KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Bebek Panggang pedas


__ADS_3

Setiap rumah tangga selalu ada celah untuk sebuah kesalapahaman. Begitu juga keluarga Rafa dan Hana yang selalu diselingi kesalapahaman hingga sebuah pertengkaran. Rafa selalu berusaha mencari celah, untuk menenangkan hati Hana. Dia tidak akan sungkan meminta maaf atau mengalah. Semua demi kebersamaannya dengan Hana. Rafa tidak ingin mempertaruhkan pernikahannya. Demi sebuah pertengkaran yang tak berarti.


Kesalapahaman tak pernah bertahan lama. Selalu berakhir dengan sebuah pelukan hangat. Rasa bersalah Rafa membuatnya enggan meninggalkan Hana. Rafa memutuskan untuk bekerja dari rumah. Hati dan pikirannya hanya berpusat pada Hana. Hampir setiap jam Rafa memeriksa kondisi Hana. Sejak pulang dari ziarah, kondisi Hana mengalami penurunan. Tekanan darah tinggi Hana mudah kambuh. Meski Hana tidak dalam kondisi tertekan atau emosi. Mendekati hari persalinan Hana kesehatan Hana sering mengalami penurunan.


Rafa sengaja menyiapkan makan malam spesial untuk Hana. Sejak sore Rafa berkutat dengan bahan yang akan Rafa gunakan. Salsa dan kiara membantu Rafa memasak. Mereka bertugas memberikan petunjuk, lalu Rafa mengikuti setiap arahan keduannya. Rana ingin memberikan kejutan untuk Hana. Masakan yang sejak lama diinginkan Hana, tapi Rafa selalu melarang dengan alasan kesehatannya.


Rafa ingin membuat Hana bahagia dengan kejutan kecil yang sengaja dia siapkan. Sejak lama Hana mengingikan makanan ini. Namun melihat kondisi kesehatan Hana. Rafa melarang dengan keras. Dengan alasan yang sama, kali ini Rafa membuatkannya untuk Hana. Bukan ingin melihat Hana sakit, tapi Rafa ingin melihat istri kecilnya memakan sesuatu. Sebab sejak pagi Hana hanya mengkonsumsi susu tanpa makanan berat lainnya.


Kiara dan Salsa melihat perjuangan Rafa memakai celemek. Biasanya Rafa terlihat tampan dengan jas kantornya. Namun kali ini Rafa terlihat menawan dengan celemek. Bukan celemek yang membuat Rafa menawan, tapi alasan dibalik celemek yang dipakainya. Kesungguhan seorang suami yang ingin melihat istrinya bahagia. Meski pisau tak pernah dia pegang, tapi dengan penuh semangat Rafa memotong semua bahan makanan. Kekaguman seorang wanita, melihat kegigihan seorang laki-laki melakukan sesuatu yang tak pernah dia bayangkan. Salsa dan Kiara terperangah penuh kekaguman. Melihat Rafa penuh dengan semangat membuat makanan yang sangat diinginkan Hana.


Hampir satu jam mereka bertiga berkutat di dapur. Kehebohan terjadi tanpa Hana ketahui. Sejak siang Hana memutuskan istirahat di kamarnya. Rafa melarang Hana turun, jika tidak Rafa akan membawanya ke rumah sakit. Dengab patuh Hana mengiyakan perintah Rafa. Sebuah perintah yang tersimpan rahasia dibaliknya. Rafa melarang Hana turun, sebab dia ingin membuatkan Hana makanan yang selalu diinginkan Hana.

__ADS_1


Setelah semua siap, Rafa meminta Kiara menyiapkan di atas piring. Saat makan malam Rafa sendiri yang akan membawanya ke kamar. Rafa berniat menyuapi Hana dengan kedua tangannya. Rafa ingin menunjukkan kasih sayangnya dalam setiap suapan. Sungguh seandainya Rafa bisa melukiskan cintanya. Tidak akan ada yang bisa menandingi cintanya. Namun Rafa masih mengingat, jika cinta pada manusia tidak boleh melebihi cintanya pada sang pencipta. Rafa mengenal kembali iman saat bersama Hana. Sebab itu Rafa mencintai Hana dengan iman. Hanya dengan doa Rafa meletakkan jalan hidupnya bersama Hana. Harapan yang besar. Agar hanya Hana yang menjadi makmum dunia akhiratnya.


"Sayang!" sapa Rafa, Hana menoleh dengan perlahan. Hana berdiri di balkon kamarnya. Dia menatap langit yang sama setiap malam. Dengan keindahan dan kesunyian yang sama. Tak ada yang berbeda dari langit malam yang dingin dan sepi. Hana selalu merasa langit malam mengingatkannya akan hari sepinya. Namun Hana tidak pernah berpikir untuk kembali pada masa lalu. Dia menjadikan masa lalu sebuah kenangan yang membuat bersyukur akan nikmat yang kini dia rasakan.


"Kak Rafa, maaf aku tidak turun. Kak Rafa pasti makan malam sendiri. Kepalaku masih sangat pusing. Aku ingin menyiapkan makan malammu, tapi tubuhku terasa lemas. Aku berdiri disini, karena aku merasa bosan tidur!" tutur Hana penuh penyesalan. Dengan raut wajah yang terlihat pucat, Hana menatap sendu Rafa. Sedangkan Rafa menggeleng lemah, dia tidak ingin Hana terbebani dengan keperluannya. Melihat Hana dalam kondisi seperti ini. Sudah membuat Rafa kalut, dia tidak akan mampu memikirkan pekerjaan atau makan malam. Dengan perlahan Rafa mendekat pada Hana. Dia menangkup kedua pipi Hana, lalu mengecup puncak kepala Hana yang tertutup hijab.


