
Malam hari yang sepi semakin mencekam dan dingin. Sedingin hubungan Rafa dan Hana. Setelah kebenara yang terungkap. Hana seakan diam, bukan menghindar atau mengacuhkan. Hana diam tanpa berpikir ingin menyapa atau bertanya pada Rafa. Sebaliknya Rafa menerima semua sikap Hana tanpa mengeluh. Setidaknya diam Hana jauh lebih baik. Daripada melihat Hana menjauh dari pandangannya.
Rafa lebih memilih tinggal di kamar tamu. Meski Hana tidak pernah memintanya, tapi bagi Rafa lebih baik menghindar sementara. Setidaknya sampai Hana merasa tenang. Rafa memilih menjauh dari harum tubuh Hana. Agar dirinya tidak terlalu tersiksa. Semua yang ada dalam diri Hana. Mampu membuatnya frustasi dan kelabakan.
Rafa hanya datang ke kamar, saat Hana benar-benar sudah tertidur. Dengan menatap wajah polos Hana saat tertidur. Rafa merasa tenang dan bahagia. Sebuah ketenangan dibalik kegelisaahan dan ketakutan akan kehilangan Hana. Salsa melihat perubahan sikap Hana dan Rafa. Namun sedikitpun Salsa tidak pernah bertanya. Malah Salsa melihat cara hidup yang penuh pengartian.
Sikap dingin dan keras Hana, berbanding terbalik dengan sikap Rafa yang selalu tenang penuh keramahan. Rafa seolah ingin membuktikan pada Hana. Bahwa cintanya mampu mengalahkan amarah Hana. Cinta Rafa yang membuat Hana lemah. Cinta itu pula yang membuat Rafa kuat menghadapi sikap dingin Hana.
Layaknya malam-malam sebelumnya. Hana selalu tidur lebih dulu. Rafa selalu menghindar bertemu dengan Hana. Sebenarnya Rafa tersiksa bila tidak melihat wajah Hana. Ketika Hana masuk ke dalam kamarnya. Rafa akan masuk ke dalam ruang kerjanya. Kondisi Hana yang menurun, membuat Rafa takut meninggalkan Hana sendiri di rumah. Sebisa mungkin Rafa ada di rumah. Dia lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerjanya.
Praayyyrrr
Terdengar suara benda jatuh. Rafa yang sedang berada di ruang kerjanya bisa mendengar dengan jelas. Rafa segera berlari menuju sumber suara. Rafa takut terjadi sesuatu pada Hana. Rafa merasa sumber suara berasal dar dapur. Saat Rafa melihat jam di dinding, sudah menunjukkan larut malam. Sejujurnya Rafa selalu merasa cemas bila tidak berada di samping Hana. Rafa tidak ingin lalai dalam menjaga Hana dan Fathan. Mereka alasan Rafa tetap berdiri.
Dugaan Rafa benar, jika Hana yang sedang mengalami kesulitan. Saat Rafa tiba di dapur, dia melihat Hana sedang berjongkok. Hana mengambil pecahan gelas yang berserakan. Sontak saja Rafa berlari, dia menahan tangan Hana yang hendak membersihkan sisa pecahan kaca. Hana mendongak kaget, saat tangannya di tahan. Kedua mata Rafa dan Hana bertemu. Wajah keduanya sangat dekat. Bahkan hembusan napas Rafa menyentuh pipi Hana dengan lembut. Desiran hangat menelisik hati Rafa, saat tangannya menyentuh Hana. Kerinduan membuncah dalam diri Rafa. Naik turun napas Rafa senada dengan deguban jantungnya.
Hana menatap lekat wajah Rafa. Tak ada jarak yang memisahkan keduanya. Tak ada amaraha yang mampu membuang rasa cinta yang tertanam terlalu dalam. Hanya rindu yang tersirat dari tatapan Rafa. Besarnya rasa cinta Rafa membuat Hana tak berdaya. Ingin rasanya Hana memeluk tubuh tegap Rafa. Melupakan semua duka yang pernah tertoreh. Namun ego seorang wanita yang berharap terus dikejar dan diperhatikan. Membuat Hana seakan nyaman dengan keadaan ini. Hana merasakan kasih sayang Rafa yang begitu tulus. Rafa diam menerima sikap keras dan dinginnya. Hanya demi sebuah kata maaf dan berharap terus bersama.
__ADS_1
Lama keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Rafa yang larut dalam kerinduan akan Hana sang pemilik hati. Hana yang larut dalam hasrat ingin memiliki. Akhirnya kedua tersadar, saat terdengar suara teko air berbunyi.
ciiiitttt
"Sayang!" sapa Rafa kikuk, dia menuntun tubuh Hana duduk. Rafa bergegas mematikan kompor, lalu mengambil sapu untuk membersihkan pecahan kaca yang berserakan. Hana melihat betapa cekatannya Rafa membersihkan pecahan gelas. Ada rasa heran melihat Rafa begitu terbiasa memegang sapu. Jika mengurus setumpuk berkas, itu mungkin hal yang sangat biasa bagi Rafa. Namun ini mengerjakan pekerjaan yang sangat tidak mungkin dikerjakan oleh Rafa.
