan kata selamatmu membuat hidupku penuh cinta dan kebahagian. Dimana keberanianmu ketika mendengar semua ini? Apa kamu akan terus diam dan berlari untuk mengacuhkanku?Mungkinkah kepergianmu menjuah dari kami? Demi menghindari malam ini. Belum cukupkah kamu menghancurkan cinta dan hatiku. Sekarang dengan santainya kamu mendoakan kebahagianku. Padahal kamu mengetahui, bersama siapa aku akan bahagia? Tidak bisakah sekali saja kamu berjuang demi diriku. Aku hanya wanita lemah yang tak sanggup melawan dunia. Aku butuh perjuanganmu, kejar aku dan jadikan aku makmummu. Hatiku terlalu sakit melihat sikap dinginmu, tapi jiwaku mati saat aku mendengar ucapan selamat darimu. Kamu kejam Faiq, kamu tak berhati!" tutur Davina penuh emosi dan air mata. Tangannya memukul-mukul dada Faiq. Davina tidak lagi mampu mengendalikan dirinya. Faiq menahan tangan Davina, menatap kedua mata indah itu. Faiq tidak menyangka Davina sanggup melakukan semua ini. Mungkin Faiq lupa, dalam cinta yang kuat. Akan ada keberanian yang tak diduga.


"Maafkan aku, mungkin kak Fathan jauh lebih tepat untuk melindungimu. Aku hanya laki-laki pengecut tanpa berani berjuang. Jika kamu wanita lemah, aku tak lebih dari seorang anak yang lemah dan penakut. Tanganku tak bertulang, bila memaksa memegang tangan yang sudah diberikan mama pada saudaraku. Tubuhku seolah tak bernapas, bila melihat mama kecewa akan harapannya tidak terwujud. Aliran darahku membeku, bila melihat mama menangis. Aku terlalu takut melihat semua itu. Lebih baik aku hancur, daripada menghancurkan hati mama. Percayalah kak Fathan lebih baik dariku. Dia akan bisa membahagiakanmu. Dia sempurna sebagai seorang pendamping!" ujar Faiq, sembari melepas tangan Davina. Dia berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Davina terduduk lesu, tubuhnya jatuh lunglai menghantam lantai. Hana dan Diana terperangah melihat air mata Davina. Suara hati Davina seakan petir yang menyambar tulangnya. Tubuh mereka remuk seakan seluruh tulangnya hancur. Penderitaan di awal perjodohan, mereka berikan pada Davina dan Fathan. Sebuah kesalahan besar yang akan menghancurkan banyak hati. Harapan mereka tak lebih dari pisau yang menyayat hati putra-putrinya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Muhammad Faiq Alhakim!" gumam Davina, air matanya menetes membasahi lantai. Semua terjawab sudah, sikap dingin hanya cara dia melupakan cintanya pada Davina. Suara hatinya malam itu, tak lebih dari kehancuran hati Faiq. Saat dia mendengar Fathan yang akan dinikahkan dengan Davina. Wanita yang membekukan hatinya. Sehingga dia tidak ingin mengenal cinta yang lain. Davina kecewa pada Faiq. Meski dia sangat menyayangi Hana. Tidak bisakah sekali saja Faiq berjuang demi dirinya. Davina menangis, bukan hanya dengan kedua matanya. Namun hatinya menangis penuh kepiluan.


"Hana sayang, perjodohan Fathan dan Davina alasan sebenarnya Faiq pergi. Kamu kehilangan putramu sejak kamu berpikir ingin menikahkan Davina dengan Fathan bukan Faiq. Kamu jangan lupa, dirimu tidak hanya melahirkan Fathan tapi ada Faiq putramu yang lain. Sebagai seorang ibu seharusnya kamu lebih bisa bersikap bijak!" tutur Rafa lirih, lalu menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya.


__ADS_2