
"Hana, kamu sudah lebih baik! Biarkan aku yang memasak untuk makan malam. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Jangan buat kondisimu semakin parah, dengan memaksa melakukan pekerjaan ini!" ujar Diana cemas, Hana menggeleng lemah. Dia menaruh jari telunjuk di depan mulutnya. Seketika Diana menutup mulutnya kaget. Hana tidak ingin Rafa terbangun mendengar dirinya ada di dapur.
"Diamlah, nanti kak Rafa bangun. Aku tidak ingin melihatnya marah lagi. Setelah semua siap baru aku bisa membangunkannya. Aku malas berdebat dengannya. Kak Rafa menakutkan kalau marah. Lebih baik kita masak bersama!" ujar Hana antusias, Diana mengangguk. Bagi Hana hadirnya seorang Diana bukan hanya sebagai sahabat. Namun lebih menjadi saudara. Hana begitu menyayangi Diana, begitu sebaliknya Diana sangat menyayangi Hana. Cinta dua sahabat yang saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
"Baiklah, aku membantu menyiapkan meja. Kamu tahu, kalau aku tidak bisa masak!" ujar Diana, sembari senyum-senyum sendiri. Hana mengangguk seraya tersenyum. Dia memang tahu, jika Diana jarang berada di dapur. Mereka berdua kompak menyiapkan makan malam.
Sedangkan Rafa yang berada di kamar Hana terbangun, setelah dia merasa Hana tidak berada di sampingnya. Dengan tergesa-gesa Rafa turun dari tempat tidur. Dia takut bila Hana pergi, apalagi saat melihatnya tanpa sengaja tidur di sampingnya. Rafa memang tidak pulang, dia memutuskan menemani Hana sampai terbangun. Bukan Hana yang bangun, malah Rafa yang tertidur pulas.
Adrian menemani Rafa, dia mengerjakan tugas-tugas kantor di ruang tamu Hana. Sebenarnya Adrian ingin kembali ke kantor. Namun melihat keadaan Rafa, Adrian menjadi tidak tega. Akhirnya dia putuskan menghandle kantor dari ruang tamu Hana.
"Pak Adrian, silahkan diminum. Maaf aku hanya punya secangkir kopi!" ujar Hana ramah, sembari duduk di depan Adrian. Hana meletakkan secangkir kopi di depan Adrian.
"Terima kasih Hana, maaf aku menggunakan ruang tamumu. Aku harus segera menyelesaikan semua ini. Sebab kontrak kerja ini, harus segera dikirim. Diana sekretaris menyebalkan, aku sedang sibuk dia malah asyik menonton TV!" gerutu Adrian, Diana seketika menoleh. Dia menatap tajam ke arah Adrian. Hana melihat interaksi yang berbeda dari Adrian dan Diana.
"Pak Adrian yang terhormat. Hari ini saya cuti, jadi tidak ada yang namanya kerja. Kalau anda asisten pribadi. Jadi sudah menjadi tanggungjawab anda menyelesaikan semua pekerjaan!" sahut Diana ketus, Adrian menggeleng-gelengkan kepala. Dia tidak melihat sikap Diana sudah mulai berani. Diana berdiri menghampiri Hana, lalu tidur dipangkuan Hana. Seperti sebelumnya saat mereka masih bersahabat.
"Diana hati-hati dengan kepalamu yang keras seperti batu. Dalam perut Hana ada pewaris keluarga Prawira. Jika terjadi sesuatu, bisa digantung hidup-hidup kamu!" ujar Adrian mengolok-olok Diana, sebaliknya Diana tidak peduli dengan perkataan Adrian. Hana mengelus rambut Diana, dia memijit lembut kulit kepala Hana. Hubungan persahabatan yang tak lengkang oleh waktu.
"Hana saja tidak keberatan, kenapa pak Adrian yang ribut?" sahut Diana ketus, Hana hanya tersenyum melihat dua orang yang selalu bersama. Namun selalu saja ada penyebab yang membuat mereka bertengkar.
__ADS_1
"Dia tidak keberatan, tapi kalau sampai Rafa bangun. Aku yakin dia akan mengakhiri karirmu sebagai sekretarisnya!"
"Pak Adrian anda dan Diana selalu bertengkar! Jangan terlalu membenci, takutnya jadi cinta. Terkadang jalan cinta tidak pernah ada yang tahu. Mungkin hubungan kalian akan seru, jika memang bisa berjodoh!"
"Tidakkkk mungkin!" sahut Diana lantang, Adrian mengetuk-ngetuk meja. Sebagai isyarat dia enggan berjodoh dengan Diana. Hana tertawa melihat dua rekan kerja, tapi bila bertemu seperti tikus dan kucing.
"Jika berjodoh denganmu, mungkin akan kupertimbangkan. Namun Rafa jauh lebih membutuhkanmu daripada diriku. Jujur Hana, terima kasih telah merubah sahabatku. Rafa tanpa hati, dia telah lahir dengan hati yang penuh kasih. Cintamu membuat Rafa mengerti arti cinta. Dia tidak lagi menyalahkan takdir yang pernah merebut ibunya. Rafa mulai merasakan cinta yang tulus sejak bertemu denganmu. Terima kasih, menjadi alasan kebahagian sahabatku. Dia pantas bahagia, dia sangat menyayangimu Hana. Seandainya mungkin, dia tidak ingin menjalani masa kelamnya dulu. Dunia penuh dengan gemerlap kemewahan!"
