
"Kak Faiq, dimana kamu?" teriak Vania lantang, dia berlari di dalam rumah. Vania panik mencari Faiq. Entah apa yang membuat Vania ingin sekali bertemu Faiq? Vania mencari Faiq seolah-olah ada masalah besar yang sedang terjadi. Vania berteriak tanpa peduli akan sekitar.
Memang semenjak Davina keluar dari rumah sakit. Faiq memutuskan tinggal di rumah keluarga Prawira. Faiq tidak ingin Davina sendirian di dalam rumah. Kalau di rumahnya, akan ada Hana dan Annisa yang menemani atau menjaga Davina. Tentu saja selama Davina sakit atau untuk selamanya. Satu hal yang pasti, saat ini tinggal di rumah keluarga Prawira akan mempercepat penyembuhan Davina. Faiq berharap kehangatan keluarga membuat Davina nyaman. Sehingga Davina tidak akan stres.
"Vania, kenapa kamu teriak-teriak? Awas saja sampai putraku bangun mendengar suaramu. Aku akan memintamu menggendongnya!" ujar Fathan kesal, Vania hanya tersenyum mendengar kekesalan Fathan. Setelah mendengar Vania berteriak. Fathan langsung keluar dari kamar. Dia melihat Vania mencari Faiq. Layaknya orang yang sedang bertengkar. Sampai Vania tidak peduli akan keberadaan Fathan.
Vania lalu kembali berlari mencari Faiq. Seolah ada masalah yang sangat fatal. Sehingga Vania harus segera bertemu dengan Faiq. Vania tersu menerobos masuk. Dia berjalan dengan tergesa-gesa ke kamar Faiq. Berharap Faiq ada di dalam kamarnya. Saat Vania berteriak memanggil namanya. Faiq seakan tuli tak mendengar, meski sebenarnya dia jelas mendengar teriakan Vania yang begitu kencang.
Tak berapa lama, Raihan datang membawa mobil yang berbeda. Raihan langsung masuk mengejar Vania. Dengan suara lantang, Raihan memanggil Vania. Semua orang dibuat bingung dengan kelakuan pengantin baru. Baik Vania atau Raihan layaknya anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Saling mengejar dan mencari, Hana dan Rafa hanya menggelengkan kepala melihat sikap Raihan dan Vania.
Semua orang bingung sekaligus bahagia. Vania dan Raihan membawa kecerian yang berbeda dengan cara mereka sendiri. Dua pribadi yang berbeda berusaha menyatu dengan segala cara. Sehingga tercipta kehebohan yang tak pernah bisa dibayangkan. Betapa Vania dan Raihan menjadi pasangan yang berbeda. Diantara dua pasangan lainnya.
"Raihan, kenapa sekarang gantian kamu yang mengejar Vania? Kalian main petak umpet di pagi hari. Seperti tidak ada pekerjaan!" ujar Fathan lirih menggoda Raihan. Sesaat setelah melihat Raihan mengejar Vania dengan raut wajah khawatir. Raihan jelas sedang cemas memikirkan Vania yang datang mencari Faiq. Jika Vania mencari Fathan, mungkin Raihan tidak akan secemas ini.
Terlihat Raihan mengangkat kedua bahunya. Seolah dia sendiri tidak tahu, kenapa dirinya dan Vania saling mengejar? Fathan terperangah melihat Raihan. Dia semakin penasaran, kenapa Raihan dan Vania saling mengejar? Apalagi melibatkan Faiq adiknya yang dingin bak lemari pendingin. Fathan tidak mengerti masalah apa yang sedang terjadi? Satu hal yang pasti, masalah itu sangat besar. Sehingga melibatkan Faiq yang dingin.
"Mama dan papa tidak penasaran, kenapa pengantin baru itu saling mengejar? Aku malah sangat penasaran. Aku tidak akan ke kantor sebelum mereka selesai!" ujar Fathan lirih, Rafa menggeleng lemah. Fathan benar-benar dibuay penasaran dengan pertengkaran pengantin baru.
