
Pagi yang indah tiba-tiba berubah panik. Ketika Diana menemukan Hana yang terbaring tak sadarkan diri di kamarnya. Kepergian Rafa ke rumah kelurganya seketika dibatalkan. Kondisi Hana benar-benar lemah. Tubuhnya tiba-tiba dingin, wajahnya pucat dan kedua matanya terus terpejam. Seakan tidak ingin membuka mata. Rafa dan Diana cemas memikirkan kondisi Hana yang semakin menurun.
Tak berapa lama Cintya datang bersamaan dengan ambulans. Rafa semakin kalut saat melihat ambulans terpakir manis di halaman rumahnya. Cintya dokter kandungan yang khusus ditunjuk Hana sebagai dokter pribadinya. Cintya mengetahui benar kondisi Hana saat ini. Sehingga dia memutuskan membawa ambulans, sebagai langkah antisipasi jika terjadi sesuatu pada Hana.
Setelah melakukan pemeriksaan dan pertolongan pertama. Dengan terpaksa Cintya memutuskan membawa Hana ke rumah sakit. Rafa semakin kalut dan frustasi melihat Cintya membawa Hana ke rumah sakit. Rafa bingung dan kesal, dia marah pada dirinya sendiri. Kenapa dia tidak bisa mengetahui kondisi Hana yang sebenarnya? Diana tak kalah panik dari Rafa. Tak sedetikpun Diana melepaskan tangan Hana. Dia selalu menggenggam tangan Hana erat. Diana ingin merasakan separuh rasa dingin di tubuh Hana. Diana akan selalu ada di samping Hana. Rafa melihat jelas rasa khawatir Diana. Kekhawatiran yang sama sedang dia rasakan. Hanya satu yang berbeda diantara keduanya. Diana selalu percaya akan keputusan Hana, tanpa sedikitpun ragu dan menyalahkan. Sebaliknya Rafa terlalu mudah menyalahkan, meski Hana sudah menjelaskan alasan di balik keputusannya. Kini hanya penyesalan yang tertinggal di hati Rafa.
Malam harinya suasana semakin kalut. Hana belum sadarkan diri juga. Batas waktu yang dikatakan Cintya semakin tipis. Jika Hana tidak sadarkan diri dalam beberapa jam ke depan. Akan sangat berbahaya bagi kondisi Hana dan bayinya. Entah apa yang telah terjadi pada Hana? Sehingga akan sangat berbahaya, bila Hana tidak sadarkan diri secepatnya.
"Diana, kenapa bisa kondisi Hana seperti ini? Bukankah saat pemeriksaan terakhir. Aku sudah mengatakan padanya, untuk mengendalikan emosinya. Apa dia tidak menyadari betapa berbahayanya kehamilan Hana sekarang? Seharusnya Hana menyadari itu. Dia sendiri yang bersikeras mempertahankan kehamilannya. Kenapa Hana malah ceroboh seperti ini?" ujar Cintya cemas, Diana hanya menunduk malu. Dia tidak pernah mengerti alasan dibalik emosi Hana yang tak normal. Hana bukan tipe wanita yang mudah emosi. Dia selalu tenang dalam menyikapi semua masalah. Hana selalu diam bila sedang mempunyai masalah. Memendam semuanya sendiri, tanpa berpikir membaginya dengan orang lain.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Sejak pagi aku diam menunggu salah satu diantara kalian menjelaskan padaku. Namun kalian tetap diam, seakan menganggapku tak pernah ada. Apa kalian lupa? Hana dan putraku dalam bahaya dan aku orang terakhir yang mengetahuinya. Dimana hati nurani kalian? Apa kalian pikir aku tidak khawatir melihat Hana seperti ini? Aku orang yang paling berhak mengetahui kondisi Hana sekarang!" ujar Rafa emosi, Diana tersenyum sinis. Sebaliknya Cintya sejak awal tidak pernah mengetahui. Jika Hana menyembuyikan kebenarannya dari Rafa. Bahkan Cintya tidak pernah tahu, jika semalam Hana berdebat dengan Rafa, yang mengakibatkan Hana stres. Cintya hanya diam menatap Rafa. Amarah Rafa seakan mengatakan, jika dirinya tidak pernah mengetahui kondisi Hana.
