
Tepat pukul 24.00 WIB, Raihan datang ke dalam ruangan Vania. Raihan sengaja datang tengah malam. Dia berpikir Vania pasti sedang tidur. Dengan kondisinya yang belum membaik. Tentu Vania diharuskan banyak istirahat. Tidak mungkin Vania akan terjaga sampai tengah malam. Satu hal yang Raihan lupa, jika Faiq tidak akan meninggalkan Vania sendirian di rumah sakit.
Faiq dan Davina menemani Vania sampai malam. Faiq dan Davina akan pulang setelah Raihan datang. Namun Raihan tak pernah datang, sampai malam semakin larut. Akhirnya Faiq meminta Davina pulang. Tidak mungkin Faiq meminta Davina menginap. Setelah seharian menemani Vania. Akhirnya Faiq menemani Vania sendirian.
Kebetulan juga Faiq ada jaga malam hari ini. Jadi dia bisa menjaga Vania. Sekaligus memenuhi tanggungjawabnya sebagai dokter. Entah hubungan darah yang memang kental tak secair air? Fathan dan Daffa datang ke rumah sakit. Daffa datang setelah mendapat kabar daro Fathan. Jika Faiq menjaga Vania sendirian di rumah sakit. Baik Fathan dan Daffa merasa memiliki tanggungjawab menjaga Vania. Sebab itu keduanya datang ke rumah sakit bersama-sama.
Daffa mendapat mandat membeli beberapa makanan. Sedangkan Fathan mendapat bagian membeli beberapa minuman ringan. Mereka akan datang memberi kejutan pada Faiq dan Vania. Daffa dan Fathan ingin membuat Faiq merasa terharu dengan persaudaraan mereka. Sebab selama ini Faiq selalu acuh akan persauradaraan yang nyata adanya. Mumpung Daffa ada di kota ini, tidak akan ada waktu lain bagi mereka berkumpul bersama.
Mungkin Daffa saudara jauh bagi Faiq dan Fathan. Namun mereka memiliki satu cinta yang sama. Cinta pada Vania adik kecil mereka. Meski cinta Daffa memiliki arti yang berbeda. Namun semua kini menjadi masa lalu yang hanya tinggal kenangan. Daffa mencoba menjadi pribadi yang lebih baik. Dia tidak ingin menghancurkan hubungan persaudaraannya dengan Vania hancur hanya kerena cinta yang salah memilih. Cinta yang takkan pernah benar dan tak pantas untuk diperjuangkan.
Tepat pukul 22.30 WIB, Fathan dan Daffa datang dengan persiapan yang sangat matang. Meski peraturan rumah sakit tidak akan ada kunjungan di atas pukul 21.00 WIB. Namun peraturan itu tak berlaku bagi Fathan dan Daffa yang nyata masuk dalam daftar keluarga Prawira. Dengan mudah keduanya masuk ke area rumah sakit. Ruangan Vania yang masuk dalam ruang VVIP. Memiliki fasilatas dan kenyamanan yang tidak bisa diragukan lagi. Ruangan Vania memiliki standart keamanan yang baik. Pasien bisa beristirahat dengan tenang, sebab jauh dari hiruk-pikuk dan lalu-lalang para pengunjung pasien yang lain. Sebab pengunjung hanya dibatasi beberapa orang. Ketika menjenguk pasien di area ini. Kenyamanan dan ketenangan sangat diutamakan.
Fasilitas yang berbeda dengan ruangan yang lain. Inilah hukum alam yang pernah membuat Hana terpuruk. Si kaya akan mendapat penanganan terbaik. Sedangkan si miskin akan mendapat penanganan standart. Namum rumah sakit yang Faiq pimpin tidak membedakan dalam perawatan. Semua sama dengan cara kerja para dokter-dokter terbaik. Jika untuk ruangan rawat inap, Faiq selalu berusaha memberikan yang terbaik. Dengan standart yang sudah ada.
__ADS_1
"Masuklah, kenapa kamu mengintip layaknya pencuri? Wanita yang terbaring di dalam. Bukan orang lain, dia istrimu!" ujar Faiq dingin, sontak Raihan menoleh. Dia melepaskan ganggang pintu yang dipegangnya.
Raihan terkejut melihat Faiq sudah berada di belakangnya. Raihan mengintip ruangan Vania, sebab dia mendengar suara dari dalam ruangan Vania. Raihan merasa tidak enak tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Vania. Setelah seharian pergi tanpa melihat Vania sama sekali. Raihan merasa malu, ketika Vania tersadar. Bukan dia menemui Vania. Raihan malah memilih pergi mengikuti amarah dan rasa cemburu yang tak jelas.
Namun Raihan bimbang saat akan masuk ke dalam ruangan Vania. Dia mendengar suara beberapa orang di dalam kamar Vania. Kedua bola matanya membulat sempurna. Ketika dia melihat ada Daffa dan Fathan yang sedang asyik mengobrol. Daffa laki-laki yang membuatnya cemburu. Tengah menemani Vania, sontak saja api cemburu yang tadinya padam. Kembali membara dan membakar Raihan. Tubuh Raihan seketika mematung, tanpa Raihan sadari Faiq sudah berada di belakangnya. Faiq memperhatikan sikap Raihan yang aneh. Layaknya pencuri yang menunggu waktu yang tepat untuk mencuri.
