KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Cinta yang Rumit


__ADS_3

Setelah kunjungan Hana malam itu. Rafa semakin membaik. Kondisinya mengalami kemajuan yang sangat pesat. Setelah kurang lebih dua minggu mendapatkan perawatan. Rafa diizikan pulang. Rafa bertekad akan bangkit demi mendapatkan pengakuan dari Hana.


Rafa memutuskan meninggalkan keluarga Prawira. Pertama kalinya Rafa berani pergi dari rumah keluarga Prawira. Rafa memutuskan tinggal sendiri. Dia ingin mencari jati dirinya. Rafa sengaja membeli rumahnya sendiri. Rumah yang kelak mungkin akan ditempatinya bersama Hana dan putranya.


Rafa sudah memutuskan untuk bangkit mengejar cintanya. Rafa akan membuktikan pada Hana. Jika dirinya bukan seorang ayah yang pengecut. Rafa Akbar Prawira kembali menjadi pengusa dunia bisnis. Dia akan bekerja sekuat tenaga demi kebahagian Hana.


Sekitar pukul 08.00 wib, Rafa sudah berada di ruangannya. Rafa selalu tepat waktu dalam pekerjaannya. Dia tidak pernah santai untuk masalah pekerjaan. Adrian mengetahui benar cara kerja Rafa. Mungkin inilah yang menjadi kunci kesuksesan seorang Rafa Akbar Prawira.


"Rafa, untuk acara besok aku bisa tidak memesan makanan dari luar! Aku ingin mencoba satu tempat yang baru saja buka. Dengar-dengar masakannya enak, harganya juga terjangkau!" ujar Adrian setelah masuk ke dalam ruangan Rafa. Dia membawa selebaran tentang sebuah tempat makan yang baru saja buka. Rafa mengeryitkan pelipisnya heran. Dia tidak pernah melihat Adrian peduli tentang konsumsi. Kenapa sekarang Adrian berpikir ingin mengurusinya sendiri?


"Jangan pesan di tempat yang belum terjamin kualitasnya. Kita pesan di tempat biasa saja. Memangnya sejak kapan kamu peduli dengan harga?" ujar Rafa menimpali, Adrian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Adrian bingun cara menjelaskan pada Rafa yang sebenarnya. Dia malu jika Rafa mengetahui niat dibalik rencananya.


"Kamu lihat saja sendiri. Lalu putuskan setuju atau tidak dengan ideku!" ujar Adrian sembari memberikan brosur yang dia pegang. Dengan setengah hati Rafa menerima brosur dari Adrian. Dia enggan mengurusi masalah konsumsi.


Kedua bola mata Rafa membulat sempurna melihat brosur yang diberikan Adrian. Sebuah nama yang melekat dalam hati terdalamnya. Tertulis indah sebagai nama sebuah tempat makan. Nama belakang Hana yang tertulis jelas dalam brosur itu. Hati Rafa berdetak hebat, kerinduan akan Hana menyeruak. Wajah yang tersimpan rapi bermain indah dalam benaknya.


"Adrian, kamu yakin ini Hana yang mendirikan tempat makan ini. Sejak kapan Hana membuka tempat makan ini? Kenapa aku tidak menerima kabarnya sedikitpun?" ujar Rafa kesal, Adrian menggeleng lemah. Dia sendiri baru mengrtahuinya, dengan santai Adrian mengangkat kedua bahunya.


"Diana, menutup semua akses berita itu sampai pada kita. Aku tadi pagi datang ke kostnya. Sengaja aku ingin mengetahui apa pekerjaannya sekarang? Ternyata dia membuka tempat makan sederhana. Hana sebagai juru masaknya, sedangkan Diana sebagai manejemennya. Dia menutup akses perusahaan kita masuk kesana!"


