
"Annisa sejak pertama kali kamu memanggjl nama mama. Dan berharap kelak mama akan menjadi orang tuamu. Sejak itu mama menganggapmu layaknya putri mama. Tasbih yang mama berikan pada Nuur. Tidak sebanding dengan kasih sayang mama padamu. Fathan hidup mama dan kini menjadi alasan hidupmu!" ujar Hana, Annisa mengangguk mengiyakan.
Annisa sendiri tidak pernah mempermasalahkan hadiah yang diberikan Hana pada Nuur. Hanya saja sebagai seorang istri, ada rasa yang mengganjal. Ketika dia mendengar ibu mertuanya berharap orang lain menjadi menantunya. Meski setegar karang hati Annisa. Tetaplah dia seorang wanita yang akan merasa cemburu dan kecewa. Mendengar ada wanita lain yang diharapkan berada pada posisinya. Menjadi makmum dunia akhirat Fathan.
Sempat Annisa berpikir, Hana tidak pernah menerimanya sebagai menantu. Sebab selama dia menikah dengan Fathan dan memiliki Gavi. Tak pernah Hana memberikan hadiah spesial untuknya. Namun rasa curiga dan gelisah Annisa. Kini menemui titik terang, saat Hana menyadari ada yang salah dengan pertemuan antara Fathan dan Nuur. Hana merasa Annisa terluka dan akan salah paham padanya. Sebab itu dia datang menemui Annisa. Agar tak ada ganjalan dihati menantunya itu.
"Mama, aku tahu tidak pernah ada niatmu memilih diantara aku dan Nuur. Semua orang akan berpikir hal yang sama. Ketika putranya menemukan seseorang yang memang terbaik untuknya. Begitupun mama yang berpikir Nuur yang terbaik untuk kak Fathan. Jika mama berpikir aku akan salah paham. Mama memang benar, aku kecewa dan iri saat ada wanita lain yang mendapatkan hadiah darimu. Sedangkan aku tidak pernah!" tutur Annisa ramah, Hana mengangguk pelan lalu tersenyum.
Hana sudah menduga, jika Annisa akan berpikir seperti itu. Semua itu serasa wajar, ketika memang tak pernah ada hadiah yang diberikan Hana pada Annisa. Bahkan saat Annisa menjadi seorang ibu. Hana hanya mengucapkan kata terima kasih. Tanpa sebuah barang, meski sejujurnya Annisa tidak pernah menginginkannya.
"Sayang, mama sudah tidak punya barang berharga lain yang bisa diberikan padamu. Barang berharga yang mama punya, sudah mama serahkan padamu. Harta terbesar mama, sudah menjadi milikmu. Kasih sayang yang tak ternilai. Telah mama letakkan dalam pangkuanmu. Semua itu telah mama wariskan padamu. Tidak ada lagi yang tersisa, mama tidak memiliki apa-apa? Sebab Fathan sudah menjadi milikmu seutuhnya!" ujar Hana, Annisa terdiam malu.
Tanpa sengaja Annisa meragukan ketulusan Hana. Memang benar adanya yang dikatakan Hana. Fathan sumber kebahagiannya. Fathan harta tak ternilai dalam hidupnya. Kasih sayang yang ada pada Fathan segalanua dalam hidup Hana. Jadi menurut Hana, apa lagi hadiah yang sepadan dengan putranya Fathan? Hanya Fathan yang layak menjadi hadiah terindah dan terbaik Annisa.
"Maaf, Annisa telah meragukan mama!" sahut Annisa, Hana menggeleng lemah. Lalu menarik tubuh Annisa ke dalam pelukannya. Dengan lembut Hana mengusap punggung Annisa.
"Sayang, sebagai seorang istri kita dituntut untuk terus setia dan berbakti pada suami. Tanpa berpikir ingin meragukan kasih sayang suami. Namun alangkah baiknya, jika kamu mengatakan isi hatimu. Bukan untuk membangkang, tapi sekadar ingin menunjukkan sesuatu yang harus diketahui suamimu. Terkadang diam itu lebih baik, tapi ada kalanya diammu yang menjadi jarak tak terlihat. Belajarlah mengenal suami dengan kehangatan. Bukan terus diam menyimpan luka yang tidak pernah Fathan sadari. Sebab tidak semua orang bisa berpikir layaknya Faiq!" ujaf Hana, Annisa mengangguk dalam pelukan Hana.
