
"Hana Khairunnissa!" sapa Naufal ramah penuh dengan senyum. Hana dan Diana menoleh, Naufal berdiri tak jauh dari mereka berdua.
Sengaja Diana membawa Hana keluar menuju taman rumah sakit. Hampir dua hari Hana berada di dalam kamar. Diana tidak tega melihat kebosanan Hana. Diana mengajak Hana jalan-jalan ke taman rumah sakit dengan menggunakan kursi roda. Kondisi Hana stabil, tapi dia belum diperbolehkan banyak bergerak.
"Pagi dokter tampan!" sahut Diana genit, Naufal tersenyum mendengar sapaan Diana. Hana menatap Naufal seraya tersenyum.
Raditya Naufal Wirawan, kakak dari Cintya Dwi Wirawan. Naufal tak lain dokter ahli bedah, dia putra pemilik rumah sakit tempat Hana dirawat. Naufal bukan laki-laki muda, usianya terpaut 8 tahun dengan Hana dan Diana. Penampilannya sederhana, jika dikatakan tampan. Naufal lebih pada wajah yang dewasa dengan kaca mata yang melekat pada kedua mata indahnya. Keramahan Naufal terlihat jelas dari senyum ramahnya pada setiap orang yang dia temui.
Dokter Naufal menjadi idola Hana dan Diana dikala masa SMP. Saat itu dia masih baru menjadi dokter muda, dengan ketampanan yang tak bisa dikatakan. Entah sejak kapan pertemanan diantara ketiganya bermula?
"Kamu masih tetap seperti Diana yang dulu. Selalu ceria dan genit! Kasihan sahabat Rafa, bila tahu kamu memujiku. Dia bisa patah hati, kamu harus ingat Diana. Tidak ada obat untuk hati yang patah. Selain orang yang mematahkan hatinya!" ujar Naufal menggoda Diana, seketika Diana mengembik tidak setuju. Naufal terkekeh melihat wajah Diana yang kesal.
"Bagaimana kondisimu Hana? Apa sudah lebih baik?" ujar Naufal, Hana mengangguk lemah. Naufal mengerti bila Hana merasa canggung berbicara dengannya. Masih ada jarak setelah bertahun-tahun yang lalu terpisah.
"Dokter Naufal, silahkan duduk disini. Aku titip Hana, aku ingin pergi ke kantin!" ujar Diana, Naufal mengangguk mengerti. Diana sengaja meninggalkan Naufal dan Hana agar bisa bicara dari hati ke hati. Banyak yang harus mereka bicarakan. Setelah sekian tahun terpisah.
"Hana, aku pergi dulu. Maaf aku harus meninggalkan kalian berdua. Aku yakin ada banyak yang harus kalian bicarakan!" bisik Diana, Hana mengangguk. Diana pergi menjauh dari Naufal dan Hana. Naufal duduk di ujung kursi taman. Dia duduk sedikit menjauh dari Hana. Naufal memahami prinsip yang Hana pegang teguh. Prinsip yang pernah mengetuk hati Naufal.
"Apa kabar kak Naufal? Akhirnya kak Naufal kembali setelah menjadi dokter ahli bedah. Keinginan terbesar kak Naufal!" ujar Hana ramah, Naufal mengangguk tanpa menoleh pada Hana. Baik Hana dan Naufal tak saling menatap. Mereka sengaja mengedarkan pandangan ke sekeliling taman. Naufal dan Hana pernah terjerat dari satu tatapan mata. Hari ini mereka tidak ingin kembali terjerat, dikala status mereka tak lagi sendiri.
"Aku baik Hana, aku merindukan suasana kota ini. Rencananya aku akan menetap, mengelola rumah sakit ini. Aku harus membantu Cintya, statusnya kini sebagai seorang istri. Jadi tidak mungkin dia sibuk di rumah sakit terus!"
"Hmmmm, kak Naufal benar!"
__ADS_1
"Aku menjadi dokter bedah, semua karena dirimu. Hari ini jas putih ini menjadi kebanggaanku berdiri di depanmu!" ujar Naufal, Hana terdiam membisu.
"Hana, aku mengatakan semua itu bukan untuk memintamu kembali. Kita sudah sama-sama dewasa. Aku telah menjadi seorang ayah dari satu putri cantik. Kamu bukan lagi Hana gadis pendiamku. Kamu sekarang istri seorang Rafa Akbar Prawira!" ujar Naufal tegas, Hana mengangguk pelan. Pandangan Naufal dan Hana jauh ke depan. Memandang sesuatu yang tak pernah ada.
"Kak Naufal benar, kita sudah bukan Naufal dan Hana yang dulu. Banyak yang telah berubah, tapi ada beberapa hal yang sama. Kak Naufal menjadi dokter bedah terbaik. Sedangkan aku tetap Hana yang terhina karena harta! Dulu tanganku tak mampu menggenggammu, karena harta. Tanganku terlepas dari suamiku karena harta. Aku kehilangan kedua orang tuaku karena harta!" ujar Hana lirih, Naufal menunduk menyesal. Sebuah penyesalan yang takkan bis hilang seumur hidupnya.
"Semua sudah menjadi masa lalu. Kenapa kamu harus hidup dari bayangan masa lalu? Bukankah Rafa sangat mencintaimu. Jangan salahkan dia atas ketidaktahuannya. Masa lalumu tidak pantas merusak masa depanmu!"
