
Vania duduk di tengah-tengah sebuah taman. Hawa dingin menusuk tulangnya. Gamis dan hijab panjangnya. Seolah tak mampu menghalang dinginnya hawa dingin di pagi hari. Suasana pagi yang masih sepi dan sunyi. Membuat hati dan pikiran Vania menjadi tenang. Semalaman Vania tidak bisa menutup matanya. Meski Vania mencoba untuk tidur, tapi kedua mata indahnya seakan enggan terpejam. Pertemuan tak terduga dirinya dengan Raihan yang tak lain calon suaminya. Membuat dirinya shock, Vania merasa pesimis akan hubungannya dengan Raihan. Dia tidak lagi berpikir Raihan berhak atas dirinya. Pendapat Raihan tentang dirinya, membuat Vania merasa tak pantas bila bersanding dengan Raihan.
Setelah sholat subuh Vania keluar dari kamarnya. Vania berjalan keluar dari rumah megah dan mewah milik keluarga Raihan. Dia berjalan menuju taman yang terletak di depan rumah Raihan. Vania duduk di ayunan kayu yanga ada di tengah taman. Saat Vania keluar dari rumah. Suasana rumah masih sangat sepi. Tidak ada satupun orang yang mengetahui, kalau Vania keluar dari rumah. Vania duduk di atas ayunan sembari membawa buku. Entah kenapa sedikitpun Vania tidak merasa mengantuk? Kedua matanya tak ingin terpejam meski sebentar. Belum lagi Vania merasa asing di rumah besar dan megah ini.
Vania menerawang jauh mengingat pertemuan diantara dirinya dan Raihan. Dalam benak dan hati Vania, dia telah memutuskan untuk membatalkan perjodohan ini. Namun tidak ada semudah itu membatalkan perjodohan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun. Banyak hati yang akan kecewa. Apalagi Raihan meminta waktu pada Vania, untuk saling mengenal. Vania bimbang akan mengakhiri atau meneruskan perjodohan ini.
FLASH BACK
"Terima kasih, aku akan berangkat sendiri. Aku sudah memesan taxi. Setelah membayar makananku. Aku akan keluar menunggu taxi pesananku!" ujar Vania ramah, Steven mengangguk pasrah. Dia tidak akan bisa memaksa Vania. Selama dia mengenal Vania, tidak akan pernah mudah membuat pikiran Vania berubah.
"Steven, biarkan Raihan yang mengantar Vania. Itu sudah menjadi tanggungjawabnya!" ujar wanita paruh baya. Dia berdiri tepat di belakang Vania. Raihan merasa mengenal suara yang menyapa Steven. Sontak dia berdiri mendekat, dia menghampiri wanita itu.
"Bunda!" sapa Raihan dan Vania bersama. Wanita paruh baya itu tersenyum simpul. Wanita yang tak lain bunda dari Raihan. Sekaligus calon mertua dari Vania. Sontak Raihan dan Vania saling menoleh. Keduanya merasa heran melihat bunda Raihan ada di rumah sakit. Steven terperangah mendengar Vania memanggil tantenya dengan panggilan mama.
__ADS_1
"Bunda kenal dengan Vania? Kenapa dia bisa memanggilmu dengan sebutan bunda? Apa dia wanita yang akan dijodohkan denganku?" cecar Raihan pada sang bunda, dengan anggukan kecil Salwa menjawab pertanyaan Raihan. Vania mundur beberapa langkah. Ada rasa tidak percaya dalam benak Vania. Dia tidak pernah berharap. Raihan orang yang kelak menjadi imamnya. Laki-laki yang dengan lantang menolak perjodohan diantara mereka. Penolakan sebelum pertemuan yang diiringi sebuah penghinaan akan status.
Bukan hanya Vania yang terkejut. Steven dan Raihan seolah tak percaya. Bahwa wanita yang mengusik hati mereka. Tak lain Vania yang akan menjadi makmum seorang Achmad Raihan Maulana. Dengan langkah gontai Steven mundur beberapa langkah. Memang Vania telah menolaknya demi laki-laki yang telah mengkhitbahnya. Namun melihat Vania bersama Raihan sahabatnya sendiri. Steven merasa tidak akan pernah sanggup.
Raihan menjadi orang yang paling kacau saat ini. Dia tidak menjadi orang paling bodoh. Dia menghina wanita yang akan menjadi calon istrinya. Sedangkan wanita itu tak lain Vania Aulia Azzahra. Wanita yang membuatnya jatuh hati dan tak ingin berpaling dari Vania. Tiga hati yang dilema akan situasi yang tidak baik. Lama ketiganya terdiam, tanpa satu suara.
"Vania sayang, dia Raihan putra bunda. Calon suami kamu. Selama seminggu kamu ingin bertemu dengannya. Namun tangan jodoh seolah ingin mempertemukan kalian dengan caranya. Tanpa janji bertemu, kalian sudah bertemu. Bahkan kalian terlihat sangat akrab satu sama lain!" ujar Salwa lirih. Raihan dan Vania terdiam seketika. Keduanya seakan tak setuju dengan pendapat Salwa. Kesalahpahaman yang baru saja terjadi diantara Raihan dan Vania tak mungkin terlupakan dengan mudah. Steven satu-satunya orang yang terpuruk akan kenyataan yang ada. Semua terasa menyakitkan dan tak lagi mampu berdiri diantara mereka.