...☆☆☆☆☆...
Malam hari penuh dengan cahaya redup bintang-bintang kecil. Meski cahayanya begitu redup, tapi bintanglah yang membuat langit terlihat begitu indah. Akan terasa berbeda bila langit ada tanpa bintang. Hampa dan kosong dua kata yang tepat untuk ungkapan langit malam tanpa bintang.
Nuur duduk di salah satu bangku taman kota. Dia termenung menatap langit yang begitu indah. Setelah pertemuannya dengan Fathan, Nuur telah mantap melanjutkan hidupnya. Berharap pada seseorang yang tak lagi sendiri. Tidak akan membuatnya bangkit dan bahagia. Malam ini Nuur akan mengatakan pada dunia. Siapa dia sebenarnya? Tidak akan ada lagi kebohongan atau rahasia. Semua akan terpampang nyata.
__ADS_1
Jika dulu masa lalunya begitu buruk. Bukan berarti dia harus menghancurkan masa mudanya. Pemikiran sederhana yang dikatakan Hana sebagai cara agar Nuur menemukan cinga sejatinya. Sebuah cinta yang takkan pernah menilai masa lalunya. Namun menerima masa depannya bersama. Tanpa menolwh mencari kesalahan pasangannya.
Nuur termenung mengingat masa lalu yang kelam. Dia menyesal telah memilih jalan yang salah. Menjauh dari kasih sayang tulus orang tua. Hanya karena rasa marah yang tak pernah bisa dikatakan pada orang tuanya. Nur hanyalah satu diantara remaja yang salah dalam bersikap. Remaja yang mengedepankan emosi daripada pikiran jernih dan suara hati.
FLASH BACK
Terdengar suara seorang gadis yang mencoba mengerjapkan kedua mata indahnya. Sembari merentangkan tangan, merasakan tulang-tulangnya yang terasa pegal. Lamanya tertidur membuatnya kelelahan. Hangat sinar matahari menyentuh wajah cantiknya. Cahaya matahari menyilaukan, kala kedua matanya membuka sempurna.
Wajah cantik dengan mata indah yang dimilikinya, tak seindah hidup yang dirasakannya. Nuur Aini Rahma nama indah dengan arti yang sangat indah. Namun berbanding terbalik dengan sikap dan imannya. Tak ada cahaya iman dalam dirinya, hanya ada kebebasan tanpa sebuah tanggungjawab.
Sebuah kebebasan yang dia peroleh sejak dia duduk di bangku SMP. Pergaulan yang salah, serta kasih sayang keluarga yang kurang. Membuatnya memilih jalan hidup yang salah. Berawal dari hubungan yang terlalu bebas dan tanpa batas. Akhirnya Nuur terjebak dalam dunia malam yang kejam. Hidup yang tidak mudah, semakin membuatnya merasa nyaman dengan pilihannya.
Lahir dari keluarga yang biasa dan kekurangan. Membuat Nuur berpikir mencari uang sendiri. Dia memilih jalan yang tak pantas dijalani. Apalagi semenjak sang ayah tiada. Nuur semakin bebas, dia marah akan jalan hidupnya. Dia merasa tidak beruntung telah terlahir dari rahim ibunya. Dia marah mengetahui, jika darah ayahnya yang mengalir dalam tubuhnya. Darah yang tak pernah membuatnya menjadi terhormat.
"Bik Salma, selalu membangunkanku sepagi ini! Aku tidak perlu bangun pagi. Aku malas jika harus sarapan bersama mereka!" ujar Nuur, sembari menarik selimutnya kembali. Bik Salam mendekat pada Nuur, dia duduk di tepi tempat tidur. Bik Salma menyingkirkan rambut hitam legam Nuur yang menutupi kedua mata indahnya. Dengan lembut bik Salma membelai wajah Nuur. Belaian yang tak pernah dirasakan Nuur dari ibu yang melahirkannya. Hanya harta yang mereka berikan sebagai ganti kasih sayang. Bik Salma bukan seperti ART, dia pengasuh Nuur sejak kecil. Ditangannya Nuur tumbuh dengan baik, meski dia tak mampu menuntun Nuur pada iman akan islam.
