KETEGUHAN CINTA

KETEGUHAN CINTA
Sarapan Pagi


__ADS_3

Seorang wanita muda berjalan dengan sangat anggun. Gamis dan hijab panjang membalut tubuhnya dengan sempurna. Meski tubuhnya tertutup kain panjang. Tak sedikitpun mengurangi kecantikan yang lahir dalam dirinya. Dia berjalan sembari membawa berkas ditangannya. Pandanganya lurus ke depan, tapi saat bertemu laki-laki dia akan menunduk. Baginya hanya imam dunia akhirat yang berhak menatap wajahnya.


Wanita anggun yang tak lain Salsabilla Nur Fitria. Wanita muda yang kini memegang kendali rumah sakit milik keluarga Wirawan. Salsa mendapat amanah mengelolah rumah sakit ini. Salsa hanya akan mengatur secara finansial dan management rumah sakit. Sebaliknya kepemimpinan tetap berada di bawah Naufal yang tak lain direktur utama rumah sakit. Sekaligus calon suami, imam dunia akhiratnya.


Hari ini Salsa sengaja datang lebih pagi. Sebab dia ingin melihat perkembangan pembangunan fasilitas rumah sakit. Salsa turun tangan sendiri memeriksa pembangunan fasilitas rumah sakit. Salsa tidak ingin terjadi keterlambatan dalam penyedian pembangunan. Hana memberikan amanah untuk menyediakan pengobatan yang terbaik. Rumah sakit ini akan diperuntukkan bagi semua kalangan. Baik yang mampu dan tidak mampu. Agar tak ada lagi perbedaan penanganan, bagi si kaya dan si miskin. Sebab setiap orang berhak mendapatkan penanganan yang sama. Kesempatan untuk sembuh layaknya yang kaya.


Hampir satu jam Salsa berkeliling. Dia melihat sendiri pembangunan berjalan dengan sangat baik. Setelah berkeliling Salsa memutuskan pergi ke kantin rumah sakit. Tadi pagi Salsa memutuskan tidak sarapan. Agar bisa datang lebih pagi. Sebab itu kini Salsa duduk di salah satu kursi kantin. Lama Salsa menunggu pesanannya.


"Minumlah, setidaknya bisa mengurangi rasa hausmu!" ujar Naufal, sembari memberikan sebotol air mineral pada Salsa. Dengan anggukan kecil, Salsa menerima air tersebut. Naufal duduk tepat di depan Salsa. Dia melihat sang kekasih sedang kehausan. Naufal mulai belajar mencintai dan menerima Salsa dalam hatinya. Entah sejak kapan Salsa mulai mengusik hati dan pikirannya?


"Terima kasih, kak Naufal sedang apa? Belum sempat sarapan sepertiku!" ujar Salsa cemas, Naufal menggeleng lemah. Naufal menatap wajah Salsa lekat. Wajah yang sebentar lagi akan dia lihat pertama kali saat bangun dari tidur. Wajah yang akan menemani hari-harinya yang penuh kepenatan akan tugas sebagai seorang dokter. Sebenarnya Naufal datang lebih pagi. Bukan untuk bertemu Salsa, tapi Naufal memiliki pekerjaan yang harus dia selesaikan. Kebetulan dia melihat Salsa saat akan berjalan menuju kantin. Akhirnya Naufal memutuskan untuk mengikuti Salsa.


"Aku sudah sarapan bersama Annisa tadi pagi. Kebetulan malam ini dia akan menginap di rumah neneknya. Aku baru saja mengantarnya sebelum berangkat kemari. Tadi tanpa sengaja aku melihatmu masuk ke dalam kantin. Aku menduga kamu tidak sarapan. Jadi aku kemari memastikan. Ternyata dugaanku benar, kamu selalu melupakan sarapan hanya demi mengerjakan tugas!" ujar Naufal kesal, Salsa tersenyum saat Naufal memarahinya. Entah kenapa Salsa selalu merasa bahagia dengan perhatian kecil Naufal? Salsa selalu melihat sisi dewasa Naufal. Salsa merasa nyaman dan aman dalam perlimdungan Naufal. Sikap yang membuat Salsa jatuh cinta pada duda satu anak ini.


