
BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN
Berdiri seorang wanita muda di pintu keluar bandara internasional. Dia berjalan keluar dari pintu kedatangan luar negeri. Kedua mata indahnya menatap langit kota yang ditinggalkannya hampir 20 tahun lamanya. Tangan kanannya membawa koper ukuran sedang, sedangkan tangan kirinya menenteng paper bag kecil. Wanita muda yang telah kembali setelah hampir 20 tahun berada di luar negeri. Gadis kecil yang pergi beberapa tahun yang lalu kini telah kembali. Membawa secercah senyum bagi mereka yang merindukannya.
Dia berdiri tepat di depan pintu keluar bandara. Tubuhnya tertutup sempurna dengan gamis dan hijab panjangnya. Wajah cantikanya tersimpan rapat dibalik cadar. Kecantikan yang dititipkan padanya dan mampu menghipnotis mata kaum adam. Namun kecantikan yang sama membuatnya takut, untuk mengenal laki-laki yang akan menghadirkan cinta dalam hatinya. Trauma masa lalu, membuatnya menutup diri dari yang namanya cinta. Hanya kedua mata teduh yang terlihat dari kesempurnaan dirinya. Kedua mata yang mampu menunjukkan kecantikan wajah dibalik cadar.
Wanita muda itu berdiri mematung tak bergeming di depan bandara. Bukan menanti seseorang menjemputnya. Dia seakan enggan untuk melangkah menjauh dari bandara. Hatinya seolah mati akan kota yang telah lama dia tinggalkan. Namun sejauh dia berlari, kelak dia harus kembali pada tanah air dan orang tua yang membesarkannya. Dengan alasan yang itulah dia kembali. Hanya untuk berbakti pada orang tua yang membesarkannya. Orang tua yang merindukan dirinya. Orang tua yang mengharapkan maaf dan kasih sayangnya.
Kepergiannya beberapa tahun lalu, bukan tanpa alasan. Kepergian yang begitu berat, demi mencari arti bahagia. Sang gadis kecil meminta pada orang tuanya untuk mencari ilmu di salah negara islam. Negara yang asing baginya, tapi penuh kehangatan dan kasih sayang. Dia memutuskan tinggal dalam pondok pesantren terbesar dan terbaik di negara itu. Dia ingin memantapkan hatinya, serta mencari ilmu yang bermanfaat untuk orang banyak.
Tanpa berpikir ada yang salah, kedua orang tuanya mengizinkan. Berharap kelak sang putri akan kembali dengan iman dan islam yang kuat. Namun harapan tak kunjung terwujud. Gadis kecil tak pernah bersedia pulang setelah kepergiannya. Bahkan dia tidak ingin kedua orang tuanya menjemput atau menjenguknya. Hanya melalui sambungan telpon, dia memberikan kabar pada orang tuanya. Suara yang menjadi pertanda dirinya baik-baik saja. Sikap keras yang tanpa sengaja melukai hati orang tuanya. Seakan kepergiannya sebagai bentuk amarah pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Kehadiran sang adik setahun setelah kepergiannya, membuat orang tuanya mulai lupa akan keberadaannya. Meski kedua orang tuanya lupa akan dirinya. Bukan menghiba akan kasih sayang yang mulai hilang. Sang gadis bersikap mandiri yang seakan tidak membutuhkan kedua orang tuanya. Setelah mengenyam pendidikan agama yang lebih dalam. Dia memahami arti orang tua dan pengorbanannya. Semenjak itu sang gadis bersikap hangat pada keluarganya. Tahun demi tahun dia jalani tanpa mengeluh. Dia tumbuh menjadi wanita yang kuat dan mandiri. Penuh dengan pesona, tapi tetap tersimpan dalam kesantunannya.