"Tuan Rafa, aku tidak mengerti arah pembicaraanmu. Bukankah kondisi Hana sudah aku jelaskan sejak bulan kedua. Jika Hana tidak mengatakannya pada anda. Itu sepenuhnya keputusan pribadi Hana. Sebaliknya Diana seharusnya menjaga emosi Hana. Bukan malah membiarkan Hana tertekan dan jatuh sakit seperti sekarang. Diana harus bisa menenangkan Hana, agar tidak terbawa emosi!" tutur Cintya, Rafa mundur beberapa langkah. Terbayang kejadian semalam, saat dimana dia membentak Hana? Ketika telinganya seakan tuli mendengar penjelasan Hana. Kedua matanya seakan buta, tak mampu melihat rasa sakit yang coba ditunjukkan Hana. Mata batinnya tertutup oleh rasa kecewa, akan penolakan Hana. Sehingga hanya amarah yang ada dalam setiap perkataannya. Rafa mengingat setiap kepingan kejadian semalam. Semua yang menimpa Hana, terjadi akibat kelalainnya sebagai seorang suami. Amarahnya telah menempatkan istri dan putranya dalam bahaya.
"Sekarang bagaimana kondisi Hana dan bayinya? Apa yang akan terjadi pada mereka? Katakan kemungkinan terburuknya, ambil langkah terbaik untuk sahabat dan keponakanku. Aku tidak akan pernah ikhlas bila sesuatu terjadi pada mereka!" ujar Diana, Cintya mengangguk. Rafa menarik tangan Cintya menghadap ke arahnya. Dia ingin mengetahui semua secara jelas. Dengan tatapan tajam dan tegang. Rafa menatap Cintya, meminta kejelasan akan kondisi Hana.
__ADS_1
"Katakan padaku, apa yang terjadi pada Hana? Apa yang disembuyikan Hana? Katakan dengan jelas, aku suaminya berhak tahu segalanya!" ujar Rafa emosi, Cintya menatap nanar raut wajah Rafa yang gelisah. Diana terduduk di sofa ruangan Hana. Dia menutup mata dengan kedua tangannya. Dia menyesal telah gagal menjaga Hana. Semua telah terjadi, Diana seakan tak mampu menatap wajah Fathan putra Hana. Dia harus terpisah dengan Hana, hanya karena ketidakmampuannya menjaga Hana. Diana tidak peduli pada amarah Rafa. Kegelisahan yang sangat terlambat menurut Diana.
"Tuan Rafa, sejak dua bulan usia kandungannya. Hana mengalami tekanan darah tinggi. Aku sudah menyarankan Hana, untuk tidak terlalu memikirkan sesuatu yang memberatkan pikirannya. Sebab kehamilan dengan tekanan darah tinggi sangat beresiko bagi ibu dan bayinya. Sebenarnya aku pernah menyarankan pada Hana, untuk menggugurkan kandungannya. Namun dia ingin terus mempertahankan kandungannya. Hana mengatakan, anda sangat menunggu kehadiran bayi ini. Dengan cara apapun Hana akan mempertahankan bayi ini. Meski dengan resiko kehilangan nyawanya. Aku tidak pernah melihat Hana yang lemah, tapi penuh keteguhan. Demi harapanmu, dia berjuang dan akan melawan rasa sakit ini!" tutur Cintya lirih, Rafa mundur hingga menabrak dinding. Kedua bola matanya melihat Hana yang terbaring lemah. Selang infus yang menjadi penambah asupan makanannya. Alat bantu pernapasan yang kini menopang hidupnya. Hana sang pemilik tuluang rusuknya, terbaring lemah tak sadarkan diri.
"Kita tunggu dua jam ke depan. Jika Hana sadarkan diri. Berarti dia sudah melewati masa kritisnya. Namun jika Hana tidak sadarkan diri. Sungguh terpaksa, aku harus menggugurkan janinnya. Sebab percuma jika terus dipertahankan, janinnya tidak akan tumbuh dengan baik. Lagipula dengan tekanan darah tinggi, akan sangat beresiko pada Hana!" tutur Cintya, Rafa dan Diana lemas. Tulang-tulang mereka seakan remuk, bagaikan tersambar petir mendengar perkataan Cintya. Harapan dan kebahagian Hana akan musnah dalam sekejap. Diana tidak bisa membayangkan, bagaimana kondisi Hana bila mendengar bayinya telah tiada? Hanya perasaan Hana yang membuat mereka takut.
