
"Vania, bolehkah aku bertanya padamu!" uhar Raihan sembari mengemudikan mobil sport milik Vania. Sontak Vania menoleh ke arah Raihan. Terlihat Raihan fokus mengemudi. Vania menatap heran, bukan karena perkataan Raihan. "Dia memanggilku Vania, mungkinkah dia masih marah. Sampai dia mengganti panggilannya padaku. Sudahlah terserah dia ingin memanggilku apa? Vania atau sayang, sesuka hatinya saja!" batin Vania kesal.
"Vania!" panggil Raihan lagi.
"Heeeemmm!" sahut Vania dingin, dia kesal ketika Raihan tidak memanggilnya sayang. Sebaliknya Raihan merasa diam Vania, tidak lain karena rasa kecewanya dan imbas perdebatan tadi pagi. "Dia masih marah padaku, jelas terlihat dari cara dia menyahutiku. Memang aku yang bodoh, terlalu mudah menuntut tanpa berpikir Vania memiliki alasan dibalik sikapnya. Jangankan memanggilnya sayang, aku panggil dengan nama saja dia acuh!" batin Raihan menyesal.
"Apa yang ingin kamu tanyakan? Katakan saja, jangan disimpan dalam hati. Hanya akan membuatmu sakit hati!" ujar Vania ketus, Raihan menggelengkan kepalanya lemah. Dia benar-benar menyesal telah membuat Vania marah. Sikap dingin dan ketus Vania, mampu membuat Raihan kelabakan dan frustasi. Apalagi jelas-jelas Raihanlah yang membuat masalah dengan Vania. Meski bila ditelaah lagi, keduanya sama-sama salah. Tidak ada yang berusaha memahami, tapi malah berpikir paling benar sendiri.
"Vania, masih adakah lagi yang kamu rahasiakan dariku? Siapa sebenarnya dirimu? Terkadang aku melihatmu begitu lembut dan hangat. Namun adakalanya aku melihatmu begitu keras dan dingin. Lantas aku harus menjadi apa agar bisa memahami dirimu?" ujar Raihan lirih, sembari fokus mengemudi. Vania menunduk lemah, lalu menoleh ke luar jendela mobilnya. Vania bingung dengan pertanyaan Raihan. Sebab Vania sendiri tidak pernah merasa bersikap seperti itu.
"Aku tidak pernah menyimpan rahasia apapun darimu. Bukankah dirimu yang tidak pernah bertanya tentang diriku. Aku bukan siapa-siapa? Aku Vania Aulia Azzahra, wanita sederhan yang menikah dengan imam yang dipilihkan oleh orang tuaku. Aku akan keras dan dingin, bila mendengar seseorang meragukan ketulasan akan kasih sayangku. Aku mampu bersikap lembut dan hangat. Bila seseorang mempercayaiku akan semua keputusanku!" ujar Vania tegas, Raihan menelan ludahnya kasar.
Jawaban Vania membuat Raihan tersindir. Ketegasan Vania tidak bisa diragukan lagi. Ketika Raihan mengeluh akan rasa cemburunya. Terbersit rasa ragu Raihan akan kasih sayang dan kedewasaan Vania. Sebab itu Vania berubah dingin dan keras. Dia melawan bahkan menunjukkan kemandirian yang tak pernah terbayangkan oleh Raihan. Kehangatan Vania yang sempat dirasakan Raihan. Seketika hilang berganti Vania yang dingin tak tersentuh.
"Haruskah aku bertanya, agar kamu bersedia menceritakan tentang dirimu. Aku bukan orang lain, aku suamimu dan imammu. Tidak pantaskah aku mengenal sisi terdalammu dan terapuhmu!" ujar Raihan lirih, Vania mengangguk perlahan. Vania mengutas senyum simpul. Senyum yang tak mudah diartikan, sebuah persetujuan atau penolakan akan perkataan Raihan.
__ADS_1
"Sebab kamu suamiku, tak ada yang perlu aku ceritakan. Kelak waktu yang akan membuat kita saling mengenal. Bukan dengan perkataan kita bisa mengenal satu sama lain. Namun sikap kita yang menunjukkan, seberapa besar cinta dan kepercayaan ada diantara kita. Layaknya aku yang tak pernah bertanya, siapa Raihan yang mengkhitbahku saat putih abu-abu? Aku mempercayai segalanya akan menjadi baik untukku!" ujar Vania, Raihan mengangguk mengerti.
Lama keduanya terdiam, Vania merasa lelah setelah seharian bekerja demi mengejar target. Keputusannya mundur sebagai seorang arsitek. Membuatnya harus segera menyelesaikan kontrak kerja yang terlanjur dia tandatangani. Vania harus bersikap profesional. Jika tidak dia akan menjadi pribadi yang munafik.
Vania membuka jendela kaca mobilnya. Dia bersandar pada kursi, menutup kedua mata indahnya. Angin malam meniup lembut wajah Vania. Terasa dingin mengalir menelisik ke dalam hatinya. Raihan melirik ke arah Vania, dia melihat ketenangan dan keteduhan kedua mata Vania.
"Vania, sejak kapan kamu menjagi Vaaz? Seorang arsitek yang sangat dicari para pengembang. Bahkan perusahaanku selama ini berusaha mencarimu. Setiap ada kerjasama yang kami tawarkan. Selalu kamu tolak, hanya beberapa yang kamu kerjakan!" ujar Raihan lirih, Vania membuka kedua mata indahnya.
