
"Siapa sebenarnya dokter Daffa? Kenapa begitu mengenal Vania?" ujar Annisa lirih.
Daffa diam mendengar pertanyaan Annisa. Status Daffa yang selama ini tersimpan rapat. Hubungan yang tak pernah terkuak antara dirinya dengan Vania. Rahasia yang sengaja tersimpan bersama kepergiannya ke luar negeri. Kedatangan Daffa kali ini bukan di sengaja. Dia datang karena ada undangan khusus. Ada rasa canggung menginjakkan kakinya di negeri ini. Negara yang telah ditinggalkannya selama bertahun-tahun.
"Siapapun saya tidak penting? Aku tidak akan merawat seorang pasien yang tak pernah ingin sembuh!" ujar Daffa lirih, lalu berjalan melewati Annisa. Bagi Daffa kondisi Vania baik-baik saja. Hanya ada satu alasan yang membuatnya bertahan dengan sakitnya. Entah apa yang sedang dirasakan Vania? Hanya Vania yang mampu menjawabnya.
"Kak Daffa, jangan pergi!" ujar Vania lirih. Daffa menoleh ke arah Vania sembari tersenyum sinis. Senyum yang seakan mengerti, Vania akan terbangun bila melihat Daffa pergi.
Annisa langsung menghampiri Vania, dia memeriksa kondisi Vania. Faiq dan Davina terkejut setengah mati. Ketika mendengar suara Vania, mereka melihat adik kecilnya terbangun dari tidur panjangnya.
Annisa menoleh ke arah Daffa. Terselip rasa kagum akan cara berpikir Daffa. Seorang dokter yang memahami alasan penyakit seorang pasien. Bukan obat yang akan menyembuhkan, tapi juga bisa melukai pasien. Annisa kini mengerti alasan di balik sikap kasar Daffa. Sebenarnya Daffa hanya ingin memacu Vania. Agar dia bangun dari kondisinya yang baik-baik saja.
"Vania, kamu baik-baik saja!" ujar Davina cemas, Vania mengedipkan kedua matanya. Seolah isyarat dia baik-baik saja. Vania mengulurkan tangannya ke arah Daffa yang berdiri mematung di depan pintu.
Daffa menatap nanar Vania kecilnya. Wanita yang pernah begitu dicintainya. Namun cinta mereka salah, cinta yang seharusnya tak pernah ada dan bersemi. Vania dan Daffa bukan tercipta untuk saling memiliki. Mereka hanya akan mengenal sebatas saudara sepupu. Meski rasa untuk Vania salah, entah kenapa Daffa seakan merasa benar dengan sikapnya?
"Kak Daffa, kenapa kamu pergi tanpa menungguku lagi? Bukankah kamu berjanji tidak akan pernah meninggalkanku. Kamu akan datang ketika aku membutuhkan dukunganmu. Sekarang kenapa kakak akan pergi tanpa pamit padaku? Berapa lama lagi aku harus menyimpan rasa bersalah ini? Aku mohon kak Daffa, tinggallah sebentar!" ujar Vania lemah.
Napas Vania memburu, jantungnya berdegub sangat kencang. Kondisi Vania belum memungkinkan. Namun Vania memaksa untuk bicara dengan Daffa. Faiq menoleh ke arah Daffa, lalu mengangguk pelan. Seolah meminta Daffa untuk tinggal sementara waktu.
"Kamu tidak membutuhkanku, lihat sekelilingmu Vania. Ada banyak cinta untukmu. Faiq dan Fathan akan menjagamu dengan segenap jiwanya. Selamanya kamu tidak perlu diriku!" sahut Daffa, Vania menggeleng lemah.
Sampai kapanpun Daffa kakaknya. Meski ada alasan yang membuat keduanya seolah tak bisa bersama sebagai saudara. Daffa memutar tubuhnya 180° membelakangi Vania. Daffa memutar knop pintu, tapi Faiq langsung menahan tangannya.
"Daffa, setidaknya biarkan Vania merasa tenang. Jangan buat dia cemas dengan kepergianmu. Ada ganjalan dalam hati Vania. Dia harus mengucapkannya padamu. Agar Vania bisa lebih tenang dalam melangkah maju ke depan!" ujar Faiq lirih, terlihat Vania mengangguk pelan.
Vania menatap Daffa penuh harap. Dia tidak ingin menahan Daffa, tapi Vania berharap Daffa tinggal. Sekadar untuk mendengar kata maaf darinya. Davina dan Annisa bingung melihat sikap Vania kepada Daffa. Rasa peduli Daffa pada Vania yang penuh dengan cinta. Diam Faiq yang menyimpan rahasia yang tertutup rapat.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan tinggal. Sampai aku bertemu dengan suamimu. Dengan syarat tidak ada yang boleh keluar dari ruangan ini. Kalian juga harus menemani Vania. Aku tidak ingin disini berdua dengan Vania!" tutur Daffa tegas, Vania mengedipkan mata setuju.