Sedangkan Hana seolah tidak peduli pada drama Vania dan Raihan. Hana tetap menyelesaikan makannya, tanpa merasa terganggu dengan Kegaduhan yang dibawa Vania dan Raihan. Setiap rumah tangga memiliki masalah yang terkadang malah membuat kedua pasangan saling mengerti dan memahami. Jalan yang berbeda-beda untuk bisa saling mengenal.
"Percuma kamu bertanya pada mamamu. Dia tidak akan peduli, bahkan mungkin acuh terhadap masalah Vania dan Raihan. Istriku wanita yang selalu percaya dan yakin pada jalan tertulis. Dia tidak akan ikut campur urusan orang lain. Sebelum orang itu berusaha, dingin dan tegas mirip Faiq putranya. Sebab itu dia diam dengan bersikap sangat tenang. Wanita cantik istriku, percaya Faiq bisa menyelesaikan urusan mereka berdua!" tutur Rafa, sembari menatap wajah Hana yang tersipu malu. Rafa selalu mempunyai cara membuat Hana tersipu. Meski terkadang Rafa tidak bisa memahami Hana.
Fathan senyum-senyum sendiri mendengar pujian Rafa pada Hana. Pengertian yang dipelajari Rafa selama bertahun-tahun. Selama menikah dengan Hana. Rafa mulai belajar mengerti, siapa Hana istrinya? Wanita yang tegas akan hidupnya. Namun memiliki kelembutan dan ketulusan yang tidak akan pernah habis. Sebuah sikap yang sulit dimengerti, tapi begitu mudah dirasakan. Hana menyimpan banyak misteri dalam hidupnya. Tapi dia memiliki cara, untuk tetap bertahan dengan prinsipnya. Selama tidak melukai orang lain.
__ADS_1
"Tidak perlu banyak bicara, kita sarapan saja. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Lagipula kamu sudah tua, sudah ada cucu. Tidak pantas kamu merayuku, apalagi di depan Fathan!" ujar Hana lirih, Rafa menggelengkan kepala seraya tersenyum. Lalu Rafa menoleh ke arah Fathan. Dengan isyarat mata, Rafa meminta Fathan melihat Hana. Fathan melihat ke arah Hana yang tersipu malu sekaligus kesal. Raut wajah yang selalu membuat Rafa bahagia. Sebab dia bisa membuat Hana yang dingin merasakan kehangatannya.
Sikap dingin dan acuh Hana tidak pernah berubah. Namun sikap hangat dan kegilaan Rafa pada Hana, juga tidak pernah berkurang. Malah semakin bertambah dengan berhasilnya Hana mendidik putra-putranya. Tak ada yang bisa menggantikan Hana dalam hidup Rafa dan kedua putranya. Meski mereka telah memiliki pasangan masing-masing. Baik Fathan atau Faiq sangat mencintai Hana dengan cinta yang berbeda pada Annisa dan Davina.
"Itu mamamu, acuh dan tidak akan tersentuh dengan rayuan maut papa. Sikap yang membuat papa semakin mencintainya dan takut kehilangan mamamu!" ujar Rafa tegas, Fathan mengangguk mengerti. Hana menggelengkan kepalanya lemah. Dia tidak percaya Rafa bisa bersikap kekanak-kanakan di depan putranya. Rafa bak remaja belasan tahun yang sedang merayu kekasihnya.
Hana lalu berdiri menuju dapur. Dia mengambil beberapa piring, untuk putranya yang lain. Hana tidak peduli pada perdebatan antara Fathan dan Rafa. Sikap hangat Rafa selalu dia rasakan. Jadi sudah terlalu biasa dan Hana sangat mengerti watak Rafa. Sekali Hana mengiyakan sikap Rafa. Maka Rafa tidak akan dengan mudah menghentikannya.
"Papa hebat, bisa terus mencintai mama tanpa terluka atau merasa tersisih. Aku saja sempat merasa hambar, ketika Annisa tidak pernah bersikap mesra atau sekadar membalas sikap hangatku!" ujar Fathan, Rafa menoleh pada Fathan. Lalu menepuk pelan pundak Fathan. Rafa terlihat kecewa dengan perkataan Fathan.
