KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Ana Uhibbukka fillah


__ADS_3

Sang fajar menyingsing menyapa para penghuni untuk memulai aktivitas. Dengan sinar hangat sang fajar para makhluk bersemangat. Layaknya dekapan hangat sang ibu. Pelukan hangat langit yang menaungi dan melindungi penghuni bumi. Kicauan burung saling bersahutan menghasilkan harmoni nada yang indah. Menambah kehangatan pagi bagi makhluk ciptaan-NYA. Semua nyata dan tak terdustakan. Segala sesuatu tercipta dengan makna masing-masing. Tanpa disadari kita saling bertaut satu dengan yang lain.


Sejak pagi Hana heboh menata keperluan ke luar kota. Pertama kalinya sejak menikah dengan Rafa, Hana akan melakukan perjalanan ke luar kota bersama Rafa. Hana sangat bersemangat menyiapkan semua keperluan selama di luar kota. Jangankan pergi bersama Rafa. Sejak dulu Hana hampir tidak pernah ke luar kota. Sekadar untuk berkunjung ke rumah saudara. Hana tidak pernah mengenal siapa saja keluarganya? Terutama keluarga dari ibunya. Jika dari ayah, Hana sekali bertemu dengan kakeknya. Seorang kakek yang menjadi wali Hana saat menikah dengan Rafa. Kakek yang menyerahkan tangan Hana pada Rafa Akbar Prawira sebagai makmum dunia akhiratnya.


Hana benar-benar bersemangat dengan kepergian hari ini. Rafa sengaja cuti untuk perjalanan ini. Sebenarnya perjalanan kali ini bukan murni untuk berlibur. Rafa sengaja pergi untuk meninjau lokasi proyek. Sengaja rafa mengajak Hana. Agar Hana tidak berprasangka buruk. Sebab lokasi yang akan dituju, tak lain pondok pesantren tempat Kiara menimba ilmu. Dimana disana pasti tinggal Mila dan Rizal? Rafa tidak ingin Hana merasa curiga dan cemburu. Seandainya Hana menolak ikut, maka Rafa akan meminta tim yang berangkat. Rafa tidak akan pergi tanpa Hana.


Keberangkatan kali Rafa membawa tim khusus yang akan mengerjakan proyek pembangunan bangunan baru dan perbaikan masjid yang ada di pondok pesantren. Rafa khusus terjun langsung mengawasi. Rafa ingin membalas 6 tahun yang pernah ada di pesantren. Rafa ingin membantu kemajuan pondok pesantren.


Pihak pesantren awalnya menolak. Orang tua Rizal yang tak lain kyai pesantren merasa Rafa terlalu banyak membantu. Akhirnya dengan berat hati Rafa akan membangun dengan menerima dana yang ada. Kekurangan pembangunan akan ditanggung oleh Rafa. Kesepakatan yang akhirnya disetujui dua belah pihak.


"Sayang, Fathan menangis!" teriak Rafa dari luar kamar. Hana sedang sibuk memasukkan semua baju yang akan dibawanya. Hana menyiapkan semua keperluan dengan sangat teliti. Dia tidak ingin ada yang tertinggal. Semua kebutuhan Fathan sudah selesai di packing. Keperluan Rafa juga sudah selesai, hanya tingal keperluannya yang belum selesai.


"Sayang, Fathan Haus!" ujar Rafa, sembari menggendong Fathan. Hana menoleh lalu mengambil Fathan untuk memberikan ASI. Kedua bola mata Rafa membulat sempurna. Dia terkejut melihat banyak pakaian yang akan dibawa Hana. Rafa menoleh pada kopernya yany kecil dan milik Fathan yang tanggung. Sedangkan koper Hana paling besar. Rafa menggeleng tidak percaya, Hana tidak memperhatikan keterkejutan Rafa. Hana sedang memberikan ASI, sembari menidurkan Fathan.

__ADS_1


Sejak Hana sibuk mempersiapkan kepergiannya ikut dengan Rafa. Sengaja Fathan dititipkan pada Rafa. Dengan sangat hati-hati Rafa mengasuh Fathan. Setelah satu jam lebih, Fathan menangis mencari Hana. Ternyata Fathan tidak hanya haus, tapi dia juga mengantuk. Buktinya beberapa menit dia diberi ASI. Fathan sudah tertidur pulas.


"Sayang, kamu tidak salah membawa tas. Kita hanya beberapa hari. Kenapa kamu membawa banyak baju? Tasmu seperti orang yang akan pindah rumah!" ujar Rafa heran, Hana menaruh telunjuknya tepat di tengah bibir mungilnya. Meminta Rafa untuk tidak berisik, sebab Fathan baru saja tertidur. Hana meletakkan Fathan dengan hati-hati. Lalu menghampiri Rafa yang kebingungan.


"Kak Rafa, kita disana tiga hari. Aku sehari ganti baju 3x, belum kalau Fathan muntah atau apa? Aku pasti ganti, aku harus menyiapkan baju ekstra juga. Jika tidak membawa baju banyak, aku akan pakai baju siapa?" ujar Hana dingin, Rafa mendekat pada Hana. Dengan suara lirih, Rafa berkata pada Hana.


"Sayang kamu tidak perlu membawa banyak gamis. Kita pergi ke pesantren, tidak pantas jika kita terlihat berlebihan. Bawa baju secukupnya saja, sisanya kita pikirkan nanti!" ujar Rafa menerangkan, Hana mengangguk mengerti. Apa yang dikatakan Rafa benar? Kehidupan pesantren sangat berbeda dengan di luar pesantren. Kehidupan sederhana jauh dari kata mewah dan berlebihan.


