
"Assalammualaikum, kakak tampan dan cantik. Bagaimana malam pertama menjadi pengantin baru?" sapa Davina lantang. Fathan dan Annisa menoleh serempak. Davina tersenyum simpul melihat kekompakan Fathan dan Annisa. Davina terlihat ceria, tapi sesungguhnya hati dan pikirannya gelisah.
Sejak semalam Davina tidak bisa menghubungi Faiq. Meski Faiq sibuk dengan pekerjaannya. Dia akan membalas pesan dari Davina. Namun Faiq tidak menghubunginya sama sekali. Jangankan menelponnya, membaca dan membalas pesannya saja tidak. Faiq mengacuhkan setiap perhatian Davina. Kegelisahan yang dirasakan Davina membuatnya terjaga semalaman. Tanpa Faiq menyadari sikapnya membuat Davina khawatir. Sebab itu Davina sengaja datang lebih pagi. Agar dia bisa bertemu dengan Faiq.
Davina bekerja sebagai staf keuangan di rumah sakit. Sedangkan Faiq dokter spesialis di rumah sakit. Meski bekerja dalam satu tempat. Tidak mudah bagi Davina menemui Faiq. Sikap profesional Faiq menghalangi pertemuan diantara keduanya. Terkadang mereka bertemu sebelum jam kerja dimulai atau saat pulang kerja. Jika masih jam kerja, Faiq tidak akan menemui Davina. Dia akan marah bila Davina memaksa bertemu dengannya.
Sebenarnya Davina ingin datang ke rumah Faiq. Namun Davina merasa malu, seakan dirinya sangat membutuhkan Faiq. Sebab itu dia memutuskan datang lebih awal. Akhirnya dia bertemu Fathan dan Annisa yang kebetulan baru datang. Davina ingin menanyakan kabar Faiq. Dia benar-benar tidak tenang. Rasa gelisah membuat paginya suram. Davina tidak ingin sarapan. Sekadar ingin memakan sepotong roti. Sungguh Faiq membuat hidupnya rumit.
"Waalaikumsalam!" sahut Fathan dan Annisa bersamaan. Davina mendekat pada Fathan. Dia ingin bersandar pada tubuh Fathan. Namun Fathan menghindar, sehingga Davina terhuyung kesamping. Dengan sigap Annisa menahan tubuh Davina yang cemberut.
"Maaf, tapi kamu tidak bisa lagi bersandar padaku. Aku sudah menjadi milik orang lain. Seharusnya kamu bersandar pada Faiq. Pundakku hanya untuk Annisa. Jadi tidak ada lagi tempat untukmu bersandar!" ujar Fathan, Davina mengangguk seraya terenyum. Annisa tersenyum dibalik cadarnya. Dia merasa bahagia mendengar Fathan menjaga perasaannya. Fathan menempatkan dirinya diatas segalanya. Davina menghampiri Annisa , lalu memeluk Annisa sangat erat. Annisa membalas pelukan Davina. Dia sudah menganggap Davina sebagai adiknya.
"Aku tahu sekarang kak Fathan sudah menikah. Hanya kak Annisa yang berhak memelukmu. Sekarang meski aku tidak bisa memelukmu. Aku masih bisa memeluk kak Annisa. Jadi aku kehilangan kak Fathan, tapi aku mendapatkan kak Annisa!" ujar Davina riang. Davina selalu merasa kesepian. Sebagai anak tunggal, dia seakan merasa sendiri. Sifatnya yang periang membuatnya mudah bergaul. Terutama dengan Fathan yang memiliki karakter yang hampir sama. Sedangkan dengan Annisa, Davina merasa telah menemukan saudara perempuan yang bisa dia jadikan tempat berkeluh kesah.
"Jam kerja masih satu jam lagi. Kenapa kamu sudah datang? Ada rapat atau urusan penting lainnya. Jangan-jangan kamu sudah ada janji dengan Faiq di rumah sakit!" cecar Annisa dengan tersenyum, Davina menggeleng lemah seraya menunduk. Davina merangkul tangan Annisa. Menyandarkan kepalanya pada bahu Annisa. Fathan melihat raut wajah Davina berubah sedih. Dia merasa ada yang sedang disembuyikan Davina.
"Sayang, sepertinya ada yang sedang perang dingin. Lihat saja kedua matanya, terlihat merah dan lelah. Mungkin dia tidak tidur semalaman. Pantas dia ingin bersandar padaku. Davina baru ingat padaku, setelah Faiq tidak ada!" ujar Fathan pada Annisa. Dia ingin menggoda Davina. Berharap Davina mengatakan permasalahannya. Namun malam sebaliknya, Davina tetap diam membisu. Annisa menggenggam tangan Davina. Memberikan semangat pada Davina agar tetap tersenyum.
