KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Aku Pergi..


__ADS_3

Setelah pagi itu, Faiq dan Davina tidak pernah bertemu. Keduanya seolah memiliki kesibukan yang menghalangi. Faiq sibuk dengan pasien-pasiennya. Sedangkan Davina mulai belajar mencari kebahagian tanpa Faiq. Davina belajar mengabaika keberadaan Faiq. Dia mencoba untuk tidak bergantung pada Faiq.


Davina berhasil membuat dirinya lupa akan Faiq. Dia tidak lagi sibuk mencari keberadaan Faiq. Meski Faiq tidak menghubunginya. Davina tidak merasa gelisah. Semua sudah berjalan sesuai yang Davina harapkan. Tidak ada kegelisahan atau rasa cemburu. Davina mulai menyadari, dia dan Faiq memiliki cara pandang yang berbeda. Dia tidak ingin mengekang Faiq. Sebaliknya Davina tidak ingin Faiq memintanya mengerti. Selama dia tidak saling berkomunikasi dengan Faiq. Davina mulai memikirkan kembali hubungannya dengan Faiq. Ada rasa nyaman, tapi hampa tanpa keberadaan Faiq. Namun ada rasa bahagia, tapi menyakitkan bila bersama Faiq. Davina harus memilih diantara dua rasa itu. Agar dia mampu bersikap dan memahami arti mencintai seorang Muhammad Faiq Alhakim. Laki-laki yang nyaris sempurna. Idola para kaum hawa masa kini.


Setelah seminggu tidak saling berkomunikasi atau bertemu. Davina dan Faiq mulai merasakan arti kehadiran satu sama lain. Davina merasa hampa tanpa bayangan Faiq. Meski saat bersama Faiq, air mata lebih banyak menetes daripada senyuman yang terutas. Sebalinya selama Davina menghilang tanpa kabar. Faiq mulai merindukan suara riang Davina. Sikap cerobohnya yang membuat Faiq selalu dibutuhkan. Senyum yang mulai menghilang dibibir Faiq. Senyum yang hanya akan ada saat melihat Davina menunjukkan cintanya pada Faiq. Sebuah kerinduan yang terasa, tapi tertutupi oleh rasa angkuh dan egois seorang Faiq. Dia tidak ingin Davina menganggap dirinya lemah. Sikap keras kepala yang kelak akan membuat Davina menjauh.


Pagi ini Faiq ingin menemui Davina. Sedangkan Davina juga ingin bertemu dengan Faiq. Keduanya memiliki niat yang sama tapi dengan maksud berbeda. Faiq ingin menanyakan alasan sikap dingin Davina. Faiq sudah tidak sanggup menerima sikap Davina. Sebaliknya Davina ingin mencari Faiq. Bukan sebagai tunangannya, tapi sebagai kepala rumah sakit. Davina ingin menyerahkan sesuatu pada kepala rumah sakit. Dengan kemantapan hati keduanya memutuskan saling bertemu.


Tok Tok Tok


Davina mengetuk pelan ruangan Faiq. Jantungnya berdegub hebat. Tubuhnya mulai gemetar. Ada rasa rindu yang membuncah, tapi seolah terkubur beraama luka hati yang Davina rasakan. Tak ada lagi rasa gelisah, sebab Davina mulai belajar hidup tanpa senyum Faiq. Lama Davina menunggu balasan dari dalam ruangan. Akhirnya setelah mengetuk yang ketiga kali. Davina mendengar ada yang mempersilahkan dirinya masuk ke dalam ruangan Faiq.


Kreeeeeekkkk


Davina membuka pintu perlahan. Dengan langkah pelan tapi mantap. Davina melangkahkan kaki kanannya memasuki ruangan Faiq. Selama seminggu tanpa kabar darinya. Wajar bila ada rasa aneh yang membuat Davina kikuk menatap wajah Faiq. Namun Davina sudah menata hatinya semenjak dari rumah. Jadi dia yakin mampu bersikap tenang saat bertemu Faiq.

__ADS_1


"Assalammualaikum!" ujaf Davina lirih, kata pertama yang keluar dari bibir Davina. Suara pertama yang terdengar di telinga Faiq. Setelah hampir seminggu keduanya tidak saling menghubungi. Davina mendongak menatap orang-orang yang ada di dalam ruangan Faiq. Annisa menyapa Davina dengan kedipan mata dan senyum simpul di balik cadarnya. Sedangkan Zahra mengangguk menyapa Davina. Terakhir Faiq yang menjawab salam Davina dengan suara seraknya.


"Waalaikumsalam!" sahut Faiq datar dan sikap dinginnya. Meski sejujurnya Faiq senag melihat Davina ada di dalam ruannya. Sebalinya Davina mulai menata hatinya. Dia tidak ingin larut dalam kerinduannya pada Faiq. Davina harus bisa bersikap tenang. Agar Faiq tidak merasa Davina membutuhkannya.


Davina menunduk sembati menyerahkan sebuah berkas. Alasan dirinya harus menemui Faiq. Annisa melihat sikap dingin keduanya. Sebagai seorang kakak dia hanya bisa mendoakan yang terbaik. Bukan ikut campur urusan keduanya. Annisa berpikir ingin mencairkan suasana. Annisa menyadari keberadaan Zahra. Sedikit banyak mengganggu Davina. Namun sebagai seorang dokter, Annisa mengetahui posisi Faiq saat ini.