"Aku hanya ingin datang lebih pagi. Aku bertanggungjawab penuh pada kak Hana. Aku tidak ingin mengecewakannya. Dia berharap padaku, demi kepercayaan itu aku akan melakukan dengan sepenuh hati!" ujar Salsa membela diri, Naufal menatap tajam ke arah Salsa. Naufal selalu kesal saat melihat Salsa ceroboh pada kesehatannya. Sikap manja Salsa terkadang membuat Naufal merasa dibutuhkan. Dia mulai merasakan indahnya cinta, saat bersama Salsa. Cinta yang tak pernah Naufal rasakan secara nyata.

__ADS_1


"Dengan bertaruh akan kesehatanmu, bukankah itu sangat tidak adil. Hana pasti akan marah bila melihatmu bersikap seperti ini. Jika kamu memang ingin bertanggunjawab pada pekerjaan. Seharusnya kamu bisa bertanggungjawab pada dirimu dulu. Bagaimana mungkin seseorang bisa bertanggungjawab pada orang lain? Namun pada dirinya sendiri acuh. Seandainya aku tidak ada jadwal operasi. Aku pasti mengawasimu sarapan. Sayangnya setengah jam lagi, aku ada jadwal operasi. Awas saja jika kamu melewatkan sarapan lagi. Akan kupercepat pernikahan kita!" ujar Naufal kesal, Salsa terkekeh. Dia menangkupkan tangan di depan dada. Seolah mengisyaratkan permintaan maaf. Naufal merasa gemas ingin sekali dia mencubit bibir Salsa yang tersenyum. Namun jarak diantara mereka sangat terlihat. Naufal tidak mungkin bisa menyentuh Salsa. Apalagi jika Hana mengetahuinya. Bisa berakhir kisah cintanya.


Sikap dewasa Naufal selalu dibalas dengan sikap manja dan acuh oleh Salsa. Naufal merasa hangat setiap kali dia marah atau kesal. Salsa selalu tersenyum menggoda. Naufal terbiasa dengan sikap manja Salsa. Dia menemukan sosok lain yang berbeda dari dirinya dan Hana. Sosok yang jauh lebih menarik dan penuh dengan kehangatan.


"Kak Naufal lucu, apa hubungannya pernikahan kita dengan sarapan yang aku lewatkan? Kak Naufal semakin aneh, lebih baik kak Naufal pergi bersiap. Bukankah seorang dokter butuh ketenangan sebelum melakukan operasi. Aku tidak ingin kemarahan kak Naufal sampai di meja operasi!" ujar Salsa bijak, naufal mengangguk pelan. Salsa selalu mampu membuat Naufal marah dan tenang dalam waktu singkat. Naufal mulai terbiasa dengan sikap Salsa yang terkadang manja layaknya Annisa. Terkadang dewasa layaknya Hana kakaknya.


"Jika kita segera menikah, aku bisa mengawasi sarapan dan makananmu. Jadi tidak akan kamu melewatkan makanmu. Meski semua itu demi sebuah tanggungjawab pada Hana. Sebab setelah kita menikah, dirimu milikku seutuhnya. Takkan pernah ada orang lain yang bisa merebut hak itu dariku termasuk Hana. Sekarang aku harus pergi bersiap. Ingat habiskan sarapanmu, jangan mencoba membohongiku. Aku memiliki banyak mata. Dengan mudah aku bisa mengetahui, kamu sarapan atau tidak!" ujar Naufal, Salsa mengangguk pelan. Naufal berdiri meninggalkan Salsa yang termenung, sesaat setelah mendengar perkataan Naufal. Rencana pernikahan yang akan dipercepat. Membuat Salsa gugup dan bahagia sekaligus. Naufal menoleh pada Salsa yang terlihat melamun. Sejenak Naufal menghentikan langkahnya. Dia menatap sendu Salsa. Sosok wanita yang dengan sabar menunggu dirinya. Memberikan kasih sayang tulus pada putri semata wayangnya.


