
Semalam Faiq sudah kembali, setelah sebulan lamanya dia menjadi relawan. Faiq akan kembali mengabdi di rumah sakit. Selama sebulan Faiq menemukan kebahagian sejati menjadi seorang dokter. Senyum yang terpancar dari warga yang mendapat pertolongan Faiq. Membuat hatinya bergetar, ada rasa bangga yang tak dapat diartikan. Kebanggaan menjadi seseorang yang berguna untuk orang lain. Faiq merasa usahanya menjadi seorang dokter tidak sia-sia. Faiq bahagia saat melihat senyum di wajah orang-orang yang dia tolong.
Kata terima kasih yang terucap dari bibir polos warga desa. Ibarat hadiah indah yang tak ternilai. Meski hanya sekadar rasa terima kasih. Namun kata yang terucap penuh ketulusan takkan mampu tergantikan. Kehidupan sederhana yang dirasakan selama sebulan. Menjadi Faiq pribadi yang baru. Dia mulai merasa telah lalai menjadi seorang insan. Faiq seakan lupa kata syukur, tapi setelah pulang dari desa. Faiq memahami arti syukur sebenarnya. Kehidupan Faiq selama ini membuatnya lupa akan arti hidup sederhana. Meski selama ini dia hidup mandiri. Faiq merasa kurang bersyukur. Mata hatinya terbuka setelah dia merasakan hidup penuh keterbatasan di desa.
Kemewahan yang dia rasakan, setelah satu bulan hidup dalam kesederhanaan. Membuat Faiq merasa dirinya sangat beruntung. Faiq merasa sangat bersyukur akan segala nikmat yang dia rasakan. Sungguh Faiq tidak pernah menyangka. Jika dia menjadi orang dengan kenikmatan yang lebih. Semenjak itu pula Faiq merasa. Tidak pantas lagi Faiq memohon, apalagi tentang rasanya pada Davina. Faiq merasa semua yang dia rasakan lebih dari cukup. Tidak semua yang Faiq inginkan harus terwujud. Ada kalanya kita memahami, bahwa semua sudah diatur sesuai kebutuhannya.
"Faiq, mama boleh masuk!" ujar Hana, Faiq menoleh seraya mengangguk. Faiq baru saja selesai sholat magrib. Dia sedang senggang, Faiq memutuskan untuk berada di rumah. Seperti kebiasaannya, Faiq lebih senang berada di dalam kamar. Faiq memilih menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku kesehatan. Faiq jarang menghabiskan waktunya bersama teman-teman sebayanya. Faiq pribadi yang tertutup. Dia tidak terlalu dekat dengan rekan sesama dokternya. Faiq hanya berhubungan dengan mereka bila mengenai pasien-pasiennya.
Terkadang Hana merindukan putranya ini. Faiq kebalikan dari Fathan. Jika Fathan lebih memilih selalu berada di samping sang mama. Sebaliknya Faiq lebih memilih menjauh dari sang mama. Entah kenapa Faiq begitu keras pada hatinya? Dia seakan tidak ingin mendekat pada sesuatu. Seandainya hanya luka yang akan dia rasakan. Faiq kebalikan dari Rafa. Dia begitu takut untuk bersaing. Faiq pribadi yang berserah dan pasrah akan jalan yang sudah tertulis. Bukan ingin menjadi pribadi yang malas. Namun Faiq lebih memilih untuk mengalah. Seandainya diamnya akan membawa kebahagian untuk orang lain. Faiq hanya akan bersaing untuk hal-hal tertentu saja. Dia tidak akan bersaing, jika melukai orang lain.
__ADS_1
"Silahkan, Faiq sudah selesai!" sahut Faiq lirih, Hana mendekat pada Faiq. Dia melihat kesekeliling kamar sang putra. Sangat rapi dan tidak terlalu banyak barang di dalamnya. Mungkin Faiq putra yang lahir dari rahimnya. Namun sejak beberapa tahun yang lalu, tepat sebelum kepergiannya menimba ilmu di luar negeri. Hana seakan tidak mengenal lagi putranya. Tak ada lagi yang mengenal Muhammad Faiq Alhakim. Dia seolah menjadi pribadi yang lain. Hampir dua bulan setelah kedatangannya, Faiq seakan tak ingin mengenal keluarganya lagi. Dia selalu menghindar bila ada acara kumpul bersama. Faiq selalu mencari alasan untuk menghindar. Entah kenapa Faiq bersikap seperti itu?