Keputusannya pergi dan menetap di negara orang. Negara tempatnya menimba ilmu mendapat dukung sepenuhnya dari orang tuanya. Penyesalan orang tuanya yang tanpa sengaja melupakannya. Membuat mereka menerima dengan ikhlas keputusan sang putri. Bahkan kedatangannya kali ini, tanpa ada keluarga yang mengetahuinya. Dia datang bukan untuk liburan atau menetap. Dia datang untuk menjenguk sang ayah yang mengalami kecelakaan hebat beberapa hari yang lalu. Kondisi kritis sang ayah, membuatnya tak lagi mampu diam dan tinggal jauh darinya. Sebagai seorang anak dia tidak rela kehilangan sang ayah tanpa berusaha sedikitpun.
Sang ayah bukan orang yang kaya, tapi sang ayah seorang dokter bedah yang hebat dan terpandang. Sebab itu dengan mudah dia bisa mengetahui berita tentang sang ayah. Keluarga besarnya terkenal dengan tangan dinginnya yang merawat pasien. Ayah dan adiknya terjun dalam dunia yang sama. Begitu juga dirinya yang telah menyandang gelar dokter spesialis saraf. Jiwa dokter mengalir dalam dirinya, dengan penuh kesadaran dia memilih menjadi dokter. Namun tidak pernah terbersit dalam benaknya kembali ke dalam keluarganya. Menjadi salah satu dokter di rumah sakit milik keluarganya. Membantu sang ayah dan bundanya mengembangkan rumah sakit yang dikelola keluarganya selama ini.
Hampir setengah jam dia berdiri mematung. Angin meniup hijab panjangnya, menyadarkan dirinya dari lamunan yang panjang. Sang wanita mengedarkan pandangannya, sekali lagi memeriksa kota yang telah lama ditinggalkannya. Pandangnya terhenti pada satu sosok yang telah lama ada dalam mimpi dan hidupnya. Sosok yang membuatnya memilih menjauh. Sosok yang ingin dia peluk erat setiap saat. Pelukannya yang senantiasa dia rindukan hampir 20 tahun terakhir.
Entah apa yang membuatnya membisu? Suaranya seakan menghilang. Tepat disaat dia ingin memanggil sosok yang dirindukannya. Tubuhnya kaku tak mampu bergerak, dia ingin berlari memeluk sosok itu. Namun seluruh tubuhnya kaku, seakan takut akan penolakan yang pernah dia rasakan. Dia mundur beberapa langkah, saat kedua mata indahnya melihat. Orang yang dirindukannya memeluk erat sang putra. Posisi yang selalu dia harapkan. Status yang pernah menjadi impiannya.
Sejak malam itu Annisa tidak pernah bertemu Hana. Dia pergi tanpa pamit pada Hana. Annisa tidak ingin menangis saat pergi. Bila Hana datang mengantarnya. Dengan penuh kemantapan dia meninggalkan keluarganya. Annisa mencari ilmu sejauh mungkin. Hari setelah hampir 20 tahun kepergiannya. Dia kembali menjadi dokter yang hebat. Dia pulang demi sang papa. Annisa memutuskan menjadi salah satu dokter yang akan merawat sang papa. Kecelakaan fatal yang dialami Naufal, membuatnya tak sadarkan diri. Annisa tidak mungkin diam, melihat papanya kesakitan tanpa pertolongannya.
__ADS_1
Sebuah kebetulan dan keberuntungan baginya. Dia melihat Hana tak jauh darinya. Ingin rasanya Annisa berlari memeluk sang mama. Namun semua terhenti saat dia melihat Hana sedang memeluk seorang pemuda. Annisa mundur beberapa langkah, dia memutar tubuhnya. Annisa menjauh dari sang mama yang dirindukan.
"Permisi!" sapa Hana, Annisa terkejut saat Hana memanggilnya. Dengan perlahan dia membalikkan badan. Annisa melihat Hana berdiri tepat disampingnya. Hana berdiri diantara dua pemuda tampan dan berkharisma. Annisa semakin terkejut, saat dia menyadari salah satu pemuda tak lain muridnya di kampus. Dia salah satu mahasiswa yang berprestasi dan menjadi idola kampus. Annisa seakan tak percaya, bahwa pemuda itu memiliki kedekatan dengan Hana.