"Salsabilla Nur Fitriya, terima kasih telah hadir mengisi hariku yang penat. Kesabaranmu menanti hadirnya cinta dihatiku telah berakhir. Aku mulai merasakan kerinduan yang tak tertahan. Bila aku tak melihat wajahmu dalam sehari. Ketulusan kasih sayangmu pada Annisa telah mengusik hati dan pikiranku. Kini hanya dirimu yang pantas menjadi ibu sekaligus pemilik hatiku. Keteguhan cintamu padaku menyadarkan diriku. Cinta suci yang kamu berikan takkan kudapatkan dari wanita lain. Cinta yang tak pernah memandang status berbeda diantara. Cinta yang selalu percaya bahwa aku imam yang baik untukmu. Kini hanya ada namamu dalam hatiku. Maaf aku belum mengakui semua rasa ini. Aku harus membuktikan pada keluargaku. Bahwa aku bisa sukses dan bahagia tanpa bantuan mereka. Pagi ini sengaja aku menemuimu, bukan untuk menemanimu makan. Aku sedang mencari ketenangan dalam wajahmu. Sebab hanya denganmu aku merasakan nyaman dan tenang. Wahai calon makmumku, tunggulah aku dengan cinta sucimu. Aku akan datang dengan cinta yang sepenuhnya untukmu. Mungkin kamu bukan yang pertama, tapi kuharap kamu yang terakhir dan satu-satunya yang ada dalam hati dan jiwaku. Terima kasih!" batin Naufal lalu pergi meninggalkan Salsa yang termenung sendiri. Dengan langkah tegap, Naufal menuju ruang operasi. Dalam hidupnya kini, hanya ada harapan hidup bahagia bersama Salsa dan Annisa. Naufal ingin membuat keluarga kecil yang penuh kebahagian.


"Tidak baik melamun di depan makanan. Sikapmu seolah tak menghargai rejeki yang ada. Selesaikan makanmu setelah itu melamunlah!" ujar Hana kesal, Salsa mendongak terkejut saat dia mendengar suara Hana. Tanpa ada yang menyadari, Hana melihat interaksi antara Salsa dan Naufal. Awalnya Hana ingin menemui Salsa, tapi saat melihat Naufal mendekat Hana mengurungkan niatnya.


"Kak Hana, sejak kapan berdiri disini? Ada urusan apa kak Hana datang menemuiku? Seharusnya kak Hana menghubungiku, aku akan segera datang menemuimu!" ujar Salsa lirih, sesaat setelah mencium tangan Hana. Salsa sudah menganggap Hana layaknya kakak dan orang tua. Hana yang selama ini bertanggungjawab akan dirinya. Hana menjadikan Salsa orang yang berarti dan berguna untuk masyarakat luas.


"Kamu tidak akan menyadari kedatangaku, hanya Naufal yang ada dalam pikiranmu. Kak Hana hanya mengingatkan. Jika kamu sudah tidak bisa menahan napsumu. Lebih baik percepat pernikahan diantara kalian. Namun seandainya kak Naufal masih meragukan pernikahan ini. Kak Hana minta akhiri semuanya sekarang. Sejatinya pernikahan menjauhkan kalian dari zina. Bukan malah kalian mendekat pada zina yang tak terlihat!" ujar Hana dingin, Salsa menunduk membisu. Apa yang dikatakan Han tidak salah? Sekarang dalam hidup Salsa hanya ada nama Naufal. Sesuatu yang akan membuatnya melakukan zina yang samar. Mempercepat pernikahan atau mengakhiri pertunangan. Dua pilihan yang sangat sulit atau bahkan mustahil terlaksana.

__ADS_1


"Maafkan Salsa mengecewakan kak Hana. Salsa terlalu bahagia akan pertunangan diantara kami. Sampai Salsa tidak menyadari dosa yang terus kami lakukan. Meski kak Naufal selalu menjaga kehormatan Salsa. Namun tak dapat dipungkiri, napsu suatu saat akan menghancurkan kesucian cinta kami!" ujar Salsa lirih penuh penyesalan. Hana mengangguk mengerti. Dia melihat Salsa yang semakin dewasa dengan tanggungjawab yang diberikan padanya.