Sebuah pernikahan bukan di bentuk dengan dasar harus saling mengerti. Namun berusaha saling memahami. Rafa sangat kecewa mendengar perkataan Fathan yang merasa pernikahannya hambar. Padahal sebuah hubungan ada dengan saling melengkapi. Bukan hanya saling menuntut Hak. Sikap Fathan yang penuh kasih sayang dari Hana. Telah membuat Fathan merasa Annisa tak pernah menganggapnya ada.
"Sebab hanya Hana Kahairunnisa yang menerima masa lalu papa tanpa syarat. Dia tidak pernah meminta atau memaksa perubahan dalam hidup papa. Meski papa jauh dari kata sempurna, dia tetap diam menunggu dengan kesabaran yang tak terbatas. Keteguhannya yang mengetuk hati papa, agar bisa menjadi layak dan pantas menjadi imamnya. Sikap yang sama ditunjukkan Annisa padamu!" ujar Rafa, Fathan terdiam merenungi perkataan Rafa.
Sebuah kebenaran yang membuatnya sadar. Jika Annisa memang mirip seperti Hana. Diam tanpa banyak menuntut, tapi diamnya menyimpan kebijaksanaan. Cara memandang hidup yang jauh lebih sempurna. Annisa tidak pernah mengeluh atau meminta. Hanya diam mengikuti langkah kaki Fathan. Tanpa berpikir inging mengungguli. Agar bisa menjadi lebih baik dari Fathan. Meski semha itu sangat mudah dilakukan Annisa. Secara lahir mungkin Annisa bisa hidup tanpa Fathan. Namun secara batin, Annisa tidak akan bisa hidup tanpa Fathan. Sebab seluruh hati dan jiwa Annisa telah terisi oleh satu nama yaitu Fathan.
"Fathan, jangan salah mengartikan diamnya Annisa. Dia diam bukan tidak peduli padamu. Annisa percaya bahwa kamu imam yang bisa memutuskan jalan yang terbaik untuk dirinya dan keluarga kalian. Jika kamu berpikir Annisa tidak pernah cemburu. Kamu salah, dia diam dan menangis cemburu padamu. Tanpa kamu menyadari, hanya agar kamu tenang dan tidak gelisah memikirkan rasa sakitnya. Menahan rasa sakit dan air mata bukan hal yang mudah. Jadi jangan pernah berpikir hubungan kalian berdua hambar. Satu pemikiran burukmu, bisa menjadi cela retaknya hubungan kalian. Seperti Raihan dan Vania yang sedang bertengkar. Papa yakin Vania cemburu melihat Raihan dekat dengan wanita lain!" ujar Rafa sembari mendongak ke atas melihat Vania yang sedang mengetuk pintu kamar Faiq. Sedangkan Raihan masih mengejar Vania. Seolah ada yang ingin Raihan jelaskan.
Lama Fathan terdiam seolah Rafa baru saja menampar kedua pipinya. Fathan merasa malu akan sikapnya yang selalu mengeluh. Tanpa dia sadari, dirinyalah yang melukai Annisa dengan sikapnya. Fathan merasa malu pada Rafa. Dia angkuh dengan kesuksesan yang didapatnya. Sedangkan Rafa tak pernah menganggap dirinya lebih baik dari Rafa. Sebuah pengertian tanpa alasan yang menyatukan dua pribadi yang berbeda.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan Vania yang sangat keras. Dia sedang mengetuk kamar Faiq berulang kali. Sebenarnya Faiq sudah mendengar teriakan Vania saat masih di lantai bawah. Namun Faiq pura-pura tidak mendengar. Dia tidak ingin ikut campur masalah Raihan dan Vania. Faiq sedang berada di balkon kamarnya. Ketika dua mobil mewah masuk ke dalam rumahnya. Satu dikemudikan Vania dan yang di belakang dikemudikan Raihan.
__ADS_1
Faiq sudah merasa aneh melihat mereka datang memakai dua mobil yang berbeda. Apalagi Vania yang panik mencari dirinya. Sudah tentu Vania sedang ada masalah. Akhirnya Faiq mengurungkan niatnya keluar dari kamar. Agar Vania tidak bisa mengeluh padanya. Memang sejak kecil, Faiq orang pertama yang akan membela Vania bila mengalami masalah dimanapun? Sebab itu pagi ini Vania datang menemuinya. Entah ingin mengeluh atau sekadar ingin bercerita? Namun apapun itu? Faiq memilih menghindar, tapi Vania terlanjur bergantung pada Faiq. Meski Faiq menghindar dengan segala cara. Vania akan menemukan Faiq. Hanya demi pembelaan atas sikapnya. Entah itu sikap yang benar atau sikap yang salah?
