
"Tante Sabrina, pergilah dari rumahku sekarang. Sudah cukup masalah yang kamu timbulkan. Jika Sesil ingin bersamamu, silahkan saja. Kalian bisa pergi bersama!" ujar Alvian penuh amarah. Dia berdiri hendak mengejar Rafa. Bukan untuk meminta bantuanya. Alvian hanya ingin mengantar Rafa keluar rumahnya. Alvian tidak ingin persahabatan mereka hancur begitu saja.
"Aku tidak akan menikah dengan Raihan bila dia membantu nenek!" teriak Vania lantang. Tanpa ada yang menyadari, Vania telah lama berdiri di depan pintu. Dia tidak datang sendiri. Raihan datang bersamanya atas permintaan Fathan. Keduanya datang ke rumah Alvian untuk menjelaskan masalah kontrak yang diputus sepihak oleh Fathan. Jika bukan permintaan Fathan. Vania tidak akan datang bersama Raihan.
Kesalapahaman yang terjadi antara Vania dan Raihan belum sepenuhnya selesai. Vania masih diam tidak menjelaskan. Sedangkan Raihan sedikitpun tidak bertanya pada Vania. Kesalapahaman diantara keduanya terus ada dalam diam. Dalam sebuah hubungan sebuah kesalahpahaman itu wajar. Sebab dengan kesalahpahaman sebuah pengertian akan ada. Meski keduanya saling mengacuhkan. Namun dalam hati masing-masing ada rasa bahagia bisa bertemu.
Vania sangat terkejut saat mendengar neneknya berpikir akan memanfaatkan pernikahannya dengan Raihan. Sontak Vania marah dan mengatakan sesuatu yang tidak pernah ingin didengar oleh Raihan. Seketika Raihan menelan ludahnya kasar. Dia terkejut sekaligus cemas mendengar perkataan Vania. Tidak lagi Raihan sanggup melihat amarah Vania. Keteguhan hatinya menepati apa yang dia katakan? Bisa membuat Raihan kehilangan Vania selamanya.
Rafa terkejut melihat Vania datang bersama Raihan. Alvian dan Sesil tidak pernah mengenal Raihan. Bahkan mereka tidak mengetahui kemampuan Raihan yang setara dengan Fathan. Sabrina menjadi orang yang kaget sekaligus bahagia. Dia melihat Vania cucu satu-satunya datang bersama Raihan pengusaha yang paling hebat sekarang. Kekayaan yang dimiliki Raihan setara dengan keluarga Prawira. Sehingga tidak perlu lagi Sabrina merasa takut akan kekuasaan Rafa. Dengan Raihan menjadi cucu menantunya. Sabrina berpikir akan hidup penuh dengan kemewahan dan martabat yang tinggi.
__ADS_1
"Vania, sayang kamu datang menemui nenek. Kamu tahu tidak, nenek sangat merindukanmu. Kamu bahkan datang bersama Raihan calon suaminya. Katakan pada Rafa, jika kamu akan meminta Raihan membantu Alvian. Agar Rafa tidak menindas nenek. Kamu harus membantu nenek, Rafa ingin mencelakai nenek!" ujar Sabrina lantang penuh rasa percaya diri. Rafa tersenyum tipis, dia merasa aneh dengan kedatangan Vania dan Raihan. Bahkan Rafa mendengar jelas, jika Vania akan menolek menikah dengan Raihan. Seandainya Raihan membantu Sabrina. Namun sepertinya Sabrina pura-pura tidak mendengar atau malah takut mengakui sebuah kenyataan.