"Permisi!" sapa Hana kedua kalinya, senyum yang lama Annisa rindukan terlihat dari bibir Hana. Annisa seakan tak mampu lagi menahan, tapi dia terus bertahan. Annisa tetap diam menatap ke arah Hana yang seakan tak mengenalinya. Kedua mata indahnya melihat Hana penuh kerinduan.
"Iya, ada apa?" sahut Annisa lirih, suara merdu Annisa mengingatkan Hana akan seseorang. Annisa bersikap setenang mungkin. Dia tidak ingin memulai sesuatu yang belum saatnya. Hana berjalan mendekat, lalu memberikan sebuah switter abu-abu. Annisa mulai menyadari, tanpa sengaja dia menjatuhkan switter yang dipegangnya. Annisa menerima dengan menganggukkan kepala. Hana membalas anggukan kepala Annisa dengan senyuman.
"Terima kasih!" ujar Annisa lirih, Hana mengangguk pelan. Annisa menunduk saat dia merasakan sang murid memperhatikannya. Annisa berjalan menjauh setelah pamit lada Hana. Namun langkahnya terhenti saat mendengar Hana mengatakan sesuatu pada kedua putranya.
"Mungkin sekarang Annisa tumbuh sebesar wanita itu. Mungkin kakak kalian Annisa menjadi wanita yang sangat cantik. Suara wanita barusan mengingatkan mama akan Annisa. Suara yang terus memanggil mama. Malam itu mama melihat air matanya, penyesalan seumur hidup mama. Kesalahan yang harus mama gantikan dengan kehilangan dia selamanya. Dimanapun Annisa berada? Mama berharap dia akan baik-baik saja!" ujar Hana, kedua putranya mengangguk pelan. Merangkul sang mama, berjalan perlahan meninggalkan Annisa yang diam mematung.
__ADS_1
Kedua telinga Annisa mendengar jelas kerinduan sang mama akan dirinya. Bukan hanya dirinya yang merasa terluka, tapi mama yang Annisa ingin lindungi jauh lebih terluka. Bahkan berpikir kepergian Annisa adalah kesalahannya. Annisa telah melukai hati orang yang paling disayanginya. Annisa telah meninggalkan luka selama bertahun-tahun. Annisa merasa tidak akan mampu menebus setiap luka yang dia ciptakan.
"Mama, maafkan Annisa yang telah melukaimu. Kesedihanmu bukan hanya milikmu, tapi juga kesedihanku. Mama aku ada di depanmu, apa yang kamu pikirkan benar? Aku Annisa gadis kecilmu. Aku merindukanmu, tapi aku telah menyakitimu. Aku tidak bisa memelukmu, aku malu akan sikap kerasku. Bertahun-tahun aku menjauh dari negara ini. Bukan ingin melupakanmu, tapi aku ingin menyayangimu tanpa melukai hati bunda Salsa. Dia terlalu baik untuk tersakiti. Cukup sekali aku mendengar orang lain meragukan kasih sayangnya pada papa dan aku. Apa yang terjadi kesalahanku? Bukan kesalahannya, sangat tidak pantas bila bunda Salsa yang terluka. Aku pergi mencari dirimu dalam setiap imanku. Maafkan aku mama, aku menyayangimu. Namun sejauh aku berlari. Bayanganmu selalu ada di dekatku. Tanpa aku sadari, salah satu putramu menjadi muridku. Seakan ingin mengatkan bahwa aku akan selalu dekat padamu. Mama tunggu aku siap. Aku akan datang menemuimu dengan penuh kerinduan. Akan kucurahkan kerinduan yang kupendam selama ini. Semua akan baik-baik saja!" batin Annisa lirih, dia menatap punggung Hana yang semakin menjauh. Tubuh yang selalu dia rindukan.