
Sepulang dari kampus XX, Rafa bersama Hana pergi ke restoran Zyan. Sengaja Rafa mengajak makan siang disana. Salsa dan Diana ikut bersama mereka. Adrian sudah membuat janji dengan Diana. Tanpa sepengetahuan Hana, Rafa sudah menghubungi Rizal dan Mila.
Rafa ingin mengenalkan Mila pada Hana. Diam Hana membuktikan rasa kecewa pada Rafa. Selama perjalanan, Hana menoleh keluar mobil. Dia melihat ramainya jalan raya. Rafa melihat jelas rasa cemburu yang bercampur kecewa. Rafa diam membisu, dia tidak ingin menjelaskan. Sebab Rafa ingin langsung membuktikan, siapa sebenarnya Mila pada Hana?
Setibanya Rafa di restoran, tanpa banyak berkata. Hana turun dari mobil bersama dengan Salsa dan Diana. Hana masuk ke dalam restoran mencari tempat duduk. Hana meminta Salsa membawakan kereta bayi milik si kecil. Agar Hana bisa meletakkan si kecil.
"Apa kabar nyonya Rafa?" sambut Zyan, Hana menatap Zyan dengan raut wajah kesal. Seketika Rafa memukul punggung Zyan pelan. Rafa menggeleng lemah, meminta Zyan berhenti menggoda Hana.
"Salsa, bawa kemari kereta bayinya. Sekaligus kamu duduk di samping kak Hana. Nanti kakak titip si kecil!" ujar Hana, Salsa mendekat pada Hana tanpa banyak bertanya. Rafa diam melihat amarah Hana. Semua orang terkena imbas kekesalan Hana. Pertama kali Rafa melihat kecemburuan Hana. Seharusnya Rafa senang atau setidaknya marah, tapi Rafa malah bingung. Dia tidak ingin rasa cemburu Hana, malah menyakiti dirinya sendiri.
"Sayang, lebih baik kita bicara sebentar. Aku tidak ingin ini berlarut. Titipkan si kecil Pada Salsa!" bisik Rafa, Hana melepaskan rangkulan Rafa. Dia pergi menjauh, Rafa termangu melihat sikap dingin Hana. Diana terkekeh melihat sikap kesal Hana. Pertama kalinya dia melihat Hana begitu marah. Dia tidak pernah menyangka, Rafa Akbar Prawira orang yang membuat Hana bertekuk lutut. Cinta yang tersimpan rapat. Kini mencuat hanya untuk Rafa seorang.
"Siapa wanita itu? Kenapa kamu begitu kesal?" bisik Diana, Hana menggeleng lemah. Diana merangkul tubuh sahabatnya. Dia merasakan kekecewaan Hana. Diana tidak ingin melihat Hana hancur dengan rasa cemburunya.
"Hana sayang, berserah dan berdoa jalan terbaik. Agar hatimu tenang, sesuatu yang menyangkut hati tidak mudah dikendalikan. Tapi dengan bersujud akan membuat hati kita sedikit lebih tenang. Berwudhulah, agar jiwamu tenang. Aku akan menjaga si kecil. Aku tidak ingin melihatmu hancur, hanya karena cinta pada Rafa!" bisik Diana sembari merangkul Hana. Dengan perlahan Hana mengangguk, bisikkan Diana seolah angin segar dalam panasnya hati Hana. Rasa cemburu mengusai hati dan pikiran Hana. Menghilangkan akal sehat serta ketenangan dalam diri Hana.
"Sayang!" sapa Adrian, sontak saja Diana menoleh dengan tatapan marah. Rafa melihat ke arah Adrian yang datang dengan senyum semanis mungkin.
Zyan datang membawa beberapa makanan yang dipesan. Setelah menghidangkan semua makanan, Zyan duduk di samping Adrian. Tiba-tiba Hana berdiri, tapi tangannya ditahan oleh Rafa. Semua orang memandang heran ke arah Hana dan rafa.
"Duduklah, aku yang akan pergi. Jika itu bisa membuatmu tetap disini!" ujar Rafa, Hana terdiam membisu seribu bahasa.
__ADS_1
"Aku bukan pergi karenamu. Aku ingin sholat, kalian makan terlebih dahulu. Aku titip si kecil, tak perlu menungguku untuk makan!" ujar Hana sembari melepas tangan Rafa. Hana berjalan perlahan menuju mushola.
"Kak Rafa, siapapun wanita itu? Hanya dia yang membuat Hana merasa tak pantas untukmu. Biarkan Hana pergi, dia hanya ingin menenangkan hati. Aku kenal siapa Hana? Pertama kalinya dia kalah oleh hatinya. Semua karena dirimu, biarkan Hana mencari letak kesalahannya. Percayalah Hana tidak akan pergi menjauh darimu hanya karena rasa cemburu sesaatnya!" ujar Diana, seketika Rafa menoleh dengan heran. Diana bisa mengetahui dengan mudah apa yang terjadi? Meski satu kata Hana tidak pernah mengatakannya. Sebab Diana menganggap Hana selayaknya saudara.
" Hana mengatakannya padamu?" ujar Rafa bingung, Diana menggeleng. Rafa mengeryitkan dahinya.
"Diam dan kesal Hana yang mengatakannya padaku!"
"Kenapa kalian berdua berbicara berdua? Ada masalah apa? Rafa kamu harus ingat, Diana itu pacarku!" ujar Adrian, Rafa mengangguk pelan. Diana menoleh pada Adrian dengan wajah kesal. Diana masih belum mengatakan iya untuk menjadi bagian hidup Adrian.
...☆☆☆☆☆...