Hana membawa banyak gamis semata-mata sebuah persiapan. Hana tidak ingin menyusahkan orang lain. Apalagi menggunakan gamis orang lain. Akhirnya Hana menjadikan satu pakaiannya dengan milik Rafa. Hana merasa malu, karena telah salah mengambil keputusan. Hana merasa bersalah telah bersikap berlebihan.


"Sayang!" sapa Rafa, sembari membalikkan badan Hana menghadap ke arahnya. Rafa mengangkat dagu Hana pelan. Rafa menatap dua bola mata yang penuh penyesalan. Sesuatu yang tidak pernah ingin Rafa lihat. Sesuatu yang akan membuat Hana malu. Setelah puas menatap wajah Hana yang terus menunduk merasa bersalah. Rafa menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya.


"Sayang, tidak semua orang harus benar. Meski biasanya dia selalu benar. Salah bukan sesuatu yang memalukan. Dengan salah kita bisa menyadari, bahwa kita tidak sempurna. Agar kita tidak selalu merasa benar, dihadapan orang lain. Kita hanya manusia biasa yang bisa khilaf. Aku memahami ketidaktahuanmu, sebab aku pernah hidup disana. Aku mengatakannya agar tak ada yang berpikir buruk tentangmu. Hanya aku suamimu yang berhak menyalahkanmu. Kesalahanmu bukan sesuatu yang hina, tapi bentuk ketidakmampuanku membimbingimu. Sejujurnya aku tidak pernah ingin melihatmu salah. Namun dengan kamu melakukan kesalahan, aku punya kesempatan menjadi imam yang sesungguhnya. Aku bisa mengingatkanmu sebagai seorang suami yang sesungguhnya. Izinkan aku menjadi imammu kini. Aku yang akan menerima salahmu, aku juga yang akan melihat benarmu. Kamu ada untuk menjaga kehormatanku. Aku ada untuk melindungi kehormatanmu. Kita dua jiwa satu hati yang akan saling terikat satu dengan yang lain!" tutur Rafa, Hana mengangguk dalam dekapan Rafa. Dengan lembut Rafa mengusap kepala Hana yang tertutup hijab. Rafa mengecup puncak kepala Hana lembut.

__ADS_1


"Kak Rafa maaf dan terima kasih. Tanpa sadar aku sudah berbuat angkuh dan sombong. Aku angkuh merasa, apa yang aku pikirkan benar? Namun aku lupa jika diatas langit masih ada langit. Sepelan apapun kita berjalan, kelak pasti bisa terjatuh. Terima kasih membuka mata hatiku, akan kesalahan yang samar kulakukan. Jika kak Rafa tidak mengingatkanku, selamanya aku akan angkuh merasa diriku selalu benar. Tanpa sadar aku mulai sombong dengan yang kumiliki. Aku lupa jika dulu, jangankan membawa pakaian sebanyak ini. Memilih yang terbaik aku tidak bisa. Sekarang kenyamanan yang kamu berikan membuatku silau, lupa akan perasaan orang lain. Seandainya kak Rafa tetap diam, aku akan benar-benar malu. Berapa banyak hati yang akan tersakiti. Tanpa sadar aku akan membuat banyak orang berhati dengki dan iri. Sungguh aku tidak pernah ingin menjadi alasan seseorang iri atau dengki. Terima kasih dan maaf telah membuatmu malu!" tutur Hana, Rafa mengangguk pelan. Dia memahami kenapa Hana bisa melakukan itu? Rafa tahu jika Hana tak sadar melakukannya. Rafa mengenal Hana lebih dari siapapun?


"Tidak akan Hana Khairunnissa membuatku malu. Sebab dia menjaga kehormatanku melebihi kehormatamnya. Sayang, aku akan ada untuk melindungimu. Kamu ada untuk menjagaku. Dua kata satu makna, tapi berbeda pengertian. Aku melindungi tubuh dan jiwamu. Sedangkan kamu menjaga kehormatan dunia akhiratku! Terima kasih menjadi makmum dunia akhiratku!" ujar Rafa, Hana mengangguk dalam pelukan Rafa.


"Ana uhibbukka fillah!" ujar Rafa lirih, mengangkat wajah Hana. Mendongak menatap Rafa, Sebaliknya Rafa menunduk.


CUP


"Terima kasih telah menjadi pemilik tulang rusukku!" ujar Rafa sesaat setelah mengecup singkat bibir Hana.


"Rafa Akbar Prawira, terima kasih telah mencintaiku karena Allah. Hanya cinta itu yabg selalu aku rindukan dalam setiap sujudku. Sosokmu tak pernah membuatku tertarik, tapi hatiku tetap teguh memilihmu. Kini nyata terlihat dirimu yang berbeda, tersimpan hati bersih dalam dirimu. Pertama kalinya aku merasa kamu menghargaiku. Nasehatmu satu-satunya cara yang membuatku merasa kamu hargai. Kamu benar-benar Rafa yang kupilih dan dipilih untukku. Terima kasih telah menjadi pelita dalam gelapnya hati dan sunyi jiwaku. Hatiku terasa hangat mendengar suara teguranmu. Rafa Akbar Prawira, tak ada lagi yang kuharapkan. Hanya menjadi makmum dunia akhiratmu yang kuimpikan." batin Hana dalam pelukan Rafa.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2