"Apapun yang ada dihatimu, hanya dirimu dan Allah SWT yang mengetahuinya. Tidak ada yang bisa menebak atau mengerti isi hati seseorang. Namun kamu harus menyadari, meski tidak ada yang mengetahuinya. Allah SWT selalu mengawasi hamba-NYA yang beriman. Kak Hana berharap kamu dan Kak Naufal segera menikah. Agar tak ada fitnah diantara kalian. Kak Hana melihat tatapan kalian sudah penuh dengan napsu ingin saling memiliki. Jangan biarkan napsu menang, jadilah pribadi yang tegas dan kuat!" ujar Hana, Salsa menunduk membisu. Dia memang salah, tak pernah Salsa berpikir sejauh itu. Salsa terlena dengan indahnya cinta yang dia rasakan pada Naufal. Sikap hangat Naufal seakan membuatnya lupa. Sehingga Salsa lupa hubungannya sudah dipenuhi rasa ingin memiliki. Rasa yang wajar, tapi sangat tidak pantas bila tanpa ikatan suci.


"Aku akan meminta kak Naufal membuat keputusan. Seandainya kak Naufal masih ragu untuk menikah denganku. Aku akan ikhlas untuk mundur. Semenjak awal seharusnya aku sadar. Jika kak Naufal tidak akan pernah bisa mencintaiku. Aku akan merelakan kak Naufal bersama wanita lain. Meski sejujurnya aku tidak akan pernah ikhlas mendengar Annisa memanggil wanita lain dengan panggilan mama. Selamanya aku akan cemburu, saat Annisa memeluk tubuh orang lain dengan penuh kasih sayang. Aku akan menangis ketika aku menyadari bukan diriku yang merawat Annisa saat dia sakit. Namun aku juga harus sadar diri. Annisa memiliki seorang ayah yang takkan mungkin menjadi imamku. Seseorang yang akan berada diantara aku dan Annisa!" ukar Salsa lirih, lalu menunduk sedih. Hana melihat kasih sayang yang tulus untuk Annisa putri kecilnya. Hana melihat sifat keibuan Salsa untuk putri yang kurang kasih sayang.


"Kenapa kamu harus mundur? Siapa yang mengatakan aku ragu menikah denganmu? Meski kamu ikhlas melepasku, aku yang takkan pernah ikhlas kehilanganmu!"


"Hana, aku akan menikah dengan Salsa minggu depan. Aku tidak ingin kehilangan Salsa hanya karena sikap lemah dan bimbangku. Aku tidak pernah ragu menjadikan Salsa makmumku. Izinkan aku menjadi imam dunia akhiratnya. Biarkan Salsa menjadi ibu dari putriku!" sahut Naufal, Salsa terdiam membisu. Hana mengangguk mengerti.


"Datanglah nanti malam ke rumah. Kita bicarakan dengan pikiran tenang. Aku menunggumu, jadikan adikku sepenuhnya milikmu. Akan kuberikan tanggungjawab akan kebahagiannya padamu. Jangan pernah berpikir menyakitinya. Salsa tidak sendiri dia memiliki aku sebagai pelindung!" ujar Hana, Naufal mengangguk mengerti. Naufal mendekat pada Salsa.


"Aku akan menjadikanmu satu-satunya wanita dalam hidupku. Tidak akan kubiarkan Hana mengambil dirimu. Seandainya aku tidak ketinggalan senyummu sebelum operasiku. Aku tidak akan pernah tahu, jika kamu akan melepaskan diriku. Tersenyumlah sekarang, aku butuh senyum itu. Sebagai semangat dan ketenanganku melakukan operasi. Setelah pernikahan kita, senyum itu akan menjadi milikku mulai kedua mataku terbuka di pagi hari!" ujar Naufal, Salsa menunduk malu. Lalu dia tersenyum ke arah Naufal, Hana diam melihat interaksi keduanya.


"Terima kasih, wahai makmumku!"

__ADS_1


__ADS_2