
RAIHAN POV
Beberapa bulan yang lalu, di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota kelahiranku. Pertama kalinya aku melihatmu, wanita bercadar yang mengetuk pintu hatiku. Aku melihatmu berdiri di dalam salah satu toko terbesar di pusat perbelanjaan itu. Toka yang kebetulan milik keluarga besarku. Aku melihatmu berdiri bimbang diantara banyaknya gamis-gamis mewah dan mahal. Namun entah kenapa aku terpana melihat penampilan sederhanamu? Gamis yang kamu pakai, tak sebanding dengan gamis yang ada di toko ini.
Aku terus melihatmu bimbang memilih. Entah untuk siapa kamu memilih gamis? Jelas sekali kebinguanganmu bukan karena harga. Namun karena model yang terlalu banyak dan takut tak sesuai dengan sang penerima hadiah. Dengan langkah tegas aku menghampirimu. Kupilih satu gamis yang menurutku sederhana, tapi sangat elegant bila dipakai oleh orang tua. Jujur aku bahagia, ketika aku melihat kamu membeli gamis yang aku pilihkan.
Kedua mataku enggan meninggalkan sosok indahmu. Kuikuti kemana langkah kecilmu, ada rasa aneh dalam hatiku. Pertama kalinya aku begitu tertarik dengan seorang wanita. Bukan karena harta, bukan karena wajah, bukan juga karena status sosial dan pendidikannya. Sempat aku bertanya dalam hati. Apa yang ada dalam dirimu? Sehingga aku begitu tertarik padamu. Apa yang aku lihat dalam sosokmu? Sampai kedua mataku tak bisa berpaling dari langkah kecilmu.
Lama aku mengikuti langkah kakimu. Kini langkah kakiku yang seolah ingin menyapamu. Kuhampiri dirimu dengan langkah beraniku. Kutawarkan sebotol air mineral, berharap akan kudapatkan tangan pertemanan darimu. Namun kenyataan tak semudah yang kuharapkan. Dengan lugas dan tegas kamu menolak pertemanan dariku. Kudengar jelas ada laki-laki lain yang berhak atas dirimu. Kumelangkah mundur, hatiku koyak tak tersisa. Penolakan yang membuka mata dan hatiku. Kenyataan dirimu tak lagi bisa kukenal.
Aku diam menatap langkah kecilmu yang menjauh. Membawa suara merdu yang sekejap meneduhkan hatiku. Aku melihat punggungmu menjauh. Membawa harapan akan asaku yang telah kandas. Langkah kakimu yang mulai tak terlihat. Menyadarkan diriku tak ada jalan kita bersatu. Aku kembali menjadi seorang Achmad Raihan Maulana yang tak akan takluk oleh cinta.
Entah jodoh atau memang sudah tertulis? Kita bertemu keesokan harinya. Pertemuan kedua yang membuatku tak mampu berpaling darimu. Meski aku tahu, ada wanita lain yang menanti kepastian dariku. Wanita yang kuanggap tak pantas menjadi pendampingku. Wanita yang kupandang sebelah mata hanya karena status sosial yang berbeda diantara kami. Wanita yang semakin kusisihkan ketika aku bertemu denganmu. Namun wanita itu juga yang kini membuatku hancur.
__ADS_1
Aku melihat betapa ringan tangan yang kamu miliki. Tak ada rasa jijik atau takut melihat darah yang berceceran. Aku tak melihat pamrih dari wajahmu ketika menolong orang lain. Lagi dan lagi kakiku enggan menjauh darimu. Terus kuikuti langkah kakimu memasuki sebuah rumah sakit. Penampilanmu tak lagi sempurna. Hijab putihmu tak lagi putih. Noda darah memberi warna merah di hijabmu. Aku melihatmu semakin menawan dengan noda yang tak pernah membuatmu risih.
Lama aku mengikuti langkahmu, hingga aku sadari betapa lembut dan hangat dirimu. Begitu mudah kamu memberikan bantuan. Tanpa kamu berharap akan balasan yang kamu terima. Penampilanmu yang tak lagi sempurna. Membuatmu terlihat semakin cantik. Bukan kesempurnaan fisik yang aku lihat darimu. Kesempurnaan hati yang takkan pernah bisa aku lihat dari wanita lain.
Kamu bukan wanita pertama yang aku kenal. Kamu bukan wanita pertama yang membuatku jatuh cinta. Namun kuyakinkan dirimu, kamu wanita yang membuatku luluh dan takluk. Seandainya aku harus memilih, harta atau dirimu. Aku akan memilih hidup bersamamu. Dalam setiap tatapanmu ada aura yang menenangkan hatiku. Sebaliknya hartaku membuatku jauh dari kata tenang.