"Brengsek Diana, sebegitu bencinya dia padaku. Sampai dia menutup jalanku bertemu dengan Hana. Dimana Hana tinggal sekarang? Aku datang ke rumahnya, tapi orang lain yang menempatinya!" ujar Rafa emosi, Adrian duduk di depan Rafa. Dia tersenyum melihat Rafa yang bertekuk lutut pada Hana. Seakan dunia berhenti, jika dia tidak bisa melihat Hana.


"Hana sudah tidak tinggal disana. Dia menyewakan rumah itu, untuk memulai semua usaha ini. Dia sekarang tinggal di ruko tempatnya membuka usaha. Diana belum sempat pindah ke ruko. Hana ingin memulai hidup baru di tempat baru. Kamu akan semakin kaget, dimana usaha Hana berdiri?"


"Dimana? Katakan jangan berbelit-belit!" ujar Rafa semakin emosi.


"Hana mendirikan tempat makannya, tepat di samping perusahaan Rama. Dia memulai usahanya atas bantuan Rama. Kebetulan aku ingat, ada undangan pernikahan Rama! Kita harus menghadirinya. Dia rekan kerja kita, sudah sepantasnya kita mengucapkan selamat!"


"Rama menikah, maksudmu apa? Bukankah dia mencintai Hana. Kenapa dia bisa menikah dengan orang lain?" ujar Rafa kaget, Adrian menggeleng lemah. Adrian tahu jika Rafa akan terkejut, sebuah kenyataan yang akan menambah deret penyesalan dihati Rafa. Sebuah rasa cemburu tanpa alasan membuatnya harus kehilangan Hana dan putranya.


"Rama dan Hana sudah mengikrakan hubungan sebagai kakak beradik. Tidak ada kata cinta dalam hubungan mereka. Pernikahan Rama sudah lama terencana. Jauh sebelum kejadian malam itu. Hana diam tidak membela diri saat kamu meragukan dirinya. Bukan karena Hana ingin melepasmu. Namun keteguhan cintanya padamu, yakin jika kamu akan mempercayainya. Sudahlah Rafa semakin kamu mencari, hanya akan meninggalkan luka dan penyesalan yang semakin dalam. Lebih baik kamu menata hidupmu. Hana sudah bangkit demi putra kalian. Percayalah kelak Hana akan kembali. Jika memang kamu teguh akan cintamu!" ujar Adrian, Rafa menyadarkan kepalanya. Dia menyesal telah melakukan kesalahan yang membuatnya kehilangan wanita yang begitu dicintainya.

__ADS_1


"Rafa, aku akan pergi kesana. Aku akan memesan langsung pada Diana. Kamu ikut atau tidak, pagi ini kita tidak ada rapat!" ujar Adrian, lalu berjalan keluar. Dia ingin segera menemui Diana. Ada rasa rindu yang tak bisa diungkapkan. Adrian rela melakukan apapun demi bertemu Diana.


"Aku ikut!" sahut Rafa dingin, dia berjalan mengekor Adrian. Rafa ingin melihat wajah yang begitu dirindukannya.


...☆☆☆☆☆...


"Pagi, ada yang bisa saya bantu!" sapa Diana saat mendengar pintu terbuka. Adrian tersenyum melihat Diana dengan penampilan yang berbeda. Tak ada lagi pakaian seksi melekat di tubuhnya. Gamis dan hijab panjang menutup sempurna tubuh Diana. Kecantikan Diana jelas terpancar dibalik penampilannya yang tertutup. Kedua mata Adrian serasa teduh menatap Diana dengan penampilan tertutupnya.


"Aku ingin membuat pesanan untuk dua hari lagi!" ujar Adrian ramah penuh dengan senyum. Sontak saja Diana mendongak, dia mengenak jelas suara yang sedang berbicara padanya. Darah Hana mengalir deras, kekesalannya pada Rafa berimbas pada rasa tidak sukanya terhadap Adrian. Dengan tatapan tajam, Diana menunjukkan rasa tidak sukanya melihat Adrian berada di tempat usahanya.