Selama Davina berdiri di depannya. Faiq tidak berhenti menatap Davina. Wajah yang selama seminggu menjauh dari tatapannya. Faiq merasa lega sekaligus bahagia. Ketika dia melihat Davina berdiri tepat di depannya. Meski Davina bersikap dingin, Faiq masih merasa bersyukur bisa melihat Davina. Kesalahpahaman diantara mereka akan Faiq selesaikan nanti saat pulang kerja.


Faiq membuka berkas yang diberikan Davina. Dia membacanya dengan sangat hati-hati. Sebagai kepala rumah sakit, Faiq memiliki tanggungjawab yang berat. Dia harus memastikan semua berjalan sesuai aturan. Agar rumah sakit ini tetap menjadi yang terbaik.


"Maaf dokter Annisa, aku harus mengecewakan kamu. Aku ada urusan yang jauh lebih penting. Sabagai gantinya, sekarang saya ucapkan terima kasih atas ketulusan dokter Annisa mengundang saya. Semoga pernikahan kalian langgeng dan selalu bahagia!" ujar Davina lirih, Annisa mengangguk mengerti. Lalu Annisa memgamini doa Davina. Zahra mulai merasa canggung berada diantara tiga bersaudara. Dia ingin meninggalkan ruangan ini. Namun dia merasa meninggalkan ruangan ini bukan solusi yang terbaik.


Braaakkk


"Asstaghfirullah!" ujar ketiga perempuaan bersamaan. Mereka terkejut mendengar suara gebrakan meja dari berkas yang Faiq lemparkan. Dengan tatapan tajam Faiq mengunci sosok Davina. Sebaliknya Davina mengacuhkan amarah Faiq. Dia tidak ingin amarah Faiq semakin menjadi.

__ADS_1


"Maaf dokter Faiq, jika sudah selesai ditandatangani. Bolehkah saya mengambilnya. Saya harus pergi sekarang juga. Pekerjaan saya masih banyak" ujar Davina, Faiq tetap diam mematung. Dia marah dan kecewa setelah melihat berkas yang dibawa Davina. Ada rasa tidak percaya akan isi dari berkas yang dibawa Davina. Namun semua harus jelas sebelum Davina keluar dari ruangannya.


"Dokter Annisa, bisa anda dan Zahra pergi tinggalkan kami berdua . Banyak yang ingin saya katakan dengannya. Saya ingin menyelesaikan semunya dengan baik-baik!" ujar Faiq lirih, Annisa dan Zahra mengangguk mengerti. Sedangkan Davina menggelengkan kepala. Dia menolak tetap tinggal dan bicara berdua dengan Faiq. Davina ingin segera keluar dari ruangan Faiq.


"Maaf dokter Faiq, saya masih banyak pekerjaan. Saya akan meninggalkan berkas itu disini. Silahkan dilanjutkan diskusinya tadi, maaf telah mengganggu!" ujar Davina lalu melangkah pergi. Davina tidak ingin bicara dengan Faiq. Semua sudah terkendali, dia tidak ingin semuanya berantakan lagi. Sengaja Davina pergi sebelum Annisa dan Zahra pergi. Dia sudah menyadari posisinya sekarang. Faiq dan dirinya berbeda.


"Berhenti, jangan pernah kamu berani keluar dari ruanganku. Sebelum kamu menjelaskan maksud dari berkas ini. Jika kamu memaksa, bukan hanya dokter Annisa dan Zahra yang melihat amarahku. Satu rumah sakit akan melihat kegilaanku. Kamu harus membuatku mengerti!" ujar Faiq emosi, Davina menunduk. Dia tidak mampu menatap wajah Faiq. Mendengar suaranya saja, Davina sudah menyadari alasan kemarahannya.


Akhirnya Annisa dan Zahra keluar. Mereka tidak ingin masuk dalam perang dingin Faiq dan Davina. Meski sesungguhnya kehadiran Zahra yang menjadi alasan perang ini tercipta. Dengan langkah tegapnya, Faiq menghampiri Davina. Jarak mereka sangat dekat, suara hembusan napas mereka mampu terdengar satu dengan yang lainnya.


"Angkat kepalamu, tatap kedua mataku. Katakan alasan semua keputusanmu. Apa salahku sampai kamu bersikap seperti ini? Apa kamu marah aku membantu Zahra? Dia hanya putri pasienku, tidak lebih. Pantaskah kamu bersikap seperti ini. Semarah itukah kamu, sampai harus mengambil keputusan sebesar ini!" ujar Faiq, Davina diam membisu. Dia tidak berani menatap wajah Faiq. Lalu terdengar suara Davina menghela napas.


"Dokter Faiq, maaf bila kedatangan saya menganggu. Saya tidak perlu menjawab semua pertanyaan anda. Sebab jawaban saya berbeda dengan pendapat anda. Jadi tidak perlu saya menjawab. Jika hanya akan menimbulkan pertengkaran. Sekarang tidak ada lagi dokter Faiq dan Davina dalam satu jalan. Anda benar dengan sikap anda. Saya benar dengan keputusan saya. Maaf bila mengganggu, saya permisi!" ujar Davina, Faiq diam mematung. Dia melihat bukan lagi amarah dimata Davina. Rasa kecewa yang begitu besar. Membuat Davina ingin mengakhiri semuanya.


"Tunggu, kita harus bicara. Aku tidak bisa bila kamu diam seperti ini!" ujar Faiq sembari menahan tangan Davina.

__ADS_1


"Maaf dokter Faiq, kita sedang bekerja. Anda seorang dokter dan saya hanya staf biasa. Lepaskan tangan saya!"


__ADS_2