"Faiq, mama ingin menanyakan sesuatu. Itupun jika kamu bersedia menjawab dengan jujur pertanyaan mama. Agar mama tidak salah mengambil langkah!" ujar Hana lirih, Faiq mengedipkan kedua matanya. Seakan mengiyakan perkataan Hana. Faiq duduk tepat di samping Hana. Faiq merasa dekat dengan sang mama. Setelah bertahun-tahun terpisah. Hana menatap wajah Faiq yang begitu tampan dan dewasa. Sikap dewasa yang seolah menjadi jarak diantara ibu dan anak. Hana merasakan, kemandirian Faiq seakan membuat jarak yang begitu dalam. Walau jarak itu terasa, namun tak terlihat. Lalu Hana menarik Tangan Faiq, menggenggamnya dan menciumnya. Sebagai ungkapan kerinduan seorang ibu. Faiq merasakan kasih sayang Hana yang lama dia acuhkan. Faiq bukan marah pada Hana. Sikap dingin Faiq, agar dirinya tidak semakin membenci Hana.
"Faiq, maafkan mama. Jangan hukum mama terlalu lama. Mama merindukanmu, mama ingin memelukmu. Seandainya mama atau papa melakukan kesalahan padamu. Mama minta maaf, kembalilah menjadi Faiq yang dulu. Mama merindukan Faiq putra yang terlahir dari rahimku. Mama mohon!" ujar Hana lirih sembari menunduk, sebaliknya Faiq mengeryitkan alisnya. Dia tidak mengerti maksud perkataan Hana. Lebih tepatnya, Faiq pura-pura tidak memahami arah pembicaraan Hana. Faiq sengaja ingin menutupi kegelisahan yang selama ini tersimpan rapat dalam hatinya. Faiq merasakan kepedihan sang mama. Namun Faiq hanya anak yang bisa saja terluka akan keputusan orang tuanya. Di sisi lain, Faiq takut melukai hati orang tuanya. Sebab itu Faiq memilih diam, dia tidak ingin melukai hati kedua orang tuanya. Cukup dia yang merasakan luka hatinya.
"Mama, apa yang harus Faiq maafkan? Mama tidak melakukan kesalahan padaku. Selama ini aku baik-baik saja. Aku hanya sedang mencari jati diri. Seharusnya yang meminta maaf itu aku, bukan mama. Aku telah menjadi anak yang gagal. Aku membuat mama memohon, tidak sepantasnya seorang ibu memohon. Sampai kapanpun ibu tetap yang utama. Maafkan Faiq, yang mulai melupakan tanggungjawab sebagai seorang anak!" ujar Faiq lirih, Hana menghela napas panjang. Dia sudah menduga, tidak akan mudah baginya membuat Faiq berkata jujur padanya. Faiq akan tetap diam menyimpan luka hatinya. Hana tidak akan mudah mengetahui kegelisahan hati Faiq. Sekuat apapun Hana berusaha? Faiq akan tetap bungkam, dia tidak ingin orang lain cemas akan kondisinya.
"Faiq, kenapa harus menyimpan semuanya sendiri? Mama dan papa ada untuk Faiq. Kak Fathan ada untuk menjadi saudaramu. Kami keluargamu, jadi izinkan kami mengerti beban yang kamu tanggung. Mama mohon!" ujar Hana lagi, faiq menggeleng seraya tersenyum. Faiq tetap teguh menyimpan rapat semua duka yang dia rasakan. Faiq terdiam membisu, dia tidak akan merubah pikirannya. Sebab Faiq merasa keputusannya benar dengan tetap menyimpan luka hatinya.