"Sedang apa kamu? Kami tidak menerima pesanan dari perusahaan Prawira. Sebaiknya kamu pergi!" ujar Diana kesal, Adrian terkekeh melihat Diana yang kesal akan kehadirannya. Diana semakin marah melihat Adrian seolah sedang menertawakannya. Jika dulu mungkin Diana sudah mendorongnya pergi. Namun sekarang berbeda, Diana tak lagi bisa menyentuh Adrian yang bukan mukhrimnya.


"Ayolah Diana, kami juga pelanggan. Tidak baik kamu menolak rejeki. Bukankah usaha untuk mencari rejeki, kenapa kamu menolak pesananku?" ujar Adrian memaksa, Diana menggeleng tegas. Adrian melangkah mendekat, dia menatap wajah Diana yang cantik tanpa polesan.


"Minggir, jangan dekat-dekat. Aku bukan wanita yang bisa kamu rayu. Menjauh dariku, tubuhku gatal melihatmu!" ujar Diana kesal, Adrian semakin senang menggoda Diana. Sebaliknya Diana merasa risih dengan tatapan Adrian.


"Ayolah Diana, aku akan bayar penuh dimuka. Setidaknya sebagai teman kamu bisa membantuku!"


"Membantu, maksdumu apa? Tidak mungkin perusahaan Prawira kesulitan mencari tempat catring. Aku selalu mendapatkan tawaran dari banyak tempat selama menjadi sekretaris. Jadi sekarang katakan alasan kedatanganmu!" ujar Diana kesal, Adrian menggaruk tengkuknya. Dia malu bila mengakui kedatangannya untuk melihat Diana.


"Aku ingin bertemu denganmu, selain ingin memesan makanan dari sini! Bukankah kamu tahu jika setiap akhir bulan ada rapat koordinasi. Jadi aku butuh konsumsi untuk itu!" ujar Adrian lirih, wajah Diana memerah saat Adrian mengatakan tujuannya datang ke tempat usahanya. Diana tersipu malu saat Adrian secara khusus datang untuk menemuinya.


Tak bisa dipungkiri, ketampanan Adrian tidak jauh berbeda dengan Rafa. Pesona yang akan mampu membuat kaum hawa bertekuk lutut, termasuk seorang Diana. Penampilan Adrian terkesan santai yang mampu membuat seorang wanita merasa nyaman.


"Bukankah sudah bertemu, sekarang pulanglah. Aku malas melihat wajahmu!" usir Diana, Adrian tak bergeming. Diana tidak ingin terlena oleh rayuan sesaat yang akhirnya menyakitinya. Diana tidak ingin terjebak dalam cinta semu dua sahabat yang memiliki watak hampir sama.


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu menerima pesananku. Kita lihat siapa yang akan bertahan?"


"Adriaaaaan, ini tidak lucu!" teriak Diana kesal, dia benar-benar kesal akan sikap Adrian. Sebagian pegawai yang membantu Diana keluar dari dapur. Teriakan Diana membuat semua orang kaget.


"Kamu semakin cantik bila marah!" goda Adrian, Diana memanyunkan bibirnya lima cent ke depan. Diana kewalahan menghadapi Adrian.

__ADS_1


Saat didalam terjadi pertengkaran yang dibumbui cinta. Di luar ruko, Hana tanpa sengaja melihat Rafa yang bersandar pada mobilnya. Hana baru saja datang dari super market. Dia membeli beberapa buah dan susu khusus ibu hamil. Hana melihat Rafa bersandar pada mobil sembari menunduk. Tangannya sedang memegang ponsel, sepertinya dia sedang berbicara dengan seseorang.


"Kenapa berada di luar? Tidak masuk ke dalam saja!" sapa Hana ramah, sontak Rafa mendongak melihat Hana. Sebuah senyum menyapa Rafa, senyum yang selalu Rafa rindukan. Hana melihat Rafa kepanasan berada di luar. Hana mengeluarkan sebotol air mineral dari kantong belanjaannya.