Krekkkkk
Terdengar suara pintu terbuka, Salsa dan Naufal datang bersama. Mengekor di dibelakangnya Adrian dan Lisa yang kebetulan bertemu di lobi. Mereka segera datang, setelah menerima kabar tentang kondisi Hana yang memburuk. Salsa langsung datang menuju rumah sakit. Salsa menghampiri tubuh Hana yang terbaring lemas. Naufal mencoba menenangkan Salsa, tapi tidak berhasil. Salsa menangis sembari memeluk tubuh Hana yang tak sadarkan diri. Hana satu-satunya kakak yang dia miliki. Salsa tidak akan bisa menahan air matanya. Bila melihat Hana tidak berdaya seperti sekarang.
"Lebih baik kamu keluar, aku tidak ingin Hana melihatmu. Kamu memang tidak bersalah, tapi kehadiranmu mampu membuat sahabatku tertekan!" ujar Diana lirih, Cintya menahan tangan Lisa saat dia ingin menyahuti perkataan Diana. Sebaliknya Rafa emosi melihat sikap Diana yang mengusir Lisa. Dia tidak pernah menyangka. Jika Diana bisa mengatakan hal seperti itu pada Lisa. Padahal ada dirinya sebagai kakak Lisa.
"Jangan kurang ajar kamu, Lisa tidak bersalah dalam hal ini. Dia tidak tahu-menahu soal Hana. Meski kamu sahabat Hana, tidak sepantasnya kamu mengusir Lisa. Dia adikku dan itu artinya dia adik Hana juga. Jangan sekali-kali kamu menghina Lisa. Itu artinya kamu menghinaku!" ujar Rafa emosi, Diana tersenyum sinis sembari menatap Rafa dan Lisa bergantian. Adrian berdiri mencoba menenangkan Rafa. Dia tidak ingin melihat sahabatnya menyakiti kekasihnya.
"Jika kamu mengingat perkataanku tadi pagi. Saat kamu mengetahui kebenarannya, kamulah orang yang paling terpuruk. Sekarang lihatlah tubuh sahabatku yang terbaring lemah. Tepat di depannya kamu membela wanita ini. Kemarin di belakangnya kamu menyembuyikan kedatangannya. Semalam demi dia, kamu membentak sahabatku. Kamu ingin tahu, apa hubungan Lisa dengan kondisi Hana? Kehadirannya membuat Hana tertekan. Rasa takut kehilangamu yang begitu besar. Membuat Hana frustasi yang akhirnya membuatnya cemburu. Rasa cintanya padamu membuat sahabatku lemah. Hana seakan tak mampu bernapas tanpa melihat wajahmu. Kecemburuan yang kamu anggap tanpa alasan yang jelas!" tutur Diana emosi, Adrian menahan tangan Diana. Rafa dan Lisa seakan terdakwa yang sedang menjalani penghakiman.
__ADS_1
"Sayang, sudah cukup kasihan Rafa dan Lisa!" ujar Adrian lirih, Diana menepis tangan Adrian. Diana kembali menatap Rafa dan Lisa bergantian.
"Tuan Rafa Akbar Prawira, Hana tidak pernah ingin membenci orang lain. Seharusnya anda mengetahui itu lebih dari siapapun? Hana tidak membenci Lisa adik tercintamu. Hormon kehamilannya membuat Hana takut kehilangan anda. Mungkin secara medis itu tidak ada, tapi itu nyata terjadi pada sahabatku. Harapan yang pernah ada untuk hubungan kalian berdua. Membuat Hana selalu berpikir semua itu akan terjadi. Perhatianmu, kasih sayangmu, perlindungan dan cintamu. Membuat sahabatku nyaman dan lemah. Kini dia hanya bisa bernapas hanya saat bersamamu. Kehadiran Lisa adik tersayangmu, mengusik batin Hana. Jika dia boleh memilih, tak pernah Hana ingin cemburu pada hubunganmu dengan Lisa. Salahkah kini Hana yang harus terus dihantui rasa takut kehilangan dirimu! Salahkan sahabatku yang begitu mencintaimu, sehingga dia tak lagi mampu berpikir logis dan tenang. Dia bukan dirimu, yang mampu mengumbar rasa cinta di depan banyak orang. Dia hanya diam menahan cintanya padamu. Bahkan demi kebahagianmu yang menginginkan bayi ini. Hana menanggung resiko yang tidak mudah, dia harus bertaruh nyawa. Lantas dimana letak kesalahan Hana? Jika cemburunya kamu anggap hal remeh, aku rasa tidak perlu kamu berdiri disini mencemaskan Hana. Kemana keyakinanmu yang menyalahkan Hana semalam. Bukankah dengan lantang kamu menganggap kecemburuan Hana tanpa alasan. Hana sangat mencintaimu, seharusnya kamu percaya itu!" tutur Diana, Rafa diam seribu bahasa mendengar perkataan Diana. Cintya mendekat pada Lisa. Keduanya sudah berteman semenjak Lisa resmi menjadi dokter di rumah sakit ini.
