
"Hana, kamu sedang apa? Kenapa lama sekali di kamar mandi. Kamu pingsan lagi!" ujar Rafa cemas. Sejak lima belas menit yang lalu Hana masuk ke dalam kamar mandi. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda dia keluar. Rafa gelisah memikirkan Hana yang tak kunjung keluar. Sementara waktu Hana tinggal di apartement Rafa. Sebab apartement ini lebih dekat ke kantor.
Kreeerkkk
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Hana keluar dengan menggunakan kimono. Rambutnya tertutup handuk, dia memegang erat kimononya. Mata elang Rafa melihat keindahan tubuh Hana istrinya. Sedetik kemudian Rafa menggeleng-gelengkan kepala. Rafa harus membuang jauh pikirannya tersebut.
"Kak Rafa, tutup mata!" ujar Hana ketus, Rafa terkekeh mendengar perkataan Hana. Bagi Rafa melihat tubuh yang jauh lebih seksi dari Hana itu sudah biasa. Apalagi tubuh indah Sesil, tapi perbedaannya semua dilakukan di atas ikatan suka sama suka. Bukan ikatan suci pernikahan.
"Hana, aku tidak akan dengan mudah tergiur dengan tubuhmu. Aku terlalu sering melihat tubuh seksi yang lain!" ujar Rafa, Hana manatap tajam ke arah Rafa. Seketika Rafa menepuk jidatnya pelan. Dia sadar sudah mengatakan hal yang salah. Hana diam seribu bahasa setelah mendengar perkataan Rafa. Dia tidak menyangka, Rafa akan berkata seperti itu.
"Maaf, bisa keluar sebentar. Aku ingin ganti baju. Lagipula tubuhku tidak seksi. Jadi tidak pantas untuk di lihat kak Rafa!" ujar Hana dingin, dia berjalan melewati Rafa. Hana mengacuhkan Rafa, tiba-tiba tangan kekar Rafa menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya. Handuk yang menutupi rambut Hana jatuh. Rambut hitam legam Hana terurai indah.
"Cukup, tidak lagi ada salah paham diantara kita. Semua tubuhmu terlalu indah dan suci. Tidak semudah itu aku bisa memilikinya. Jangan pernah berpikir kamu yang tidak pantas. Diriku yang jauh lebih tidak pantas!" bisik Rafa tepat di telinga Hana, dengan lembut Rafa mencium lembut daun telinga Hana. Tak ada hijab yang menghalangi Rafa. Tangan Rafa menyibak rambut panjang Hana, bibir Rafa mengucup lembut tengkuk putih Hana. Semua tak terhalang lagi.
Hembusan hangat napas Rafa, menyusup ke seluruh tubuh Hana. Dekapan mesra Rafa menghadirkan kenyamanan yang tak pernah Hana bayangkan. Rafa dan Hana larut dalam angan masing-masing. Hana berbalik menghadap Rafa, kedua mata indah mereka saling bertemu. Berbicara seluruh isi hati mereka. Rafa yang mencintai Hana, tapi takut mengakui Hana sebagai istrinya. Hana yang takut mencintai Rafa, karena status sebagai istri di atas kertas.
Lama kedua mata mereka saling memandang. Darah Rafa mengalir mendidih, rasa cinta pafa Hana membuncah. Hasrat Rafa ingin memiliki Hana sepenuhnya, tapi dia takut akan penolakan. Rafa hanya akan melakukan atas izin Hana dan cinta suci Hana. Hana membalas pelukan Rafa, dia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Rafa. Telinga Hana mampu mendengar jelas suara detak jantung Rafa yang berdetak hebat.
"Jika hati ini telah memilihku. Tidak akan pernah dia membandingkan aku dengan wanita lain. Aku bukan wanita kuat yang takkan pernah menangis. Hatiku terlalu rapuh untuk merasakan cemburu pada wanita yang pernah mengisi hidupmu. Semua yang pernah kak Rafa lakukan, aku tidak akan pernah menyesalinya. Namun jika harus mendengar kak Rafa memuji yang lain. Telinga dan hatiku masih sangat lemah. Maaf jika aku belum mampu menjadi istri sempurna untukmu. Jika kak Rafa kesal menungguku. Mintalah hati ini memilih yang lain. Mungkin Hana Khairunnissa bukan yang terbaik untukmu!" ujar Hana, sembari tangannya menempel pada dada Rafa. Cinta Hana mungkin sudah ada untuk Rafa. Namun ketakutan akan rasa sakit, tidak akan pernah bisa Hana buang dengan mudah. Rafa laki-laki pertama yang masuk dalam hatinya. Rafa yang mengajarkan arti pengorbanan untuk sebuah cinta. Semua berawal dari Rafa, hidup Hana yang sederhana. Berubah menjadi rumit dan berliku.
__ADS_1
Hana berjalan menjauh dari Rafa, melepaskan pelukannya. Apa yang harus dikatakan sudah dikatakan? Semua sudah Hana perjelas. Dengan sigap tangan Rafa menarik tubuh Hana. Masuk dalam dekapan tangan kekarnya.
"Maaf!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah. Rafa.
"Kak Rafa, tidak ada yang salah. Masa lalu tidak akan pernah bisa diubah. Semua akan melekat dan membekas menjadi sebuah kenangan. Di masa lalu kak Rafa, wanita sepertiku sudah sangat biasa. Sekarang wanita yang ada di sampingmu aku. Maaf jika aku harus cemburu dengan masa lalumu. Sebab dalam masa laluku tidak ada laki-laki lain. Kamu masa lalu dan masa depanku!" ujar Hana.