"Nuur, tidak baik berkata seperti itu. Nyonya tetap ibu yang melahirkanmu. Tuan tetap ayah yang harus kamu hormati. Jangan bersikap tidak pantas. Mereka menyayangimu dengan cara yang berbeda. Jangan salahkan mereka atas keadaan ini. Sekarang bangun dan mandi, sudah hampir pukul 08.00 wib. Hanya sarapan waktu yang bisa membuat kalian berkumpul. Bik Salma mohon, Nuur juga harus ke kampus!" tutur bik Salma lembut, seraya membelai rambut hitam legam Nuur. Rambut yang sejak kecil dia belai. Dengan malas Nuur bangun dari tidurnya. Dia berjalan pelan menuju kamar mandi. Selama menunggu Nuur bersiap, bik Salma membersihkan tempat tidur Nuur.
Bik Salma mengambil foto Nuur yanga ada di atas nakas. Dia mengusap wajah cantik aang nona muda. Bertahun-tahun yang lalu Salma datang ke rumah ini. Dengan harapan gaji yang sangat tinggi. Saat pertama kali datang, Salma mendapat pelukan dari gadis kecil yang kini tumbuh dewasa. Dengan merentangkan kedua tangannya, dia berlari memeluk Salma yang baru datang. Seketika Salma jatuh hati pada Nuur kecil. Bahkan dia merelakan masa mudanya demi merawat Nuur kecil.
Keluarga Nuur bukan keluarga sembarangan. Keluarga kaya dan terpandang. Harta yang takkan pernah habis meski tujuh turunan. Keluarga yang berbudi baik bagi sesama. Namun tidak untuk putri kecilnya. Aulia Nuur Hikmah yang selalu merasa kesepian dan semakin jauh dari orang tua kandungnya.
Salma mengusap air mata yang menetes, dia terharu melihat gadis semanis dan seceria Nuur. Malah kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Salma sangat menyayangi Nuur, begitu sebaliknya Nuur sudah menganggap Salma layaknya ibu kandung. Nuur jauh lebih bersedih bila Salma sakit daripada ibu kandungnya.
__ADS_1
"Nuur, sayang bik Salma!" ujar Nuur sembari memeluk bik Salma dari belakang. Rambutnya yang masih basah membuat kerudung bik Salma basah. Wanita paruh baya ini sudah terbiasa dengan sikap manja Nuur. Dengan lembut bik Salma menarik tubuh Nuur duduk di depan meja rias. Bik Salma mengambil handuk, lalu mengeringkan rambut panjang Nuur.
"Kamu sudah dewasa, sebentar lagi akan menikah. Kalau untuk mengringkan rambut menunggu bik Salma. Lalu bagaimana kamu akan mengurus suamimu? Bik Salma tidak akan selamanya bersamamu!" tutur bik Salma pada Nuur, sontak Nuur menatap wajah bik Salma di dalam cermin. Nuur membalikkab tubuhnya, dia memeluk erat tubuh bik Salma.
"Jika bik Salma pergi, Nuur juga akan pergi. Tidak ada yang menyayangi Nuur di rumah ini selain bik Salma. Aku akan ikut bik Salma, Nuur yang akan menjaga bik Salma. Dulu bik Salma menjaga Nuur. Sekarang Nuur yang akan menjaga bik Salma. Nuur, sayang bik salma!" ujar Nuur sembari mendekap bik Salma. Bik Salma mendekap Nuur, membalai rambut ya g basah.
"Sudah hentikan, masih pagi kenapa malah bersedih? Sekarang Nuur segera bersiap. Tuan dan nyonya menunggu Nuur di bawah. Setidaknya dengan sarapan bersama. Nuur bisa melihat tuan dan nyonya dalam satu meja. Bik Salma akan turun menyiapkan sarapan!" ujr bik Salma ramah, Nuur mengangguk lalu melepaskan pelukannya. Bik Salma meninggalkan Nuur yang sedang bersiap. Tepat di depan pintu kamarnya, Nuur memanggil bik Salma kembali.