Vania menggeleng lemah mendengar perkataan Sabrina. Gelengan kepala yang sontak membuat Sabrina meradang. Dia tidak menyangka Vania akan menolak permintaannya. Padahal Vania cucu kandungnya yang terlahir dari darah dagingnya. Raihan menunduk lemah, sejenak dia bahagia bisa bertemu dengan Vania. Namun kenyataannya sekarang dia harus berada pada posisi yang sulit. Sejujurnya Raihan sedang ada rapat penting, ketika Vania meminta bertemu. Bagi Raihan tidak ada yang paling penting selain bertemu dengan Vania. Namun semua seolah menjadi sangat menyakitkan. Ketika Raihan mendengar Vania akan menolak menikah dengannya. Sungguh Raihan akan lebih memilih tidak bertemu dengan Vania. Kebahagian sesaat yang meninggalkan rasa sakit.
"Maafkan aku nenek, aku datang bukan untuk menemuimu. Aku juga tidak akan meminta Raihan membantumu. Jika memang dia ingin membantumu. Aku tidak akan melarangnya, tapi apa yang aku katakan tadi akan terjadi? Jadi nenek salah jika berpikir aku akan bersedia menjual diriku pada Raihan demi harta dan nama besarnya. Raihan mengetahui aku mampi melakukan semua itu. Sebab jauh sebelum nenek mengatakan semua itu. Raihan sudah melihat penolakanku, karena harta dan nama besarnya. Jadi jangan berharap, pernikahanku akan membuat nenek hidup dalam kemewahan dan martabat yang tinggi. Harta yang membuat nenek angkuh dan sombong. Pantas saja kak Fathan melakukan semua ini. Sikap yang tidak seharusnya dia lakukan. Namun semua ini serasa benar, seandainya semua ini bisa membuat nenek insyaf!" tutur Vania tegas, Sabrina terduduk lesu. Harapan satu-satunya telah menolak membantunya. Vania sedikitpun tidak iba pada kondisi Sabrina. Bukan hanya karena hinaan Sabrina pada Hana. Namun keangkuhan Sabrina mengingatkannya pada sikap Raihan yang menganggap dirinya kampungan dan memalukan. Vania merasakan benar sakit dan memalukannya. Diragukan hanya kerena status. Sekarang demi harta Raihan, Vania harus menikah dengannya dan membantu Sabrina. Dalam mimpi saja, Vania tidak akan membayangkannya. Vania tidak akan membiarkan Sabrina menjadikannya alat untuk pemuas cara hidup mewahnya.
"Vania, kamu keterlaluan. Aku nenek kandungmu. Aku yang melahirkan ibumu. Sudah sepantasnya kamu membantuku. Bukan malah membela Rafa yang hanya kakak sambung ibumu. Kamu harus tahu, ikatan darah lebih kental dari apapun. Kamu bukan membela nenek. Malah sebaliknya ingin melihat nenek sengsara. Apakah ini hasil didikan Hana? Melawan pada orang tua dan tidak menghargai orang tua!" ujar Sabrina emosi, Vania menggeleng lemah. Dia melihat sifat asli sang nenek yang sangat tidak pantas. Rafa hanya bisa menyesalkan sikap Sabrina yang angkuh mengakui kesalahannya. Raihan yang tidak mengetahui akar permasalahannya. Hanya bisa diam dan meras bersalah. Dia yang kini menjadi bahan perdebatan antara Vania dan neneknya. Sedangkan Alvian dan Sesil hanya bisa menonton dan mendengarkan perdebatan Vania dan Sabrina. Mereka merasa tidak pantas untuk ikut campur. Dalam hati Sesil merasa menyesal telah membawa Sabrina tinggal di rumahnya. Jika seandainya dia menyadari, selamanya Sabrina hanya akan membawa masalah. Sesil tidak akan pernah berpikir membantu Sabrina.
"Tante Sabrina, sekarang kamu mendengarnya. Vania cucumu merasakan sakitnya dihina. Sedangkan dirimu dengan angkuhnya terus menghina Hana yang tak pernah bersalah. Sadarlah sebelum semua semakin menjauh darimu. Hana tidak pernah ingin memiliki musuh. Dia menyayangi siapapun tanpa pamrih. Bahkan pada cucumu!" ujar Rafa mengingatkan, Sabrina hanya diam membisu. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa? Semua seolah nyata dan menyakitkan.