...☆☆☆☆☆...
Saat malam hari Rafa dan Hana memutuskan makan malam di luar. Hana menolak menggunakan mobil. Hana merindukan sensasi jalan-jalan malam menggunakan sepeda motor. Rafa menuruti keinginan Hana, kebetulan Rafa memiliki sepeda motor di apartementnya. Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir. Hana berjalan di belakang Rafa, tapi masih dekat.
"Rafa, akan pergi kemana kamu? Lalu siapa dia?" selidik tuan Gunawan. Dia tak lain papa dari Rafa Akbar Prawira. Hana menunduk, dia takut saat ada yang mengetahui statusnya. Hana tidak ingin melihat Rafa malu. Permintaan Rafa sesaat setelah pernikahan, selalu teringang dalam benak Hana.
"Rafa, kamu belum menjawab pertanyaan papa! Siapa dia? Sedang apa dia bersamamu?" ujar tuan Gunawan sinis. Rafa mulai kesal mendengar pertanyaan papanya. Orang yang membuat hidupnya hancur. Penyebab Rafa kehilangan orang yang paling dicintainya. Ibu yang menyayanginya melebihi siapapun?
"Papa tidak perlu tahu dan tidak berhak tahu! Siapapun dia bukan urusan papa? Kehidupan pribadiku bukan urusan papa!"
"Papa tahu, dia tak lebih dari wanita pemuas napsumu. Wanita murahan seperti dia, banyak berkeliaran di jalan. Meski dia berkedok dalam hijab panjangnya. Wanita muruhan tetap murah, tidak akan pernah memiliki harga diri!" ujar tuan Gunawan kasar. Rafa meradang mendengar papanya menghina Hana. Kedua matanya memerah, tangannya mengepal siap melayangkan tinjunya.
Deg Deg Deg
__ADS_1
Jantung Hana berdetak hebat, Hana memegang dadanya. Tubuhnya mulai bergetar, bukan hanya malu. Hana merasa terhina sebagai seorang wanita. Dia menangis dalam hati. Perkataan tuan Gunawan, ibarat garam di atas luka yang masih basah. Terasa pedih dan perih, membuat Hana tak lagi mampu bernapas.
"Jaga ucapan papa! Dia itu!"
"Saya hanya pembantu tuan Rafa. Kebetulan hari ini saya harus pulang kampung. Tuan Rafa berniat mengantar saya pulang. Melihat anda datang, sebaiknya saya pulang menggunakan angkutan kota!" ujar Hana sopan, dia membungkuk menghormati tuan Gunawan. Rafa kesal mendengar perkataan Hana, kenapa dia tidak mengatakan yang sebenarnya?
"Hana!" panggil Rafa, saat melihat Hana berjalan menjauh. Tangan Rafa menahan Hana, dengan sopan Hana menepis tangan Rafa. Sebuah penolakan yang jelas mengatakan, bahwa Hana terluka akan semua yang terlanjur dia dengar.
"Tuan Rafa, sebaiknya saya pergi ke terminal sendiri. Tidak baik meninggalkan orang tua anda sendirian. Sekalian saya ingin pamit, untuk sementara saya tidak bisa bekerja. Saya akan menetap di kampung. Permisi!" ujar Hana lirih, Rafa diam membisu mendengar perkataan Hana. Semua yang dikatakan Hana, sebagai isyarat hubungan mereka yang berakhir.
"Hana!"
"Rafa, dia hanya pembantu. Kenapa kamu mengejarnya? Dia tak layak kamu perhatikan. Tidak seharusnya kamu mengemis, masih banyak yang ingin bekerja denganmu!" ujar tuan Gunawan ketus, Rafa menepis tangan papanya kasar. Dia meninggalkan papanya sendiri. Rafa berjalan dengan kesal menuju apartementnya.
Salah satu sudut kota yang ramai. Hana duduk menanti datangnya angkutan kota yang akan membawanya pulang. Menuju rumah sederhananya yang nyaman penuh dengan kedamaian. Hana termenung, dia merindukan hari-hari tanpa keresahan. Dia ingin meninggalkan kemewahan sesaat, tapi penuh dengan luka dan air mata.
"Seandainya kita tidak pernah bertemu! Mungkin aku tidak akan pernah merasa hina. Sebaliknya kamu tidak harus terjebak dengan wanita rendah dan murah sepertiku. Seandainya pernikahan ini tak pernah terjadi. Tidak akan pernah ada namamu dalam setiap langkah hidupku. Sedangkan dirimu tak perlu memaksa mengenal diriku. Namun kata seandainya hanya untuk orang yang lupa. Kata seandainya hanya untuk orang yang tak pernah percaya. Lupa bahwa semua yang terjadi sudah tertulis dan menjadi jalan takdir yang harus tetap dijalani. Percaya bahwa semua memiliki saat-saat yang indah dan membahagiakan. Malam ini aku mendengar dengan jelas. Semudah mulut orang tuamu menghinaku. Semudah itu pula aku harus merasakan rasa sakit. Sedingin perkataan orang tuamu. Mampu membuatku hatiku beku dan tak mampu lagi mengasihi. Rafa Akbar Prawira. Semoga kamu bahagia, bersama wanita yang mampu di terima dalam keluargamu! Semoga bahagia suamiku, bahagiamu hadiah terindah pernikahan kita." batin Hana.
TERIMA KASIH😊😊😊
__ADS_1