
"Kak Rafa, aku pergi ke mushola lalu mampir ke kantin sebentar. Jika Fathan bangun, kak Rafa hubungi bu Minah. Aku pasti langsung datang!" ujar Hana, Rafa mengangguk pelan. Rafa menarik tubuh Hana dalam pelukannya. Rafa menatap wajah teduh putranya. Hana meletakkan si kecil di atas sofa ruang kerja Rafa.
"Sayang, putra kita tampan. Tapi aku lebih melihat wajahmu dalam wajahnya. Hanya kedua matanya yang sama denganku. Kamu tahu tidak? Kenapa hanya kedua matanya yang sama denganku?" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah. Dia melihat wajah putranya, memang sedikit mirip dengannya. Namun ketampanan Rafa jelas terlihat dari wajah si kecil. Kedua matanya terlihat sama dengan Rafa.
"Memangnya kenapa harus kedua matanya yang sama denganmu? Padahal bibirnya juga sama sepertimu!" ujar Hana kesal, Rafa terkekeh. Sembari kepalanya bersandar pada pundak Hana. Rafa terus melihat wajah teduh putranya yang sedang tertidur.
"Karena kedua mata kami, hanya akan memandang wajahmu yang paling cantik. Tidak akan kami menganggap wanita lain, lebih cantik darimu. Bagi kami Hana Khairunnissa tidak hanya cantik, tapi berarti!" ujar Rafa mesra, Hana meronta melepaskan diri. Hana ingin segera pergi menuju mushola. Lalu Hana ingin menemui bu Minah di kantin. Jika terlalu lama berdebat dengan Rafa. Nanti keburu Fathan terbangun.
"Aku pergi dulu, titip Fathan jangan diganggu tidurnya. Dia baru saja tidur setelah imunisasi!" ujar Hana ketus, Rafa mengangguk pelan. Rafa kembali menuju kursinya, sembari mengawasi Fathan putra tampannya. Sedangkan Hana bergegas menuju mushola.
Setelah dari mushola Hana menemui bu Minah. Hana merindukan bu Minah, semenjak menikah dengan Rafa. Dia belum pernah bertemu dengan bu Minah. Saat tiba di kantin, kedua bola mata Hana membulat sempurna. Bukan bu Minah yang dia temui, tapi Rama Tri Wijaya. Laki-laki yang pernah mengkhitbahnya.
Hana melihat Rama sedang duduk berdua dengan laki-laki paruh baya. Entah siapa laki-laki itu Hana tidak pernah mengenalnya? Jika dia ayah Rama, Hana pasti mengenalinya. Hana berjalan menuju dapur kantin. Kedatangannya hanya ingin bertemu dengan bu Minah. Sayanganya bu Minah sedang keluar belanja. Hanya ada karyawannya.
Hana memutuskan kembali ke ruangan Rafa. Hana juga takut Fathan bangun dan mencarinya. Apalagi bayi seusianya sangat mudah lapar. Hana berjalan keluar dari kantin sembari menunduk. Sengaja Hana tidak menyapa Rama. Sebab status mereka sudah berbeda, Hana tidak ingin terjadi fitnah.
"Hana, bisa kita bicara!" sapa Rama mengagetkan Hana. Sontak saja Hana mendongak, dia melihat Rama berdiri tak jauh darinya. Rama terlihat tegang, raut wajahnya menunjukkan kecemasan, seperti sedang ada masalah.
__ADS_1
"Silahkan, tapi maaf kak Rama aku tidak bisa lama. Fathan sedang tidur di ruangan kak Rafa. Takutnya dia terbangun mencariku!" ujar Hana lirih, Rama mengangguk lemah. Dengan berjalan pelan, Hana mengikuti langkah Rama. Ternyata Rama ingin bicara dengan Hana bersama laki-laki di depannya.
"Silahkan duduk Hana!" ujar Rama, Hana mendongak sembari mengangguk. Tatapan Hana bertemu dengan tatapan laki-laki paruh baya di depannya. Tubuh Hana bergetar hebat, lagi dan lagi masa lalunya mencuat. Hana mengingat jelas sosok yang sedang berada di depannya. Hana melangkah mundur, tidak mungkin dia duduk bersama laki-laki di depannya. Hana sudah melupakan semua masa lalunya. Namun duduk bersama, Hana masih belum sanggup.
"Hana, aku mohon duduklah. Aku benar-benar ingin bicara denganmu. Dia ayah mertuaku, ayah dari dokter Naufal dan Cintya istriku. Aku tidak tahu ada masa lalu apa diantara kalian? Aku butuh bantuanmu, aku mohon demi pertemanan kita!" ujar Rama memohon sembari menangkupkan kedua tangannya. Hana ragu untuk duduk, tapi demi hubungan baik yang pernah terjalin antara dirinya dan Rama. Hana menyetujui untuk duduk bersama.
"Terima kasih Hana!" ujar Rama lirih, Hana mengangguk pelan. Rama meminta pada Ilham untuk memulai bicara pada Hana. Sebab secara pribadi Rama tidak pernah tahu masalah yang terjadi. Sampai semua berurusan dengan Rafa, apalagi ada sangkut pautnya dengan Hana.