__ADS_1
"Sampai detik ini, aku baik-baik saja. Seandainya terjadi sesuatu, mama orang pertama yang akan mendengarnya. Mama orang yang paling berhak mendengar keluh kesah Faiq!" sahut Faiq tegas, Hana hanya bisa menghela napas panjang. Mengiyakan setiap perkataan Faiq dan menganggap Faiq baik-baik saja. Tidak akan ada lagi kata yang bisa merubah pikiran Faiq. Hanya menunggu Faiq mengatakan semuanya. Saat itulah Hana akan mengerti kegelisahan Faiq.
"Kalau memang kamu baik-baik saja. Mama minta kamu ada di meja makan nanti malam. Mama ingin kamu duduk diantara kami. Akan ada keluarga tante Diana. Mama akan mengumumkan hal yang penting!" ujar Hana tegas tanpa ada penawaran, Faiq mengangguk pelan. Hana meninggalkan Faiq, terlihat senyum Faiq mengiring langkah Hana. Namun sejatinya, hanya Faiq yang tahu arti dari senyuman itu.
Faiq memegang dadanya yang tiba-tiba berdetak hebat. Ada rasa ngilu yang teramat. Faiq membisu mendengar permintaan Hana. Pertemuan keluarga yang selalu dia hindari. Akhirnya suka tidak suka harus Faiq datangi.
"Faiq akan ada ditengah-tengah kalian. Aku akan ikut mendengarkan berita bahagia yang akan mama umumkan. Malam yang selalu Faiq nanti selama ini. Semoga mama bahagia melihat kedua putra mama duduk dalam satu meja. Faiq akan ikut makan malam bersama keluarga tante Diana dan om Andrew!" ujar Faiq lirih, Hana mengangguk pelan seraya mengutas senyum bahagia.
"Mungkin sudah saatnya semua orang mengetahuinya. Demi malam ini aku telah berlari sejauh mungkin. Berharap semua terjadi, tanpa aku mengetahuinya. Namun terkadang harapan takkan menjadi kenyataan. Malam yang selalu aku hindari. Kini takkan bisa aku hindari lagi. Memang benar, berlari menghindari masalah tidak akan menyelesaikan masalah. Semua seakan benar, saat aku harus melewati malam ini. Mama, maafkan Faiq yang tetap diam. Malam ini, mama akan menjadi orang yang paling menyakiti Faiq. Namun malam ini, Faiq akan menjadi anak yang paling berbakti untuk mama. Selamanya hanya mama yang Faiq sayangi. Demi mama, Faiq siap berkorban segalanya. Mama yang memberikan hidup pada Faiq. Mama yang mengizinkan Faiq menatap dunia ini. Mama yang berjuang melahirkan dan membesarkan Faiq, hanya agar Faiq menjadi orang yang dihargai. Hanya tangan mama yang akan Faiq genggam. Tidak akan ada tangan lain yang akan menggantikannya. Faiq akan selalu membuat mama bahagia. Meski demi bahagia itu, Faiq harus terluka dan menangis. Mama, dirimu segalanya untuk Faiq. Tidak akan Faiq marah dan membencimu. Meski mama melupakan dan menyisihkanku. Tidak akan Faiq terluka, meski mama telah menyakitiku. Mama sumber dukaku, sekaligus bahagiaku. Dukaku ada saat mama kecewa. Bahagiaku tercipta saat mama tertawa. Jangan pernah bersedih, berbahagialah. Karena Faiq akan selalu membuat mama bahagia. Faiq janji, Faiq akan mengorbankan hidup dan cinta Faiq demi mama. Terima kasih untuk kasih sayangmu, Faiq sayang mama!" batin Faiq dalam diamnya. Faiq berjalan perlahan menuju balkon kamarnya. Menatap langit malam yang gelam dan sunyi. Langit yang seakan menggambarkan hatinya yang gelap tanpa cahaya cinta. Dinginnya angin malam, sedingin hati Faiq saat ini. Tak ingin mengenal cinta dan tak berharap cinta.
__ADS_1