"Minumlah, setidaknya akan membantumu menghilangkan rasa gerah!" ujar Hana ramah, Rafa termangu melihat keramahan Hana. Sekilas Rafa melihat isi kantong belanjaan Hana. Hati Rafa terenyuh melihat ketabahan Hana hidup jauh darinya. Hana harus berjuang demi buah hati mereka.


"Terima kasih, aku sedang menunggu Adrian. Dia ingin memesan makanan, tapi kenapa lama sekali? Mungkin dia lupa aku sedang menunggunya. Bertemu Diana membuatnya lupa ingatan!" ujar Rafa kesal, Hana tersenyum manis. Hati Rafa bahagia melihat senyum yang terpancar dari bibir Hana.


"Ikutlah masuk, tidak ada yang melarangmu masuk. Aku harus segera masuk, ada banyak pekerjaan. Jika sudi masuklah, aku akan membuatkan secangkir kopi!" ujar Hana sembari berlalu meninggalkan Rafa.


"Hana, sikap manismu ini. Apa artinya kamu memaafkanku? Akankah tanganku bisa menggenggam tanganmu lagi!" ujar Rafa, Hana berbalik arah menatap Rafa. Dengan seutas senyum Hana membalas pertanyaan Rafa. Hana mulai berdamai dengan keadaan. Dia tidak ingin terluka hanya karena cinta.


"Aku hanya ingin berdamai dengan keadaan. Tidak ada gunanya aku membencimu. Sampai kapanpun fakta dirimu ayah dari bayi yang aku kandung? Selalu mengingatkanku akan dirimu. Jadi lebih baik aku membuka hati untuk berteman, tapi tidak untuk cinta!" ujar Hana, Rafa terdiam. Seketika harapannya pupus, Hana tidak ingin mengenalnya sebagai seorang suami. Hana hanya menganggapnya sebagai ayah dari janin yang dia kandung.


Lama Rafa terdiam melihat punggung Hana yang menjauh darinya. Perut buncit Hana sudah terlihat, hijabnya tak mampu lagi menutupinya. Rafa bersyukur Hana masih menyapanya, memberikan perhatian padanya. Bukan tatapan penuh kebencian. Hanya satu penyesalan Rafa, dia harus merelakan kehilangan moment tumbuh kembang putranya. Rafa hanya bisa melihat, tanpa bisa memenuhi kebutuhan sang anak. Harta yang dia miliki sedikitpun tak berharga. Sekaleng susu ibu hamil untuk perkembangan putranya tak mampu dia beli dengan kekayaannya.


"Kalian kenapa sibuk bertengkar? Hanya untuk mencatat pesanan saja butuh waktu lama. Kasihan kak Rafa, kepanasan di luar. Sebaiknya kamu terima pesanannya. Agar mereka segera pergi atau mungkin kamu sengaja menahan tuan Adrian. Apa kamu merindukannya? Sampai tidak ingin berpisah!" goda Hana sembari berlalu melewati Adrian dan Diana.


"Hana!" teriak Diana kesal, Adrian merasa mendapat dukungan. Dia tersenyum penuh kemenangan.


"Katakan kamu ingin memesan apa? Setelah itu pergi, aku malas melihatmu!"


"Kamu malas melihatku atau kamu merindukanku. Jika tahu kamu merindukanku, aku akan cuti kerja, menemanimu duduk manis di sini!" ujar Adrian, Diana melengos.


"Kamu ingin pesan atau tidak. Aku malas meladenimu!"


"Adrian, kamu masih lama. Aku harus segera rapat" ujar Rafa kesal.


" Aku sudah selesai!"


"Rasain, weeeekkk!" ujar Diana sembari menjulurkan lidah pada Adrian.

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2