__ADS_1
"Sudahlah, lebih baik kakak berangkat ke kantor. Aku akan menemani Davina. Mungkin dia sedang merindukan Faiq. Aku akan mengantarnya bertemu dengan Faiq. Lagipula aku ada janji dengan dokter Faiq!" tutur Annisa lirih, Davina menggeleng. Dia tidak ingin bertemu Faiq jika dibantu oleh Annisa. Meski sebenarnya dalam hati Davina ingin sekali bertemu dengan Faiq. Fathan tersenyum simpul, dia sudah menduga jika Davina sedang ada masalah dengan Faiq.
"Sayang, sepertinya Davina ingin bertemu dengan Faiq berdua saja. Biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Mereka sudah besar, jangan terlalu ikut campur. Lihat di belakang kalian. Orang yang kalian bicarakan sedang berjalan kemari. Dia terlihat semakin tampan dengan jas putihnya. Apalagi ada wanita cantik yang bersamanya!" tutur Fathan, Davina melepas pelukannya. Dia menoleh ke arah yang dikatakan Fathan. Annisa juga menoleh, mereka berdua melihat Faiq berjalan dengan seorang wanita.
Seketika Davina menunduk, dia memegang dadanya yang terasa sesak. Entah rasa cemburu sesaat yang tiba-tiba muncul. Atau ini sebuah firasat awal masuknya cinta lain dalam hati Faiq. Annisa dan Fathan melihat gelagat berbeda dari Davina. Gelagat aneh semakin terlihat saat Faiq tepat berdiri di depan Annisa dan Fathan.
"Sejak semalam Faiq berada di rumah sakit. Ada pasien gawat darurat, sehingga dia harus menginap di rumah sakit. Wanita itu putri pasien yang sedang dirawat Faiq. Jangan berpikir macam-macam. Mereka berdua tidak memiliki hubungan lebih. Hanya dokter dan keluarga pasien!" bisik Annisa lirih, Davina mengangguk sangat pelan. Tak ada suara yang keluar dari bibir mungilnya. Suaranya seakan menghilang ditelan rasa sesak yang Davina rasakan.
"Dokter Annisa, akhirnya anda datang. Saya sejak tadi menunggu anda. Kondisi pasien sempat menurun semalam. Namun pagi ini sedikit membaik. Saya hanya butuh arahan anda, agar pasien mendapatkan penanganan yang lebih cepat!" tutur Faiq, Annisa mengangguk pelan. Faiq sempat melirik Davina yang terus menunduk. Namun Davina tetap diam tidak bergeming. Seolah dia tidak menganggap keberadaan Faiq. Fathan tersenyum simpul saat melihat Davina yang mulai cemburu.
"Sayang, aku berangkat ke kantor. Suasana disini mulai terasa panas. Aku tidak ingin ikut terbakar api cemburu. Aku bisa panas dingin, yang satu panas karena cemburu. Sedangkan yang lain bersikap dingin melebihi gunung es!" ujar Fathan pada Annisa, dengan ramah Annisa mengangguk. Dia menarik tangan Fathan, lu mencium punggung tangannya. Fathan berniat mencium Annisa. Namun dia urungkan, Annisa menggeleng lemah. Dia merasa malu bila dilihag oleh Faiq dan yang lain.
"Faiq, semoga sukses meyakinkan Davina. Jangan terlalu dingin sebagai seorang laki-laki. Davina juga ingin dimanja!" bisik Fathan pada Faiq. Dengan heran Faiq menoleh, dia seakan tidak mengerti maksud perkataan Fathan. Akhirnya Fathan meninggalkan Annisa.
"Pergilah!" sahut Faiq, Fathan terkekeh melihat Faiq yang kebingungan. Davina terus menunduk, dia merasa asing berada diantara mereka semua. Namun pergi secara tiba-tiba sangatlah tidak sopan. Davina mencoba menenangkan diri.
"Dokter Faiq, lebih baik kita bicarakan di ruanganku. Kita harus segera menentukan penanganan untuk pasien secepatnya. Agar resiko terburuk bisa kita hindari!" ujar Annisa lirih, Faiq mengangguk setuju. Zahra tersenyum seraya mengangguk pelan. Pasien yang sedang dirawat Faiq tidak lain ayah Zahra. Beliau mengalami kecelakaan, tapi fasilitas di desa tidak memadai. Sehingga beliau harus dilarikan ke rumah sakit besar. Kebetulan Zahra memiliki nomer ponsel Faiq. Dia menghubungi Faiq, meminta bantuannya untuk merawat ayahnya. Karena itulah sejak semalam, Faiq berada di rumah sakit.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, anda dan dokter Faiq telah bersedia merawat ayah saya. Bahkan dokter Faiq semalaman tidak tidur. Terima kasih sebanyak-banyaknya. Saya tidak tahu, apa yang akan terjadi bila kalian tidak ada?" ujar Zahra sembari menangkupkan kedua tangannya. Annisa mengangguk seraya tersenyum dibalik cadarnya.