"Sayang, tanganmu terluka tidak! Memangnya kamu sedang apa? Jika butuh sesuatu, seharusnya kamu meminta padaku atau seseorang. Jika terjadi sesuatu padamu, aku akan menyalahkan diriku sendiri!" ujar Rafa emosi, Rafa berjongkok di depan Hana. Dia melihat tangan Hana, adakah yang terluka. Hana mampu melihat kecemasan dan cinta Rafa untuknya. Hana diam membisu, pikirannya kacau. Dia tidak marah pada Rafa, tapi menganggap semua baik-baik saja. Hana merasa semua itu terlalu mudah.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu cemas. Aku lapar, jadi aku ke dapur ingin membuat susu dan membuat mie!" sahut Hana dingin, Rafa mengangguk pelan. Dia lalu berdiri, Rafa menghidupkan kompor. Rafa membuatkan mie dan segelas susu. Rafa juga mengupas beberapa buah. Hana mengeryitkan alisnya heran. Biasanya Rafa akan marah mendengar Hana mengkonsumsi mie. Setelah semua siap, Rafa menghidangkannya di depan Hana.
"Kenapa aku merasa melihat Rafa yang lain? Aku tidak pernah menyangka, jika kak Rafa bisa menyapu dan memasak. Apa semua ini caramu membujukku? Agar aku memaafkanmu. Aku tidak akan dengan mudah memaafkan kak Rafa. Aku masih kesal dan marah padamu!" tutur Hana kesal, Rafa mendekat pada Hana. Dengan lembut Rafa menangkup kedua pipi Hana yang gimbul, lalu mendekatkan wajahnya menyatukan hidungnya dan Hana.
"Pertama kali aku mengenalmu, bukan Rafa ini yang terlihat. Sombong dan kasar yang aku lihat sebagai jati dirimu. Kenapa sekarang aku merasa kamu terlalu berlebihan? Setiap perkataanmu seakan rayuan maut, untuk semua wanita yang tergila-gila padamu!" ujar Hana kesal, menutupi hatinya yang mulai luluh. Tidak mungkin Hana dengan mudah menerima Rafa. Hana ingin melihat sejauh mana perjuangan Rafa mendapatkan dirinya.
"Sayangku Hana, aku tidak peduli kamu mengatakan aku apa? Semua yang aku katakan fakta. Selama ini aku tidak pernah merayu, sebab tanpa dirayu mereka yang datang padaku! Sekarang makanlah, sebelum makanannya dingin!" ujar Rafa santai, seraya tersenyum. Hana mendengus kesal mendengar, saat dengan bangganya Rafa mengatakan. Wanita yang mengejarnya, bukan dirinya yang merayunya.
"Memang Rafa Akbar Prawira CEO tampan yang dikejar banyak wanita!" sahut Hana ketus, Rafa menatap Hana seraya tersenyum. Rafa mendekat pada Hana, dia duduk tepat di depan Hana yang sibuk mengunyah mie. Bahkan Rafa melihat bekas mie di bawah bibir Hana. Dengan lembut Rafa mengusap bibir Hana dengan tangannya.
__ADS_1
"Sayang, apa yang harus aku lakukan? Demi membuatmu percaya, hanya padamu aku menghiba cinta. Bukan ingin membanggakan diri, tapi memang hanya padamu aku jatuh cinta!" ujar Rafa, Hana mengacuhkan perkataan Rafa. Dia seolah tidak peduli akan perkataan Rafa. Hana ingin membuat Rafa bingung dengan sikapnya.
"Berikan aku sesuatu yang sangat berharga dalam hidupmu. Aku akan percaya, jika hanya aku satu-satunya wanita dalam hatimu!" ujar Hana santai, Rafa menggeleng lemah lalu tersenyum simpul. Rafa melihat Hana yang terus menggoda dirinya. Mencari sebuah kebenaran yang sebenarnya Hana ketahui dengan jelas.
"Aku tidak memiliki sesuatu yang berharga. Kamu dan Fathan yang paling berharga. Jika kamu memintanya, itu artinya kamu membuatku hancur. Sebab hanya dirimu dan Fathan semangatku!" ujar Rafa lirih, sembari mengelap bekas susu yang menempel di bibir Hana.
"Aku tidak berharap lebih. Cukup melihatmu setiap saat, aku sudah bersyukur. Seandainya aku harus memiliha antara harta dengan dirimu. Aku lebih baik memilih dirimu. Sebab bersamamu, aku mampu bangkit dan meraih semuanya. Jangankan harta dan kedudukan. Bersamamu kuyakin bisa melawan dunia ini!"
"Hmmm!" sahut Hana dingin, sembari berdiri berjalan meninggalkan Rafa. Tak berapa lama Hana menoleh pada Rafa. Dia melihat Rafa sedang membereskan piring dan gelas bekas makanan Hana.
"Sampai kapan kak Rafa akan tidur di kamar tamu? Kak Rafa sudah enggan tidur satu kamar denganku!" ujar Hana, seketika Rafa menoleh heran.
"Sayang, itu artinya kamu memaafkanku. Kamu memintaku tidur satu kamar denganmu, apa aku sedang bermimpi? Sudah lama aku menanti semua ini!" ujar Rafa senang, Hana berjalan meninggalkan Rafa.
"Terima kasih!" bisik Rafa, sembari memeluk Hana dari belakang. Dekapan hangat Rafa yang selalu membuat Hana nyaman dan tenang.
"Ingin aku berlari menjauh darimu, tapi semakin aku menginginkannya. Selalu saja ada alasan, aku semakin dekat denganmu. Dulu hadirnya Fathan membuatku kembali menggenggam cinta yang mulai goyah. Kini hadirnya buah cinta kita. Membuatku kuat menerima semua yang telah terjadi. Dua pengingkat yang akan selalu berusaha menyatukan kita!" ujar Hana lirih, Rafa memutar tubuh Hana 180° menghadapnya. Rafa menatap wajah Hana yang berseri.
__ADS_1
"Sayang, kamu hamil adik Fathan!" ujar Rafa senang, Hana mengangguk pelan. Sontak Rafa menghujani Hana dengan ciuman.
"Terima kasih, telah membuatku menjadi laki-laki paling sempurna!"