Vania menguatkan hatinya menghadapi semua yang terjadi. Dengan sisa kesadaran diri dan pikiran tenang. Vania mendekat pada Salwa. Vania mengangkat pelan wajahnya. Dia sempat melirik ke arah Raihan. Sekilas Vania melihat Raihan yang menunduk lesu. Seakan terkejut dengan fakta yang ada. Vania menangkupkan kedua tangannya tepat di depan dadanya. Sontak Raihan menghela napas panjang. Dia sudah menyadari akan kesalahannya dan resiko yang akan Raihan terima.
"Kita memang tidak pantas berjodoh. Saat aku menghindar darimu. Ternyata dirimu wanita yang aku impikan. Aku menjauh dari calon istriku, demi dia yang ternyata dirimu sendiri. Apakah ini sebuah pertanda aku tak pantas untuk dirimu? Seolah tak ada jalan kita bersma. Seandainya aku bisa memutar waktu. Ingin aku berlari mengatakan iya akan perjodohan kita. Namun semua seakan terlambat, tatkala amarah dan rasa kecewamu akan diriku terkuak. Aku sudah tak lagi bisa berharap akan hubungan diantara kita. Aku memang bodoh!" batin Raihan penuh penyesalan. Sesaat setelah dia melihat tangan Vania tertangkup. Seolah sebuah isyarat Vania ingin mengakhiri perjodohan diantara dirinya dan Vania.
"Bunda, maafkan Vania. Sebaiknya perjodohan diantara kami tidak dilanjutkan lagi. Vania merasa putra bunda sudah memiliki tambatan hati. Dia layak bersanding dengan wanita yang dicintainya. Vania hanya gadis kampung yang akan membuatnya malu. Vania tidak ingin menikah dengan seseorang yang jelas-jelas menolak perjodohan ini. Sebaiknya Vania pergi sekarang. Vania harus segera berangkat menuju bandara. Sebentar lagi jadwal penerbangannya!" ujar Vania lirih dan ramah. Salwa dan Raihan terkejut dengan perkataan Vania. Setelah mengatakan semua isi hatinya. Vania berjalan mendekat pada Salwa yang mematung. Dia mencium punggung tangan Salwa yang masih terkejut. Lalu berjalan menjauh sembari menarik koper kecilnya.
__ADS_1
"Tunggu Vania, tidak bisakah kamu tetap tinggal. Berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Setidaknya demi harapan kedua orang tua kita!" ujar Raihan tegas. Vania terdiam mematung tanpa bisa mengatakan apapun?
FLASH BACK OFF
Saat Vania duduk sendiri di tengah taman. Sendirian tanpa ada yang menemani. Hanya ditemani suara kicauan burung pagi dan dingin embun pagi. Suasana tenang yang didambakan Vania. Tepat dilantai dua rumah megah ini. Raihan menatap sendu Vania yang duduk sendirian. Bukan hanya Vania yang tidak bisa tertidur. Kedua mata Raihan juga tidak bisa terpejam. Dia gelisah memikirkan akhir hubungan yang dia hancurkan sendiri.
"Vania, maaf atas kekhilafanku. Aku tidak pernah berpikir ingin menghinamu. Jika aku boleh jujur, sebenarnya aku menghindar dari perjodohan diantara kita itu karena dirimu. Aku tertarika padamu sejak pertama kali bertemu. Aku tidak pernah merasakan cinta. Wanita yang membuatku tertarik hanya dirimu. Keimanan yang kamu miliki. Menggetarkan hatiku yang hampa. Aku berharap dirimu wanita yang kelak menjadi pendampingku!" tutur Raihan lirih, Vania mendongak menatap Raihan yang berdiri tepat di sampingnya.
"Seandainya itu yang kamu katakan pertama kali. Mungkin aku akan menjadi wanita yang paling beruntung. Sebab sejak aku mengetahui rencana perjodohan diantara kita. Sejak itu hatiku telah memilihmu, tanpa aku bertanya seperti apa dirimu? Aku siapkan sepenuhnya diriku untukmu. Kukorbankan masa mudaku demi pantas menjadi pendampingmu. Kutolak dan kuacuhkan cinta yang ditawarkan padaku. Hanya demi menjaga kesucian hati dan jiwaku. Agar kelak dirimu orang pertama yang menempati hatiku. Namun semua hancur tak bersisa. Saat diriku percaya dan yakin padamu. Kamu malah meragukan diriku dan menghina status yang ada dalam diriku. Aku tidak pernah menyesal menjaga semuanya demi dirimu. Namun berpikir menjadi pendampingmu. Sungguh aku tidak akan pernah sanggup. Aku terlalu takut membuatmu malu. Kita berasal dari status sosial yang berbeda!" sahut Vania panjang lebar, Vania meninggalkan Raihan yang penuh dengan penyesalan. Raihan menunduk tanpa berani mengangkat kepalanya. Raihan tak lagi mampu berharap akan hubungannya dengan Vania.
"Maaf!" ujar Raihan sembari berlutut. Vania menoleh ke arah Raihan. Dia melihat Raihan yang berlutut memohon ampun padanya.
"Berlututlah pada Allah SWT, memohonlah pada-NYA jangan padaku. Aku hanya wanita biasa tanpa martabat. Jika DIA masih menjodohkan kita, artinya kamu memang imam dunia akhiratku. Berdirilah, jangan buat dirimu terhina. Seorang pengusaha sukses tidak pantas menghiba. Satu hal lagi, aku akan kembali pagi ini. Antarkan aku ke bandara, jika itu tidak mengganggumu. Aku tidak ingin bunda Salwa semakin kecewa dengan hubungan diantara kita. Aku berada disini hanya demi beliau!" ujar Vania tegas.
__ADS_1