Rumah sakit itu, menjadi tempat pertemuan kedua kita. Sekaligus tempat aku mengenal siapa dirimu sebenarnya? Dirimu tak lain wanita yang kusisihkan dan tak kuanggap keberadaannya. Wanita yang kuhina hanya karena status sosial yang tak sama denganku. Wanita bodoh yang mencintaiku, tanpa bertanya siapa diriku?
Aku mengingat setiap amarahmu. Suaramu bagai sayatan pisau yang mengiris tipis nadiku. Kurasakan sakit yang teramat, kurasakan penyesalan terbesar dalam hidupku. Kurutuki kebodohanku yang menolakmu tanpa aku mengenal ketulusanmu. Seandainya waktu bisa aku putar. Ingin aku berlari memutarnya. Akan kuhapus pikiran burukku tentangmu. Wanita yang mencintaiku dan kuimpikan sebagai makmumku. Namun tersakiti oleh keangkuhanku. Perkataanmu yang penuh ketegasan dan kepastian. Penolakan akan perjodohan yang terucap, karena kesalahanku. Masih jelas aku rasakan. Tatapan sinismu serta suara lugasmu, membuatku menyadari. Kamu bukan wanita biasa.
Aku menyadari betapa bodoh dan hina diriku saat itu. Aku mengatakan cinta, tapi dari bibir yang sama aku hina dirimu. Namun jalan jodoh seakan ingjn kita bersama. Kemarahan dan kebodohanku seakan tak berarti. Dibandingkan keyakinan dan kepercayaanmu akan diriku. Meski kesalahlahaman itu nyata, tidak serta merta membuat kita terpisah. Kini setelah sekian lama bersama. Pantaskah kamu tidur begitu lama. Tidakkah kamu mengasihaniku, suamimu yang lemah tak berdaya. Tanpa senyum dan suaramu.
Bangunlah sayang, aku rapuh tanpa tulang rusukmu. Aku lemah tanpa sikap kerasmu. Aku hancur tak bersisa. Ketika aku menyadari, dirimu tak ada di sampingku. Bangunlah sayang, sudah cukup kamu menghukumku. Haruskah aku menangis darah, agar kamu percaya kesungguhan hatiku. Seandainya kamu ingin pergi. Bawalah aku bersamamu, agar aku tidak kesepian tanpamu dan buah hati kita.
__ADS_1
RAIHAN POV END
"Raihan!" sapa Faiq, sembari menepuk pundak Raihan pelan.
Faiq melihat Raihan tidur berbantalkan tangannya. Raihan menunduk hanya untuk menutupi air mata yang terus menetes. Tangan Raihan menggenggam erat tangan Vania. Seakan tak ingin terlepas dan jauh dari tubuh Vania. Tubuh yang sudah tertidur lebih dari dua hari lamanya. Tak ada senyum di wajah Vania. Hanya raut wajah pucat tanpa ekspresi yang terlihat.
Raihan mendongak melihat Faiq berdiri tepat di sampingnya. Faiq datang sebagai dokter yang menangani Vania adik kecilnya. Faiq tersenyum simpul ke arah Raihan. Memberikan semangat pada Raihan agar tidak tumbang dan hancur.
"Kak Faiq, semarah itukah adikmu padaku! Sampai dia tidak ingin melihat wajahku lagi. Lihatlah dia tertidur dengan pulas, seakan dia tidak ingin terbangun. Dia ingin melupakanku, dia pergi membawa buah cinta kami!" ujar Raihan, lalu menunduk kembali.
Raihan menangis dan menangis, hanya itu yang mampu dia lakukan. Melihat tubuh Vania yang mendingin. Membuatnya frustasi dan tak lagi bisa mengendalikan hidupnya. Raihan hancur tak bersisa. Vania menjauh dan terus menjauh dengan caranya.
"Raihan, Vania memang tertidur pulas. Obat yang aku berikan membuatnya tenang. Dia harus melupakan sejenak masalah yang dipikirkannya. Setelah semua stabil, Vania kecil kita akan kembali dengan keceriaannya!" ujar Faiq, Raihan menggeleng lemah.
__ADS_1
Air mata Raihan seolah tak pernah habis. Dia terus menangis dan menangis melihat kondisi Vania yang terus melemah. Faiq melihat cinta Raihan yang begitu besar pada Vania. Tak ada lagi kata yang mampu membuat Raihan kuat. Selain terus membiarkannya menangis, agar mengurangi rasa syok melihat kondisi Vania.
"Vania bukan wanita lembek, dia kuat tak terkalahkan. Biarkan sekarang Vania tidur, akan banyak waktu untukmu dengan Vania nanti. Jangan menyerah, percayalah semua baik-baik saja!" ujar Faiq lirih.