
"Anda salah menilaiku, aku tidak serendah itu. Cintaku pada dokter Faiq. Itu utuh tak tergoyahkan. Anda bukan Siapa-siapa? Jadi anda tidak berhak menyalahkanku! Banyak alasan yang mbak Zahra tidak ketahui. Sebelum menyalahkanku, sebaiknya mbak Zahra menyadari kesalahan yang mbak Zahra lakukan!" ujar Davina, Zahra mematung tanpa ada satu kata yang terucap.
Davina mulai memahami kondisi. Dia mulai mengerti arah pembicaraan Zahra. Tak pernah sekalipun Davina ingin melukai hati Zahra. Bahkan kepergiannya seolah ingin memberi kesempatan pada Zahra untuk mendekati Faiq. Davina tidak pernah berpikir, jika kepergiannya akan membuat Faiq menjauh dari Zahra. Sungguh sangat salah jika Zahra menyalahkan Davina akan lukanya selama dua tahun. Bukan ingin membenarkan diri. Namun sejak awal Davina tidak pernah berpikir ingin mrnyakiti siapapun? Davina pergi membawa luka yang akan ditanggungnya sendiri. Menggenggam rasa percaya yang mulai memudar. Rasa percaya bahwa Faiq tidak akan melupakannya. Menyimpan keyakinan yang mulai lemah. Jika Faiq akan menjadi imamnya kelak. Davina pergi tanpa mengikat janji atau berjanji akan rasanya pada Faiq. Seandainya Faiq menemukan makmum yang lebih baik selama dua tahun. Semua murni hak Faiq dan tidak ada hak Davina untuk marah atau kecewa.
"Maksud kamu apa? Bukankah kamu yang mengkhianati dokter Faiq selama ini. Pertemananmu dengan dokter Rey tidaklah murni. Seseorang yang tidak mengenal kalian akan menebak. Jika tatapan dan perhatian dokter Rey berbeda padamu. Tatapan dan tutur kata yang penuh dengan kehangatan. Takkan pernah diberikan pada teman, tapi akan diberikan oleh orang yang memiliki perhatian lebih pada kita. Percuma kamu menyangkal hal itu, jika hatimu sudah menyadari bahwa rasa diantara kalian memang ada!" tutur Zahra, Davina menggeleng lemah. Dengan tersenyum Davina membalas perkataan Zahra. Sebaliknya dengan santai, Zahra mengeluarkan foto-foto pertemuan diantara Davina dan Rey. Entah kapan Zahra mengambil semua foto-foto itu? Namun satu hal yang pasti, Zahra menunjukkan semua foto itu pada Davina. Agar Davina percaya bahwa Rey memang menyukainya dan Faiq tidak akan pernah menyukai pertemuan diantara mereka.
"Ternyata mbak Zahra terobsesi denganku. Aku akan mengatakan semua dengan jelas. Memang benar aku bertemu dengan dokter Rey dengan diam-diam. Namun seharusnya kamu mencari tahu kebenarannya. Saat itu mungkin mbak tidak melihat dokter Annisa dan kak Fathan. Terkadang saat aku bertemu dengan dokter Rey, mama Hana ada di sana. Aku tidak pernah merasa mengkhianati kak Faiq. Saat aku pergi menjauh dari kak Faiq. Dengan lantang aku mengatakan jika hubungan diantara kami berakhir. Tanpa ada janji untuk menjalin cinta saat aku datang kembali. Kedua memang benar dokter Rey menyukaiku. Bahkan dia sempat melamarku, setelah aku membatalkan pertunangan dengan kak Faiq. Namun aku menolak lamaran itu tanpa berpikir dua kali. Bukan aku berharap pada cinta kak Faiq, tapi aku merasa tidak pantas menjadi istri seseorang. Jika mbak mengetahui tentang pertemuanku dengan dokter Rey. Tentu mbak Zahra juga tahu. Jika Davina Nur Latifah tidak lebih dari wanita berpenyakit. Wanita yang mengalami depresi, karena mencintai Muhammad Faiq Alhakim!" tutur Davina lirih, Zahra terdiam malu. Semua pendapatnya tentang Davina salah. Dia merasa Davina menghancurkan harapannya, tapi kenyataannya harapan dan kebahagian Davina yang hancur. Zahra membisu bibirnya seakan kelu. Tak ada kata yang mampu terucap dari bibirnya. Zahra tidak pernah menyangka. Jika Davina masih bisa tersenyum saat harapannya jelas-jelas telah hancur.
