KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Langitku


__ADS_3

Pertemuannya dengan Ilham Fadli Wirawan membuat hati Hana gelisah. Bertahun-tahun kehidupan Hana damai. Namun semenjak menikah dengan Rafa. Ada saja masalah yang menderanya. Satu per satu masa lalunya mencuat. Kemunculan Naufal laki-laki dari masa lalunya. Bahkan kini Hana harus berurusa dengan keluarga besar Wirawan.


Kebahagian Hana seolah harus terusik dengan kehadiran orang-orang dari masa lalunya. Cinta Rafa yang begitu besar, menjadikan Hana wanita paling beruntung. Kelahiran baby Fathan menambah lengkapnya kehidupan Hana. Kebahagian seorang wanita yang sempurana. Menjadi seorang ibu dari anak yang tampan dan lucu.


Sesungguhnya semua sudah tertulis dengan sebaik-baiknya jalan hidup. Begitupun kehidupan bahagia Hana yang harus terusik oleh masa lalunya. Hakikatnya saat kita mampu tersenyum, kelak kita pasti akan menangis. Semua sudah tertulis dan Hana memahami itu semua dengan sangat baik.


Sengaja Hana berdiri di balkon kamarnya. Hana masih ragu mengatakan permintaan Ilham pada Rafa. Bukan demi dendam atau kebencian. Hana ragu mengatakan pada Rafa, sebab dia tidak ingin ikut campur keputusan Rafa. Hana selalu percaya jika keputusan Rafa bukan hanya karena masalah pribadi. Mungkin juga ada masalah lain.


Lama Hana termenung menatap langit malam ini. Bintang-bintang bertaburan, bulan terlihat bersinar terang. Langi malam yang begitu indah dan cerah. Hana mematung menatap keindahan alam yang tersimpan dalam gelap dan sunyinya malam. Hana selalu berdiri menatap langit, saat hatinya gelisah dan sepi. Sekadar ingin menenangkan hati, melupakan kegelisahan dan mengusir rasa sepi.


Baby Fathan sudar tidur sejak tadi. Rafa belum pulang, sebab dia harus keluar kota menemui beberapa rekan kerjanya. Dia sudah menghubungi Hana, agar Hana tidak cemas dan istirahat lebih dulu tanpa menunggunya. Namun Hana masih terjaga di malam selarut ini. Hana tidak bisa memejamkan kedua mata indahnya. Kebimbangan Hana akan permintaan Ilham membuatnya susah tertidur.


"Sayang, udara malam tidak baik untukmu!" ujar Rafa, sembari memakaikan jaket pada tubuh Hana. Rafa memeluk erat tubuh Hana, dia mencium lembut rambut Hana yang tertutup hijab. Hana menyadarkan tubuhnya pada dada bidang Rafa. Sikap manis Hana menelisik hati Rafa, tidak pernah Hana menyadarkan tubuhnya. Seakan ingin meminta perlindungan, biasanya Hana akan menolak pelukan Rafa.


"Sayang, kamu sedang memikirkan apa? Katakan padaku, jangan kamu simpan sendiri! Kamu harus ingat, jika terjadi sesuatu padamu. Bukan hanya dirimu yang akan sakit, aku dan Fathan akan sakit juga. Katakan yang sejujurnya!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah dalam pelukan Rafa. Hana memeluk tubuh Rafa, dia membenamkan kepalanya kedalam dada bidang Rafa.

__ADS_1


Hana merasakan dekapan hangat Rafa. Hana bimbanh akan mengatakannya pada Rafa. Lama Hana berada dalam dekapan Rafa. Sedangkan Rafa semakin cemas melihat sikap Hana. Jauh lebih baik melihat Hana mengacuhkannya, daripada dia melihat Hana rapuh. Sebab Hana akan sangat sulit mengatakan isi hatinya pada Rafa.


"Kak Rafa, boleh aku bertanya tentang alasan dibalik pembatalan kontrak dengan perusahaan milik tuan Wirawan! Sejauh aku mengenalmu, tidak akan semudah mengambil keputusan. Apalagi hanya karena masalah pribadi antara diriku dan keluarga mereka! Maaf jika aku lancang, bukan maksudku ingin tahu tentang pekerjaanmu!" ujar Hana lirih, Rafa mengusap lembut kepala Hana. Rafa mengerti alasan kegelisahan Hana. Pertemuannya dengan Ilham Wirawan menjadi beban. Sebagai seorang manusia biasa, Hana ingin membantu Ilham. Namun sebagai seorang istri, Hana tidak ingin ikut campur urusan Rafa.