Vania sangat mencintai pekerjaannya sebagai arsitek, tapi demi permintaan Raihan. Vania memilih mundur, dia tidak ingin Raihan merasa terhina dengan kesuksesan yang digapainya. Meski Vania harus melepaskan impiannya. Vania tetap diam, ketika Raihan bertanya. Vania tidak sanggup menjawab. Sejujurnya Vania tidak ingin mengingat sesuatu yang sudah dia lepaskan.
"Bisakah kita berhenti di taman kota. Aku ingin membeli sesuatu. Perutku sangat lapar!" ujar Vania mengalihkan pertanyaan Raihan. Dengan lemah Raihan mengangguk, meski dia menyadari Vania sedang berusaha menghindar dari pertanyaannya.
"Haruskah aku menjawab, jika kejujuranku akan membuatmu semakin menyesal. Lebih baik kita lupakan semuanya. Cukup kamu mengetahui, Vaaz telah mundur. Dia bukan siapa-siapa yang pantas kamu kenal?" ujar Vania final, Raihan menarik tangan Vania. Raihan mencium lembut tangan Vania.
"Jawablah, beri aku alasan jika penyesalanku salah. Katakan sejujurnya, biarkan aku belajar mengenalmu. Tunjukkan celah terapuhmu, agar aku mudah memasukinya!" ujar Raihan, Vania membuang muka ke luar mobil. Terdengar helaan napas Vania. Raihan menggenggam erat tangan Vania. Berharap Vania menjawab kegelisahannya.
__ADS_1
"Aku menjadi Vaaz, sejak aku kuliah di luar negeri. Aku mengambil jurusan arsitek tanpa ada yang mengetahuinya. Ayah tidak mengizinkan aku menjadi arsitek. Aku menyamarkan namaku, agar tak ada yang mengetahui jati diriku. Namun kenyataan tak seindah harapan. Tak selamanya yang kita inginkan akan terwujud. Ayah menyadari penurunan hapalanku. Beliau mulai menyelidiki kegiatanku di kampus!" ujar Vania lirih, terdengar isak tangis yang tertahan. Seketika Raihan menghentikan mobilnya.
Raihan menatap Vania yang membuang muka ke luar mobil. Dengan lembut Raihan menarik wajah Vania menghadap ke arahnya. Raihan melihat bibir Vania yang mulai bergetar. Tangan Vania menepuk pelan dadanya yang terasa sesak menahan sakit. Raihan diam melihat kegelisahan Vania.
"Malam itu menjadi malam terburuk dalam hidupku. Kemarahan ayah nyata dan masih terdengar di telingaku. Bentakan dan tamparan ayah masih terasa sakit. Rasa kecewa ayah akan kebohonganku. Membuatku menyesal sampai saat ini. Aku menjadi anak paling durhaka, aku melawan ayah demi menjadi seorang arsitek. Ayah pulang dengan penuh amarah, sampai kecelakaan itu terjadi. Ayah mengalami luka parah. Harapan ayah hidup hanya beberapa persen!" tutur Vania lirih, tubuh Vania mulai bergetar. Air matanya mulai menetes membasahi cadarnya.
"Penolakanku akan lamaranmu malam itu. Membuat ayah kecewa, amarahku membuat egoku bicara. Aku menolak perjodohan, jika ayah tidak mengizinkan aku menjadi seorang arsitek. Aku berjudi dengan kehormatan orang tua yang seharusnya kujaga. Pertengkaran yang tak seharusnya terjadi, menjadi malam naas bagi ayah. Aku memutuskan masuk ke pesantren kembali, aku berhenti kuliah. Aku menjadi Vania yang diharapkan oleh ayah. Aku menjauh dari keluargaku, aku merenung mencari ketenangan!" ujar Vania, lalu menunduk.
"Lantas, bagaimana mungkin kamu menjadi arsitek hebat tanpa kuliah?" ujar Raihan bingung, Vania menoleh ke arah Raihan.
"Menjadi arsitek adalah angan terbesarku. Aku ingin mewujudkan impian menjadi senja untuk orang lain. Banyak cara agar aku bisa menjadi arsitek. Meski tanpa sekolah, aku belajar dan belajar menjadi yang terbaik. Aku hidup hanya dengan dua angan. Menjadi arsitek terbaik yang berguna untuk orang lain. Menjadi seorang putri terbaik yang bisa dibanggakan ayah. Aku menjadi arsitek dan penghapal Al-quran dengan segala cara!" ujar Vania, Raihan mencium tangan Vania berkali-kali.
"Jangan mundur, tetaplah menjadi arsitek. Aku akan memahami pekerjaanmu. Tidak akan ada yang menghalangimu. Kamu bisa menggapai harapanmu!" ujar Raihan, Vania tersenyum. Vania menarik tangannya dari Raihan. Lalu menangkup wajah Raihan lembut.
"Cukup sekali aku egois bertahan dengan impianku yang membuatku hampir kehilangan ayah. Aku tidak akan melakukannya untuk kedua kalinya. Aku tidak ingin kehilangan ayah dari buah hatiku. Aku sanggup kehilangan impianku, tapi tidak dirimu!" ujar Vania, Raihan terdiam menatap Vania.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Tak ada alasan dalam cinta, tak ada sebab dibalik kasih sayang. Ketulusan dan kesetiaanku menjadi jawaban dari setiap keraguanmu!" ujar Vania, lalu mencium punggung tangan Raihan.