Faiq dan Annisa seketika menggeleng. Mereka harus memeriksa beberapa pasien. Setelah itu Annisa harus segera pulang. Menunggu Raihan yang belum tahu kapan pulangnya? Sungguh pekerjaan yang sia-sia.
"Kenapa harus kami? Memangnya kamu takut berdua dengan Vania. Dia tidak akan menggigit, dia masih sangat lemah untuk sekadar marah!" ujar Faiq dingin, Daffa menggeleng lemah.
Tanpa banyak bicara, Annisa keluar dari kamar Vania. Sedangkan Faiq tidak bisa keluar dari kamar Vania. Tangannya ditahan oleh Daffa. Saat Faiq hendak keluar dari kamar Vania. Davina tidak peduli akan Daffa dan Faiq. Davina hanya ingin menemani Vania. Sampai Raihan datang. Dia merasa bahagia melihat Vania sadar kembali.
"Jangan berani-berani kamu keluar dari ruangan ini. Jelas kamu tahu, aku tidak pernah takut dengan amarah Vania. Namun wajah Vania yang mampu melemahkan imanku dan akan membuatku khilaf!" bisik Daffa, Faiq menoleh seraya menahan tawa. Faiq menutup mulutnya dengan tangan.
Faiq tidak percaya sekaligus merasa lucu. Ketika kisah cinta antar sepupu tak pernah bisa bersatu. Namun kenyataannya rasa itu masih melekat dalam sanubari Daffa. Faiq tidak menduga, Daffa masih trauma bila dekat dengan Vania. Daffa masih takut akan mencintai Vania adik sepupu kecilnya.
"Diam, jangan tertawa. Semua ini tidak lucu. Kemana suami Vania? Jika terlalu lama aku akan pulang. Aku tidak bisa disini terlalu lama!" bisik Daffa lagi, Faiq hanya tersenyum simpul.
Faiq seakan menikmati kegelisahan Daffa. Baru saja dia bersikap dingin tak berhati. Sekarang Daffa bak harimau yang kehilangan taringnya. Cintanya pada Vania tidak pernah pudar. Meski Faiq mengerti rasa itu kini berubah menjadi kasih sayang pada adik. Namun sepertinya Daffa terlalu takut mendekat pada Vania.
"Kamu yang lucu, sudah bertahun-tahun kisah kalian berakhir. Kenapa masih saja ada rasa itu? Apalagi dalam statusmu yang tak lagi sendiri. Vania juga bukan lagi gadis kecilmu yang sendirian!" ujar Daffa tegas, Vania dan Davina menoleh mendengar perkataan Faiq.
"Diam Faiq, jika om Rafa mendengarnya. Aku bisa habis, kamu sendiri tahu. Betapa keras papamu padaku. Jangan lupa, kamu yang memintaku datang!" ujar Daffa berbisik, Faiq menggeleng lemah. Sungguh Faiq tidak percaya. Daffa begitu lemah bila berhubungan dengan cintanya pada Vania.
Vania menatap lekat Daffa, tapi seketika Daffa langsung mengacuhkan tatapan Vania. Sejak dulu Vania ingin bertemu dengan Daffa. Bukan ingin melanjutkan kisah cinta yang tak selesai. Namun meminta maaf, karena telah memilih menjauhi Daffa. Meski sebenarnya Vania dan Daffa bisa tetap menjalin hubungan sebagai saudara. Namun Vania sengaja menjauh, agar Daffa tidak semakin terjerumus pada rasa yang salah.
Daffa menunduk menatap lantai. Dalam hati fia merutuki kebodohannya yang datang menemui Vania. Sekian tahun Daffa menjauh dan menghilang dari hadapan Vania. Tak lain agar rasa dihatinya pudar. Namun rasa cinta itu seakan candi yang bisa muncul kapanpun?
"Kamu masih takut pada papa. Padahal dia tidak jahat!" ujar Faiq, Daffa mengangguk pelan.
Rafa memang bukan pribadi yang jahat. Namun Rafa juga bukan orang yang mudah dihadapi. Sekali dia terluka dan dikhianati. Maka tidak akan mudah bagi Rafa mempercayai. Daffa pernah sekali melihat amarah Rafa. Amarah yang membuatnya nekat pergi sejauh mungkin dari hidup Vania kecilnya.
__ADS_1
"Papamu memang tidak jahat, tapi sikap tegasnya mampu menutup mulut orang yang berbuat curang padanya. Cukup sekali aku berusan dengan papamu. Sumpah, tidak lagi aku berurusan dengannya!" ujar Daffa lirih, sembari menggelengkan kepala.