"Bik Salma, tolong buatkan beberapa makanan seperti biasa. Aku akan membawanya ke kampus!" ujar Nuur, bik Salma mengangguk pelan. Nuur bersiap menggunakan pakaian yang selalu dia pakai. Celana jeans dipadukan dengan hem polos lengan panjang. Nuur mungkin nakal dan tomboy, tapi dia selalu menggunakan pakaian yang sopan. Semua demi permintaan pengasuh tersayangnya.
"Pagi semua!" sapa Nuur, terlihat papa dan mamanya duduk di meja makan. Pasangan dua pengusaha sukses yang lupa akan arti sebuah keluarga. Tuan Dirga Dewantara sanjaya dan nyonya Mia indah Sanjaya yang tak lain orang tua kandung Nuur.
"Pagi sayang!" sahut Mia, Nuur membalas dengan seutas senyum. Nuur duduk berhadapan dengan Mia, berjejer dengan Dirga. Nuur memberikan secarik kertas pada Dirga.
"Apa ini sayang?" ujar Dirga penuh kasih, Nuur menoleh sedikit acuh. Seakan meminta Dirga melihat sendiri isi dari kertas itu. Nuur mengambil makanan, lalu mulai menyantap makanannya. Sejujurnya baik Dirga dan Mia sangat menyayangi Nuur. Sebab hanya Nuur putri satu-satunya. Namun kesibukan mereka menyita waktu. Sehingga mereka lupa selain hidup nyaman, Nuur juga butuh kasih sayang dan perhatian. Namun kekayaan membuat mereka lupa akan kebahagian dari hati terdalam putrinya. Titik balik yang akhirnya membuat Nuur menjauh dan hancur.
Berawal dari amarah dan rasa lelah, Nuur meninggalkan keluarganya. Memilih jalan kehancuran jauh dari kata iman. Namun semua seolah sia-sia dan tak berguna. Bahkan Nuur menyesal telah terjwbak dalam dunia ini. Ketika dia mengenal Fathan yang mengangguminya. Tanpa melihat masa lalunya. Serta kasih sayang tulus Hana yang tak pernah memandang hina padanya.
Nuur mengingat jelas perkataan Hana malam itu. Hari dimana dia menangis dan memutuskan menjauh meninggalkan Fathan. Melupakan rasanya untuk laki-laki yang jauh lebih pantas mendapatkan wanita yang lebih baik darinya. Perkataan Hana bak air dalam dahaga imannya. Menyejukkan dan mendinginkan hatinya yang gersang.
"Sayang, tante datang menemuimu bukan untuk menjauhkanmu dari Fathan. Juga bukan memintamu pergi dari hidup Fathan. Sebab tante merasa kamu pantas menjadi makmum Fathan dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Kamu tidak perlu merasa rendah dengan masa lalumu. Sebab semua orang ada dengan masa lalu yang kelam atau indah. Sejatinya tidak ada yang sempurna dalam dunia ini. Tante datang hanya ingin mengingatkan. Jangan pernah berubah, karena cinta akan manusia. Sebab cinta pada manusia tidak kekal. Akan berarkhir ketika rasa nyaman itu hilang. Namun cinta pada Allah SWT itu abadi. DIA tidak akan pernah meninggalkan hamba-NYA. barang sedetik. Sebab Allah SWT maha mengetahui. Walaupun terkadang seorang hamba meninggalkan-NYA. Ketika tak lagi membutuhkan-NYA. Tapi akan datang, saat dia membutuhkan Allah SWT. Namun Allah SWT tak pernah menutup pintu taubat. Selama seorang hamba bersedia mengetuknya. Jadilah pribadi yang baru bukan karena Fathan. Namun kembalilah pada iman dengan harapan akan ampunan-NYA. Perbaiki niat awalmu, agar tak sia-sia hijrahmu!" tutur Hana lembut.
FLASH BACK OFF
__ADS_1
"Sudahkah kamu menemukan jawaban akan pinanganku. Masihkah kamu ragu akan kesungguhan dan keteguhan cintaku!" ujar Steven membuyarkan lamunan Nuur.