"Bukankah anda sebelas dua belas dengan tuan Rafa. Anda juga suka berganti-ganti pasangan. Kalian berdua sahabat dalam suka dan duka selamanya. Suka bermain dan meninggalkan duka bagi yang terlanjur mencintaimu!" ujar Diana sinis, Adrian melempar bolpoint tepat di jidat Diana.
"cellletuk"
"Awwwaaasss, sakit!" ujar Diana, bersamaan dengan suara bolpoint yang mendarat sempurna di jidat Diana. Terlihat Diana memijat lembut jidatnya, sembari dia memanyunkan bibirnya. Diana kesal pada sikap Adrian. Sebuah pertengkaran yang terlihat manis di depanku.
"Sayang, aku tidak segalak itu. Sampai mereka harus hidup dalam rasa takut!" sahut Rafa dingin, jantung Hana berdegub kencang seakan ingin lepas dari tempatnya. Rafa datang dengan kondisi lebih segar, Hana bisa mencium harum tubuh Rafa. Diana tidak bergeming, dia tetap tidur dalam posisi semula.
"Diana, kamu minggir. Sang pangeran sudah datang!" goda Adrian, Rafa menatap tajam ke arah Adrian. Sengaja Rafa menghampiri Hana, berharap Hana bisa memaafkannya.
"Kak Rafa sudah bangun, tunggu di sini. Aku buatkan kopi, sebentar lagi makan malam. Tinggallah sampai makan malam!" ujar Hana dingin, lalu berdiri hendak ke dapur. Diana duduk di samping Adrian. Rafa mengekor Hana sampai ke dapur.
__ADS_1
"Hana, aku minta maaf! Bisakah kita menjadi pasangan suami istri yang sempurna. Tanpa ada lagi perselisihan atau salah paham!" ujar Rafa, Hana menoleh seraya mengangguk. Dia sudah sangat lelah dengan pertikaian yang tak pernah habisnya. Hana ingin mengatakan semua isi hatinya. Hana maju beberapa langkah mendekat pada Rafa. Hana mendongak menatap Rafa. Kedua tangannya menangkup wajah suami yang dicintainya, tapi selalu menyakitinya.
"Kak Rafa, aku lelah dengan semua kesalahpahaman ini. Aku ingin hidup tenang dengan bayi yang aku kandung. Jika memang wajah ini harus menghilang dari ingatanku. Aku berharap tidak terlalu menyakitkan. Aku sangat mencintaimu, tapi kenapa aku semakin terluka dengan cinta ini? Semua tergantung keputusanmu. Aku masih makmummu, bayi ini darah dagingmu. Buah cinta kita yang tercipta tanpa sebuah dosa!"
"Sayang, aku juga sangat mencintaimu. Dengan cara apa aku harus membuktikannya? Jika kamu bersedia, malam ini kita ke rumah keluarga Prawira. Akan kukatakan pada mereka, siapa dirimu sebenarnya? Jika mereka menolakmu, aku akan pergi denganmu. Izinkan aku menjadi ayah yang baik untuk buah cinta kita. Jadikan aku sandaran di kala lemahmu. Aku mohon!" ujar Rafa, sembari menarik turun tangan Hana yang menangkup wajahnya. Rafa menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya. Rafa memeluk erat tubuh yang dirindukannya. Dengan sigap Hana menggeleng, dia terlalu takut mengenal keluarga Prawira.
"Maaf, aku tidak bisa. Keluargamu terlalu menakutkan. Saat itu aku datang sebagai tamu, mereka menghinaku tanpa ampun. Apalagi jika mereka mengetahui, jika aku istrimu. Mereka akan mampu melakukan hal yang paling buruk untukku dan bayiku. Aku tidak akan bertaruh dengan nyawa buah hatiku. Dia tidak bersalah!"
"Sayang, lalu sampai kapan kita akan seperti ini? Aku ingin semua orang mengetahui siapa sebenarnya dirimu? Agar aku bisa menjaga dan melindungimu!"
"Kita bertemu karena jalan takdir yang ingin menyatukan. Maka yakinlah, jalan yang sama akan mengantar kita bersatu dalam kebahagian yang abadi!"
"Sayang, aku mencintaimu!"
"Kak Rafa, cintamu memang aku inginkan. Namun di atas semua itu, aku butuh keteguhan cintamu. Agar kita bisa berjalan bersama, melewati jalan takdir yang tertulis untuk kita!"
"Apapun sayang, asalkan kamu bersedia memaafkanku!"
"Aku tidak pernah bisa marah padamu! Cintaku jauh lebih besar dari rasa marahku!" ujar Hana, Rafa mendekap Hana mesra. Mencium puncak kepala Hana. Dekapan yang sangat dirindukan. Awal sebuah kata maaf, menuju sebuah kebahagian yang abadi.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