"Lisa, mungkin bagi kita para dokter. Sikap Hana yang dipengaruhi hormon hanya sebuah mitos. Namun semua ini nyata terjadi, Hana tidak ingin kecemburuaan yang tak beralasan menyakiti siapapun. Dia sudah berusaha sekuat mungkin membuang rasa cemburu itu. Bahkan dengan saranku, Hana mengunjungi dokter Wahyu. Kamu tahu siapa dokter Wahyu bukan? Semua demi menghilangkan rasa cemburunya. Namun sepertinya kenangan pahit masa lalunya, membuat Hana semakin takut kehilangan Rafa. Sebagai dokter pribadinya aku mohon, maafkan sikap Hana. Maklumi sikap anehnya sebagai pengaruh hormon kehamilannya. Sementara waktu jangan mendekat pada Hana. setidaknya sampai kehamilan Hana dalam kondisi lebih baik. Sekarang kita berdoa, semoga masa kritisnya terlewati. Agar Hana bisa tetap mempertahankan hadiah terindah untuk suaminya!" tutur Cintya lirih sembari menggenggam tangan Lisa. Hanya anggukan yang terlihat dari Lisa. Sebenarnya dia masih bingung, tapi setidaknya kini dia tahu alasan kemarahan Diana.
"Cintya, tidak adakah cara lain agar Hana bisa mempertahankan kehamilannya. Setidaknya menurunkan tekanan darahnya. Agar stabil sampai hari persalinan!" ujar Naufal, Cintya mengangguk pelan. Rafa menatap ke arah Cintya, sebaliknya Diana duduk di sofa. Percuma mendengarkan cara, yang sebenarnya sudah Hana ketahui.
"Jauhkan Hana dari hal-hal yang membuatnya tertekan. Menurut dokter Wahyu, Hana butuh tempat yang lebih tenang. Dia butuh menenangkan pikiran. Aku sudah mengatakan pada Hana. Namun dia menolak, dia tidak mungkin hidup jauh dari Rafa. Hana tidak ingin terpisah dari Rafa, meski untuk sementara. Seandainya Hana sadar, aku akan mengambil langkah ini. Hana butuh pemulihan yang cukup panjang. Suka tidak suka, aku akan meminta Hana untuk pergi menjauh hal yang membuatnya tertekan!" tutur Cintya, semua orang terdiam. Diana sudah mengetahui jawaban Hana. Meski Diana akan memutuskan ikut dengan Hana. Namun dia tetap tidak bersedia. Rafa orang yang paling terpuruk. Jika Hana sadar, dia akan terpisah dengan Hana dan Fathan. Seandainya Hana tidak sadar, dia tetap akan kehilangan bayi yang dikandung Hana. Sungguh bayangan yang mampu membuatnya hancur.
"Demi kebahagianmu, Hana mempertahankan kehamilannya. Demi cintanya padamu, Hana tersiksa dengan rasa cemburunya. Sekarang kamu menyadari, siapa yang lebih besar mencintai? Dirimu atau sahabatku Hana. Meski dia diam, tapi baginya hanya nama dan kebahagianmu yang ada dalam hidupnya. Kecemburuannya hanya demi cintanya padamu!" ujar Diana sinis.
...☆☆☆☆☆...
...TERIMA KASIH...
__ADS_1