Buuugghhh
Dengan pelan tapi terasa, Faiq memukul pundak Raihan yang terdiam. Faiq mencoba menyadarkan Raihan yang seolah tak sadar. Ketika Faiq memergokinya mengintip di luar kamar Vania. Raihan bingung harus bersikap apa? Seandainya Faiq tidak memergokinya. Mungkin Raihan sudah memutar tubuhnya 180° dan pergi meninggalkan area rumah sakit. Layaknya sikap Raihan tadi sore. Ketika dia melihat kehangatan Vania pada Daffa.
Faiq mungkin tidak berhak ikut campur dalam urusannya. Namun Faiq satu-satunya orang yang selama ini mampu mengendalikan sikap liar Vania. Faiq satu-satunya kakak tempat Vania mencurahkan isi hatinya. Jika Faiq marah itu akan menjadi amarah Vania. Jika Faiq menjauh, Vania juga akan menjauh. Tidak akan ada yang bisa Raihan lakukan bila semua terjadi. Meski Vania istrinya, ada tempat dimana Faiq memiliki separuh hati dan kepercayaan Vania?
"Kak Faiq, maaf!" ujar Raihan, satu kata saja yang mampu keluar dari bibir Raihan. Satu kata yang Raihan pikir bisa meredakan amarah Faiq.
__ADS_1
Namun dugaan Raihan salah, seketika Faiq menggelengkan kepalanya. Faiq tidak menyangka Raihan akan bersikap seperti ini. Sikap yang tak pantas dilakukan oleh seorang suami. Apalagi ketika melihat istrinya terbaring tak berdaya. Namun Faiq menyadari sikap Raihan, tak lebih daria rasa sakitnya. Melihat Vania terbangun dengan memanggil nama laki-laki lain.
"Raihan, ikut denganku sekarang. Kita bicara di taman rumah sakit!" ujar Faiq dingin, Raihan mengangguk mengiyakan. Dengan langkah perlahan Raihan mengekor di belakang Faiq. Dia mengikuti langkah kaki Faiq menuju taman rumah sakit.
Raihan penasaran apa yang akan Faiq lakukan padanya? Pikiran Raihan kalut mengingat tatapan penuh amarah Faiq. Rasa kecewa Faiq pada Raihan nyata terlihat. Memang sikap Raihan sangatlah tidak pantas. Dia telah mengacuhkan Vania. Hanya karena amarah sesaat yang diikutinya.
"Minum dan duduklah, aku ingin mendengar isi hatimu. Katakanlah semua yang ada dalam hati dan pikiranmu. Apapun yang membuatmu pergi tanpa kata. Meski kamu sudah mengetahui Vania tersadar. Aku tidak akan menduga apa yang kamu pikirkan? Aku hanya akan mendengar!" ujar Faiq lirih, sembari menatap Raihan lekat.
Faiq mencoba menjadi teman Raihan. Bukan seorang kakak ipar yang terkadang hanya ditakuti oleh Raihan. Faiq akan menjadi kakak ipar sekaligus teman yang memahami hati terdalam Raihan. Tanpa Faiq memihak Raihan atau Vania. Faiq hanya akan menengahi kesalahpahaman yang sedang terjadi diantara Raihan dan Vania.
"Aku baik-baik saja, hanya aku merasa tak pernah menjadi yang pertama dihati Vania. Seakan aku hanya suami dalam sebuah kertas. Sedangkan dalam hati Vania, tidak ada tempat untukku!" ujar Raihan lirih, Faiq mengangguk mengerti. Faiq mendongak menatap malam yang indah.
"Raihan, apapun yang kamu pikirkan tidak salah. Seandainya ada laki-laki yang pantas kamu cemburui. Itu hanya Daffa, sebab dia laki-laki yang pernah menentang keluarga Prawira demi bersama Vania. Dia laki-laki yang dengan tegas menolak warisan keluarga om Rizal. Jika Vania tidak menjadi istrinya. Daffa satu-satunya laki-laki yang membuat Vania memahami sakit akan cinta. Arti cinta yang tak pernah bisa dinalar manusia. Cinta yang hanya bisa dirasakan, tanpa bisa digenggam dengan tangan terbuka!" tutur Faiq menjelaskan, Raihan menggeleng tidak memahami perkataan Faiq.
__ADS_1
Raihan tak pernah bisa memahami arah perkataan Faiq atau Vania. Keduanya selalu menggunakan hati dan pikiran dalam cara bicara mereka. Sehingga akan sangat sulit memahami perkataan mereka. Raihan tak pernah bisa mengerti dengan mudah perkataan Faiq atau Vania. Sehingga selalu ada salah paham diantara mereka.
"Aku tidak mengerti!" ujar Raihan singkat, Faiq tersenyum ke arah Raihan. Terdengar Faiq menghela napas panjang. Mencoba mencari ketenangan dalam bimbang hatinya.