"Sayang, jangan pernah menyalahkan dirimu. Hanya melihatmu dalam kondisi sehat. Sudah membuat laparku hilang. Aku jauh lebih lemas melihatmu sakit, daripada meninggalkan makan malam. Kamu semangat dan kekuatanku!" ujar Rafa, lalu menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya. Rafa mendekap tubuh istri kecilnya dengan penuh cinta kasih. Takkan pernah ada Hana lain dalam hidupnya. Hanya Hana yang akan menjadi ibu dari putra-putrinya. Doa yang selalu ada dalam sujud Rafa.


"Sekarang lebih baik kita makan malam. Aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu. Sesuatu yang kubuat dengan kedua tanganku. Pertama kalinya aku memasak dengan penuh cinta untukmu. Ayo masuk, aku sendiri yang akan menyuapimu. Aku tidak ingin istriku yang cantik lapar ketika dia tidur!" ujar Rafa, Hana tertawa sembari memukul dada Rafa pelan. Rafa meringis kesakitan, agar Hana merasa bersalah. Namun sayangnya Hana menyadari jika Rafa hanya berpura-pura. Rafa merangkul Hana menuju sofa di dalam kamarnya. Setelah Hana meraaa nyaman dengan posisi duduknya.


"Kak Rafa, ini serius untukku. Bebek panggang pedas yang selalu aku minta. Kak Rafa membuatkannya untukku. Sungguh kak Rafa tidak sedang bercanda bukan!" ujar Hana terkejut, Rafa mengangguk pelan. Dengan lembut Rafa mengusap tangan Hana, lalu menciumnya penuh dengan kasih sayang.

__ADS_1


"Sayang, aku khusus membuatkannya untukmu. Sekarang makanlah, aku akan menyuapimu. Namun dengan satu syarat, kamu akan langsung memberitahuku bila ada keluhan. Alu tidak ingin mengambil resiko dengan kesehatanmu. Apa yang kamu rasakan? Hanya tubuhmu yang mengetahuinya. Aku dengan penuh cinta menyiapkan makan malam ini. Dengan cinta yang sama berjanjilah padaku. Kamu akan mengatakan dengan jujur, rasa sakit yang kamu rasakan!" ujar Rafa, Hana mengangguk dengan semangat.


Mungkin bagi banyak orang bebek panggang hanya makan yang sudah biasa. Namun bagi Hana, butuh waktu yang cukup lama. Sekadar untuk memakan bebek panggang. Sebab Hana harus mengumpulkan uang demi memenuhi keinginannya. Kini nyata Rafa sendiri yang menyiapkan Hana bebek panggang untuk makan malam.


Rafa melarang Hana memakannya bukan tanpa alasan. Selain kandungan lemak yang tinggi dalam bebek panggang. Rasa pedas yang diminta Hana seolah paket komplit yang bisa mengganggu kesehatan Hana. Namun malam ini benteng keteguhan Rafa harus tumbang. Napsu makan Hana yang menurun sejak pagi. Membuat Rafa harus bersedia menyiapkan makanan yang benar-benar diinginkan Hana. Semua demi Hana agar bersedia tetap makan.


"Kak Rafa, terima kasih!" ujar Hana sembari terus mengunyah makanan. Mulut Hana penuh dengan makanan. Rafa melihat napsu makan Hana yang menggila. Hanya dalam sekejap Hana bisa mengunyah suapan demi suapan Rafa. Bahkan Rafa melihat Hana menelan makanan tanpa mengunyahnya dengan baik. Sekilas Rafa melihat keceriaan Hana kembali.


"Sayang, makanlah pelan-pelan. Lagipula aku tidak akan memintanya. Aku tidak menduga, makanan sederhana tapi berat ini. Mampu membuatmu makan dengan lahap. Adakan alasan dibalik napsu makanmu ini!" ujar Rafa, sembari terus menyuapi Hana. Sesekali Rafa mengusap bibir bawah Hanan ketika Rafa melihat Hana makan dengan belepotan.


"Bebek panggang pedas makanan terakhir di hari ulang tahunku bersama mendiang ayah dan ibu. Dengan susah payah mereka membelikanku sebungkus nasi dengan lauk bebek panggang pedas. Aku selalu ingat suapan mereka saat memakan bebek panggang pedas. Kak Rafa pasti heran dan tak pernah menyangka. Jika aku sengaja menyembunyikan hari kelahiranku. Bahkan aku selalu marah saat kamu mencoba mencari tahu tentang ulang tahunku. Sejujurnya aku yang selalu takut mengingat hari ulang tahunku. Hari dimana usiaku bertambah, tapi kesempatan hidupku berkurang. Waktu yang terus menipis untukku berbuat kebaikan dan menebus dosa yang telah kita lakukan. Aku merasa tak pantas bahagia, saat aku menyadari hakikat sebenarnya hari kelahiran kita. Walau menangis tak pernah kulakukan, ketika mengingat setiap kesalahan yang pernah kubuat. Namun tertawa bukan hal yang terpenting di saat seperti itu. Apalagi semenjak kedua orang tuaku meninggal secara mendadak. Aku menyadari, bahwa suatu saat kita juga akan tiada tanpa ada yang menyadari kapan pastinya. Kehilangan mengajarkanku untuk menghargai setiap kebersamaan yang ada!" ujar Hana, Rafa menatap lekat wanita di depannya. Seorang wanita yang hidup dengan cara sederhana.Namun penuh dengan prinsip yang tak tergoyahkan.

__ADS_1


"Sayang, terima kasih!" ujar Rafa.


"Terima kasih juga kak Rafa telah mempersiapkan kejutan untukku. Hadiah terindah yang mengalahkan segalanya!" ujar Hana tegas.


__ADS_2