__ADS_1
"Alvia, sekarang tanyakan pada Vania masalah pekerjaan. Aku pamit pulang dulu!" ujar Rafa, Vania menggeleng lemah. Lalu dia memberikan beberapa berkas pada Alvian.
"Aku akan pulang bersama papa Rafa. Raihan ada urusan dengan om Alvian. Banyak yang harus mereka kerjakan. Satu hal lagi, berkas yang aku berikan pada om Alvian. Itu detail proyek yang dibatalkan kak Fathan. Dia memberikan wewenang proyek itu pada perusahaan om Alvian. Kak Fathan tidak ingin perusahaan om gulung tikar, tapi dia juga tidak ingin bekerjasama lagi. Sebab itu aku datang bersama Raihan. Kak Fathan sudah melobi Raihan untuk bekerjasama dengan perusahaan om. Namun jika aku mengetahui, Raihan memaksa diri untuk membantu nenek. Maka Raihan harus bersiap menerima konsekuensinya!" ujar Vania ketus, Raihan diam seribu bahasa. Amarah Vania jelas terlihat, sekali lagi Vania menunjukkan keteguhan hatinya.
"Alvian, kamu dengar sendiri. Fathan tidak akan memutuskan kontrak tanpa pertimbangan yang matang. Dia memilih merugi, hanya demi kehormatan sang mama. Namun dia tidak akan menghancurkan orang yang tidak bersalah. Fathan hanya ingin menunjukkan, harta bukan segalanya. Melainkan keluarga yang utama. Aku bangga pada putraku Fathan. Dia bukan pembisnis yang hebat, tapi dia putra yang terbaik!" ujar Rafa final, lalu berjalan pergi dari rumah Alvian. Meninggalkan Sabrina yang terduduk lesu. Bukan menyesali perbuatannya, tapi merasa tak berdaya. Ketika Vania tidak lagi membela atau mendukungnya.
"Sayang, kita harus bicara. Aku tidak ingin kamu meninggalkanku dengan rasa bersalah ini. Aku tidak menyadari sikapku dulu begitu melukaimu. Aku mohon maafkan diriku. Aku akan bertemu om Alvian di kantornya. Sekarang aku hanya ingin menyelesaikan kesalapahaman diantara kita. Aku tidak akan sanggup menanggung rasa bersalah ini!" ujar Raihan sembari menahan tangan Vania. Dia berlari mengejar Vania, sesaat setelah bicara dengan Alvian. Rafa mengangguk meminta Vania untuk tinggal. Rafa pernah berada pada posisi Raihan. Jelas dia tahu, bagaimana rasa gelisah menghantui hidupnya?
"Aku tidak pernah menyalahkanmu. Apa yang aku katakan tadi bukan ingin mengingat sikapmu padaku? Aku hanya ingin menunjukkan pada nenek. Semua bisa terjadi pada keturunannya. Kesalahpahaman diantara kita memang harus terjadi. Sebab hanya itu cara kamu belajar memahami diriku. Aku teguh mencintaimu, tapi kamu masih ragu akan rasaku. Raihan aku tidak pernah menyesal telah mencintaimu, tapi aku akan sangat kecewa bila kamu membantu nenekku. Aku ikhlas hidup sederhana dengamu, tapi aku akan pamrih bersamamu. Bila hidup mewah tanpa ketulusan. Aku akan tetap pulang bersama papa, bukan karena marah padamu. Sejujurnya berada dalam mobil yang sama denganmu. Membuatku takut khilaf, rasa ingin bersamamu menguasai hati dan pikiranku. Jadi lebih baik aku menjaga jarak denganmu. Sampai kita berada dalam ikatan suci pernikahan!" ujar Vania lirih, Raihan mengangguk pelan lalu melepaskan tangan Vania.
__ADS_1
"Aku mencintaimu!" ujar Raihan, Vania tersenyum sembari menunduk.