"Tapi masa depanku mengulang masa laluku. Seolah tidak ada kata bahagia untukku. Jika masa laluku membuatku terpuruk. Masa depanku membuatku bangkit. Takkan lagi ada kecewa yang menghancurkan diriku! Semua ini titipan, layaknya tangan kedua orang tuaku yang hilang. Sang ILLAHI telah mengambil titipannya!" tutur Hana lirih, air matanya jatuh. Kepedihannya keluar tanpa ada yang menduga. Keluh kesah yang selalu tersembunyi terkuak di depan seorang Naufal.
"Jika kamu begitu mencintainya, kenapa kamu menutup hatimu? Rafa layak mendapatkan maafmu. Jangan hukum dia, tapi sebenarnya kamu menghukum dirimu sendiri!" ujar Naufal, Hana menggeleng lemah.
"Aku mencintainya, tapi aku tidak memahaminya. Dia laki-laki penuh dengan misteri. Rasa cintanya menakutkan, dia mampu menyakiti bahkan menghancurkan hanya karena cinta! Aku mencintainya karena ALLAH, dengan iman dan keteguhanku kuserahkan hidupku. Aku tidak pernah berharap cintaku menjadi alasan dia menghancurkan. Aku berharap cintaku menjadikan dirinya penuh dengan cinta! Namun semua itu seakan angan, cintanya padaku menghancurkan keluarganya!" ujar Hana, pikirannya menerawang jauh. Hana mengingat saat Diana menunjukkan berita tentang Sabrina Prawira. Rafa menghancurkan nama baik keluarganya hanya demi sebuah dendam.
"Kak Naufal mengatakan sesuatu?" ujar hana, Naufal menggeleng lemah. Dia mengeluarkan sesuatu dari jasnya.
"Tidak, lupakan!"
"Hana, pakai tissu ini untuk menghapus air matamu. Jangan biarkan orang berpikir, aku yang membuatmu menangis. Aku dokter hebat, jangan karena kamu menangis saat bersamaku. Mereka menganggapku dokter brengsek!" ujar Naufal, sontak saja Hana tertawa lepas. Seolah tak pernah ada beban.
Pertemuan Hana dan Naufal tak luput dari tatapan tajam seorang Rafa Akbar Prawira. Rafa melihat Hana menangis dan tertawa dalam sekejap. Di depan Naufal, Hana terlihat berbeda. Dia menjadi pribadi yang apa adanya?
Bugh Bugh Bugh
__ADS_1
"Hana, apa maksud semua ini? Siapa laki-laki ini? Kenapa di depannya air matamu mudah menetes. Air mata yang tak pernah kulihat meski hinaan dan cacian kuberikan. Seberapa besar dia mengisi hatimu! Bila Rama mampu membuatmu tertawa lepas, dia membuatmu menangis tanpa ada rasa malu. Apa yang sebenarnya terjadi? Pertanda apakah ini! Diakah yang akan menggenggam tanganmu pergi!" batina Rafa marah.
"Percuma anda memukul tembok, dia akan tetap berdiri kokoh. Sedangkan hati anda tetap akan marah!" ujar Diana, Rafa menoleh ke arah Diana.
"Apa maksudmu Diana?" ujar Rafa lirih, Diana tersenyum sinis.
"Jika anda marah melihat Hana bersama dokter Naufal itu sangatlah wajar. Dokter Naufal mampu membuat Hana menjadi dirinya sendiri. Didepannya Hana bisa menangis dan tertawa. Aku yakin, meski anda suaminya. Sekalipun anda belum pernah melihat air matanya. Bahkan malam disaat anda menghina dan mengusirnya. Adakah air mata menetes di depan anda? Tidak akan pernah Hana menangis di depan anda. Sebab anda tak pantas melihatnya!"
"Diana, aku menghargaimu karena kamu yang selalu menjaga Hana. Tapi bukan berarti kamu bisa berkata tidak sopan padaku!"
"Tuan Rafa anda salah jika menganggap perkataanku sebagai sikap kasar. Aku mengatakan semua ini, karena dirimu satu-satunya laki-laki yang dicintai Hana. Sebelum anda mencintai Hana, pahami pribadi Hana. Jika tidak Hana akan semakin menjauh. Apalagi sekarang ada dokter Naufal yang mampu membawa Hana pergi!"
"Katakan padaku, apa yang harus aku pahami tentang Hana? Bantu aku Diana, aku tidak ingin kehilangan Hana dan putraku!" ujar Rafa memohon, dia menangkupkan tangan didepan dada. Lagi dan lagi Rafa menghiba, mengemis pada Diana agar tak kehilangan Hana.
"Cinta anda yang akan menunjukkan cara memahami Hana. Sebab hanya hati yang tulus akan mampu memahami besarnya cinta Hana pada anda!"
"Aku tulus mencintainya, tapi kenapa aku tidak bisa memahaminya?" ujar Rafa lirih, Diana menggeleng lemah.
"Anda bukan mencintai, tapi hasrat ingin memiliki. Lihatlah dokter Naufal, dia mencintai tanpa berpikir ingin memiliki. Sebab memiliki akan membuat kita mengekang dengan menggunakan cinta sebagai alasannya"
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊
__ADS_1