"Sayang, kamu gelisah hanya karena masalah ini. Aku sangat cemas melihatmu gelisah. Jika hanya masalah Wirawan, kamu tidak perlu takut menanyakannya padaku. Seandainya kamu ingin mengetahui semua pekerjaanku. Aku tidak akan pernah keberatan. Apapun yang kulakukan, tidak akan ada yang aku tutupi darimu. Jangan pernah gelisah hanya karena masalah sekecil ini!" ujar Rafa, Hana mendongak menatap wajah. Dengan seutas senyum, Hana menatap wajah tampan Rafa.


CUP


"Jangan menatapku semanis itu, aku bisa khilaf melihatmu. Sekarang katakan padaku, apa kamu ingin mendengar alasan sebenarnya? Aku membatalkan kontrak dengan Wirawan group!" ujar Rafa sesaat setelah mengecup lembut bibir tipis Hana. Seketika Hana mengangguk dengan seutas senyum. Hana ingin mendengar alasan sebenarnya, karena dirinya atau memang ada alasan secara profesional.


"Kak Rafa, aku tidak ingin mempengaruhimu untuk mengubah keputusanmu. Kamu imamku, tidak ada hakku untuk mengajarimu. Aku hanya akan menerima pemberianmu, tanpa berpikir ingin meminta apapun. Apalagi kak Rafa lebih mengetahui yang terbaik untuk perusahaan kak Rafa!" ujar Hana sembari melepaskan pelukan Rafa. Hana berjalan mendekat pada pagar balkon. Rafa mematung melihat Hana yang sedang menatap langit malam. Seakan Hana ingin menelan bulan. Rafa melihat ketenangan dalam kedua mata indah Hana.


"Sayang, jika memang kamu tidak pernah ingin membuatku merubah keputusanku. Kenapa kamu begitu gelisah? Aku berpikir kamu kasihan pada mereka. Kamu terlihat sangat cemas!" ujar Rafa lirih, dia berdiri disamping Hana. Rafa ikut menatap langit seperti yang dilakukan Hana. Rafa tidak pernah menatap langit seperti ini.


"Kak Rafa, lihatlah langit malam ini. Penuh dengan bintang dan bulan bersinar terang. Keindahan malam yang takkan mampu kita lukiskan hanya dengan kata-kata. Gelapnya malam tertutupi oleh sinar bintang dan bulan. Sebaliknya sinar bintang dan bulan terlihat terang karena gelapnya malam. Luasnya langit mampu menampung bintang-bintang kecil dan bulan yang besar. Langit takkan mengeluh meski banyak bintang yang bersinar, demi mementingkan satu bulan. Aku ingin melihat Rafaku, layaknya langit yang mampu menampung pekerja-pekerja kecil, tanpa berpikir pegawai besar lebih penting. Aku tahu dalam bisnis ada untung dan rugi, tapi jika kita yang mampu mengabaikan yang kecil. Masih pantaskah kita dianggap pengusaha yang besar. Kak Rafa, kehancuran perusahaan Wirawan. Akan berimbas pada para buruh dan pegawai yang mengabdi pada mereka. Aku percaya, Rafa Akbar Prawira tidak pernah takut rugi. Gelapnya hatimu akan terang, kala kamu mampu menampung jutaan bintang kecil bersinar. Jangan jadikan masa laluku, menjadi alasan para buruh kehilangan pekerjaannya. Bijaklah kak, aku ingin Rafa suamiku menjadi langit yang mampu melindungi keluarga kecilku dan bintang-bintang kecil. Agar indahnya malam tetap terlihat dengan sinar bintang!"

__ADS_1


"Sayang, secara tidak langsung kamu memintaku membantu mereka!" ujar Rafa, Hana menggeleng lemah.


"Aku ingin para buruh tetap bekerja, jika memang kak Rafa tidak percaya akan kemampuan perusahaan itu. Ambil alih perusahaan itu. Jadikan itu milikmu, dengan keluarga Wirawan sebagai pegawaimu. Setidaknya kak Rafa akan menjadi langit untuk bintang-bintang kecil, tanpa acuh pada bulan yang mulai redup!"


"Sayang, kamu yakin mampu melihat Naufal ada dibawah kendaliku!"


"Aku tidak ada sangkut pautnya dengan urusan ini. Jika memang kak Rafa tidak bersedia. Jangan dilakukan, aku mengatakannya hanya demi para buruh!" ujar Hana kesal, sembari berjalan masuk meninggalkan Hana. Rafa berlari mengejar Hana, dia menggendong Hana lalu meletakkannya pelan di samping Fathan.


CUP


"Jangankan mengambil alih, membelinya sekarang sepenuhnya aku bisa. cukup dengan satu katamu, aku mencintaimu sayang!" ujar Rafa sesaat setelah mengecup kening Hana.


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2