"Cantik, sungguh wanita yang cantik dan teduh. Dia wanita yang sempurna secara iman dan islam. Mungkinkah dia disini, karena kak Rafa mengundangnya!" batin Hana.
"Maaf saya terkejut, sepertinya mukena di dalam ada beberapa. Mari silahkan masuk, kita bisa sholat bersama!" ujar Hana ramah, Mila mengangguk pelan. Mereka berdua masuk ke dalam mushola bersama. Sekilas Hana melihat penampilan wanita disampingnya. Tutur kata yang lembut, seolah mengatakan ayat-ayat Al-Quran yang selalu terucap dari bibir mungilnya.
Hana dan Mila selesai sholat hampir bersama. Mereka bertemu kembali di teras mushola. Hana jauh lebih tenang selesai sholat. Apalagi setelah bertemu dengan Mila. Hana yakin jika Mila, wanita yang tepat untuk Rafa. Hana memutuskan duduk sebentar di teras mushola.
Mila duduk di samping Hana yang sedang melamun. Dengan wajah teduh dan senyum yang menghiasi wajahnya. Mila menyapa Hana sopan. Hana mempersilahkan Mila duduk, sembari Mila menunggu Rizal yang belum selesai sholat.
"Maaf sebelumnya, saya merasa mbak bukan warga asli kota ini. Cara bicara dan gaya bahasa mbak berbeda!" ujar Hana ramah, Mila tersenyum simpul seraya mengangguk pelan. Hana melihat sebuah senyum yang begitu indah. Sebagai seorang wanita Hana terpesona dengan kelembutan Mila.
__ADS_1
"Saya dari luar kota mbak, kebetulan hari ini mengantar beberapa santri saya mendaftar kuliah. Besok saya juga ada pelatihan, di salah satu universitas islam. Saya baru pertama kali datang ke kota ini!" ujar Mila, Hana mengangguk mengerti. Entah kenapa Hana merasa Mila wanita yang sangat baik? Seandainya pertalian antara dirinya dan Rafa berakhir. Hana merasa lega, bila Rafa bersanding dengan Mila.
"Lantas datang kemari, sekadar makan siang atau bertemu dengan seseorang. Jika tidak acara, gabung dengan saya saja. Sebagai awal ikatan persaudaraan!" pinta Hana, Mila menggeleng lemah. Kedatangan Mila dan Rizal, sebab Rafa yang mengundang untuk makan siang. Sebab itu Mila menolak tawaran Hana.
"Saya dan kakak ada janji dengan seseorang. Sudah lama kami tidak bertemu, dia sahabat kami saat di pesantren!" ujar Mila sembari tersipu malu, Hana menangkap sebuah rasa untuk Rafa suaminya.
"Mbak Mila suka orang itu, terlihat jelas mbak tersipu malu saat membicarakannya. Apa dia kekasih mbak Mila?" ujar Hana mencari tahu, Mila menggeleng lemah. Hana melihat raut wajah berseri Mila. Firasat sebagai seorang istri tidak meleset. Hana merasakan cinta yang mendalam dari Mila untuk Rafa.
"Ana Uhhibbukkahfillah!" sahut Mila singkat, Hana terperanjat mendengar jawaban Mila. Hana menyadari bahwa ada wanita lain, yang mencintai Rafa karena ALLAH SWT.
"Sungguh indah kisahmu, apa dia tidak pernah menyadari kasih sayangmu? Kenapa tidak mbak utarakan? Agar mbak mengetahui, apa dia masih sendiri atau sudah menikah?" ujar Hana, lagi dan lagi gelengan kepala yang dilihat Hana. Mila menatap jalabn raya yang ramai.
"Aku mencintainya karena ALLAH, karena kehendak-NYA pula aku akan bersatu dengannya. Aku mencintainya dalam setiap sujudku, tak ada rasa ingin balasan cinta yang sama darinya. Seandainya sekarang dia telah menikah. Aku tidak akan marah, meski hati ini terluka. Sebab keteguhan cintaku, seteguh imanku pada agamaku. Semua sudah diatur, ALLAH SWT tahu yang terbaik untuk hambanya. Tidak akan ada keputusan yang salah, jika tangan keadilan-NYA yang mengambil keputusan!" tutur Mila, Hana tertegun mendengar jawaban dari hamba yang taat akan agama. Penuh ketulusan tanpa berpikir ingin sebuah balasan.
"Mila, ayo kita masuk. Dia sudah menunggu terlalu lama!" ajak Rizal, Mila mengangguk pelan. Dia pamit pada Hana, meninggalkan Hana dengan kekagumannya pada Mila. Semua yang didengarnya, cinta yang dipegang teguh Mila. Membuka mata hatinya, dirinya beruntung memiliki cinta Rafa.
"Kak Rafa, kini aku menyadari dirimu layak dicintai. Hari ini aku melihat dan mendengar. Seorang wanita mencintaimu dengan iman. Dia memegang teguh hati dan cintanya, seteguh iman dan islamnya. Sungguh beruntung dirimu, memiliki cinta sebesar itu. Salahkah aku bila kini, dia mengetahui statusmu yang tak lagi sendiri. Seandainya hatiku bisa berbagi. Aku tidak ingin dia menjauh darimu. Dia istri yang kamu butuhkan, iman dan islamnya yang kelak menuntunmu. Kak Rafa, nama indahmu terucap dalam sujud dua wanita yang mencintaimu. Sujudku dan sujudnya. Pantaskah kamu memilih satu dan menyakiti yang lain!" batin Hana sembari menatap tubuh Mika menghilang.
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊
__ADS_1