"Tenang saja Zahra, aku akan membantumu sebisaku. Beruntung kamu menghubungiku tadi malam. Jadi aku bisa langsung datang merawat ayahmu!" ujar Faiq santai, Zahra mengangguk setuju. Davina melangkah mundur, hatinya terasa ngilu. Dia gelisah memikirkan Faiq yang tidak bisa dihubungi. Namun dengan santai Faiq mengatakan, jika dia merasa beruntung bisa membantu Zahra.
"*Demi dirinya kamu mengabaikan diriku. Pesan yang kukirim. Jangankan kamu membalasnya, membacanya saja kamu tidak akan sempat. Di rumah aku gelisah memikirkan dirimu yang tanpa kabar. Namun disini kamu sibuk memikirkan orang lain. Aku sendirian merasa kacau tanpa mendengar suaramu. Tapi sepertinya kamu baik-baik saja tanpa aku. Apakah dia yang mengalihkan perhatianmu? Aku sadar semua ada waktunya, tapi salahkah aku jika berharap menjadi yang pertama. Salahkah aku yang ingin tahu kondisimu. Mungkin aku tidak berarti untukmu, dibandingkan pasien-pasienmu. Aku hanya wanita biasa yang mencintai lak*i-laki luar biasa. Seseorang yang mencoba menghangatkan dinginnya gunung es dihatimu. Akankah sekarang aku harus menyerah atau aku harus berjuang. Entahlah aku sendiri bingung. Lebih baik aku diam, mencoba mencari ketenangan dibalik kegelisahan!" batin Davina pilu, dia tidak melihat raut wajah Faiq. Hanya suara mereka yang terdengar menyayat hati Davina.
"Maaf semuanya, saya permisi ke dalam. Sudah waktunya saya masuk!" ujar Davina singkat, dia mendongak berpamitan pada Annisa dan Faiq serta Zahra. Davina tidak lagi mampu berdiri diantara mereka semua. Davina merasa asing dan tidak berguna.
"Tunggu, kenapa matamu terlihat lelah? Apa semalam kamu begadang? Lagipula kenapa kamu pergi? Masih ada setengah jam sebelum jam kerja masuk!" ujar Faiq lirih sembari menahan tangan Davina. Dengan sopan Davina menepis tangan Faiq, lalu menggeleng tanda tidak setuju dengan pendapat Faiq. Tanpa sengaja Faiq melihat mata lelah Davina. Kondisi Davina yang mudah lelah sangat dipahami Faiq. Berkali-kali Davina jatuh sakit hanya karena begadang. Berkali-kali pula Faiq marah bila melihat Davina kelelahan.
"Maaf dokter Faiq, saya harus pergi. Saya merasa tidak ada gunanya berada disini. Saya tidak memiliki keahlian dibidang kesehatan. Saya hanya akuntan biasa. Jadi lebih baik saya pergi. Satu hal lagi, terima kasih atas perhatian anda. Saya baik-baik saja sampai sekarang. Lebih baik anda fokus pada kesehatan ayah mbak Zahra. Jangan pedulikan saya, permisi semuanya!" tutur Davina penuh perasaan, Faiq terperangah mendengar jawaban Davina. Sikap dingin Davina sangat aneh. Faiq merasa setiap perkataan Davina ingin memojokkannya.
"Davina, apa yang kamu katakan? Kenapa bicaramu melantur? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tutur Faiq, Davina tidak peduli dengan perkataan Faiq. Dia terus berjalan menjauh. Hatinya terlalu sakit saat mengetahui, Faiq menerima telpon wanita lain. Namun mengabaikan telpon darinya. Meski semua itu tanggungjawab Faiq sebagai dokter. Tapi Davina juga tanggungjawab Faiq sebagai tunangan.
"Maaf aku harus pergi, mencintaimu pilihanku. Bersamamu impianku. Menjadi makmummu harapanku. Namun diam melihatmu bersama wanita lain. Maaf aku belum mampu. Biarkan aku menetapkan hati ini. Aku mencintaimu, bukan mengekangmu. Aku menyayangimu, bukan melukaimu. Cinta tulus tidak akan memaksa, tapi memahami. Aku sedang belajar memahami dirimu. Aku mencintaimu, calon imamku!" batin Davina sembari terus berjalan tanpa menoleh.
"Faiq, jika laki-laki bisa bersikap egois dan merasa benar. Maka wanita bersikap sama, bahkan melebihi sikap seorang laki-laki. Jangan bertanya, tapi lihatlah dengan hatimu. Maka kamu bisa mengerti apa yang terjadi pada Davina?" ujar Annisa, lalu berjalan menuju ruangannya. Meninggalkan Faiq yang termenung sendiri.
__ADS_1