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan yang jauh lebih lama dan keras. Vania terus mencoba membuka pintu kamar Faiq. Vania tidak akan pergi sebelum bertemu Faiq. Sedangkan Raihan terus membujuk Vania agar pulang. Raihan tidak ingin mengganggu istirahat Davina. Dalam pemulihannya dia harus banyak istirahat. Sebaliknya Vania begitu egois lupa akan kondisi Davina dan terus memaksa bertemu Faiq.
"Vania sayang, kita pulang saja. Kak Faiq dan Davina sedang istirahat. Tidak baik kita mengganggu mereka!" bujuk Raihan lirih, Vania menggeleng seraya menepis tangan Raihan yang mencoba membawanya pulang.
Faiq mulai merasa risih dan kasihan pada Vania. Dia mengenal Vania dengan sangat baik. Vania mungkin dingin, tapi dia pribadi yang gigih sekaligus keras kepala. Apa yang dia inginkan harus terwujud dengan cara apapun? Bahkan Davina sudah meminta Faiq menemui mereka. Davina merasa iba sekaligus kesal mendengar teriakan Vania. Dia mengetahui betapa Vania sangat manja pada Faiq. Sikap yang dulu pernah membuatnya cemburu. Namun lama-kelamaan dia menyadari. Vania hanya membutuhkan perlindungan Faiq. Meski Vania pribadi yang sangat mandiri.
"Ada apa cerewet? Davina sedang istirahat. Bukannya prihatin, kamu malah sibuk mengetuk pintu kamarku!" ujar Faiq kesal, sesaat setelah membuka pintu kamarnya. Dia melihat Raihan dan Vania yang sedang berdebat.
Faiq hanya bisa menggelengkan kepala tak percaya. Raihan yang begitu dingin dalam bisinis. Terlihat lemah di depan Vania yang keras kepala. Kekuatan cinta yang tak pernah bisa dibantahkan. Mampu merubah pribadi yang dingin menjadi penuh cinta.
" Kak Faiq, dia membohongiku. Dia akan bertemu seorang wanita sore ini. Mereka janji bertemu di lobi hotel. Dia mengkhianatiku, padahal kami baru saja menikah!" ujar Vania menggebu, Raihan menarik tangan Vania. Seolah ingin menjelaskan sesuatu.
Faiq tersenyum mendengar perkataan Vania. Bukannya kaget atau marah pada Raihan. Faiq malah menganggap perkataan Vania sebagai sebuah lelucon. Seolah apa yang dikatakan Vania hanya sebuah tuduhan tanpa bukti yang jelas?
"Sayang, kami hanya rekan kerja. Kebetulan dia dan aku dulu satu kampus. Aku sudah menjelaskan padamu. Kenapa kamu malah cemburu tidak jelas? Bahkan kamu datang kemari, mengganggu Kak Faiq dan Davina!" ujar Raihan menerangkan, Vania menepis tangan Raihan. Vania tak percaya akan perkataan Raihan. Rasa cemburu menguasainya.
"Kak Faiq, barusan juga mendengar bukan. Dia malah menganggap aku cemburu tidak jelas. Padahal dia memang sedang selingkuh. Dia jahat telah membohongiku!" ujar Vania kesal, Raihan menggelengkan kepala. Seolah mengatakan semua perkataan Vania tidak penting. Lama Faiq mendengar pasangan suami istri ini bertengkar.
"Kalian diam, jangan buat pusing kepalaku dengan cinta kalian. Sekarang lebih baik Vania pergi bertemu Faiz. Sedangkan Raihan bertemu wanita itu. Agar kalian bisa menghargai satu dengan yang lain. Raihan akan merasakan cemburu pada Faiz. Sehingga dia tidak akan menganggap cemburumu itu tidak jelas dan tidak wajar. Sebaliknya Raihan akan. pergi bertemu wanita itu, agar Raihan menyadari arti dirimu!" ujar Faiq santai tanpa beban.
__ADS_1