"Hana, mungkin kamu masih mengingat om Ilham. Aku ayah dari Naufal, orang yang pernah menghinamu. Hari ini tanpa sengaja kita bertemu. Aku ingin meminta bantuanmu! Bujuk tuan Rafa agar bersedia membantu kami!" ujar Ilham lirih, Hana menoleh pada Rama. Seketika Rama mengangkat kedua bahunya. Isyarat dia tidak mengetahui apapun?
"Tunggu, anda mungkin salah alamat jika mengatakan ini pada saya. Sebab saya tidak tahu-menahu soal bisnis. Apalagi yang berhubungan dengan keluarga anda. Apa yang sebenarnya terjadi? Sehingga anda butuh bantuan saya. Katakan dengan jelas, agar saya bisa mengerti permasalahannya!" ujar Hana, Ilham menunduk malu. Tidak pernah dia menyangka hari ini menunduk di depan Hana. Gadis yang pernah dia hina habis-habisan. Gadis yang kehilangan orang tuanya, tepat setelah menerima hinaan darinya.
Bukan Hana tidak ingin membantu, tapi sejak awal Hana tidak pernah ikut campur urusan perusahaan Prawira. Hana tidak pernah berpikir meminta sesuatu pada Rafa. Hana hanya ingin menjadi istri yang baik, tanpa banyak menuntut.
"Hana, bisakah kamu mengatakan pada Rafa tentang semua ini. Setidaknya pikirkan nasib para buruh, sungguh mereka tidak bersalah atas kesombongan ibu mertuaku!" ujar Rama, Hana mengangguk dengan ragu. Dia akan mengatakan pada Rafa. Namun sepenuhnya keputusan ada ditangan Rafa.
"Maaf sebelumnya, saya akan mencoba mengatakan pada kak Rafa. Namun keputusan sepenuhnya ada ditangannya. Saya tidak ingin ikut campur!" ujar Hana, sembari menangkupkan tangan meminta maaf. Saat Hana berdiri pamit, Ilham memanggilnya kembali.
__ADS_1
"Hana, mungkinkah ada kata maaf untuk kami. Setelah perlakuan kami padamu dulu. Bersediakah kamu melupakan semua kenangan buruk itu!" ujar Ilham, Hana menoleh. Menatap wajah Ilham Wirawan, wajah yang bertahun-tahun lalu telah menghinanya.
"Jika anda mampu menghilangkan noda di atas kain putih. Maka aku pastikan kenangan itu akan terlupakan. Sayangnya noda tetap akan menjadi noda, meski kita berusaha membersihkannya. Aku tidak ingin membenci keluarga Wirawan, sebab keluarga yang menghinaku. Keluarga itu pula yang menolong orang tuaku. Sudah saatnya anda menyadari, harta tak selamanya kita miliki. Jika anda menyadari hari ini akan datang. Hari dimana anda menangkupkan tangan meminta bantuanku! Menghiba meminta pertolongan dari orang yang sangat hina ini. Tentu saat itu anda tidak akan menghina keluargaku sampai tak bernilai. Air mata orang tuaku menetes, membasahi kaki kalian. Namun apa nyonya Wirawan mengampuni orang tuaku? Sudah saatnya anda mendidik istri anda. Jangan terlalu merendahkan orang lain, takutnya kelak dia orang pertama yang menopang tubuh kalian di saat terpuruk!" tutur Hana lirih, dia meninggalkan Ilham yang termangu mendengar perkataan Hana. Rama mulai memahami keterkaitan Hana dengan keluarga istrinya.
"Sayang, Fathan menangis. Aku sudah membujuknya tapi sepertinya dia haus!" ujar Rafa, Hana mengangguk. Hana mengambil Fathan dari gendongan Rafa.
Rafa sengaja menyusul Hana. Sebab Fathan menangis karena kehausan. Rafa menggendong Fathan dengan sangat hati-hati. Selama berjalan menuju kantin. Hampir seluruh pegawai Rafa mendekat padanya. Pertama kalinya mereka melihat, Rafa menggendong Fathan penuh kasig sayang. Bahkan saat mereka mendekat ingin melihat Fathan, Rafa membiarkannya tanpa ingin memarahinya. Para pegawai Rafa takjub melihat ketampanan Fathan yang jelas menurun dari Rafa.
"Kak Rafa, maaf aku lama. Sebenarnya aku ingin langsung kembali!"
"Tapi kamu bertemu Rama dan Ilham. Apa yang mereka katakan?" ujar Rafa kesal dan emosi.
"Kak Rafa tampan, bisa tidak kalau bicara tidak pakai emosi. Lebih baik aku pulang, bila melihatmu marah!"
"Sayang, aku marah pada mereka bukan padamu. Baik aku akan tenang, sekarang Hana istriku yang cantik. Apa yang mereka katakan?" ujar Rafa mesra, dengan senyum semanis mungkin.
"Nanti aku katakan di rumah!" sahut Hana dingin.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