__ADS_1
"Kenapa mbak Zahra diam? Apa yang aku katakan benar? Atau mbak Zahra merasa bersalah telah menyalahkanku. Mbak tidak perlu merasa bersalah atau menyesal. Aku tidak akan menyalahkan siapapun atas kondisiku? Aku mengalami depresi murni karena lemahnya cintaku pada kak Faiq. Rendahnya rasa percaya pada ketulusan kak Faiq. Rasa egois yang seakan takut kehilangan kak Faiq. Aku tidak pernah menyalahkan kehadiranmu diantara kami. Sebab kehangatan kak Faiq padamu berbeda dengan sikap dinginnya padaku. Sejujurnya aku cemburu, tapi aku menyadari bahwa kak Faiq berhak dekat dengan siapapun? Termasuk mbak Zahra, wanita yang mampu membuat kak Faiq nyaman. Seandainya cintaku kuat pada kak Faiq. Aku tidak akan pernah meragukannya, tapi aku hanya wanita biasa yang mencintai dengan ambisi ingin memiliki. Sehingga aku lupa akan ketentuan-NYA. Jalan yang nyata tertulis dan tak dapat ditawar. Sesungguhnya dalam cinta tidak ada lagi angkuh. Layaknya sikap mbak pada kak Faiq. Seharusnya kepergianku menjadi jalan mbak dekat dengan kak Faiq. Bukan malah menyalahkanku atas sikap dingin yang mbak terima. Tidak mudah mencintai seorang Muhammad Faiq Alhakim. Sehangat apapun sikapmu padanya, akan kalah oleh dingin hatinya. Sekuat apapun jiwamu, akan kalah oleh sikap acuhnya. Sekeras apapun usaha untuk meluluhkan jiwanya. Hanya akan menghancurkan hidupmu, bila tidak dilandasi iman. Jadi jangan pernah menyalahkan orang lain. Bila sebenarnya dirimu yang tak mampu mencintai kak Faiq!" tutur Davina lirih, Zahra hanya bisa diam mendengarkan. Semua yang dikatakan Davina seakan benar adanya.
Selama dua tahun Zahra hanya diam tanpa berjuang. Dia tidak pernah memperjuangkan cintanya pada Faiq. Sekadar menunjukkan dirinya memiliki rasa pada Faiq. Sangat tidak adil bila sekarang dia menyalahkan Davina atas lukanya. Sebaliknya Davina yang berjuang melebihi batas harga dirinya. Akhirnya mampu meluluhkan hati Faiq yang beku. Namun semua itu harus dibayar dengan kesehatannya.
"Apa yang kamu katakan semuanya benar? Aku mencintainya, tapi aku angkuh mengakuinya. Aku berharap dokter Faiq menemuiku. Menerima cinta yang tersimpan jauh dalam hatiku. Sekarang tanpa rasa malu, aku menyalahkan dirimu atas semua luka yang kurasakan. Seandainya cinta tidak membuat orang egois. Mungkin aku akan meminta maaf padamu. Aku akan mengucapkan selamat padamu. Bahwa dirimu wanita yang dipilih oleh dokter Faiq. Aku bukan siapa-siapa baginya?" ujar Zahra lirih dan pilu. Davina mendekat pada Zahra. Dia merentangkan kedua tangannya, Davina memeluk Zahra erat. Davina menawarkan pelukan hangat seorang teman. Zahra menerima pelukan Davina penuh keheranan.
"Zahra, itulah alasan aku memilih Davina. Hatinya begitu polos. Tanpa ada dendam atau rasa iri. Sikap manjanya yang membuatku merasa dibutuhkan. Wajah riangnya yang membuatku senyum-senyum sendiri. Davina membuat dunia hampaku menjadi penuh warna. Tak ada yang bisa menggantikan dirinya di hatiku. Maafkan aku jika kamu terluka. Aku menjauh darimu bukan karena Davina. Namun aku takut akan rasa nyaman yang mulai terasa. Aku tidak ingin terjebak diantara cinta dan rasa nyaman. Aku memilih menggenggam cintaku dan melepas rasa nyaman. Aku mungkin laki-laki dingin, tapi aku lemah akan cinta Davina. Aku hampa tanpa senyum Davina. Dia alasanku mampu berdiri, karena Davina tulang rusukku yang hilang. Dia penopang tubuh lemahku. Cukup satu tulang yang hilang, maka Muhammad Faiq Alhakim akan lumpuh. Davina duniaku yang hangat, dia yang akan mencairkan dinginnya es dihatiku!" tutur Faiq, Davina dan Zahra mengangguk sesaat setelah melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Dokter Faiq, mungkin tidak akan mudah bagiku melupakan rasa ini. Namun bisakah kita berteman, agar tak ada ganjalan dalam hatiku!" ujar Zahra lirih, Faiq mengangguk pelan. Sedangkan Davina tersenyum simpul. Akhirnya kesalapahaman diantara mereka bertiga berakhir.
"Sayang, selama dua tahun ini kamu bertemu Rey dibelakangku. Jangan sampai kamu berpikir ingin bersama dengan Rey!" bisik Faiq, hembusan napas Faiq menyentuh pipi Davina. Seketika Davina menoleh dengan tersenyum.
"Semua tergantung sikapmu padaku. Davina Nur Latifah masih milik umum. Jadi tidak ada hakmu mengikatku!"
"Kalau begitu kita menikah sekarang. Aku tidak peduli bila mama dan papa tidak setuju. Aku tidak akan membiarkan, Rey atau siapapun mendekat padamu!" sahut Faiq lirih.
__ADS_1