Kejujuran Daffa akan Rafa membuat Faiq tertawa lepas. Satu lagi yang membuat Daffa lemah selain lemah. Apa yang pernah terjadi di masa lalu? Seolah takkan pernah bisa Daffa lupakan begitu saja. Betapa marahnya Rafa saat mendengar rasa cinta Daffa untuk Vania. Cinta yang salah dan tak harus terjadi.
"Vania, suamimu kemana? Dia bekerja atau tidur di kantornya. Memangnya dia sehebat apa? Sampai dia kerja tanpa ingat akan istrinya!" ujar Daffa lantang, seakan menutup rasa gelisahnya berada di ruangan yang sama dengan Vania.
"Achmad Raihan Maulana hanya laki-laki biasa. Dia tidak sehebat yang kak Daffa bayangkan. Namun dibalik biasanya, dia laki-laki yang memahami arti tanggungjawab. Aku tidak keberatan dia pergi bekerja sampai melupakanku. Bukan aku tamak akan harta, bukan aku haus akan kemewahan. Namun aku ikhlas dan ridho, karena dia pergi demi kepentingan banyak orang. Dia buka hanya bertanggungjawab akan hidupku. Namun dia juga bertanggungjawab akan ratusan orang yang bekerja padanya!" ujar Vania, Daffa menatap lekat Vania. Faiq dan Davina mengangguk setuju akan perkataan Vania.
"Kamu sangat mencintainya, terlihat dari keikhlasan yang kamu tunjukkan. Vaniaku yang manja, kini telah dewasa. Kamu menunjukkan padaku semua tak lagi sama. Hatimu su,dah termiliki. Tanganmu telah tergenggam erat. Lantas untuk apa aku takut melihat bahagiamu? Maafkan aku selama ini telah menjadi kakak yang tidak baik!" ujar Daffa, lalu menghampiri Vania. Daffa merentangkan tangan hendak memeluk Vania.
Sontak kedua mata Faiq terbelalak. Dia kaget melihat sikap spontan Daffa. Entah murni pelukan seorang kakak kepada adiknya. Atau rasa sayang seorang kakak sepupu pada adik sepupunya. Dengan sigap Faiq berdiri di depan Daffa. Faiq merentangkan tangan seperti Daffa. Sehingga keduanya saling berpelukan layaknya dua saudara dalam teletubies.
"Jangan peluk Vania, aku takut kamu khilaf. Lebih baik aku yang menggantikan Vania menerima kasih sayangmu. Sebagai seorang kakak Vania. Aku bertanggungjawab akan dirinya sebelum Raihan datang!" ujar Faiq lantang, sembari memeluk Daffa. Lalu sedetik kemudian menghepaskan tubuh Daffa mundur ke belakang.
"Faiq…!" teriak Daffa kesal, Faiq hanya tersenyum melihat Daffa yang lemah tak berdaya di depan Vania.
"Kak Faiq sayang, bisa tidak berhenti bercandanya. Vania baru tersadar, apa kak Faiq ingin melihat Vania pingsan? Setelah melihat sikap kalian yang kekanak-kanakan!" ujar Davina lirih, sembari tangannya bermain di dada Faiq. Terlihat Faiq menggeliat geli, Vania terkekeh melihat Faiq yang gantian digoda Davina.
"Sayang, kamu serius melakukan semua ini di depan Daffa dan Vania. Kalau aku tidak akan malu mengikuti permainanmu!" ujar Faiq balik menggoda Vania, sembari tangannya memeluk tubuh Davina erat.
Buuuggghhg
"Awwwsss!" rintih Faiq, sembari mengusap pundaknya yang baru saja dipukul Fathan.
Terdengar suara teriakan Faiq, sesaat setelah Fathan memukul pundaknya dengan sangat keras. Rintihan Faiq seolah tak berarti di telinga Fathan. Faiq mendengus kesal, ketika Fathan memukulnya dengan sangat erat. Fathan tak peduli akan kekesalan Faiq. Dia menghampiri Daffa, lalu memeluk Daffa erat.
"Ternyata aku tidak salah dengar. Ada dokter tampan dan berbakat datang ke rumah sakit ini. Laki-laki yang membuat Raihan pulang dengan wajah ditekuk!" ujar Fathan dingin, Vania menoleh ke arah Fathan.
__ADS_1
"Dimana dia?" ujar Vania, Fathan mengangkat kedua pundaknya. Seolah mengatakan dia tidak mengetahui keberadaan Raihan. Fathan kebetulan melihat Raihan berjalan menuju mobilnya. Namun saat dia ingin menyapa Raihan. Mobilnya terlanjur pergi.
"Selalu marah dan cemburu, tanpa bertanya padaku! Siapa sebenarnya.Kak Daffa yang ada di ruanganku? Dasar egois dan angkuh, tidak pernah mengaku salah, padahal sekarang dirinya yang telah cemburu tanpa alasan!" Batin Vania kesal.